Penyihir Hitam Log-in

Penyihir Hitam Log-in
42. Wanita yang buru-buru


__ADS_3

Ding!


[Ini adalah hari ketiga Minvers Lost Civilization berjalan. Kami selaku developer sangat antusias dengan perkembangan setiap player yang terus bergerak maju berusaha menjadi yang terbaik]


[Untuk menambah keseruan permainan kami menambahkan fitur RANKING dan sebuah event yang akan diadakan dalam satu bulan ke depan]


Begitu aku kembali kedalam permainan, notifikasi dari sistem langsung menyambutku. Aku tersadar di dalam kamar yang sebelumnya aku tempati, ini masih di rumah kepala desa.


Ketika aku membuka jendela kamar aku melihat keadaan di luar sudah ramai, para warga sepertinya sedang membersihkan jalan dari tumpukan salju.


Tanpa sadar aku tersenyum saat melihat para warga yang saling gotong royong membantu satu sama lain. Hingga perhatianku teralihkan pada sebuah air mancur di tengah desa yang membeku.


“Mungkin akan lebih lama dari yang aku kira.” aku segera menutup jendela dan bergegas keluar untuk membantu warga.


Air mancur adalah fitur teleportasi yang masih dipertahankan dari Minvers versi sebelumnya. Menggunakan air mancur yang terdapat di desa player dapat berpindah ke kota lain bahkan kerajaan lain


Saat baru bangun setelah melawan Thunder Rooster, aku berniat meninggalkan desa ini menggunakan air mancur teleportasi menuju kerajaan Jayakarta dan bertemu dengan Hanna.


Tapi sayangnya air mancur di desa ini membeku yang otomatis tidak bisa digunakan. “Semoga saja air mancur di tempat lain berfungsi dengan benar.” harapku.


Sebenarnya aku memiliki ketakutan. ‘Bagaimana jika seluruh Air mancur di benua Jotun membeku.’ pertanyaan seperti itu terus terlintas di benakku.


“Kau seharusnya beristirahat, pekerjaan tadi malam pasti mengurus energi Mana mu hingga kering. Bukankah itu juga membuatmu lelah?.” ucap Herka yang sempat melarang ku untuk membantunya membersihkan halaman rumahnya.


“Tidak masalah, aku sudah sepenuhnya pulih.”


“Sungguh?,” Herka terkejut, dia seakan tidak percaya dengan apa yang aku katakan, “Manusia normal sepertiku setidaknya perlu beberapa hari untuk pulih sepenuhnya.” Herka akhirnya menyerah dan membiarkan aku membantunya.


Saat aku gunakan sekop untuk menggali salju, tiba tiba salju yang aku ambil menghilang.


Ding!


[Mendapat satu skop salju]


Itu langsung masuk kedalam inventori. Menyadari itu langsung membuatku bersemangat, pekerjaan membersihkan salju akan jauh lebih cepat dengan sistem aneh ini.


“Sangat menyenangkan bukan jika kau memiliki kekuatan seperti itu.” ucap Herka.

__ADS_1


“Apa maksudmu berkah dewa?.” aku mengira wanita tua itu membicarakan tentang sistem inventori.


“Bukan maksudku adalah masa muda.” tapi dugaan ku meleset.


“Hem?.” aku berhenti mengambil salju lalu menatap Herka yang tengah melihat Sania bersama Hektor di kejauhan. Keduanya saling bergurau seperti sepasang kekasih.


“Lima tahun lalu sebelum musim dingin panjang melanda seluruh kerajaan, pemuda itu datang padaku untuk meminta saran melamar Sania, dia bahkan sudah menyiapkan sebuah cincin. Namun niatnya tidak pernah terwujud, musim dingin panjang membuat warga kelaparan, kehilangan kaki semakin memperburuk keadaan. Hektor tidak ingin menjadi beban Sania, dia pun tidak pernah mengatakan lamarannya pada wanita itu dan berusaha menjaga jarak.”


Luar biasa, wanita tua ini menceritakan panjang lebar kisah cinta orang lain tanpa khawatir perkataannya di dengar oleh orang yang bersangkutan.


“Tapi berkat dirimu, aku dapat melihat harapan pada mata pemuda itu kembali tumbuh.” Herka tersenyum lebar, dia seakan melihat cucunya sendiri yang pulang membawa pasangannya.


“Aku turut bahagia dengan itu, tapi aku tidak memungkiri jika masalah yang ditimbulkan oleh kaki palsu yang digunakan Hektor cukup merepotkan.” aku menatap beberapa warga yang memperhatikan kami. Mereka adalah orang-orang yang anggota tubuhnya tidak lengkap, dan berharap agar aku membuatkan sesuatu seperti kaki tiruan Hektor.


“Apa kau merasa terganggu dengan mereka?.” Herka menatapku dalam-dalam. Itu membuatku merasa tidak nyaman.


“Satu bulan lagi akan diadakan kontes kekuatan para Traveler. Aku harus bertambah kuat dan membantu teman-temanku menenangkan kontes itu.”


“Aku mengerti, kau ingin berburu monster untuk menaikkan level.” aku mengangguk sebagai tanggapan perkataan Herka, “Tidak masalah sebenarnya, blue print yang kau buat sudah aku hafal dengan benar. Aku bisa membuat item itu sendiri, tapi masalahnya tidak cukup perak yang kita miliki.”


“Ahahaha... itu tidak mungkin. karena gagal panen para warga jatuh dalam kemiskinan, tidak mungkin mereka masih memiliki perak.”


Pada akhirnya Herka menjelaskan masalah ini pada mereka yang menginginkan kaki palsu. Mengetahui jika salah satu bahan membuat kaki palsu adalah perak kebanyakan dari mereka langsung menyerah.


“Tapi Jangan khawatir. Tuan Hektor telah kembali pada kondisinya yang sehat, dia mampu untuk bertarung sekarang. Dengan ini kita bisa kembali membangun jembatan dan membuka akses transportasi.”


Mendengar perkataan Herka tidak ada keluhan lagi dari warga, mereka merasa bersyukur karena Hektor sudah dapat kembali bertugas. Itu kembali membuatku penasaran kenapa pria itu begitu diandalkan oleh warga desa.


***


“Halo apa ada orang?.”


Setelah selesai membantu Herka, aku mengunjungi toko Sania bermaksud untuk mengganti senjata.


“Selamat datang!.” Sania datang dari lantai dua, wajah yang merah, dia terlihat lemas saat berjalan. ‘Apa yang terjadi di atas?.’ aku begitu penasaran hingga membuka map, dan melihat jika Hektor saat ini juga ada di toko Sania tepat di atasku wanita itu terlihat panik saat aku menatap langit-langit.


“Ja... jadi apa yang kau butuhkan.” dia tergagap seakan sedang menyembunyikan sesuatu.

__ADS_1


“Aku membutuhkan senjata baru, kau ingat percakapan kita kemarin malam jika aku tidak cocok menggunakan pedang?.”


“Ah benar, tapi maaf aku tidak memiliki senjata lain.”


“Apa?.”


Sania mengatakan jika sebagian besar senjata di tokonya telah dibagikan pada warga untuk berburu. Hanya tersisa tiga pedang yang yang terpajang di dinding toko, ketiga pedang terlihat begitu terawat dan menjadi satu-satunya benda berharga di toko ini.


“Tidak ada penduduk desa yang mampu menggunakannya.”


“Apa itu karena batasan level?.”


“Benar, setidaknya diperlukan level 20 dengan cabang job warrior agar dapat menggunakan pedang besar yang dibawah, kemudian level 35 cabang job warrior serta Sword art tingkat senior untuk pedang katana ditengah, dan yang terakhir.... ” Sania berhenti saat mencoba mengingat persyaratan menggunakan senjata terakhir.


Itu adalah sebuah Repier, sejenis pedang yang begitu tipis dengan teknik utama serangan tusukan. Ketiga senjata begitu indah seakan ingin memberitahu bahwa mereka adalah yang terkuat. Aku mencoba menggunakan satu persatu tapi tidak ada satupun yang bisa aku gunakan.


“Ini berat!.” aku mencoba mengangkat Rapier yang terlihat sangat ringan, tapi kenyataannya aku bahkan tidak bisa mengangkat benda itu walaupun seinci.


“Ini buruk, bagaimana aku akan berburu monster jika tidak ada senjata yang biasa aku gunakan?.” aku bingung.


“Bagaimana jika kau mengunjungi penempa, mungkin saja di sana masih tersisa senjata.”


“Penempa?.”


Sania segera memberitahu letak bengkel penempa. Itu adalah satu-satunya penempa yang masih ada di desa ini, Sania juga mengatakan jika tiga senjata sebelumnya merupakan hasil karya penempa itu.


“Baiklah senang kau datang Estrid, semoga kau mendapatkan senjata yang kau inginkan.” dia tersenyum sambil mendorongku keluar.


“O...oy?.”


Sania mengantarku keluar dari tokonya, dia mendorongku dan terkesan terburu-buru, entah apa yang membuatnya seperti itu. “Apa ada hubungannya dengan Hektor?.”


Meninggalkan toko Sania yang ditutup begitu aku keluar, aku pun menuju pondok penempa.


***


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2