
Dua jam mengikuti jalan dari Desa menuju gunung Frieg, aku dihadapkan pada jalan buntu. Terdapat jurang dalam di depanku, jurang yang begitu dalam hingga aku tidak bisa melihat dasarnya.
Berharap mengetahui kedalaman jurang aku mencoba mencoba melempar batu kedalam jurang, “Aku tidak dapat mendengar suaranya.” kataku setelah menunggu cukup lama.
Tidak jauh dari tempat aku berdiri terdapat reruntuhan jembatan yang dulunya mungkin digunakan sebagai jalur transportasi. Tapi melihat lebarnya jembatan itu membuat aku berpikir jika yang menggunakan jembatan ini dulunya bukanlah manusia.
“Sangat lebar, seakan lima belas mobil bisa berjalan beriringan saat melewati jembatan ini.” aku langsung teringat dengan ras Giant yang dikabarkan memiliki perawakan tubuh yang besar.
“Kira-kira sebesar apa kreta yang mereka gunakan?.” kataku.
Jarak antara tepi jurang sekitar 150 meter, cukup lebar. Melihat kanan dan kiri Didi jurang tidak menunjukan adanya jembatan lain.
Keadaan ini membuatku hanya memiliki dua pilihan, yang pertama adalah menggali turun ke dasar jurang, sementara pilihan yang satunya adalah membuat jembatan baru.
Aku tidak akan mengambil permintaan pertama karena rasanya akan memakan waktu lama. Ditambah ada kemungkinan jika jurang ini akan mengarah langsung ke kerak bumi, itu membuatku menjadikan ide turun ke jurang sebagai pilihan terakhir.
“Kenangan saat pencarian magma sang membuat trauma.” gumamku. Hal yang paling menyiksaku adalah suhu panas yang semakin bertambah panas ketika aku terus menggali ke dalam bumi.
“Aku merasa seolah mendapat siksa kubur saat itu.” aku merasa wajahku membiru saat mengingat keadaan saat itu.
Namun walaupun suhu panas yang begitu menyiksa, aku masih bisa bertahan. Entah bagaimana tubuhku seakan tidak mengalami masalah, bahkan sedikit pun kesehatanku tidak berkurang.
“Kejadian itu sana seperti saat aku menyebrangi dunia putih puncak gunung Frieg. Seberapa pun dingin udara di sana, aku tetap baik-baik saja.”
Kembali fokus pada masalah 'bagaimana aku menyebrang jurang di depan', aku pun mulai merencanakan membuat sebuah jembatan. Melihat inventori, aku menemukan banyak material yang bisa aku gunakan.
Aku mengambil blok batu dari inventori, lalu muncul balik kecil seukuran telapak tangan yang jika dilempar maka akan membesar selebar satu meter persegi. Benda itu seperti balok yang terbuat dari semen, tapi yang sebenarnya itu hanyalah batu berbentuk kotak.
Tepat di samping bekas jembatan aku mulai membangun jembatan dari balok yang aku miliki. Balok batu menyatu jika diletakkan berdampingan sehingga pengerjaan membangun jembatan akan lebih mudah.
__ADS_1
Satu jam berlalu, aku akhirnya menyelesaikan pengerjaan jembatan. Walaupun sebenarnya jembatan yang aku buat hanyalah sebuah tiang batu yang tersusun secara horizontal. Waktu pengerjaan sebagai besar aku habiskan untuk membuat tiang penyangga agar jembatan batu yang aku buat tidak patah.
Ketika tengah mengerjakan jembatan aku teringat dengan game tentang menggali tanah mencari material untuk membuat senjata, lalu game itu berakhir dengan sang tokoh utama mengalahkan naga hitam. Dalam game itu player bisa membuat apapun dengan menyusun balok demi balok tanpa khawatir akan apapun.
Tapi sayangnya walaupun skill yang aku miliki begitu mirip dengan sistem game tersebut, tidak semua logika game itu bisa diaplikasikan ke Minvers.
“Karena dunia ini memiliki hukum gravitasi.” ucapku saat menatap jembatan batu yang aku bangun dari sisi lain jurang. “Saatnya melanjutkan kembali perjalanan.” kataku yang segera meninggalkan jurang.
Bekerja mendirikan jembatan selama satu jam penuh membuatku merasa lapar. Ingin memasak makanan, aku segera membuka menu stat dan memilih opsi [Furnace] yang merupakan skill baru dari [Keahlian Menambang] yang terbuka setelah mencapai level 20.
Setelah membuka opsi [Tungku] sebuah pop up transparan muncul di depanku, jendela itu memperlihatkan resep apa saja yang bisa aku buat. Terdapat banyak resep dari makanan hingga armor dan senjata yang ditampilkan.
“Enaknya makan apa yah siang ini?.” banyaknya pilihan makanan membuatku kebingungan. Setelah cukup lama berpikir sambil terus berjalan, akhirnya pilihanku jatuh pada Yeti Teriyaki.
[Proses pengolahan bahan sedang berlangsung, mohon tunggu selama-lamanya]
“He!.” aku kebingungan dengan suara notifikasi yang terdengar begitu mengagetkan.
Tapi tiba-tiba notifikasi kembali muncul beritahu jika daging Yeti dan berbagai bumbu masak telah diambil dari dalam inventori.
[0:14:57, hingga bahan selesai diolah]
Timer mulai berjalan menandakan masakan mulai dibuat. Melihat itu aku sangat lega karena semua bahan makanan yang aku miliki sebagai besar belum diolah.
Jika ada masalah pada skill [Furnace], mungkin selama perjalanan ini aku akan mengonsumsi daging bakar terus menerus. Dan yang lebih buruk aku tidak bisa mendapatkan pasukan senjata baru.
Sambil menunggu masakan selesai diolah, aku membuat goa kecil tempat aku akan beristirahat menikmati makan malam ku. “Mingkin aku juga perlu logo out.” sadar jika sudah waktunya untuk memasak makanan untuk Hanna, aku pun mengambil sebuah ranjang dari inventori untuk aku tidur.
Ding!
[Proses pengolahan selesai]
__ADS_1
[Skill (Memasak) level up]
Aku segera menghentikan saat masakan akhirnya matang. “Skill [Cooking] Naik level, lumayan.” Setelah masakan matang akan langsung tersedia di dalam menu inventori. Aku mengambilnya lalu menghidangkannya di meja.
Rasa dari makanan yang dibuat secara otomatis, bagaimana aku menggambarkannya. “Ini hampir sempurna, kira-kira apa yah yang kurang?.”
Sambil menikmati daging Yeti Teriyaki, aku melihat kembali resep masakan itu di menu [Furnace]. Faktanya semua resep yang tertera di menu skill ini adalah hasil dari berbagai uji coba yang aku lakukan. Satu persatu resep aku buat sendiri, walaupun sebagian juga aku dapat dari mencontek di internet.
“Rasa saus Teriyaki kurang kuat untuk daging Yeti, mungkin aku harus menambahkan lebih banyak bumbu.”
Setelah melakukan penyesuaian pada resep dan menikmati Yeti Teriyaki yang dibuat dengan skill [Furnace], aku segera melompat ke kasur kemudian log out.
***
Makan malam hari ini terasa berbeda. Hanna sudah kembali ceria karena keadaan guild AFK sudah membaik. Dia mengatakan jika mendapat dukungan dari salah satu guild tingkat satu yang bernama guid Garuda Merah. mereka mendapatkan kontrak sebagai penyuplai senjata dan material.
“Garuda Merah saat ini berada di posisi kedelapan guild terbaik, itu jauh lebih baik dari Nort Dragon.” kata Hanna.
Sepertinya kebenciannya pada Nort Dragon sangat besar hingga dia terus membanding-bandingkan segala hal dengan guild yang dulu menindas guild AFK.
Selain mendapatkan perlindungan, kerja sama ini pun membuat seluruh anggota guild AFK diperbolehkan untuk berburu di wilayah guild Garuda Merah, dengan syarat semua material hasil berburu harus dijual ke guild tersebut, terkecuali yang bukan berasal dari kotak harta.
“Heeee.... bukankah mereka sangat baik?.” kataku
“Benar...” balas Hanna dengan senyum lebar.
“Apa pemimpin guildnya pemuda tampan?.” pertanyaan ku seketika membuat Hanna tersedak. Wajahnya begitu merah saat mencoba menjelaskan jika hubungan kerjasama ini adalah murni hanya bisnis.
‘Ah, indahnya masa muda.’
***
__ADS_1
Bersambung.