Penyihir Hitam Log-in

Penyihir Hitam Log-in
80. Puncak Dunia


__ADS_3


Terasa begitu dekat, sekali lagi Estrid kagum dengan betapa besarnya tanggul pohon yang sedang ia tuju.


Semakin dekat dengan gunung Frieg, Estrid menemukan bukan hanya monster tapi juga bekas desa disepanjang jalan yang dia lalui. Semua desa itu telah ditinggalkan, hanya para Draugher yang masih menempatinya.


“......”


Perjalanan Estrid terhenti manakala di depannya sebuah gerbang yang tertutup menghalangi jalan.


Gerbang setinggi 40 meter dengan tembok kokoh membentang sejauh mata memandang. “Apa tembok ini mengelilingi gunung Frieg?.” gumam Estrid, yang kemudian sia mendapati jika itu adalah kebenaran setelah melihat mini Map.


Estrid tidak tahu kapan gerbang itu akan terbuka, dia berpikir itu pasti akan sangat lama. Estrid tidak mungkin menyerah setelah pergi sejauh ini. Estrid memiliki dua pilihan untuk melewati tembok tersebut.


“Melompati tembok?” Estrid menatap tembok besar di depannya, “Yeah itu terlalu tinggi.” rencana pertama terlalu sulit dilakukan.


“Kalau begitu bagaimana dengan menggali terowongan di bawah tembok hingga tembus ke sisi lain,” Mengambil beliung, Estrid mencoba menggali tanah di sekitar tembok “Yap, rencana itu akan bekerja.” katanya yang mulai menggali membuat terowongan.


Sebenarnya ada cara yang lebih mudah dari pada membuat sebuah terowongan, yaitu melubangi tembok.


Tapi Estrid tidak melakukannya karena tidak ingin merusak tembok, dia khawatir mungkin saja melepas sesuatu yang saat ini menghuni sisi seberang.


“Aku pikir aman,” keluar dari lubang galian, Estrid berhasil melewati tembok pembatas.


Berbeda dari sisi luar tembok yang hanya terdapat pemukiman biasa. Di sisi dalam tembok Estrid melihat sebuah kota dengan bangun yang mengagumkan seperti peradaban Eropa di zaman lampau.


“Tembok tadi seakan menjadi pembatas antara rakyat biasa dan para bangsawan.” kata Estrid.


Walaupun perbedaan yang sangat signifikan antara bagian luar dan bagian dalam, tapi keduanya memiliki kesamaan yaitu tidak ada penghuni dan dipenuhi oleh monster.


Berjalan melalui atap aku melihat seisi kota.


Bukan hanya Draugher tapi wraith, Peri jahat, elementer, dan beragam monster lain pun menghuni kota ini seakan mereka adalah para warga itu sendiri.


Mungkin Estrid akan mendapatkan sesuatu yang bagus seperti harta Karun jika menjelajahi kota ini. Tapi dia memilih untuk melanjutkan perjalanannya, karena jika Estrid ketahuan mungkin semuanya monster di kota ini akan berbondong-bondong mengejarnya.


Parung setinggi puluhan meter, monumen dengan tulisan yang tidak diketahui, serta senjata para raksasa berserakan di sekitar. Semua itu menghiasi jalan menuju gunung Frieg.


***


[Selamat anda menjadi yang pertama sampai di Gunung Frieg. Stat poin +5]


Notifikasi muncul saat Estrid sampai di depan sebuah kota kecil yang tepat berada di bawah kaki gunung Frieg. Itu merupakan kota transit yang digunakan oleh para pelancong untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan mereka menuju puncak gunung.

__ADS_1


“Akhirnya aku sampai di sini.” dengan perasaan haru aku menyentuh tanggul pohon yang telah aku kejar selama dua hari terakhir. Itu terasa dingin karena tertutupi lapisan es


Terdapat sebuah jalan menuju puncak, jalan itu memutari gunung sehingga membutuhkan waktu sangat lama untuk mencapai garis akhir. Karena sudah tidak tahan untuk mencapai tujuanku, aku pun menggunakan jalan pintas.


“Dinding Es,” menggunakan beliung aku mulai mendaki gunung Frieg, “Ini lebih mudah daripada mendaki tebing batu.”


Aku tidak tahu tinggi pasti dari gunung yang menjulang menembus awan ini. Tapi aku rasa tidak akan sampai empat jam hingga aku bisa melihat puncaknya.


Di tengah perjalanan aku menemukan kuil dengan sebuah patung wanita di tengah kuil tersebut.


[Berhasil menemukan reruntuhan kuil, stat poin +2]


Sistem notifikasi tidak menyebutkan nama dari kuil ini. Karena lelah aku pun mengambil kesempatan untuk beristirahat di dalam kuil yang seperti tidak dihuni oleh monster.


“Hemmm....Nikmat sekali.” ucapku ketika menikmati coklat panas yang aku buat melalui Furnace.


Sambil beristirahat, aku melihat live streaming yang terus aku lakukan selama perjalanan ini. Tidak banyak viewer yang menonton perjalanan panjang dan membosankan ini. Tapi setidaknya ada seratus orang yang terus menemaniku.


Ketika keadaan di sekitar aman, aku mengambil kesempatan itu untuk mengajak mereka mengobrol.


Ketika aku Melihat kolam komentar banyak penonton yang memberikan komentar negatif dikarenakan mereka mengaggap jika aku terlalu pengecut.


Aku tidak membantah apa yang mereka katakan tentang aku, karena memang selama perjalanan ini tidak satu kali pun aku berani melawan monster yang ku temui.


[GearHunt: Benar, mereka hanya ingin melihat mu membuat kesalahan dan mengakhiri perjalanan dengan kegagalan]


Berapa penonton setiaku memberikan aku semangat.


“Terima kasih.” balas ku pada keduanya. Tatapanku menerawang ke langit.


“Dua hari, itu terasa sangat panjang. Seolah-olah aku berjalan selama berbulan-bulan.”


[NoBudy: Ketegangan yang begitu intens tidak ada waktu untuk menarik nafas. Perjalanan ini lebih horor dari semua film horor yang pernah aku tonton]


“Aku penasaran dengan jumlah film horor yang telah noBudy tonton.” balasku pada komentar noBudy.


[GearHunt: Aku teringat saat kau dikejar ribuan Ogre Es. Untuk menghindari kejaran mereka, kau berlari melalui hutan yang dipenuhi monster tumbuhan beracun, lalu melewati tebing curam yang penuh jebakan. Hingga pengejaran itu berakhir saat kau memilih melompat ke air terjun yang sangat tinggi. Saat menonton momen itu seakan aku sedang menaiki roller coaster, sangat menegangkan sekaligus menyenangkan]


Aku tertawa terbahak-bahak setelah membaca komentar panjang dari GearHunt.


“Ahahaha... aku hampir menyerah saat mendapati diri berada di jalan buntu, sementara itu di belakang para Ogre Es bersiap untuk menjadikan aku bubur daging.”


Aku menghabiskan sisa coklat panas pada gelas,

__ADS_1


“Tapi syukurlah keputusan yang aku ambil untuk melompat ke jurang berakhir dengan baik.”


Setelah menikmati coklat panas dan memulihkan tenaga, aku kembali bersiap untuk melanjutkan pendakian.


“Hanya tersisa beberapa jam lagi, mari lihat ujung dari gunung ini dan akhir dari perjalanan ku.” beliung kembali aku ayunkan.


“Stay with me.” dengan itu aku menyingkirkan kolom komentar sehingga aku bisa fokus untuk mendaki.


***


Dua jam berlalu, aku sudah mencapai ketinggian sembilan ribu meter. Saat ini aku berdiri tepat di mana pertarungan melawan Thunder Rooster terjadi, darah masih bisa ditemukan disekitar tempat itu.


Sebelumnya melewati awan, aku bermaksud melakukan satu hal yang sudah aku pikirkan sejak awal menaiki puncak. Aku ingin memperlihatkan langit yang sesungguhnya untuk warga desa.


Menggunakan boneka burung yang memiliki Rune Clairvoyance. Aku bisa membagi penglihatan dengan boneka yang ada di desa.


[Demi hangatnya sup jagung, kau akhirnya mengangkat panggilan. Kami sangat menghawatirkan dirimu Estrid]


Sania begitu senang karena akhirnya aku menghubunginya setelah dua hari tidak ada kabar.


Awooooo!


Auuuuuu!


[Wa.... Wa... Hey kalian jangan rusak boneka burung itu!]


Suara lolongan serigala terdengar dari boneka burung, sepertinya mereka sangat antusias ketika mendengar suaraku. Satu persatu warga desa menunjukan rasa syukur mereka mendengar jika aku masih sehat.


Kemudian Sania meminta para penduduk berkumpul di ladang bunga, mereka menunggu untuk melihat apa yang akan aku perlihatkan.


“Oke, ini dia puncak dunia.” menggunakan kemarahan Viking, aku menarik beliung yang menancap di Es dengan kuat sehingga membuat tubuhku terlontar ke atas.


Meluncur cepat, menembus awan hitam, hingga akhirnya langit terbuka memperlihatkan langit dengan bintang bertaburan terlihat begitu indah.


Ding!


[Selamat anda berhasil berdiri di puncak dunia]


[Mendapatkan gelar World Conqueror]


***


__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2