
Pekikan burung raksasa bergema di seluruh lembah. Monster itu merasakan kesakitan luar biasa ketika manusia di punggungnya melakukan serangan hingga membuatnya terluka.
“Ini akibatnya jika kau sembarangan memilih makanan.” Estrid terus mengayunkan kapak memberikan serangan. Kulit burung yang terkoyak mengeluarkan darah dan melumuri tubuh Estrid.
Burung raksasa semakin marah ketika rasa sakit dari serangan Estrid semakin kuat. Tidak ingin kesakitan itu terus berlanjut burung raksasa mencoba menyingkirkan Estrid dari punggungnya dengan segala cara.
Usaha pertama burung raksasa terbang begitu cepat sambil melakukan manuver terbang acak, hasilnya Estrid hampir saja terjatuh dari punggung burung tapi beruntung dia sempat berpegang pada bulu.
“Apa hanya itu kemampuanmu!.” tidak sedikitpun merasakan takut, Estrid justru menantang burung raksasa untuk berusaha lebih keras.
Baginya usaha burung raksasa yang terbang cepat dan melakukan manuver tajam membuat Estrid merasa seperti sedang menaiki roller coaster.
Sadar jika usaha pertamanya tidak membuahkan hasil, butung raksasa merubah strategi. Tatapan burung itu tertuju pada tebing gunung. Seolah mendapatkan ide cemerlang burung raksasa segera menuju tebing.
“Sial apa kau ingin bunuh diri?.” mengerti apa yang akan dilakukan burung itu, Estrid segera menaiki punggung monster menuju kepalanya.
Usaha Estrid sangat sulit karena burung beberapa kali melakukan manuver tajam yang membuat wanita itu beberapa kali melepaskan pegangannya.
“Ah sial!.” pegangan Estrid terlepas, dia berpikir ini akan menjadi akhir dari permainan karena jatuh dari ketinggian itu akan membuatnya terbunuh.
“Kau pikir aku akan menyerah!.” dengan kemarahan Viking, Estrid menghantam kapak ke punggung burung hingga membuatnya tersangkut.
Jeritan kesakitan burung kembali terdengar namun kali ini jauh lebih keras manakala serangan wanita di punggungnya semakin kuat. Estrid berhasil bertahan tapi sayangnya kapak yang dia gunakan telah rusak.
“Bagaimana sekarang?.” Estrid menjadi bingung setelah melihat kapak yang dia gunakan hancur.
Masih ada beberapa pedang berkarat di inventori miliknya, tapi Estrid tidak yakin jika pedang-pedagang itu bisa melukai kulit burung raksasa yang begitu tebal.
“Ini pasti akan berhasil, bagaimanapun aku tidak akan menyerah hingga permainan berakhir.”
Estrid menggunakan satu persatu pedang berkarat untuk menaiki punggung menuju kepala burung.
Karena tidak mungkin pedang usang dapat melukai kulit burung, Estrid menggunakan amarahnya saat melakukan srangangn. Usaha Estrid berhasil namun pedang langsung hancur setelah digunakan satu kali.
Tapi itu sudah cukup untuk Estrid menaiki punggung, pecahan dari pedagang yang menancap di daging dia gunakan sebagai pijakan.
Estrid menahan rasa sakit di telapak kakinya saat menginjak mata pedang. Tusukan yang diberikan Estrid membuat burung raksasa semakin kesakitan, monster itu mempercepat terbangnya menuju tebing.
Burung raksasa menggosokan punggungnya ke dinding tebing berharap dapat menyingkirkan Estrid dari punggungnya. Estrid mendapatkan luka fatal karena tubuhnya mengenai bebatuan, kesehatan wanita itu turun hingga tersisa lima belas persen.
Walaupun tubuhnya penuh dengan luka, Estrid beruntung masih bisa mempertahankan kesadarannya. Giginya terkatup dengan kuat menahan rasa sakit di sekujur tubuh, darah mengalir dari kepala membasahi wajah hingga membuat pandangan terganggu.
Estrid sadar jika dirinya tidak dapat menerima serangan kedua, karena itu dia harus segera menyelesaikan pertarungan ini sebelum burung raksasa kembali mencoba menyingkirkannya.
Sama seperti Estrid, burung raksasa pun ikut terluka akibat menggosokkan punggung ke dinding tebing. Tapi dia pun masih bisa bertahan dan berniat melakukan serangan seperti sebelumnya untuk kedua kalinya.
__ADS_1
Burung itu terbang tinggi lalu segera menukik turun kebawah, punggungnya terarah pada dinding tebing yang ternoda darah karena tindakan yang dia lakukan sebelumnya. Tapi tiba-tiba....
Jraasss!
Kreeeek!
Burung raksasa berteriak kencang saat serangan Estrid melukai lehernya. “Kerja bagus, karena kau menukik turun membuatku dengan mudah menggapai kepalamu.” dengan wajah yang sepenuhnya tertutup oleh darah, Estrid bagaikan iblis yang baru saja keluar dari kamar pembantaian.
Dengan pedang terakhir yang tersisa, wanita itu hendak menusuk bagian vital burung raksasa yang bisa dia jangkau. “Matamu, aku akan menghancurkannya.”
Seakan mengerti perkataan Estrid, burung raksasa segera mempercepat terbangnya menuju dinding tebing. Estrid yang telah berada di kepala burung menggenggam erat pedang, dia mengeluarkan semua kemarahan membuat hawa panas meluap dari tubuhnya hingga uap yeval merebak keluar melalui pori-pori.
“Aaaarrrrg....TAKE THIS!.” Teriakan Estrid terdengar di seluruh lembah ketika melakukan serangan akhir dengan seluruh kekuatan yang dia miliki. Pedang berkarat itu menembus bola mata burung raksasa dan meledak akibat tidak mampu menahan energi kemarahan Estrid.
Kreaaaaaak! Burung raksasa menjerit kesakitan, dia tidak dapat mengendalikan diri membuat terbangnya melenceng. Estrid lolos dari Kematian setelah burung raksasa menjauh dari tebing, namu dia masih belum aman.
Burung dengan keras menggelengkan kepalanya berusaha menyingkirkan Estrid. Tapi usahanya tidak membuahkan hasil mana kala wanita itu terus bertahan dengan berpegang pada kotakan daging.
Paruh burung mengeluarkan kilatan petir yang diharapkan dapat melukai Estrid, namun sebagai seorang Giant, wanita itu tahan terhadap serangan elemen, walaupun begitu Estrid tetap merasakan sengatan yang luar biasa dan kesehatannya semakin menipis.
Kilat petir yang keluar dari mulut burung raksasa menghantui tebing yang membuatnya longsor.
Estrid tidak dapat menahannya lagi, matanya hampir tertutup, penglihatannya merah karena darah sementara kekuatannya sudah menghilang. Pegangan tangannya mulai mengendor hingga hampir saja melepaskannya.
‘Kau hampir saja memenangkan pertarungan ini, apa kau akan menyerah sekarang.’
“Apa matamu kotor?, Biar aku bersihkannya.” senyum kegilaan merekah di wajah Estrid. Dia mengoyak bola mata burung raksasa yang telah diledakkan membuat monster itu semakin kesakitan.
Tidak tahan dengan penderitaan yang dia alami, burung raksasa terbang cepat menuju dinding tebing berniat untuk menabrakan kepalanya. Walaupun akan melukai dirinya sendiri tapi burung itu akan selamat, berbeda dengan Estrid yang kesehatannya hanya tersisa selebar satu helai rambut.
Estrid tidak akan selamat jika terus berada di kepala burung yang akan melakukan bunuh diri. Dia segera melompat dari kepala burung sebelum menabrak tebing, tangannya menggapai sayap burung namun sehelai bulu yang dia pegang terlepas dari kulit dan membuatnya terjatuh ke jurang.
“AAAAAA.... Ghukkk!.” Salju tebal menahan tubuh Estrid. Rupanya burung raksasa tidak terbang terlalu tinggi hingga Estrid sekali lagi selamat dari kematian.
Bersamaan saat Estrid mendarat di tumpukan salju, burung raksasa menghantamkan kepalanya ke dinding tebing. Kerasnya tabrakan itu membuat seluruh tebing berguncang, lubang besar tercipta dari tabrakan itu.
Burung raksasa kehilangan kesadaran setelah membentur kepalanya, monster itu pun akhirnya terjatuh. Estrid yang sudah sangat kelelahan masih dibayangi kematian, burung yang jatuh tepat diatasnya akan membuat Estrid terbunuh jika tidak segera menghindar.
Usaha terakhir, Estrid menyeret tubuhnya dengan sisa-sisa tenaga, tapi itu hanya membuatnya bergerak beberapa meter hingga akhirnya Estrid tidak dapat menggerakkan kaki dan tangannya.
Estrid terdiam pasrah menatap tubuh burung yang jatuh ke arah. “Oh.... sungguh game yang sangat....” sebelum dia menyelesaikan kalimat burung tersebut jatuh.
Rasa sakit yang Estrid alami masih dia rasakan, itu menandakan bahwa dia masih hidup. Perlahan kesehatan Estrid bertambah seiring waktu namun itu begitu lambat, perlu dua menit untuk mengisi satu persen kesehatan Estrid.
“Tapi itu lebih baik daripada tidak sama sekali.” ucap Estrid. Rasa dingin dari es yang berada disekitar membuat tubuh Estrid mati rasa hingga rasa sakit yang dia rasakan sedikit berkurang.
__ADS_1
“Apa ini sudah berakhir?.” tanya Estrid berharap pertanyaan itu menjadi kenyataan. Tapi tiba-tiba...
Keaarrrk! Burung raksasa kembali bangkit. Monster itu menatap dengan penuh amarah pada Estrid dengan satu mantan yang tersisa.
“Oh terserahlah kawan, aku tidak dapat menggerakkan tubuhku lagi. Lakukan saja apa yang kau inginkan.” Estrid menyerah untuk melawan.
Burung raksasa perlahan mendekati Estrid, darah mengalir dari lubang matanya membuat pemandangan yang begitu mengerikan. Paruh itu terbuka lebar memperlihatkan sinar dari dalam tenggorokan burung.
“Semarah itu kah kau hingga tidak sudi untuk memakan tubuhku tapi justru melenyapkan ku?.” Estrid tahu Sambaran petir dari nafas burung akan melenyapkan dirinya.
Dia hanya menatap langit hingga ajalnya menjemput. “Langit yang buruk.” ucap Estrid melihat langit yang tertutupi awan dengan salju yang turun terus menerus.
Kretek!.
“Hem?.” Estrid mendengar suara runtuh, saat dia melihat tebing tepat diatasnya tiba-tiba batu besar jatuh.
Akibat tabrakan kepala burung membuat tebing retak, akibatnya longsor terjadi. Sebuah batu yang begitu besar hingga menutupi seluruh pandangan Estrid jatuh tepat diatasnya, lalu....
Buumm! Seluruh area tempat Estrid berada ditutupi oleh debu akibat reruntuhan tebing, tubuh burung raksasa remuk oleh batu besar yg menimpanya. Sementara itu keadaan Estrid...
“Deus ex Machina, aku merasa ngeri pada keberuntungan ku sendiri.”
Wanita itu masih selamat, dia sendiri bingung dengan keberuntungan yang terus menyelamatkan nyawanya dari semua musibah yang datang terus menerus padanya.
Kesehatan Estrid terhenti membaik pada titik lima persen, dia tidak tahu kenapa itu terjadi, penglihatannya pun mulai memudar, kesadarannya mulai menghilang.
“Mungkin karena terlalu banyak kehilangan darah.” pikir Estrid.
Tidak ada yang bisa dia lakukan lagi, Estrid pasrah jika harus mati dan memulai dari awai. Walaupun sebenarnya dia sangat jengkel jika harus melakukan perjalanan di dunia salju itu lagi.
Sebelum kesadarannya benar-benar menghilang, Estrid melihat beberapa orang mencul di depannya. Mereka menatap kerah Estrid yang tergeletak tak berdaya.
“Apa yang harus kita lakukan?.”
“Dia masih hidup, segera panggil seseorang kemari.”
“Apa kau gila, jika kita melakukan itu maka mereka akan tahu jika kita mendekati tanah terlarang.”
“Lalu apa yang harus kita lakukan, kau ingin membiarkan wanita ini mati!.”
“Bukan seperti itu, tapi...”
suara itu terdengar seperti anak-anak yang sedang berdebat. selanjutnya Estrid tidak tahu apa yang terjadi karena kesadarannya sepenuhnya menghilang.
***
__ADS_1
Bersambung.