
Gunung Frieg dipercaya dahulu merupakan sebuah pohon yang begitu besar, sangat besar hingga ujung pohon tersebut menembus langit. Tempat dewa-dewa lama berkuasa hingga akhirnya terjadi pertarungan besar yang mengakibatkan kiamat.
Banyak versi tentang musuh dari para dewa saat perang besar. Ajaran dari sekte Radiant yang terkenal di benua tengah mengatakan jika lawan para dewa adalah iblis dari neraka.
Lain halnya dengan para iblis yang menganggap lawan dari para dewa adalah dewa itu sendiri. Mereka percaya jika para dewa saling berebut kekuasaan sehingga terjadilah perang besar yang berujung kehancuran bumi.
Sementara keyakinan para manusia buas atau Beastman mengatakan jika lawan dari dewa adalah para Titan dan Giant. Keyakinan itu berdasar pada kerajaan Tamuz yang berdiri di atas tanggul pohon dunia dan kemudian dikenal sebagai gunung Frieg.
“Jadi ada sebuah kerajaan di atas gunung itu?.” aku bertanya pada Herka setelah mendengar cerita asal usul dari gunung Frieg.
“Begitulah, tapi bukankah kau berasal dari atas sana? Aku pikir kau berasal dari kerajaan Tamuz.”
Tanganku terus mengukir tulang yang aku dapatkan dari burung raksasa, beberapa bagian aku potong dan diukir dengan Rune, semua orang memperhatikanku, mereka penasaran dengan apa yang sedang aku buat.
“Entahlah tiba-tiba aku berada di atas sana.” melihat mereka kebingungan dengan perkataan ku, aku segera menjelaskan jika banyak Traveler sepertiku yang muncul di seluruh dunia.
“Biasanya mereka akan muncul di kota besar atau tempat yang aman. Namun aku pikir terlalu sial karena dipindahkan di atas gunung Frieg.”
Ketika Hektor bertanya tujuan para Traveler datang ke dunia mereka, aku pun menjawab “Banyak alasan entah itu hanya sekedar berlibur menikmati keindahan dunia, atau mencari kekayaan dan kekuatan untuk menjadi yang terbaik diantara para Traveler.”
Memburu monster, memasuki ruang bawah tanah semua akan dilakukan oleh Travel untuk menjadi lebih kuat.
“Apa kau tidak takut akan kematian?.” tanya tuan Butcher setelah mendengar jika para Traveler akan menjadi lebih kuat serta mengalahkan monster. “Tidak, anggap saja dewa telah memberikan berkah keabadian pada kami.” balasku.
Cerita terus berlanjut, kali ini aku bertanya mengenai musim dingin yang berlangsung selama lima tahun di benua Jotun.
“Kau mengingat tentang kerajaan Tamuz yang sebelumnya aku ceritakan padamu?.” Herka bertanya, dia seperti seorang nenek yang ingin menceritakan dongeng pada cucunya. Aku pun mengangguk sebagai jawaban.
Lima tahun lalu para Giant telah mengarungi lautan sebagai Viking, mereka pulang dengan membawa mayat seekor monster laut yang mereka buru sebagai piala penaklukan samudra.
“Itu adalah naga laut, aku masih ingat betul kepala monster itu lebih besar dari kastil pelabuhan.” ucap Hektor.
__ADS_1
Desa ini merupakan jalur utama penghubung pelabuhan dengan gunung Frieg, itu menyebabkan rombongan para Giant melawati desa saat mereka pulang.
“Hahaha... aku teringat dengan para Giant, mereka sangat suka makan. Saat berkunjung di restoran ini mereka selalu menghabiskan banyak uang.” tuan Butcher tertawa saat mengingat masa restorannya masih berjalan.
“Jadi apa terjadi sesuatu dengan naga laut yang mereka bawa pulang ke kerajaan Tamuz?.” aku bertanya karena sangat penasaran.
Tidak disangka jika ladang salju yang aku lewati di hari pertama bermain game Minvers ternyata dibawahnya terdapat sebuah kerajaan rahasia. Sebagai seorang gamer aku tentu mengerti jika di dalam kerajaan itu pasti terdapat sesuatu yang istimewa menanti untuk ditemukan.
“Benar, naga laut itu ternyata bukan monster biasa. Aku tidak tahu secara pastinya tapi ada yang mengatakan jika naga laut sebenarnya jelmaan dari dewa.” Herka mengatakan jika Naga laut yang dibawa para Giant adalah asal usul dari terciptanya empat bencana yang menghantui benua Jotun.
“Dari inti naga laut terlahir empat monster bencana. Mulai dari Thunder Rooster, Typhon, Frost Giant dan yang terakhir Ice Queen. Merekalah yang mengakibatkan benua ini mengalami musim dingin panjang.”
Semua orang di benua beku ini yakin jika keempat monster itu dikalahkan maka musim dingin akan berakhir dan mereka akan bisa melihat matahari lagi.
Membicarakan inti naga laut membuatku teringat tentang inti dari Thunder Rooster yang saat ini dibawa olehku karena tidak ada seorangpun mau menerimanya.
Inti monster itu terlalu kuat hingga tidak semua orang dapat menyentuhnya karena aliran listrik yang terus mengalir. Dikatakan pula jika inti monster mudah meledak terutama jika ukurannya semakin besar.
“Inti monster sebesar itu akan melenyapkan seluruh desa dalam sekejap.” ucap kepala desa.
Karena tidak ada satupun orang yang mau menyimpan inti dari Thunder Rooster, aku pun menyimpannya di dalam inventori.
Tidak terasa malam telah larut, aku selesai dengan pekerjaan yang sejak tadi aku lakukan selama kami mengobrol. Mereka masih penasaran dan terus memperhatikan aku memasang tiap bagian dari tulang yang aku ukir.
“Burung?.” ucap keempatnya dengan bingung.
“Ini hanya mainan anak-anak.” aku mengaktifkan Rune pada boneka burung yang membuatnya bergerak dan terbang layaknya burung asli.
“Luar bias.” Herka kagum dengan keahlian ku pada Runecraft semakin berkembang.
“Itu pasti akan laku mahal jika di jual.” Sania selalu memikirkan tentang bisnisnya sebagai pedagang walaupun sudah beberapa tahun dia terjebak di desa ini.
__ADS_1
Sementara para lelaki hanya diam sambil menatap burung yang terbang di langit-langit. Mereka seakan sedang memikirkan sesuatu. Hingga tidak lama kemudian burung tulang yang aku buat jatuh saat terbang hingga membuatnya hancur, semua orang terkejut melihatnya lalu menatap ke arahku.
“Sepertinya energi mana telah habis.” aku mengambil setiap bagian boneka burung untuk dirakit ulang. “Nona Estrid, mungkinkah kau menciptakan kaki buatan untukku?.” tiba-tiba Hektor bertanya padaku, mendengar itu Sania menghela nafas seakan menyerah.
“Ya aku bisa.”
“HAH kau bisa!.”
Bukan Hektor melainkan Sania yang beraksi dengan penuh kegaduhan saat mendengar jawabanku, bahkan tuan Butcher dan Herka pun terlihat sangat antusias.
‘Sepertinya Hektor sangat disukai oleh para penduduk desa’
“Aku bisa membuat kaki buatan yang bisa berfungsi layaknya kaki asli. Namun masalahnya Rune yang Aku buat terlalu mengurus energi mana, jika kau menggunakan alat yang akan aku buat takutnya tidak bisa kau gunakan.”
Aku memperlihatkan boneka burung yang hanya mampu bertahan selama satu menit walaupun aku telah mengisi tujuh puluh persen dari energi mana yang aku miliki.
“Kelemahan pada boneka ini terletak pada darah yang digunakan untuk mengukir Rune bukan?.” tanya Herka guru yang mengajariku membuat Rune.
“Itu benar guru, apakah mungkin ada sesuatu yang dapat menggantikan darah sebagai tinta membuat Rune?.”
“Tentu saja, kau bisa menggunakan perak maupun emas. Tapi yang paling baik untuk membuat Rune adalah sebuah mineral yang bernama Lapis Azuli.”
Herka begitu semangat saat menceritakan tentang keinginannya untuk setidaknya sekali membuat Rune dengan Lapis Azuli, “Itu adalah impian setiap Runecraft.” katanya.
Setelah mendengar percakapanku dengan Herka, Sania segera pergi meninggalkan restoran dengan tergesa-gesa, melihat itu Hektor mencoba mencegatnya seakan tahu apa yang ada dipikiran wanita itu, tapi dia tidak bisa karena kakinya yang cacat.
Tidak lama kemudian Sania datang membawa kotak kayu berisi tiga emas dan lima puluh perak. “Aku harap ini cukup untuk membuatkan kaki untuk Hektor.” perkataan Sania membuat Hektor sangat marah, dia mengatakan tidak mau dikasihi.
“Bawa lagi semua uang itu, kau akan membutuhkannya jika jembatan kembali dibangun.” bentak pemuda pincang itu.
“Tapi kapan? Kita sudah tiga tahun menunggu tapi tidak ada yang datang kemari. Jika kita hanya terus menunggu maka tidak akan lagi ada yang tersisa. Kita akan kembali kelaparan dan satu persatu akan mati membeku.” dengan berurai air mata Sania membentak Hektor, pemuda itu pun tidak dapat membalas perkataannya.
__ADS_1
***
Note: alur cerita lambat dan minim aksi, semoga kalian tidak bosan.