
Sudah setengah hari lamanya semenjak Estrid meninggalkan desa menuju pertambangan. Malam itu Herka begitu khawatir dengan keadaan wanita yang telah menjadi tamunya selama beberapa hari. Esoknya karena masih khawatir dua berniat untuk melihat keadaan pertambangan.
Tapi takut jika di jalan bertemu serigala salju, Herka pun berniat membawa seseorang untuk ikut bersamanya. Wanita tua itu pun meminta Hektor untuk menemaninya mengecek keadaan Estrid di tambang.
Awalnya Hektor merasa ragu dan berniat menolak karena saat ini dia sedang menyusun rencana untuk membangun ulang jembatan bersama warga desa.
Tapi setelah Sania ikut membujuk Hektor, pria itu pun bersedia pergi ke pertambangan bersama beberapa warga desa termasuk Herka dan Sani.
Lima orang keluar dari desa menuju wilayah pertambangan, di jalan mereka menemukan area yang dipenuhi oleh cairan hitam. Sebelumnya area itu adalah tempat dimana Thunder Rooster terbunuh.
“Darah Draugher.” kelimanya langsung mengetahui cairan hitam yang berceceran di seluruh area adalah darah Draugher.
“Bukankah ini terlalu banyak? Bisakah kau bayangkan seberapa banyak Draugher hingga menjadi seperti ini.” ucap salah satu warga setelah melihat tempat itu hampir sepenuhnya di tutup oleh cairan hitam
“Mungkin 30 atau 50?.” jawab warga desa lainnya.
Semua orang pun memikirkan apa yang sebenarnya terjadi ditempat itu, kenapa ada banyak darah Draugher. Beberapa kemungkinan mereka pikirkan hingga Herka teringat jika Draugher memiliki penciuman tahan terhadap darah.
“Sania apa kau ingin untuk mengubur darah Thunder Rooster yang berceceran di salju?.” tanya Herka. Mendengar itu Sania sangat terkejut seakan dia baru saja teringat sesuatu yang begitu penting.
“Ahaha... maaf kepala desa sepertinya aku lupa.” balas Sania dengan tawa kering. Sebagai tanggapan Herka segera memukul kepala wanita itu dengan tongkatnya. “Dasar gadis ceroboh, kau hampir saja membuat desa diserang oleh kawanan zombie!.”
“Ueeee.... maafkan aku ketua desa....” Sania tidak mengelak dari kesalahan yang sudah dia lakukan, dia tahu jika hampir saja mengakibatkan bencana besar pada desa.
Setelah memastikan tempat itu benar-benar aman dari bau darah, rombongan itu pun kembali melanjutkan perjalanan menuju perjalanan.
Tidak ada satupun mayat Draugher yang tersisa membuat setiap orang berpikir jika Estrid lah yang melawan gerombolan Draugher, karena di desa hanya wanita itu yang memiliki kemampuan penyimpanan dimensi.
‘Apakah Estrid mengalah semua monster saat menuju pertambangan? Tapi kenapa dia tidak kembali ke desa untuk melapor?.’ pertanyaan demi pertanyaan mengganggu pikiran setiap orang.
Tidak lama kemudian mereka sampai di pertambangan. Kedua serigala salju peliharaan Estrid menyambut kedatangan mereka di pintu masuk goa.
__ADS_1
Woof woof woof....
“Oh lihat siapa dua anak baik yang sedang menjaga tempat ini, hum?.” Sania bermain-main dengan dua serigala itu sebelum akhirnya menanyakan keberadaan Estrid.
Dengan bayaran daging kering, para serigala kemudian menunjukan letak lubang galian dimana Estri telah menghilang selama belasan jam.
Setiap orang saling menatap melihat lubang galian yang begitu aneh. Dengan tinggi tiga meter dan lebar dua meter, jalur baru itu terlihat seperti tidak digali oleh tangan manusia.
Begitu rapi membentuk kotak sempurna seakan orang yang menggalinya menggunakan sebuah alat khusus, karena memang tidak mungkin manusia biasa bisa menghasilkan galian seperti itu.
Lalu yang lebih membingungkan tidak ada sedikitpun bekas dari penggalian seperti tabah maupun batu. Seakan seseorang menggali tanah dengan cara menghapusnya.
Para penduduk hanya mengetahui selama ini pertambangan hanya digunakan oleh Grock. Mereka sempat berpikir jika Dwarf itu yang membuat lubang aneh tersebut.
Tapi dugaan itu segera terbantahkan setelah melihat dinding lubang yang masih terasa baru digali sementara Grock sudah tidak aktif menambang selama tiga tahun.
Alaska dan Pluto masuk kedalam lubang galian lebih dahulu. Mereka terus mengendus bau Estrid. Melihat jika lubang itu aman baru Hektor memimpin rombongan masuk kedalam.
Setelah berjalan satu jam mereka mulai kelelahan, hawa panas di dalam goa menyebabkan dehidrasi. Pikiran untuk berhenti menyusuri lorong semakin menguat, ditambah mereka tidak tahu apakah lorong tersebut memiliki ujung atau tidak.
Tapi melihat dua serigala yang terus mengendus keberadaan Estrid membuat mereka yakin jika terus turun ke bawah adalah pilihan terbaik. Hingga akhirnya mereka sampai di ruangan yang begitu luas, beberapa tiang besar berdiri di tengah dengan Rune cahaya terukir.
Hektor menyarankan untuk beristirahat sejenak di tempat Ini. Sementara para wanita beristirahat, Hektor dan dua penduduk mengecek keadaan ruangan itu. Mereka tidak tahu apa yang membuat si penggali lorong membuat ruangan sebesar itu, hingga salah satu penduduk menemukan sesuatu.
“Waaaa!.” tiba-tiba penduduk desa itu berteriak membuat semua orang mengarahkan perhatian padanya.
“Apa yang terjadi?.” tanya Hektor yang terlihat begitu waspada.
“I... ini ini....” dengan tubuh gemetar penduduk desa menunjukan sesuatu di telapak tangannya yang merupakan sebuah bongkahan batu berwarna kekuningan.
“““Emas?.””” ucap semua orang secara berbarengan kecuali Herka yang sepertinya tidak peduli dengan emas yang ditemukan. Wanita tua itu masih menghawatirkan keberadaan Estrid.
__ADS_1
Penemuan emas membuat mereka menghabiskan lebih lama di dalam ruangan itu. Semakin lama mencari mereka menemukan berbagai material berharga seperti perak, kristal, dan masih banyak lagi.
Mendapatkan harta Karun membuat mereka ingin lebih lama di dalam ruangan itu, tapi Herka segera meminta Hektor untuk kembali melanjutkan pencarian.
“Semua yang kau dapatkan tidak akan ada gunanya jika tidak bisa digunakan, kalian tahu bukan jika saat ini desa kita tengah terisolasi?.”
Bagaikan disambar petir, semua orang terkejut mendengar perkataan Herka. Karena terlalu senang mendapatkan emas membuat mereka lupa jika satu-satunya jalan penghubung desa saat ini masih rusak yang berarti semua emas yang mereka temukan tidak mungkin bisa di jual ke kota.
Melihat jika keempatnya sulit melepas semua emas yang mereka temukan, Herka menyarankan agar membawa emas seperlunya saja sementara sisanya disembunyikan di suatu tempat. Keempatnya pun mengambil saran Herka.
Perjalanan kembali dilanjutkan. Berjarak tiga ratus meter dari ruangan penuh material berharga terdapat sebuah kolam berisi air yang begitu dingin. Semua orang segera menghilangkan rasa harus yang mereka tahan dengan meminum air kolam. Panas dari terowongan membuat air dingin itu terasa begitu segar.
Kembali turun, lorong yang semula hanya lurus ke bawah kini agak berkelok-kelok seakan ada sesuatu yang tidak dapat dihancurkan oleh si penggali. Di sepanjang jalan juga mereka menemukan beberapa beliung yang sudah hancur.
Hingga akhirnya setelah menempuh perjalanan satu setengah jam menuruni tangga mereka melihat akhir dari lorong. Dari kejauhan bersinar cahaya yang begitu terang, begitu menaikinya mereka mendapati diri berada di tengah ladang bunga yang memancarkan cahaya.
“Apa ini seperti yang aku pikirkan?.” tanya Hektor.
“Mungkin...” Herka menjawab dengan tidak yakin.
“Tidak ini pasti tidak salah lagi cahaya matahari yang kita butuhkan.” jawab Sania penuh keyakinan.
Mereka terpesona dengan keindahan tempat itu hingga salah satunya menyadari terdapat seorang wanita yang tengah terbaring di atas ladang bunga.
“Estrid!.” Herka dan dua serigala salju segera menghampiri Estrid, wanita tua itu merasa lega setelah mengetahui jika Estrid saat ini hanya tertidur. Hektor dan Sania kemudian menghampiri dan bertanya apakah perlu membangunkan Estrid.
“Tidak, biarkan dia beristirahat. Dia pasti sudah berkerja begitu keras.” ucap Herka yang menyadari kedua telapak tangan Estrid terluka dengan kulit terkelupas.
***
Bersambung.
__ADS_1
Author: saya merasa kemampuan menulis TP POV saya menurun.