Penyihir Hitam Log-in

Penyihir Hitam Log-in
22. Log out


__ADS_3

Ribuan pasukan musuh memenuhi gerbang istana, jumlah yang tidak sebanding dengan pasukan kerajaan membuat usaha mempertahankan istana tidak akan bertahan lama.


“Inilah akhirnya.” Daeyat tersenyum lebar setelah berhasil menikam Raja Tribuana.


“Jangan membuang waktu lebih lama, segera bunuh Raja dan selesaikan pertempuran ini!.” salah satu armor berkilau yang sedang melawan Wikram, mendesak agar Daeyat segera mengeksekusi raja Tribuana.


Kedua armor berkilau begitu kerepotan dengan lawan yang mereka hadapi, walaupun kemenangan sudah di depan mata namun perjuangan tentara kerajaan Jayakarta begitu gigih.


Tapi mereka percaya jika keberanian itu datang dari kemampuan raja mereka. Kematian Raja akan membuat mental prajurit kerajaan melemah.


“Tck, beraninya kalian para bajingan berkata seperti itu pada ku, Raja baru kerajaan ini!.” Daeyat bertingkah arogan walaupun dia belum menjadi Raja.


Tatapannya kembali pada Raja Tribuana yang tersungkur di tanah dengan luka di perutnya. Kilatan kebencian bersinar di mata Daeyat, dengan sebilah keris dia berniat mengakhiri semuanya. Otaknya terus memikirkan apa yang akan dia lakukan setelah menjadi Raja.


“Ahahaha... tahtah yang sudah sejak dulu aku impikan akhirnya aku akan mendapatkannya!.” ketika Daeyat mengayun keris nya, tidak ada yang dapat menghentikan.


Wikram yang hendak menolong Raja tapi terhalang oleh dua kesatria di depannya. Sementara itu sadar jika ajalnya akan menjemput, Raja Tribuana terus memikirkan nasib keluarganya. Dia berharap Ratu berhasil selamat, dia berharap putrinya akan baik-baik saja, dan dia juga berharap jika Pangeran yang saat ini berada di kerajaan lain tidak akan menuntut pembalasan dendam atas apa yang terjadi malam ini.


‘Aku hanya bisa berharap jika mereka hidup dengan kedamaian.’ ada banyak yang dia harapkan saat kematia akan menjemputnya.


‘Terasa begitu aneh.’ Raja menatap Daeyat yang hendak menikamnya, dia tidak mencoba untuk melawan karena sadar tidak akan berguna, dia pasrah akan kematiannya.


Dalam dunia yang bergerak begitu lambat hingga seolah waktu telah di bekukan, belasan pasang mata di langit tengah menatap akhir dari kerajaan Jayakarta yang dituliskan terjadi hari ini.


Mereka adalah developer, para dewa yang telah menciptakan game Minvers. Sudah dua tahun mereka menantikan hari ini, hari dimana game yang mereka buat benar-benar dimulai.


‘Kehancuran kerajaan Jayakarta akan menjadi awal dari segalanya’, setidaknya itulah yang para developer pikirkan.


Tapi terkadang takdir sulit untuk dimengerti bahkan oleh para dewa sekalipun.


Kapal terbang yang tidak dapat dikendalikan dengan cepat meluncur ke arah gerbang istana. Bencana besar terjadi manakala kapal itu menghantam puluhan ribu pasukan musuh dan meledak dengan kekuatan yang begitu besar.


Dalam radius dua ratus meter dari gerbang istana, tidak ada apapun yang tersisa. Tidak ada teriakan, tidak ada mayat, semuanya lenyap menjadi debu.


Dua armor berkilau yang menghadapi Wikram terkejut dengan ledakan besar di belakang mereka, itu membuat perhatian keduanya teralihkan. Melihat kesempatan kesatria terkuat di Jayakarta langsung membalikkan situs.


Kedua armor berkilau tewas di tangan sang ksatria.

__ADS_1


Setelah menghabisi kedu armor berkilau yang mengganggunya, Wikram bergegas menolong Raja. Akibat dari ledakan besar membuat Daeyat terpental, melihat kesempatan Raja Tribuana yang semula pasrah kembali melakukan perlawanan.


Dengan keris yang dijatuhkan oleh Daeyat, Raja Tribuana menikam tenggorokan sang penghianat.


Raja Tribuana dengan tajam menatap Daeyat yang tengah sekarat. Tatapan penghianat itu seolah tidak percaya bagaimana mungkin kemenangan yang hampir dia raih, lepas begitu saja dan berakhir dengan kekalahan mutlak.


“Ini adalah kehendak para dewa. Kau tidak pantas memimpin kerajaan ini, dan kerajaan ini pun akan tetap ada hingga hari esok.” ucap Raja yang kemudian menarik keris itu dari leher Daeyat.


Darah mengalir deras mengakhiri hidup Daeyat si penghianat. Andai saja dia langsung menghabisi Raja Tribuana begitu ada kesempatan, keinginannya untuk menjadi Raja kerajaan Jayakarta pasti sudah dua dapatkan.


Tapi karena arogansi yang dahulukan, bukan hanya kematian yang dia raih tapi juga murka para dewa akan menghantuinya hingga dasar neraka.


Melihat apa yang terjadi pada event kehancuran kerajaan Jayakarta membuat para developer panik. ‘Seharusnya tidak seperti ini’ pikir sebagian besar dari mereka, ‘Apa yang harus dilakukan.’ beberapa mulai mengendalikan kepanikan dan mencoba mencari solusi.


Hingga akhirnya semua berakhir dengan.


Ding!


[Anda keluar dari permainan]


Tiba-tiba saja semua player dikeluarkan dari Minvers secara paksa.


***


Dering telepon terdengar disetiap lantai, pesan email membanjiri setiap komputer yang ada. Jutaan player Minvers mengajukan keluhan dikarenakan secara mendadak dikeluarkan dari permainan.


“Sungguh betapa gilanya tempat ini.” Glenn salah satu programer di perusahaan Metaworld hanya bisa menatap dengan iba pada rekan-rekannya yang ketar-ketir menghadapi keluhan para player.


Tidak lama kemudian seorang wanita menghampiri mejanya, wajah wanita itu terlihat begitu marah. “Ada apa gerangan hingga wakil ketua sendiri yang datang ke ruangan para budak?.” perkataan Glenn membuat perhatian semua karyawan yang sibuk segera terarah pada keduanya.


Tifani semakin marah melihat Glen yang seolah tidak memandangnya sebagai atasan, tapi wanita itu tidak dapat melakukan apapun pada bawahannya itu dikarenakan Glen merupakan programer penting perusahaan.


Orang dibalik terciptanya game Minvers, Glen Clownsky, aset paling berharga yang membuat Metaworld berhasil menghindari kebangkrutan akibat platform media sosial yang tidak lagi menarik, lalu bangkit menjadi perusahaan game terbaik setelah terciptanya Minvers.


“Kau menjadi besar kepala.” Tifani mencoba menahan amarah.


“Benarkah?, Tapi justru aku merasa kau yang semakin sombong setelah kondisi perusahaan semakin baik.” balasan dari Glen membuat wanita itu semakin merah wajahnya. Jika dilanjutkan mungkin Tifani akan meledak.

__ADS_1


“Tidak usah banyak bicara, pemimpin ingin bicara dengan mu!.” Tifani segera menyeret Glen menuju ruang meeting .


Selain Glen, ada juga programer lain yang sudah menunggu di ruangan tersebut. Nun berbeda dengan Glen, para programer itu sepertinya sudah lama di ruangan itu bersama pemimpin.


Tatapan semua orang dengan tajam tertuju pada Glen, seolah mereka sudah menyiapkan sesuatu untuknya. Namun apapun itu Glen tidak peduli, dia hanya memikirkan tentang tidak adanya kursi yang tersisa untuknya.


“Jadi ada yang bisa menjelaskan tentang apa yang baru saja terjadi di game!.” Mark Moris, pria gemuk dan wajah seperti bab1 hutan itu dengan penuh amarah. Semua orang hanya menundukkan kepala tanpa menjawab, tatapan mereka melirik pada Glen.


“Glen cepat jelaskan!.” Moris membentak keras. Tapi Glen tetap tenang seolah tidak merasakan intimidasi dari atasannya.


“Kau yakin Ingin mendengarnya?, Apa jika aku berbicara padamu yang bahkan mengaggap konsol game dan komputer adalah dua hal yang sama, bisa membantu?.” Glen memperlakukan Moris seperti orang bodoh.


Tapi memang pada kenyataannya seperti itu, Moris tidak memiliki sedikitpun pengetahuan tentang teknologi. Tapi karena memiliki uang dan koneksi, Moris dapat mempertahankan perusahannya hingga sekarang.


“Beraninya kau bicara seperti itu pada pemimpin!.”


“Ini pasti ulahmu bukan!, Kau sengaja mengacaukan event yang telah kami susun selama dua tahun!.”


“Kau pasti iri karena sekarang kami yang mengendalikan Minvers.”


Beragam tuduhan serta makian dilontarkan oleh para programer pada Glen. Mereka yang dulu merupakan rekan Glen, namun setelah Minvers semakin populer mereka mendapatkan tempat yang lebih baik di perusahaan, sementara Glen masih berada di tempatnya semula.


Itu terjadi bukan karena Glen yang tidak pandai menjilat atasannya seperti rekan-rekannya, tapi memang sifat pemuda itu yang lebih fokus pada pekerjaannya tidak peduli dengan jabatan dan uang.


“Kenapa kalian berteriak-teriak seperti orang utan?. apa otak kalian tertinggal saat dikeluarkan secara paksa dari permainan?.” perkataannya Glen seketika membuat ruangan itu hening.


Semua orang tidak menyangka pemuda yang selalu diam dan menerima perintah seperti karyawan yang patuh kini berani membalas perkataan dan bahkan menyamakan mereka dengan primata.


“Apa ada bukti jika aku ikut campur dalam ‘Event’ yang kalian bicarakan?.” Glen berusaha membela diri, dia tidak ingin semua kesalahan ditimpakan padanya seperti yang sudah terjadi sebelumnya.


Tapi balasan Glen dibalas dengan amarah Moris. Perusahaan tidak mungkin mengeluarkan Glen saat ini dikarenakan pemuda itu yang pembuat game Minvers.


Hanya Glen yang tahu bagaimana menciptakan game yang begitu sempurna seperti sebuah kenyataan, sementara programer lainnya hanya kaki tangannya. Dia tahun Moris menginginkan Minvers menjadi miliknya.


Pemimpin perusahaan Metaworld sudah cukup bersabar agar Glen memberitahu rahasia Minvers. Tapi hari ini kesabaran Moris berakhir, dia menginginkan Minvers dengan cara apapun.


***

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2