Penyihir Hitam Log-in

Penyihir Hitam Log-in
39. Berkumpul Bersama


__ADS_3

Badai salju turun saat kami sampai di desa, para warga masih berada di luar walaupun udara dingin begitu menyengat, mereka menghawatirkan kami yang belum juga kembali.


Mereka merasa lega setelah melihat kami akhirnya pulang ke desa. Beberapa orang segera membantu kami mendorong gerobak hingga restoran samping toko Sania, tempat dimana daging ayam jago gledek disimpan.


“Desa yang sangat luar biasa.” aku terkesan dengan solidaritas para warga desa ini.


Badai semakin turun semakin lebat semua warga berdiam di dalam rumah mereka. Di restoran pak Butcher, aku beristirahat bercengkrama dengan yang lainnya menikmati sup hangat ikan sungai.


Aku tidak tahu apa itu bisa dipanggil sup atau minuman karena mereka menyajikannya dengan gelas, cara mereka memakannya seperti sedang minum teh atau kopi.


Sementara rasanya sendiri begitu aneh dengan bau amis yang menyengat. Tapi aku tetap memakannya karena aku sudah merasa sesuatu yang lebih buruk.


“Jadi kau adalah petualang yang dulu sempat singgah di desa ini bukan?.” pemuda bernama Hektor menghampiri mejaku.


“Anda juga masih mengingatku tuan penjaga gerbang?.”


“Benar itu sangat aneh, saat aku masih bekerja sebagai penjaga desa aku telah bertemu dengan banyak petualang tapi tidak ada satupun yang aku ingat dengan jelas. Tapi dengan mu berbeda, aku sangat mengingat bagaimana kita bertemu seakan itu baru kemarin walaupun sebenarnya sudah tujuh tahun lamanya.”


Seperti Sania, penjaga gerbang Hektor juga mengingatku. Tidak lama kemudian Herka, Sania dan Butcher datang ke meja kami membawa makanan yang tidak lain semuanya adalah olahan daging. Walaupun masih banyak meja di restoran besar ini tapi entah kenapa semua orang milih makan di mejaku.


Mungkin karena meja itu dekat dengan perapian.


“Tuan Butcher apa ini kau, kau terlihat begitu berbeda.” aku bertanya pada pemilik restoran mengenai sebuah foto yang terpajang di dinding restoran.


“Hahaha... itu yang terjadi jika kau kesulitan mendapatkan makanan selama bertahun-tahun.” jawab pria tua kurus itu. Dia sangat berbeda dengan di foto yang begitu gemuk.


Di foto itu juga terdapat keluarga tuan Butcher, dua orang anak dan istrinya. Tuan Butcher sudah bercerita tentang keluarganya saat dia mengajariku melakukan pembongkaran mayat. Dia mengatakan jika salah satu anaknya telah tewas akibat sakit sementara yang satunya lagi saat ini tengah sekarat.


Dia begitu tertekan memikirkan nasib anak terakhirnya.

__ADS_1


‘Bukan hanya kelaparan yang membuat tuan Butcher menjadi begitu kurus, melainkan faktor stress pun bisa menjadi penyebab.’ Herka mengatakan jika penyakit yang diderita oleh anak Butcher disebabkan oleh gigitan serigala salju, banyak penduduk desa tewas karena gigitan monster itu.


Serigala salju menang memiliki racun pada gigitannya, kaki Hektor yang menghilang pun disebabkan oleh gigitan serigala. Tapi karena mengetahui efek dari gigitan serigala salju, Hektor segera memotongnya kalinya sebelum racun menyebar.


Walaupun serigala salju telah membunuh warga desa dan menyebabkan penderita tapi anehnya Ali tidak merasakan adanya kebencian penduduk desa pada Alaska dan Pluto.


“Sebenarnya semua serangan dari serigala salju disebabkan karena ulah kami sendiri.” Hektor berkata dengan kepala tertunduk begitu pula tiga lainnya.


Dia bercerita jika kelaparan yang melanda desa akibat musim dingin berkepanjangan membuat para warga memburu serigala salju. Tentu saja itu adalah pilihan yang sangat beresiko dan terbukti saat satu persatu warga terkena penyakit radang dingin akibat luka gigitan serigala.


Karena itulah para warga desa tidak membenci serigala salju karena masalah yang mereka buat. Tatapanku kemudian beralih pada Alaska dan Pluto yang tertidur lelap di depan perapian. Mereka pasti sangat kelelahan setelah bekerja keras seharian menarik gerobak.


***


Badai di luar semakin ganas membuat kami terperangkap di dalam restoran.


Setelah makan malam kami masih bercengkrama, berbagi hal kami bicarakan walaupun yang paling banyak dibahas adalah pertanyaan dariku.


“Ya aku melihatnya dengan jelas saat kau bertarung. Kau lebih banyak memukul daripada menyayat dengan pedang ini.” Walaupun pedang yang Sania pinjamkan terlihat begitu tajam, tapi saat aku gunakan itu sangat tumpul.


“Itu pasti karena dewa memberkatimu dengan kemampuan lain kecuali berpedang.” kata Hektor.


“Berkat dewa?.” kepalaku miring karena bingung.


“Betul itu bakat dulu aku juga ingin menjadi seorang kesatria pedang tapi sayangnya berkat yang dewa berikan membuatku menjadi seorang Spearman.”


Dari perkataan Hektor, aku pun paham jika yang dia maksud dengan berkat adalah sistem status. Hektor memiliki job Spearman membuatnya ahli menggunakan tombak tapi buruk dengan pedang.


Jadi apa mungkin job Viking membuatku tidak pandai dalam menggunakannya pedang?

__ADS_1


Lalu senjata apa yang cocok untuk seorang Viking?.


Seketika aku teringat kembali saat melawan ayam jago gledek, saat itu aku bertarung menggunakan pedang tapi tidak ada yang mampu melukai Monster itu. Baru setelah aku menggunakan kapak, aku bisa menyebabkan kerusakan pada burung raksasa.


‘Apa itu artinya job Viking hanya bisa menggunakan kapak?.’


Setelah percakapan dengan Hektor dan Sania. Perhatianku teralihkan pada Herka yang sedang membuat rune. Itu adalah rune api yang berguna untuk menyalakan perapian.


Karena musim dingin membuat warga kesulitan mencari kayu bakar, itu menyebabkan rune api Herka menjadi satu-satunya harapan warga untuk bertahan dari dinginnya udara.


Berniat untuk mempelajari teknik Rune, aku beralasan untuk membantu Herka. “Kau yakin bisa melakukannya? Tidak semua orang bisa mempelajari Rune walaupun mereka mampu menggunakan sihir.” aku hanya tersenyum penuh keyakinan menanggapi perkataan wanita yang merupakan kepala desa itu.


‘Ya lagi pula aku memiliki skill Runecraft yang didapat dari kotak harta emas.’ aku yakin bisa mempelajari Rune. Dan benar saja hanya dalam waktu beberapa menit aku sudah menguasai teknik dasarnya.


Sangat mudah membuat Rune. hanya memerlukan tinta yang dapat menyimpan mana, dalam hal ini kami menggunakan darah. beberapa kali aku mencoba meniru gambar Rune yang melambangkan api, hanya dua kali aku gagal dengan ledakan kemudian seterusnya aku menguasainya.


“Maaf karena telah meremehkan mu.” ucap Herka setelah melihat Rune buatan ku telah sempurna. Walaupun begitu Rune yang aku buatan tidak sebaik buatan Herka yang mempu menimbulkan api lebih besar dan tahan lama.


‘Mungkin karena tingkat kecerdasan kami.’ masih banyak yang bisa dipelajari dari teknik Rune, itu membuatku sangat penasaran apakah sihir di dunia nyata bisa aku gunakan di dunia game.


***


“Sangat berbakat dan juga kuat nona, pertarungan, penjinakan dan sekarang sihir Rune. Jika boleh bertanya darimana asal nona Estrid.” pertanyaan tuan Butcher membuat seluruh perhatian tertuju padaku.


“Aku berasal dari gunung Frieg.” balasku, tapi itu membuat mereka memasang wajah tidak percaya. “Maksudku adalah, aku diturunkannya di sana.” perkataan ku semakin membuat mereka kebingungan hingga aku terpaksa menjelaskan tentang para Traveler yang tidak lain adalah player.


***


...[Author]...

__ADS_1


...''Like'' jika kalian suka, Tinggalkan ''komentar'' agar author semakin semangat dan ''Bookmark'' biar tidak ketinggalan chapter berikutnya....


__ADS_2