Penyihir Hitam Log-in

Penyihir Hitam Log-in
79. Alasan


__ADS_3


Malam tiba, Estrid yang terus berjalan menuju gunung Frieg mulai khawatir dengan keadaan sekitar. Monster dengan level seratus dan lebih tinggi tersebar di mana-mana.


Estrid harus pandai memilih jalan agar tidak terlihat oleh para monster, lalu memilih saat yang tepat ketika harus menggunakan skill tidak terlihat jika keberadaannya terdeteksi.


Peralatan snow Wolf membuatnya sulit terdeteksi saat berada di area bersalju, tapi kuatnya kemampuan deteksinya para monster di wilayah itu membuat peralatan Snow Wolf agak sia-sia.


Grorrrrrr....


Seekor makhluk putih yang berbentuk mirip macan setinggi 30 meter berdiri di depan jalan Estrid.


Wanita itu tidak tahu apakah kehadirannya telah ketahuan atau tidak, karena monster itu terlihat memiliki mata di kepalanya. Hanya mulut yang besar dengan gigi mirip stalakmit dan stalakmit di dalam sebuah Goa.


Grrrrr...


Monster mengarah kerah Estrid, merasa telah ketahuan dia segera menggunakan skill tidak terlihat andalannya. Tapi seakan skill itu tidak berpengaruh, macan putih raksasa mulai berlari kearah Estrid.


Untuk kesekian kalinya selama perjalanan ini Estrid merasa nyawanya sedang terancam.


Melihat macam putih semakin dekat Estrid segera mengambil keputusan untuk menggali tanah daripada melarikan diri. Itu karena Estrid sudah sadar ketika melihat monster itu berlari jika kecepatan dia berlari tidak sebanding dengan kecepatan berlari macan putih raksasa.


Dengan kemarahan Viking, Estrid menggali lebih cepat, macan putih berusaha untuk menggapai mangsanya dengan memasukan lengannya kedalam lubang, tapi Estrid dengan cepat melempar blok batu untuk menutup kembali lubang yang dia buat.


Goa itu bergetar, tembok yang Estrid buat seakan hampir jebol. Macan putih di luar berusaha keras menggali tanah tempat Estrid bersembunyi, tapi wanita itu terus mengayunkan beliung menggali lebih dalam dan menutup jalan dibelakangnya.


“Aku rasa sudah aman.” Estrid begitu kelelahan karena menghindari monster yang terus mengejarnya.


Posisinya saat ini berada di dalam bumi tanpa sedikitpun celah disekitarnya. Itu cukup aneh bagaimana Estrid bisa bertahan tanpa udara untuk bernafas.


“Aku pikir ini karena keahlian menambang.”


Melihat kembali pada mini map, Estrid menemukan monster yang mengejarnya masih berada di atas lubang yang dia gali, monster itu masih mencoba mengejar karena tahu mangsanya masih ada di bawah.

__ADS_1


Tidak ada pilihan lain untuk Estrid selain membuat terowongan menuju gunung Frieg demi menghindari macan putih yang terus mengejarnya.


“Monster ini seakan bisa mengetahui lokasi ku bahkan saat aku menggunakan kemampuan tidak terlihat. Bagaimana mungkin?.”


Walaupun Estrid telah menggali jauh dari tempatnya ditemukan oleh macan putih. Tapi monster yang saat ini berada di atasnya masih terus mengikuti.


“Apa mungkin karena bau?.” Estrid teringat monster itu tidak memiliki mata. “Jika dugaanku benar maka itu memberikan jawaban kenapa skill invisible tidak berpengaruh padanya...”


Kondisi ini sangat tidak menguntungkan untuk Estrid, dia tidak bisa terus menggali karena akan memakan lebih banyak waktu daripada berjalan di permukaan.


“Monster sialan, bagaimana cara aku lepas darinya?.”


Mini Map masih menunjukan titik merah yang mengikutinya. Estrid geram melihat itu, tapi tiba-tiba di sudut penglihatannya Estrid melihat titik merah lainnya.


[??????]


“Lagi-lagi Monster yang tidak teridentifikasi. Gelar Thunder Silencer tidak sehebat yang aku kira.”


Melihat titik merah itu Estrid memikirkan sebuah ide. “Aku harap titik merah itu bukan monster sejenis macan putih raksasa yang mengikuti ku.” mengalihkan arah penggalian, Estrid menuju titik merah yang lain.


Groouur!


Suara gmuruh terdengar dari atas, Estrid pun menyadari jika pertarungan telah terjadi. Di dorong oleh rasa penasaran, Estrid mencoba untuk mengintip.


Guncangan besar terus terjadi berulang-ulang, saat sampai di permukaan Estrid melihat macan putih raksasa yang terus mengikutinya tengah bertarung dengan Skeleton setinggi 50 meter yang diselimuti oleh Es dengan senjata pedang.


Grooour!


Macan putih menerkam lengan tengkorak raksasa menyebabkan suara retak. Tengkorak itu berteriak seakan merasakan kesakitan, membalas serangan lawannya, tengkorak raksasa mengayunkan pedangnya, tapi serangan yang lambat dapat dengan mudah di hindari oleh macan putih.


Angin bertiup kencang dari kibasan pedang tengkorak raksasa mengakibatkan badai salju, “Begitu kuat,” kata Estrid yang berusaha bertahan dari tiupan angin.


Macan putih melakukan srangangn yang sama, namun kali ini tengkorak raksasa menangkapnya lalu membantingnya dengan kuat. Guncangan gempa kembali terjadi membuat Estrid terjatuh saat berusaha menjauh dari pertarungan.

__ADS_1


Groooar!


Macan putih menyadari keberadaan Estrid, monster itu segera berlari kearahnya tapi raksasa tengkorak menarik ekor seakan tidak akan membiarkan macan putih kabur. Estrid pun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk melarikan diri dan berharap jika tengkorak raksasa akan menenangkan pertarungan.


***


“Aku pikir sudah lolos.”


Menjatuhkan diri di atas salju, Estrid mengambil nafas dan mencoba untuk beristirahat. Menatap langit yang begitu gelap, Estrid berpikir mungkin saja dibalik awan hitam itu terdapat pemandangan indah seperti yang dia lihat di dunia nyata.


“Apa itu Aurora atau bintang yang bertebaran tak terhitung jumlahnya. Ah aku sangat rindu suasana tenang penuh kedamaian waktu itu.”


Perjalanan panjang, sudah dua hari dua terus berjalan menuju gunung Frieg. Estrid terus memikirkannya berulang kali, kenapa dia harus melakukan ini. Mencari sesuatu yang begitu sulit, dan apakah yang akan dia dapatkan layak atau tidak.


Di saat itulah Estrid kembali mengingat alasan utama kenapa dia rela melakukan semua ini.


Saat ini keadaan AFK guild tengah mengalami perkembangan pesat karena senjata, aksesoris dan potions yang mereka jual dengan harga murah. Walaupun semua terlihat baik-baik saja dan mengalami peningkatan, Estrid sadar jika semua itu tidak akan bertahan lama.


Player akan terus berkembang, mereka akan mencari senjata dan item yang lebih baik. Cara untuk mendapatkan blue print atau resep senjata yang bagus hanya diketahui oleh para npc atau mendapatkannya dari dalam kotak harta.


Meminta NPC mengajarkan membuat senjata khusus membutuhkan waktu dan usaha, tapi hal yang paling menyulitkan dari itu semua adalah gangguan dari Guild top Rank yang selalu mengawasi NPC khusus untuk kepentingan mereka sendiri.


Guild guild besar tidak akan membiarkan siapapun untuk mempelajari skill dari NPC yang telah mereka anggap sebagai properti milik guild. Sedangkan untuk menjelajahi Dungeon juga mustahil. Seperti masalah NPC khusus, Dungeon pun telah diakuisisi oleh guild top renk.


Estrid sudah melihatnya dari jauh hari jika semuanya akan menjadi seperti ini. Dia sadar jika guild AFK akan kesulitan mencari blue print senjata baru, karena itulah Grock si kecil menjadi satu-satunya harapan agar guild AFK bisa terus maju.


“Karena itulah, sesulit apapun tantantangan yang aku hadapi...” Estrid bangkit dari tempatnya, “...Aku harus bisa menghadapinya.”


Dia kembali berjalan.


“Untuk adikku dan harapan ibu yang tidak bisa aku kecewakan.”


Istirahat telah usai, prajurit perkasa itu melanjutkan perjalanannya memenuhi tugas yang telah ia terima.

__ADS_1


***


Bersambung.


__ADS_2