
Video yang aku kirim pada Hanna tadi malam ternyata mendapatkan banyak penonton. Bahkan saat ini telah ditonton melebihi dua juta tayangan hanya dalam empat jam semenjak video tersebut diupload, dan menarik cukup besar perhatian komunitas gamer Minvers.
“Aku berharap Prasetyo menyensor bagian Avatar yang terbuka, tapi sebaliknya dia justru membuatnya semakin jelas.” aku mengatakan keluhan ku pada video yang sekarang cukup viral.
“Kakak tidak perlu khawatir, karena aku pikir itu masih berada pada batas wajar. Jika melihat banyak steramer tadi malam maka kakak akan menemukan banyak streamer yang melakukan lebih buruk dari sekedar menggunakan baju sobek.” Hanna mencoba memberikan alasan untuk mempertahankan video agar tidak aku hapus.
Dia bahkan memberikan beberapa contoh padaku. Video yang adikku perlihatkan membuatku mempertanyakan kebijakan platform.
“Bukankah itu tidak berbeda dari game mod dewasa?.”
“Yap, mereka terkena pembatasan umur dan copyright. Tapi mereka tetap melakukannya hanya untuk menambah pengikut.”
Semenjak video itu viral sekarang channel ku sudah mendapatkan dua ribu pengikut. Tapi itu tidak membuatku senang sama sekali, karena aku khawatir mereka yang mengikuti ku karena video viral tersebut hanya ingin melihat aku melakukan sesuatu yang mesum.
“Jangan terlalu Kakak pikiran, kakak bebas melakukan apa yang disukai lagi pula ini hanya permainan.” Hanna memberiku semangat.
Ada tiga alasan kenapa video yang menayangkan awal permainanku memainkan Minvers menjadi viral.
Yang pertama memanjakan mata, terutama untuk kaum lelaki. Ini adalah alasan utama banyak yang menonton.
Kedua latar belakang dunia Es, seperti tidak ada player lain selain aku yang saat ini berada di benua Jotun.
Lalu yang terakhir adalah pertarungan dengan burung raksasa. Pertarungan yang sangat buruk karena aku dihajar habis-habisan oleh burung sialan hingga aku merasa makin pada diriku sendiri saat menontonnya ulang adegan tersebut.
Karena aku sudah menceritakan bagaimana pengalaman pertama bermain Minvers. Sekarang giliran Hanna untuk bercerita.
“Itu tidak terlalu berbeda dengan player lain.” kata Hanna mengawali ceritanya saat kamu sarapan.
‘Disaat player lain memulai di desa atau kota, aku justru memulai permainan di tengah ladang salju. Nasibku begitu sial.’ Pikirku setelah mendengar cerita adik ku.
***
Ding!
[Selamat datang kembali player Estrid Lunarfrey]
Aku kembali masuk kedalam permainan. Hal pertama yang aku lihat setelah membuka mata adalah atap yang terbuat dari jerami, lalu suara tawa seperti beberapa anak kecil yang sedang bermain.
__ADS_1
“Ada di mana aku?.” aku bertanya dengan kebingungan karena berpikir jika akan kembali respawn di tengah padang salju.
“Dia bangun!.”
“Dia siapa?.”
“Bangun?.”
Tiga gadis kecil terkejut melihat aku bangkit dari tempat tidur, mereka segera keluar dari kamar meninggalkan aku sambil berteriak memanggil seseorang.
Tidak lama kemudian datang seorang wanita tua yang mengenakan pakaian tebal terbuat dari kulit bintang. “Kau sudah bangun rupanya, itu lebih cepat dari yang diperkirakan.” ucap wanita itu. Kemudian dia memperkenalkan diri sebagai Herka pemimpin dari desa kecil yang terdapat di gunung Frieg.
“Aku Estrid seorang traveler.”
“Traveler?.”
Herka kemudian menceritakan bagaimana aku bisa berada di rumahnya. Ternyata setelah pertarungan dengan burung raksasa hingga membuatku tidak sadarkan diri, beberapa anak dari desa menemukanku lalu melaporkannya pada penduduk yang kemudian segera menolongku.
Mendengar cerita dari Herka membuatku sangat berterimakasih pada anak-anak yang telah menemukanku, berkat mereka aku tidak kembali ke tempat super dingin itu lagi.
Wanita tua itu kemudian memberikan makanan padaku, sebuah daging panggang yang ukurannya cukup besar. Herka mengatakan itu adalah daging burung raksasa yang aku kalahkan sebelumnya.
“Tidak, samasekali tidak masalah.” ketika aku mengatakan jika tidak masalah bagi penduduk desa mengambil daging burung raksasa Herka terlihat begitu senang.
“Desa saat ini tengah menderita kelaparan karena panen tidak cukup baik. Dengan semua ini penduduk bisa bertahan lebih lama, Aku sungguh sangat berterimakasih atas kebaikanmu.” dia sampai meneteskan air mata saat mengatakan itu.
Melihat kondisi Herka yang begitu kering dan rasa syukurnya yang berlebihan setelah aku mengijinkan warga desa mengambil daging burung, membuatku berpikir jika desa ini sedang mengalami bencana kelaparan yang cukup parah.
Walaupun player saat ini tidak terlalu membutuhkan makanan selain untuk menikmati rasanya, aku tetap mensyukuri pemberi Herka.
Setelah menerima semua yang dia berikan aku berniat melihat-lihat desa. Sebelum aku pergi wanita tua itu meminjamkan mantel tebal karena pakaian yang aku gunakan sudah hancur.
Beberapa anak-anak menyambutku saat keluar dari rumah Herka. Rupanya merekalah yang pertama menemukan aku dan segera melapor pada penduduk desa sehingga aku bisa diselamatkan.
“Terimakasih, karena kalian aku bisa selamat.”
“Itu adalah kewajiban bagi kesatria untuk menolong mereka yang membutuhkan pertolongan.” Bocah lelaki bernama Byrome berkata dengan penuh kebanggaan, seperti dia adalah pemimpin dari kelompok anak-anak di desa ini.
__ADS_1
“Tapi apa kau baik-baik saja, aku melihatmu terluka sangat parah saat melawan burung raksasa itu.” tanya Jara salah satu gadis yang aku lihat di rumah Herka.
“Aku baik-baik saja, semuanya sudah sembuh.”
“Itu luar biasa, beberapa orang sangat lama sembuh dari luka karena udara dingin, bahkan ada yang sampai harus di potong.”
Aku merasakan banyak warga yang sedang mengawasi, mereka tidak bermaksud jahat hanya sekedar penasaran pada orang asing. Lalu seperti yang dikatakan Jara, ada beberapa warga desa dengan kondisi tubuh yang tidak lengkap yang sepertinya diakibatkan oleh radang dingin.
“Jadi kakak mau kemana?.” Byrome bertanya.
“Aku berharap ada toko peralatan di desa ini, tapi sepertinya kesempatan itu kecil.” melihat kondisi desa membuatku berpikir tidak akan ada seorang pedagang yang mau membuka toko di sini.
“Koka itu toko tempatnya ada di dekat pintu masuk desa.”
“Heh, sungguh ada toko di desa ini?.”
“Tentu saja, dulu toko itu merupakan toko yang cukup besar. Namun semenjak musim dingin panjang membuat toko bangkrut.”
Informasi yang cukup mengejutkan, walaupun Byrome mengatakan toko itu sudah bangkrut tapi aku tetap ingin melihatnya, mungkin saja ada sesuatu yang masih mereka jual.
Byrome dan anak-anak lainnya mengantarku ke toko. Tempat itu memiliki halaman luas yang diperuntukkan untuk memarkirkan kereta kuda, dari luar saja aku bisa membayangkan betapa megahnya tempat ini selama masa jayanya.
“Kita tidak bisa mengambilnya begitu saja, apa kau akan bertanggung jawab jika wanita itu bangun lalu marah saat melihat burung itu sudah kita beda?.”
“Tapi kita tidak bisa menunggu lebih lama, jika dibiarkan saja maka mayat burung akan menjadi bangkai dimana dagingnya tidak akan bisa dikonsumsi!.”
Terdengar perdebatan dia orang di dalam toko. Satu diantara adalah perempuan dengan rambut blonde, sementara yang lainnya adalah seorang pria tua kurus dengan pisau daging ditangannya.
Keduanya sepertinya sedang berdebat tentang mayat burung raksasa.
“Halo tuan Butch, kak Sania!.” Byrome yang baru masuk ke toko bersama ku dan anak-anak segera menyapa, kedua orang dewasa itu terkejut dengan kedatangan kami, atau lebih tepatnya mereka terkejut melihatku.
Mereka seakan sedang melihat hantu.
***
Bersambung.
__ADS_1
note: saya review ulang chapter ini karena katanya ada bagian yang dilarang, tapi saya cari kok nggak ada. hasil cuma memperbaiki typo.