Penyihir Hitam Log-in

Penyihir Hitam Log-in
23. Sebuah misi


__ADS_3

Dua hari berlalu setelah event kerajaan Jayakarta di Minvers. Event yang tiba-tiba saja terhenti tanpa sebab yang diketahui, seluruh player dipaksa keluar dari permainan, dan hingga saat ini Minvers tidak dapat diakses.



Tentu saja kejadian ini membuat para player kebingungan. Banyak keluhan yang datang pada pihak Metaworld selaku developer, desas-desus mengenai Minvers yang berhasil dibajak oleh hacker mulai senter terdengar. Akibatnya saham Metaworld mengalami penurunan yang dramatis.



“Mouh, kapan sih Minvers bisa balik lagi?.” Hanna begitu kesal karena sudah dua hari dia tidak dapat bermain Minvers. Sebagai bentuk kekesalan gadis itu mengaduk-aduk bubur ayam yang menjadi sarapan paginya.



Melihat adik perempuan yang terlihat begitu imut saat marah, Erina hanya tertawa kecil. “Aku rasa ini bagus karena sejak Minvers hadir beberapa orang melupakan kehidupan nyata mereka dan tidak peduli dengan kesehatan tubuh bahkan kehidupan sosial.” kata Erina yang baru saja mengetahui fakta-fakta aneh seputar Minvers dari televisi.



Hanya dua hari Minvers tidak dapat dimainkan namun kegilaan terjadi hampir di seluruh dunia. Puluhan juta pemain terus menyebarkan kekacauan di dunia maya, mereka menuntut Metaworld agar segera membuka layanan game mereka.



“Bahkan ada yang mengancam akan bunuh diri, bukankah itu sudah keterlaluan?.” Erina dibuat kebingungan dengan kenyataan yang terjadi saat ini. Para player seperti seorang pecandu, mereka terlihat begitu sengsara ketika tidak dapat memainkan Minvers bahkan satu hari saja.



Erina yang baru bermain selama dua hari tentu tidak tahu apa yang mereka rasakan, tapi setidaknya dia dapat memahaminya. “Kehidupan sempurna seperti sebuah mimpi, siapa yang ingin meninggalkan kehidupan seperti itu?.” ucap Hanna.



Tatapan mata gadis itu seolah telah kehilangan sesuatu yang begitu penting dalam dirinya. Melihat itu Erina bertanya-tanya dalam pikirannya kenapa adiknya begitu tergila-gila dengan Minvers.



Suara dering telepon terdengar membuat keduanya tersadar dari dalam pikiran masing-masing. Hanna yang semula sedih karena tidak dapat bermain Minvers, seketika menjadi begitu gembira setelah tahu jika penelpon adalah ibunya.



Selamat hampir setengah jam Hanna berbicara pada ibunya lewat telepon, keduanya saling melepas kerinduan. Hingga percakapan ibu dan putranya itu berakhir saat Hanna harus segera pergi ke sekolah.



Setelah Hanna pergi, sekarang giliran Erina yang berbicara dengan ibunya.



\[Ibu memiliki tugas untukmu\]



“Aku mendengarkan Ma.”


***


Sebuah superbike melesat begitu cepat seakan kontes balap Grand Prix tengah di laksanakan di jalan umum. Tidak ada ketakutan di diri Erina walaupun motor yang dia kendarai sudah melampaui kecepatan 350 kilometer per jam.



Laju superbike yang begitu cepat namun suara mesin yang sunyi membuat pengendara lain tidak menyadari keberadaan Erina, hanya angin kencang yang mereka rasakan saat motor Emira melintas.



Di saat semuanya bergerak begitu cepat, di mata wanita itu justru masih terasa begitu lambat. Merasa kurang menantang Erina menaikkan kecepatan motor hingga batas.

__ADS_1



Erina menyadari ada mobil polisi di jalan yang akan dia lalui, tapi seakan tidak takut mendapatkan tilang karena ugal-ugalan Erina melewati mobil polisi itu begitu saja tanpa sedikitpun menurunkan kecepatan.



Melihat kilatan yang bergerak begitu cepat, kedua polisi segera melihat alat pengukur kecepatan, “615 mph, Apa dia keturunan dari landak biru atau semacamnya?.”



Seolah tidak melihat apapun kecu polisi lalulintas itu kembali berjaga. Bukan karena mereka mengabaikan tugas, tapi keduanya memang tidak cukup gila untuk mengejar motor berkecepatan ratusan kilometer per jam.



Mobil dinas polisi yang mereka gunakan bahkan tidak akan sampai setengah dari kecepatan motor Erina, jadi sudah jelas tidak ada kesempatan untuk menangkap wanita itu.



Hanya dalam waktu enam menit Erina sampai di bandara. Petugas bandara dengan mudah membiarkan Erina lewat setelah dia menunjukkan sebuah kartu.



“Sangat disayangkan Pesawat anda sudah mulai terbang, sebaiknya anda menunggu pesawat lain.” kata petugas bandara sambil membuka gerbang. “Terimakasih untuk sarannya tapi tidak perlu, aku yakin sudah tepat waktu.” balas Erina.



Erina segera memacu motornya begitu gerbang dibuka. Dari kejauhan di landasan Erina melihat pesawat angkut militer yang sudah mulai lepas landas, dalam keadaan normal tentu mustahil untuk menaiki pesawat yang sedang bergerak bersiap untuk terbang. Tapi tetap saja Erina tidak menyerah.



“Aku tidak ingin telat memasak makan malam untuk Hanna.”




Setelah pintu sepenuhnya terbuka Erina bergegas masuk kedalam kapal menggunakan motornya.



“Itu seperti adegan pembajakan pesawat dalam game. Hidupmu pasti sangat menyenangkan saat dapat melakukan aksi menakjubkan seperti itu.” kata seorang tentara yang menyambut kedatangan Erina.



“Apa itu sebuah sarkasme atau semacamnya.”



“Oho tentu bukan, aku tidak mungkin berani melakukan hal semacam itu pada seseorang seperti nona Swallwtail.” walaupun dia mengatakan seperti itu, tapi dengan jelas dari wajahnya begitu meremehkan keberadaan Erina.



“Syukurlah kau mengetahui tempatmu.” ucap Erina yang kemudian membawa motornya lebih dalam di badan pesawat. Prajurit-prajurit itu hanya terdiam, dia merasa penghinaan besar setelah mendengar perkataan Erina.



‘Beraninya dia yang berasal dari negara terbelakang mengatakan hal seperti itu padaku, apa dia tidak melihat banyaknya bintang di pundak ku?.’ batin tentara itu menggerutu.



Tanpa memperdulikan tatapan tajam tentara dibelakangnya, Erina mencari tempat untuk duduk tapi pesawat itu ternyata sudah penuh, bukan hanya prajurit yang mengisi pesawat tapi ada lebih banyak warga sipil juga.

__ADS_1



‘Warga sipil?, Aku rasa bukan.’ Erina dapat merasakan semua orang yang bukan termasuk prajurit adalah orang-orang terlatih. Walaupun dari luar mereka seperti manusia biasa, tapi di mata Erina lebih dari itu.



“Sayang sekali kapal ini sudah penuh.” tentara yang sebelumnya diabaikan oleh Erina, kini kembali menghampirinya. “Jika kau mau aku bisa membawamu ke tempatku. Di sana sangat nyaman untuk beristirahat.” terlihat jelas maksud dari perkataan si tentara.



Walaupun sejak memasuki pesawat Erina masih belum melepas help di kepalanya, tapi melihat lekuk tubuh wanita itu yang mengenakan Wearpack hitam ketat dengan mudah merik minat lelaki.



‘Tidak peduli dengan wajahnya, lagi pula setelah dia masuk ke perangkap ku, akan aku buat wajahnya menjadi hancur.’ pikir si tentara yang memiliki jabatan sebagai Marsekal.



“Apa semua prajurit militer di negara mu sama sepertimu?, Aku jadi khawatir pada negara yang akan aku kunjungi.”



“Kau!.” Perkataan Erina seketika membuat tentara sangat marah.



Dia yang merasa paling berkuasa di pesawat ini karena dialah pemimpinnya. Tapi seorang wanita yang begitu saja datang terlambat dimana itu menunjukkan ketidak disiplinan, bahkan berani bersikap arogan padanya.



‘Tidak termaafkan.’ dia bermaksud untuk membalas perlakuan Erina berkali-kali lipat. Tapi apa yang selanjutnya dia lihat langsung membuat mentalnya menciut.



“Bisakah kau menyingkirkan kakimu?.” Erina berbicara pada seseorang yang tiduran sehingga tubuhnya menempati tiga kursi. Erina dengan sopan meminta orang itu untuk merubah posisi agar dirinya dapat menempati salah satu kursi, namun balasan dari orang dengan tato diwajahnya itu begitu kasar.



“Kau ingin duduk?, bagaimana jika kau duduk di atas ku sambil menggoyangkan pinggulmu?.” perkataan pria itu sontak membuat setiap orang tertawa, termasuk Erina sendiri, “Hahaha itu sangat lucu, sekari entahlah.” dengan kuat Erina menarik kaki pria itu sehingga membuatnya terlempar dari tempat duduk.



Pria itu merasakan sakit luar biasa setelah kepalanya membentur lantai, sementara itu Erina duduk seakan tidak peduli jika semua penumpang mulai bangkit dari tempat duduknya.



Salah seorang penumpang mengambil pistolnya lalu menghampiri Erina. “Nona, kau sangat sial. Apa kau tahu jika yang kau usik barusan adalah anggota gank Victorius?.”



“Apa pula gang Viktor itu?, Apa kalian sekelompok gamer batelle ground?.” tidak peduli dengan ancaman, Erina mulai memainkan ponselnya.



“Bahaha... kau terlihat begitu percaya diri mengatakan itu pada Genk kami. Apa kau berpikir para tentara di sini akan melindungi mu?, Dilihat dari pemimpin mereka yang marah karena ulahmu, aku merasa yakin jika tidak akan ada yang peduli dengan nasibmu kedepannya.”


Pistol itu terarah ke dahi Erina, semua orang tahu jika pria itu tentu tidak akan membunu Erina begitu saja. Tapi sudah dipastikan jika nasib wanita yang datang terakhir depan cara ekstrim itu akan mengenaskan dikarenakan seluruh penumpangnya di pesawat militer selain para tentara, mereka adalah anggota gank Victorius, sebuah kelompok tentara bayaran yang terkenal begitu brutal.


“Haah...” Erina menghela nafas berat, “Aku pikir memang perlu sedikit pemanasan.”


***

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2