
_____________________________________________
Nama : Estrid Lunarfrey
Ras: Giant LV 15 (27%)
Pekerjaan: Viking
Kesehatan: 100% Mana poin: 100%
Kerusakan: 90 Kecepatan: 125
Kecerdasan: 70 Ketahanan: 75
Poin status: 25
Gelar: [No Pain No Gain] [Zub Zero] [Thunder Silencer] [Giant Killer] [Rule Braeker] [Arkeolog] [Einherjer candidate]
Keahlian: [Perenang ahli] [Keahlian Rune] [Viking Rage] [Crafting Tabel] [Penjinak] [Golem Maker] [Tikus Tanah] [Dungeon Maker] [Valkyrie Descent] [Pedagang]
_____________________________________________
Level ku bertambah satu setelah menyelesaikan ujian harian. “Baiklah saatnya untuk berkerja keras juga hari ini!.” menutup layar status, perhatianku beralih pada ladang yang tengah digarap oleh warga.
Sebuah air terjun yang terlihat menyegarkan mengalir begitu deras di pojok ruangan. Sebelumnya aku sudah membuat terowongan menghubungkan desa dengan goa. Selain ditujukan untuk saluran air sungai, terowongan itu juga difungsikan untuk jalur transportasi.
“Aku juga mendapatkan banyak material ketika membangun terowongan, itu merupakan hasil lebih dari melakukan penggalian hari ini.”
Puas melihat ladang aku kemudian pergi ke toko untuk mengirim persediaan material harian.
Setelah rencana kerjasama bisnis dengan beberapa guild top mulai berjalan, kami memerlukan lebih banyak material untuk memenuhi permintaan akan senjata. Sepertinya Hanna juga menambah jumlah pekerja penempa untuk meningkatkan produktivitas.
“Aku berharap dia tidak terlalu fokus pada bisnis. Hanna seharusnya lebih menikmati permainan ini.”
Setelah menyelesaikan pengiriman material, aku keluar dari toko dan berniat untuk melihat bagian selatan desa. Aku ingin melihat bagaimana perkembangan pembangunan jembatan.
***
“Sangat buruk.” ucapku ketika melihat reruntuhan jembatan yang menghubungkan masing-masing tepi sungai besar dengan lebar lebih dari satu kilometer.
Aku dapat melihat betapa sulitnya pekerjaan ini. Selain hawa dingin, aliran sungai pun begitu deras, lalu peralatan yang penduduk desa miliki pun tidak memadai.
Melihat reruntuhan jembatan di kedua sisi sungai membuat aku berpikir bagaimana cara mereka membuat jembatan sebelumnya.
“Setidaknya perlu peralatan berat seperti ekskavator untuk membuat jembatan di atas sungai selebar ini. Tapi memangnya mereka memiliki alat modern seperti itu?.” kepalaku penuh dengan pertanyaan.
Karena dihantui oleh rasa penasaran aku pun bertanya pada penduduk desa yang juga berada di tempat itu. Tapi sayangnya mereka tidak tahu bagaimana jembatan yang menghubungkan desa dibangun.
__ADS_1
"Sepertinya usia jembatan bahkan lebih tua dari sebagian besar penduduk desa."
Tidak ada penduduk manusia yang mengetahui tentang asal-usul jembatan, akhirnya aku bertanya pada Grock yang merupakan kurcaci sekaligus penduduk tertua.
“Jembatan itu dibangun oleh para Giants.” kata Grock.
“Giants?.”
“Benar, mereka adalah para penduduk dari kerajaan Tamuz.”
Grock menceritakan jika para Giant dari kerajaan Tamuz memiliki pengaruh besar bukan hanya di benua Jotun tapi seluruh dunia.
“Bukan hanya bentuk fisik yang besar, mereka juga memiliki kecerdasan melebihi manusia. Giants Tamuz kingdom sangat berbeda dengan Giant saat ini.” Grock melirik aku saat mengatakan itu, seakan dia membandingkan kecerdasanku tidak lebih baik dari Giant Tamuz kingdom.
Cerita Grock membuat aku penasaran untuk melihat kerajaan Tamuz. Tapi mungkin akan sangat sulit jika aku harus menaiki gunung Frieg sekali lagi. Walaupun begitu aku sudah memutuskan untuk mencarinya karena salah satu item yang dibutuhkan untuk menyelesaikan quest Senjata Grock ada di sana.
“Tapi ngomong-ngomong berapa ukuran para warga kerajaan Tamuz hingga mereka disebut sebagai Giant?.”
“Tidak semua Giant memiliki ukuran tubuh besar seperti yang orang-orang bayangkan. Misalnya dirimu yang merupakan Ras Giant tapi tidak berbeda dengan manusia normal. Walaupun ukuran tubuh para Giant berbeda, mereka memiliki satu kesamaan yaitu kekuatan yang luar biasa besar.”
Kekuatan Gian, aku berpikir jika itu karena bonus ras para Giant yang menambahkan dua poin pada kekuatan.
Setelah percakapan kecil kami, Grock memutuskan kembali bekerja membantu pembangunan jembatan. Karena aku memiliki kekebalan mutlak pada elemen Es, mereka pun memintaku untuk membuat pondasi tiang jembatan di dalam sungai.
Itu bukanlah pekerjaan yang menyulitkan untukku karena keahlian perenang handal membuatku dengan mudah berenang dan menyusun blok di dasar sungai. Tapi yang membuat pekerjaan ini sulit adalah arus kencang dan para monster penghuni sungai.
Seekor ikan monster dengan dua lengan bercakar tajam menyerang ku saat tengah menyusun blok batu sebagai pondasi. Ikan sebesar anjing dewasa itu mencakar punggungku hingga darah mewarnai air sungai menjadi merah.
‘Syit!.’ aku mengumpat dalam pikiran saat rasa perih di punggungku mulai terasa semakin menyakitkan karena suhu ekstrem air sungai.
Monster ikan kembali melakukan serangan tapi aku sudah bersiap kali ini, dengan cepat dia berenang marahku. Cakar tajam siap menyerang tapi aku segera menggunakan tombak untuk bertahan.
‘Oh ayolah.’
Sialnya serangan tombak ku berhasil dihindari, monster ikan pun mengayunkan cakarnya tapi perisai lengan melindungi ku. Menggunakan kesempatan saat jarak kami berdekatan, aku Sega meraih salah satu lengan monster ikan sementara tangan yang lain menggenggam pisau.
Stab! Stab! Stab!
Aku menikam beberapa kali menggunakan pisau pada perut monster hingga membuatnya terbunuh.
Ding!
[Berhasil mengalahkan Frenzy Kod, mendapatkan 200 Exp]
Notifikasi mengakhiri pertarungan antara aku dengan ikan monster, tapi perang baru saja dimulai. Di sungai luas dan dingin membeku ini terdapat ribuan monster yang siap untuk memangsa ku, kekuatanku yang sekarang belum bisa untuk melawan mereka.
Semakin ke tengah maka semakin kuat monster yang aku lawan. Karena masalah monster dan penghuni sungai mungkin pembangunan jembatan tidak akan berjalan secepat yang aku perkirakan.
__ADS_1
Aku harus melakukan penyelaman beberapa kali karena gangguan dari monster ikan membuatku lebih banyak menghabiskan waktu untuk melawan mereka daripada menyusun blok. Tapi beruntung semakin lama aku menyelam membuat level skill [Perenang ahli]meningkat menjadi [Perenang Master].
Selain menambah durasi bernafas saat menyelam, skill [Perenang Master] juga membuka kecepatan berenang semakin meningkat, sekarang aku bisa bergerak cepat bagikan torpedo di dalam air.
Keluar dari dalam air, aku hanya mengenakan dalaman. Orang biasa pasti akan mati dalam berapa detik karena hipotermia jika melakukan hal sama seperti yang aku lakukan, tapi itu tidak akan menjadi hal besar untukku.
“Estrid apa kau baik-baik saja?.” Sania terlihat khawatir saat aku keluar dari dalam air dengan tubuh penuh luka cakar dan gigitan, darah bercucuran dari luka-luka itu. Tapi dalam satu tarikan nafas semua luka kembali menutup.
“Tidak masalah.” balasku singkat.
Semua tatapan lelaki seketika tertuju padaku karena godaan besar keinginan melihatku yang baru saja berenang. Tapi mereka segera mengalihkan perhatian ketika Sania mulai marah-marah.
Aku segera mengenakan equipment miliki kembali, tindakan itu membuat suara kekecewaan terdengar dari para lelaki.
“Kerja bagus.” kata Grock sambil menatap pondasi jembatan yang baru saja aku bangun. Ada dua pondasi dengan jarak masing-masing 50 meter. Mereka akan mulai membangun tiang secara bertahap, sementara tugasku sudah selesai untuk saat ini.
“Untuk sekarang hanya ini yang bisa aku lakukan.” Aku harus menjadi lebih kuat lagi untuk membangun pondasi lebih banyak hingga mencapai tepi sungai di sisi lain.
***
Berpamitan pada Sania dan yang lainnya, aku bersama Alaska dan Pluto meninggalkan sungai dan menuju timur laut. Mengikuti mini map kami menuju kawasan hutan dimana wilayah ini menjadi tempat berburu warga desa.
“Hem?.” langkahku terhenti saat merasakan ada beberapa orang yang sedang mengikuti aku.
Perhatianku beralih pada dua Serigala yang sudah tahu jika kami sedang diikuti, tapi keduanya hanya diam karena merasa penguntit tidak akan memberikan ancaman.
“Percuma bersembunyi, aku sudah melihat kalian ada di sana.” aku berkata pada para penguntit yang berusaha bersembunyi.
“Uwaa... kita ketahuan, bagaimana ini?.”
“A... aku sudah bilang jika kita tidak boleh mengikutinya.”
“Tapi....”
“Apa nona Estrid akan marah?.”
“Itu gawat....”
Para penguntit mulai berdebat satu sama lain. “Sudahlah kalian keluar aku tidak akan marah.” ucapku menyakinkan para penguntit. Selanjutnya beberapa anak mulai keluar dari tempat mereka bersembunyi.
“Seperti yang diharapkan dari kak Estrid, kau segera tahu jika kami mengikuti mu.” Byrome dengan percaya diri menghampiriku, sementara anak-anak lainnya bersembunyi dibelakangnya.
***
Bersambung.
__ADS_1