Penyihir Hitam Log-in

Penyihir Hitam Log-in
49. Pria Aneh


__ADS_3

Pagi hari aku terbangun dari dalam kapsul VR, “Sepertinya aku telah ketiduran.” melihat log aktivitas pada mesin itu aku mengetahui jika sudah empat jam bermain dan dua jam lalu aku baru keluar. Itu berarti aku sudah tertidur di dalam kapsul selama dua jam.


Keluar dari kapsul aku melakukan peregangan otot, bunyi tulang yang kaku membuat aku merasa nyaman. Walaupun hanya tidur selama dua jam sudah cukup untuk ku mengembalikan stamina. Ya lagipula seharian aku hanya tidur di dalam kapsul bermain game.


“Mari bersemangat hari ini juga.” Aku sudah siap untuk memulai aktivitas seperti hari biasanya.


***


Di meja makan aku sarapan pagi bersama Hanna, gadis itu terlihat begitu mengantuk dengan matanya yang memerah. Seperti dia bahkan tidak tidur semalaman.


Hanna mengatakan jika saat ini guild AFK sedang mengalami pertumbuhan yang pesat, banyak player yang berniat untuk bergabung menjadi anggota.


“Bukankah itu bagus?.”


“Ya tapi masalahnya kebanyakan dari mereka hanyalah player yang ingin di gendong.”


“Di gendong?.” aku tidak terlalu mengerti istilah gamer.


“Itu artinya player baru yang dibantu berburu oleh player veteran.” Hanna menjelaskan jika semakin tinggi level monster yang diburu maka semakin banyak Exp yang didapatkan, ya itu adalah logika game yang semua orang tahu.


Jadi jika ingin lebih cepat naik level para player biasanya akan melawan monster dengan level lebih tinggi dari level mereka. Tapi tidak semua player dapat melakukan itu terutama mereka player yang baru bermain.


Untuk mengatasi itu player baru meminta bantuan pada player veteran, itu tentu sangat menguntungkan bagi player baru karena bisa dengan cepat menaikan level.


“Jadi seperti benalu?.”


“Ya seperti itulah...”


Hanna menambahkan jika kebanyakan dari player yang hanya ingin ‘digendong’ biasanya tidak setia dengan guild. Mereka akan keluar begitu puas menaikan level dan mendapatkan kekutan yang cukup, lalu pergi menargetkan guild yang jauh lebih kuat.


“Tapi itu bukan masalah terbesar yang kami hadapi saat ini.” Hanna mulai menceritakan keadaan benua tengah dimana para player berkumpul.


Sebagai player yang mungkin menjadi satu-satunya tinggal di tanah entah berantah jauh dari player lain, aku tentu sangat penasaran dengan keadaan para anggota guild AFK di benua tengah.

__ADS_1


“Persaingan guild sangat ketat, demi membangun kekuatan mereka berusaha menarik anggota sebanyak yang mereka bisa. Tujuan guild saat ini adalah mengamankan daerah kekuasaan, walaupun saat ini belum ada guild yang mampu menjadi penguasa kota secara resmi, tapi guild besar selalu menempatkan ribuan anggota mereka di kota yang ingin dikuasai dan bertindak layaknya preman.”


Walaupun permainan baru berlangsung tiga hari tapi saat ini sudah ada delapan guild besar yang anggotanya sudah mencapai puluhan ribu. Mereka mulai membentuk kekuatan secara pasti, mengakui sisi wilayah sudah menjadi prioritas karena tempat untuk berburu begitu penting untuk perkembangan guild.


“Hampir setiap kami pergi berburu ada saja player dari guild yang begitu sombong meminta kami untuk pergi dari wilayah berburu, itu sangat menjengkelkan!.” kemarahan Hanna sangat terasa dari perkataannya. Masalah yang disebabkan guild besar pasti sangat mengganggunya.


Akibat dari akuisisi wilayah berburu secara sepihak oleh guild besar membuat player lain tidak dapat berburu. Tak ada seorangpun yang berani melawan karena itu sama saja mencari masalah yang lebih besar.


Selain tidak bisa naik level, pelarangan berburu juga menyebabkan material monster menjadi langka hingga berimbas pada harga item di toko npc maupun player menjadi lebih mahal.


“Itu jelas tujuan para pemimpin guild besar yang ingin mengendalikan pasar.” kata Hanna.


Itu tidak bisa dihindari, selama sebuah permainan dapat menghasilkan keuntungan untuk para pemainnya pasti akan ada player serakah yang menginginkan semuanya untuk dirinya sendiri.


Kalau dipikir lagi aku merasa memulai permainan dari benua Jotun tidaklah buruk, aku bisa berburu dengan tenang tanpa perlu khawatir mendapatkan gangguan oleh anggota guild yang bertindak seperti preman.


Pembicaraan saat sarapan kami berakhir, hari ini Hanna sudah mulai kembali bersekolah. Sebentar lagi dia akan mengikuti ujian kelulusan, mungkin aku harus memintanya untuk mengurangi bermain game dan fokus pada persiapan ujian akhir.


‘Tidak aku rasa itu tidak perlu.’ gumamku saat mengingat adik perempuanku yang bisa dikatakan adalah seorang jenius.


Selama di pasar aku melihat banyak spanduk promosi game Minvers Lost Civilization, sepertinya ibu mulai serius menangani game ini. Apa itu karena menguntungkan atau ada sesuatu yang lain, entahlah apa alasannya yang pasti minat publik pada Minvers semakin besar dan pemain pun semakin bertambah banyak. Dari informasi yang aku dapatkan saat ini ada tiga juta player yang bermain setiap harinya.


Bruuk!


Saat sedang berdiri menatap sebuah baliho periklanan, tiba-tiba seseorang menabrak ku. Tanganku refleks mengamankan tas yang aku bawa karena takut si penabrak adalah seorang copet.


“Ah b3go,” maki pria yang terjatuh diatas trotoar, dia adalah pelaku yang baru saja menabrak ku.


“Sial kenapa kau berdiri ditengah jalan, kau pikir ini....” dia terus berbicara dengan kasar sambil merapikan jas bagus yang dia kenakan. Aku hanya memperhatikannya dalam diam, melihat wajahnya sepertinya aku pernah melihatnya sebelumnya.


“Apa kau tahu berapa harga jas ini!.” bentak pria itu.


“Aku pikir itu sekitar dua ratus ribu.”

__ADS_1


“Apa Dua ratus ribu, apa matamu buta hingga tidak dapat melihat betapa mewahnya jas ini!.” dia semakin marah karena menganggapku merendahkan jas mahal yang dia kenakan.


“Yaaa.... tapi bukankah itu yang tertulis pada stiker yang menempel di jas milikmu?.”


“What!.” dengan panik pria itu segera mengecek jasnya dan menemukan stiker harga yang lupa dia buang.


Aku pikir itu sangat memalukan, walaupun sudah ketahuan jika jas yang dia kenakan tidak begitu mahal tapi pria itu masih bersikap seperti orang kaya dengan sombongnya dia memintaku untuk ganti rugi karena tangannya terkilir akibat jatuh barusan.


“Itu bukan salahku, kau sendiri yang menabrak ku.”


“Hey apa kau tidak lihat jika aku mengenakan kacamata hitam? mata ku minus tahu.”


“Ya siapa suruh kau memakai kacamata hitam, dan siap juga yang peduli dengan kondisi matamu?.”


Kami berdebat di pinggir jalan hingga menarik banyak perhatian. Aku tidak akan menyerah pada penipu ini, tidak akan ada sepeserpun yang akan aku keluarkan untuknya.


Karena emosi pria itu pun melepas kaca mata hitamnya yang membuatku teringat pernah bertemu dengan pria ini di suatu tempat. Sementara itu dia membeku saat melihat wajahku tanpa filter kacamata miliknya.


“Kau yang waktu itu memborong Vgear bukan?,”


“Bu... bukan kau salah orang.” tiba-tiba saja pria itu menjadi begitu diam, dia berusaha menyembunyikan wajahnya dariku.


“Tidak aku jelas masih mengingat wajahmu, walaupun penampilanmu sudah sangat berubah.”


“Sudah aku katakan kau salah orang!.” dia membentak lalu segera berjalan meninggalkan aku.


“Hey apa kau lupa dengan biaya perawatan yang kau minta sebelumnya?.” aku mencoba menggodanya untuk terakhir kali, pria Itu pun menghentikan langkahnya dan melirikku dengan penuh amarah lalu kembali berjalan menjauh.


“Ada yang mengatakan jika uang dapat merubah kehidupan seseorang menjadi lebih baik namun tidak dengan otaknya.” tidak ingin bertemu dengan orang aneh lainnya, aku pun segera pulang dan segera Login.


***


Bersambung.

__ADS_1


Author capek: mohon berikan kritik pada novel ini agar author berhenti melanjutkannya.


__ADS_2