
Erina bertanya pada Gilang mengenai Minvers, apakah game itu bisa kembali dinaikkan. Erina merasa iba dengan adiknya yang terlihat kehilangan tujuan hidupnya semenjak Minvers tidak lagi bisa dia mainkan.
Gilang mengatakan jika kemungkinan besar Minvers bisa kembali dimainkan, hanya saja dia tidak tahu kapan itu akan terjadi. “Akan aku coba untuk menghubungi mereka.” kata Gilang. Erina bertanya-tanya siapa yang disebut sebagai ‘Mereka’ oleh Gilang.
Pagi berikutnya Retna berpamitan dengan kedua putrinya, dia tidak bisa meninggalkan posisinya sebagai ketua organisasi Ningrat family terlalu lama. Bersama dengan Retna, Gilang juga ikut karena dia akan bekerja di Karathon.
“Momi... huueee...” kepergian Retna diiringi oleh Isak tangis Hanna.
***
Waktu berlalu dengan cepat, tidak terasa satu bulan berlalu sejak Erina melakukan misi menyelamatkan Gilang. Hari demi hari dia lewati dengan penuh ketenangan, tidak ada perkelahian ataupun aksi tembak menembak yang terjadi selama sebulan terakhir.
Erina mendapatkan liburan yang dia harapkan. Tapi di dalam hati Erina perasaan rindu akan semua yang dia lakukan selama bertugas mulai muncul. “Apa kemampuanku akan menurun jika aku terus hidup dengan tenang seperti ini?.” Erina mulai khawatir jika kekuatannya melemah.
“Tidak, aku tidak boleh memikirkan pekerjaan disaat sedang cuti. Aku tidak ingin menyia-nyiakan liburan yang sudah aku nantikan selama dua tahun.”
Mencoba mengalihkan pikiran akan pekerjaan, Erina mulai berkebun. Di belakang rumahnya terdapat lahan luas yang dipenuhi oleh rumput liar. Dengan menggunakan cangkul milik kakeknya, Erina mencoba membajak tanah itu. Tapi baru satu ayunan cangkul itu sudah rusak.
“Sudah aku duga, seharusnya benda ini dimasukkan ke museum.” ucap Erina saat melihat besi pada cangkul yang sudah berkarat dan rapuh. Tidak menyerah untuk berkebun, Erina mengambil motornya lalu segera menuju pasar terdekat.
Sesampainya di pasar Erina mendapati banyak toko elektronik yang menurunkan harga alat virtual reality, hal itu disebabkan oleh penghentian layanan Minvers yang menjadi tujuan utama orang membeli Vr gadget.
“Ah sial. Jika saja aku tahu Minvers akan tutup mendadak seperti ini, aku pasti akan menjual semua Rft yang aku miliki lebih dahulu.”
“Sama. jika tahu ini akan terjadi aku akan menjual semua item yang sudah aku dapatkan.”
Baru saja memasuki sebuah mall Erina disambut oleh keluhan dua karyawan pusat perbelanjaan itu. Dari percakapan yang Erina dengar dapat diketahui jika keduanya adalah player Minvers.
Selain berbelanja peralatan berkebun, Erina juga membeli banyak benih. “Kebun belakang cukup luas, aku rasa menanam sayuran, buah dan bunga tidak akan menjadi masalah.” pikir Erina.
Beberapa menit berbelanja Erina mendapatkan semua yang dia butuhkan untuk berkebun atau lebih tepatnya membuka perkebunan karena banyaknya item yang dia beli.
Dia bahkan perlu menyewa jasa pengiriman karena tidak mungkin membawa semua yang dia beli menggunakan motor.
__ADS_1
Sebelum dia meninggalkan mall, aku melihat seorang pemuda yang keluar dari toko elektronik dengan membawa banyak virtual gear. 'Apa yang akan dia lakukan dengan Vgear yang tidak berguna sebanyak itu?.' batinku penuh tanya.
Setelah berpikir cukup lama Erina mendadak menemukan sesuatu, “Jika Minvers kembali bisa dimainkan pasti harga Vgear akan kembali naik.” pikirkan untuk berbisnis muncul secara tiba-tiba .
...****************...
Sekitar jam empat sore Hanna pulang beserta Kiana. Keduanya dikejutkan dengan banyaknya paket yang berada di depan rumah. “Semua ini Vgear. Kenapa kakak membeli alat ini begitu banyak?.” tanya Hanna dengan kebingungan.
“Oh Hanna sudah pulang, dan ada Kiana juga” Erina yang beru saja dari kebun belakang menyambut kepulangan adiknya. “Sore kak.” balas Kiana.
Hanna kembali menanyakan tentang Vgear yang dibeli Erina dalam jumlah besar. Kakaknya pun mengatakan jika semua itu hanya sebuah investasi. “Kakak yakin ini akan berhasil, bukankah tidak ada kabar apapun jika Minvers akan kembali dapat dimainkan?.” Hanna khawatir dengan ide kakak perempuannya yang terlalu beresiko.
Akibat penghentian layanan Minvers mengakibatkan harga Vgear turun drastis. Memang akan sangat menguntungkan jika game yang membuat Vgear banyak digunakan kembali beroperasi, tapi akan menjadi bumerang jika tidak ada lagi game virtual seperti Minvers untuk dimainkan menggunakan alat tersebut.
“Jangan khawatir tentang itu, aku sudah mendapatkan informasi jika dalam satu minggu ke depan Minvers akan kembali dirilis.”
““Seriusan!.”” Hanna dan Kiana berteriak berbarengan. Erina hanya tertawa kecil melihat kedua gadis itu sangat antusias dengan kabar yang baru didengar darinya.
Erina mendapatkan informasi mengenai Minvers langsung dari pencipta game tersebut yang tidak lain adalah Gilang sepupunya sendiri.
Mendengar informasi tentang Minvers membuat Hanna dan Kiana pun mulai berpikir untuk berinvestasi dengan alat permainan virtual seperti yang dilakukan oleh Erina. Tapi mengingat jika waktu perilisan masih satu minggu lagi, keduanya pun memilih menunggu dan berharap harga Vgear terus turun agar keuntungan mereka bisa lebih besar.
Sore itu bersama dengan Hanna dan Kiana, Erina menikmati matahari terbenam di teras belakang rumah. Hanna dibuat terkejut saat melihat kebun belakang yang semula tidak terawat hingga dipenuhi semak belukar, kini menjadi perkebunan yang baru saja dibajak.
“Kakak beneran membajak tanah seluas ini hanya menggunakan cangkul?.” Hanna bertanya seakan tidak percaya ada manusia yang dapat melakukan seperti yang dilakukan kakak perempuannya.
“Hemmm... kau ingin melihatku melakukannya?.” bibir Erina tersenyum lembut karena teh yang disajikan oleh Hanna terasa nikmat.
“Jadi kenapa kakak mulai berkebun, apa kak Erina juga ingin membuka usaha toko sayur dan buah?.” tanya Kiana.
“Tidak, aku melakukan itu hanya untuk mengisi waktu luang. Atau mungkin bisa dikatakan aku hanya sedang Gabut.” balas Erina yang seketika membuat keduanya terdiam.
'Dia membuka perkebunan yang mungkin hanya bisa dilakukan oleh sepuluh orang normal hanya dalam satu hari hanya karena Gabut. Sungguh luar biasa.' pikir kedua gadis.
__ADS_1
***
Malam tiba, ketiganya makan malam bersama. Hanna dan Kiana sudah beberapa kali mengecek harga Vgear dari berbagai supplier. Mereka terlihat begitu serius dalam memulai investasi mereka, hingga keduanya juga mengajak anggota guild AFK lainnya untuk ikut memulai bisnis.
Hanna mengatakan jika Minvers kembali dibuka maka dia berharap dapat membangun kembali AFK studio. Karena itulah Hanna dan teman-temannya membutuhkan banyak dana.
Walaupun sebenarnya jika Hanna mau dia dapat meminta pertolongan pada ibunya maka semua masalah mengenai dana akan teratasi dengan mudah. Tapi Hanna tidak melakukannya karena ingin memulai usaha sendiri tanpa mengandalkan kekuatan dari keluarganya.
***
Satu minggu pun berlalu tapi belum juga ada kabar mengenai pembukaan server game Minvers. Keempat anggota AFK studio mulai khawatir jika informasi yang mereka dapatkan dari Erina ternyata palsu.
Mereka tidak tahu haru digunakan untuk apa semu Vgear yang mereka beli. Benda itu memenuhi gudang besar yang mereka sewa karena jumlahnya sudah mencapai puluhan ribu unit.
Prasetyo sosok dibalik Avatar Setyo, pemuda itu hampir gila karena sudah berhutang banyak pada lintah darat demi membeli banyak Vgear. Hanna yang melihat temannya seperti itu menjadi begitu kasihan, tapi tidak ada yang bisa dilakukan.
Nasi sudah menjadi bubur, mereka berpikiran semua yang sudah terjadi tidak dapat di ubah. Harga Vgear semakin menurun, tapi tidak ada orang yang mau membelinya. Mungkin usaha terakhir yang bisa mereka lakukan hanya menjual semua Vgear yang mereka miliki ke penjual barang rongsokan.
Disaat semuanya tengah mengalami depresi karena masalah perekonomian, Erina datang dengan wajah herannya. “Kenapa kalian begitu murung seakan baru saja melihat negara ini hancur?.” pertanyaan itu segera dibalas dengan tatapan mengarah dan penuh kekecewaan dari keempatnya.
Erina dasar dengan apa yang dialami oleh mereka, dia hanya tertawa kecil menghadapi situasi itu. Melihat jika Erina tidak merasa bersalah sedikitpun membuat Prasetyo dan Kiana marah, tapi sebelum mengatakan apapun Erina berkata...
“Apa kalian sudah melihat premier game terbaru yang membuat internet heboh?.”
Mendengar pertanyaan Erina semua orang saling menatap. Perlahan cahaya harapan kembali bersinar dalam diri mereka, segera keempatnya membuka media sosial dan melihat apa yang sedang terjadi.
Seperti yang Erina katakan, internet saat ini tengah dihebohkan dengan video promosi game virtual terbaru. Baru setengah jam sejak video itu diunggah oleh Ningrat.corp tapi sudah ditonton lebih dari sepuluh juta orang.
Melihat cuplikan video itu membuat Hanna dan teman-temannya merasa lega sekaligus bahagia karena mungkin investasi yang mereka mulai akan berbuah manis.
“Hahaha...” Erina tertawa melihat keempatnya, “Kalian memang masih anak-anak, sangat tidak sabaran. Apa kalian yakin tidak butuh orang dewasa sebagai pembimbing perusahaan yang sedang kalian bangun?.”
Mereka hanya bisa diam, ingatan tentang kegagalan membangun AFK studio kembali terlintas di benak mereka.
__ADS_1
***
Bersambung.