
Mengikuti arahan dari Sania, aku tiba di sebuah pondok di pinggiran desa. “Apa benar masih ada orang yang hidup di tempat seperti ini?.” Pikirku setelah melihat pondok sangat tidak terawat, salju yang menumpuk dan hampir menguburnya.
Aku mengambil skop yang lupa aku kembalikan pada Herka, lalu segera membersihkan area sekitar pintu agar aku bisa masuk. “Permisi apa ada seseorang di dalam?.” aku menggedor pintu beberapa kali tapi tidak ada jawaban.
“Apa penempa itu sudah mati?.” ketika aku mencoba mengecek melalui mini map, ternyata memang masih ada seseorang di dalam rumah, tapi dengan kesehatan yang tipis.
“Dia sekarat!.” panik, merasa pemilik rumah sedang membutuhkan pertolongan aku dengan cepat mendobrak pintu. Mengikuti mini map aku menemukan seorang dengan tubuh pendek seperti anak-anak namun wajahnya orang tua.
“Apa dia Dwarf?.” melihat orang itu membuatku teringat pada sebuah ras fantasi yang sering digambarkan dengan ciri-ciri sama seperti orang di depanku. Mengingat jika Dwarf digambarkan sebagai penempa yang hebat semakin memperkuat dugaan ku.
“Dia terjatuh di depan perapian. Apakah dia berusaha menghangatkan tubuh?.” aku mencoba mengecek keadaannya sebelum membawanya ke tempat tidur.
Aku pun menemukan jika Dwarf itu hanya memiliki satu lengan, sama seperti Hektor, penyebab kecacatan pada Dwarf dikarenakan luka gigitan serigala salju. Tapi kondisi Dwarf lebih parah, walaupun dia telah memotong bagian tubuh yang tergigit tapi itu terlambat karena infeksi sudah terlanjur menyebar.
“Itu pasti sulit untuknya.” pikir ku.
Aku mengerti perasaan itu. Bagi seorang seniman tangan mereka adalah segalanya, kehilangan tangan itu berarti dunia mereka telah hancur.
Saat aku melihat tiga senjata di toko Sania, aku dapat merasakan kebanggaan dari penempa yang telah membuatnya. Dia pasti putus asa dengan kondisinya sekarang hingga berpikir untuk mengakhiri hidupnya.
“Siapa di sana?.” suara yang begitu lemah terdengar sari Dwarf. Aku tidak menyangka dia akan sadarkan diri dengan kondisi seperti itu.
“Namaku Estrid, aku kemari untuk mendapatkan senjata.”
“Ek..hehehe... Uhuek uhuek...” dia tertawa tapi kemudian batuk-batuk begitu parah, aku segera membangunkan tubuh orang tua cebol ini agar batuknya segera mereda.
“Maafkan penempa gagal ini nona, aku sepertinya akan membuatmu kecewa. Tidak ada senjata yang tersisa di tempat ini, aku telah menyumbangkan semuanya pada warga desa.” nafasnya begitu berat saat berbicara.
“Tapi bukankah kau bisa membuat yang lain?.”
“Apa kau gila! Dalam kondisiku seperti ini kau pikir aku bisa membuat senjata? Menyalakan perapian saja aku sudah tidak mampu.”
Perkataan Dwarf membuatku teringat telah menemukannya tergeletak di depan perapian. “Kau ingin bunuh diri?.” Dwarf terdiam mendengar perkataan ku.
__ADS_1
Herka sebelumnya telah memberitahuku jika infeksi yang disebabkan oleh gigitan serigala salju perlahan membekukan tubuh korban. Pembekuan hanya bisa dihilangkan oleh sinar matahari langsung dan pengobatan herbal tertentu.
Tapi sebaliknya jika korban gigitan serigala salju terkena panas dari api maka itu justru akan mempercepat pembekuan. Tuan Butcher bahkan sampai menempatkan anaknya yang sakit di dalam ruang bawah tanah restoran untuk mencegahnya terkena sinar dan udara panas dari api.
Karena itu aku sadar jika Dwarf yang tergeletak di depan perapian sebenarnya sedang mencoba untuk bunuh diri.
“Apa kau pikir dalam kondisi ini aku masih bisa dikatakan hidup?. Aku telah kehilangan sesuatu yang paling berarti...” Dwarf menatap lengan kanan yang hilang, “Dean infeksi sialan ini pun sudah hampir sampai ke jantung. Hanya tinggal menunggu waktu saja hingga aku sepenuhnya menjadi boneka Es.” dia sudah menyerah dengan hidupnya.
“Mungkin ini memang keberuntunganmu.” mendengar itu Dwarf mengangkat kepalanya, menatapku dengan tatapan heran. Aku segera menyerahkan salinan blue print kaki palsu.
Mata Dwarf terbelalak melihat blue print yang aku buat, “Apakah ini benar-benar berhasil?.” dia bertanya dengan suara yang bergetar. “Kau bisa membuktikannya sendiri dengan bertanya pada penjaga Hektor.”
Mata Dwarf kembali dipenuhi harapan, jika tangannya bisa pulih maka dua bisa menempa seperti sebelumnya. Tapi sinar harapan dimatanya segera sirna mengingat kondisinya yang sekarat akibat infeksi.
“Percuma, tidak ada yang bisa dilakukan untuk menyembuhkan penyakit ini.”
“Bukankah kita hanya perlu membuka langit agar matahari dapat kembali bersinar?.”
“Ahaha... untuk melakukan itu kau harus mengalahkan empat bencana benua ini.”
Dwarf terdiam, dia menatapku dengan seksama hingga akhirnya mulutnya terbuka, “Itu hanya sebuah keberuntungan bukan?.”
“Keberuntungan adalah kekuatan, tuan.” aku mengambil kalimat yang aku lihat pada salah satu komentar channel Hanna.
“Kau mungkin benar, tapi keberuntungan saja tidak cukup untuk melawan tiga bencana yang tersisa.”
“Karena alasan itulah aku menemuimu. Aku membutuhkan senjata untuk mengalahkan tiga bencana.”
Dwarf menghela nafas berat seolah tidak ada lagi yang akan dia katakan. “Kau wanita gila.” ucapnya, setelah mengatakan itu dia memintaku untuk menunjukkan kedua telapak tangan.
Seperti seorang peramal dia menatap telapak tanganku dengan seksama lalu membolak-balik dan memijat ringan. “Bukan hanya gila, kau juga aneh!.” ucapnya setelah puas melihat telapak tanganku.
“Hey, berhenti mengejekku. Walaupun tubuhku agak besar tapi aku ini tetaplah seorang wanita!.” aku mengajukan keluhan.
“Tapi itulah kenyataannya nona. Kau adalah seorang Giant yang menjadi Viking, bukannya memiliki keahlian bertarung, yang kau miliki justru keahlian penambang. Aku tidak pernah melihat orang lain yang lebih aneh darimu.”
__ADS_1
Mendengar perkataan Dwarf membuatku sangat terkesan. “Woah kau dapat mengetahui semua itu hanya dengan membaca telapak tangan, itu sangat luar biasa.”
“Itu bukan sesuatu yang luar biasa, hanya keahlian dasar seorang penempa. Ahahaha...” walaupun dia mengatakan jika itu biasa saja, tapi aku dapat melihat jika Dwarf sangat senang mendapat pujian.
“Jadi apa kau memiliki senjata yang bisa aku gunakan?.” aku berharap dia menyimpan senjata rahasia atau semacamnya.
“Ahaha...” dia masih tertawa, lalu
“.... tidak.” jawaban yang begitu singkat dan padat.
“Heh?.” aku pikir salah dengar.
“Viking memiliki keahlian bertarung yang Luar biasa, mereka dapat menggunakan segala jenis senjata. Tapi yang paling ikonik dari mereka adalah keahlian menggunakan kapak. Pengalaman yang kau milik masih kurang nona, saat ini hanya kapak yang cocok untuk kau gunakan.”
“Dan kau tidak memiliki senjata berjenis kapak?.”
“Benar, aku tahu kau sudah menduga jika aku menyimpan senjata rahasia. Tapi percayalah kau tidak dapat menggunakanya sama seperti yang kau coba lakukan dengan tiga senjata buatan ku di toko Sania.”
Sungguh sia-sia. Lalu apa yang harus aku lakukan? Apa aku hanya bisa berburu monster dengan pukulan ku?. Mustahil dan tidak keren sana sekali.
Jika aku melakukan itu bisa-bisa otot-otot ku akan semakin besar dan akhirnya Avatar yang aku gunakan akan kehilangan sisi feminim nya. Sungguh tidak keren membayangkannya saja membuatku sakit kepala.
“Membantu warga untuk sembuh dari infeksi pembekuan bukan hanya dengan mengalahkan empat bencana, kau tahu itu bukan?.”
“Eh?.” ya aku benar-benar lupa tentang cara terakhir. “Apa nama herbal untuk menyembuhkan infeksi pembekuan?.”
“Herbal itu bernama bunga matahari.”
Mendengar nama herbal itu membuatku langsung memikirkan tentang bunga berwarna kuning yang bijinya bisa dimakan.
“Apa itu bunga yang sama?.” aku pun segera mencari bunga itu lewat siste map, dan hasilnya....
***
Bersambung.
__ADS_1