Penyihir Hitam Log-in

Penyihir Hitam Log-in
32. Tebing


__ADS_3


Setelah perjalanan panjang akhirnya aku mencapai batas dari dunia salju ini.


Itu adalah sebuah tebing yang sangat curam, badai salju membuatku tidak dapat melihat dasar dari tebing itu.


“Aku merasa seakan sedang berada dipuncak gunung.” Pikirku yang berdasar pada terjalnya tebing serta udara tipis disekitar.


Tatapanku kembali pada jalan yang telah aku lalui. Badai membuat jejak kaki yang aku buat telah menghilang.


“Sudah tidak ada apapun lagi di sana.” Perhatianku kembali ke dasar tebing. “Tidak ada jalan lain.” Aku mengambil satu-satunya jalan yang tersedia yaitu menuruni tebing.


Salju yang jatuh di bebatuan membuatnya begitu licin, aku harus sangat berhati-hati pada setiap langkah yang aku ambil. Melakukan kesalahan satu kali saja akan membuatku terjun bebas ke dasar jurang.


Ding!


[Selamat telah menyelesaikan tantangan (Survival of the Frozen Hell)]


“Aaah... tidak!.”


Notifikasi yang tiba-tiba terdengar membuatku terkejut hingga mengakibatkan salah satu tanganku tergelincir. Akibatnya aku pun terjun bebas.


Terjatuh dari tempat setinggi itu akan membuatku mati secara instan. Kemudian jika mati hal yang akan terjadi padaku adalah kembali ketempat awal dimana hanya ada salju yang begitu dingin karena di sana merupakan titik respawn awal ku.


“Itu sama sekali tidak lucu.” Dengan sigap aku menggunakan pedang yang aku dapat dari mayat membeku untuk ditancapkan pada tebing.


Usaha pertama gagal karena bebatuan keras tidak dapat ditembus oleh pedang berkarat yang aku gunakan, justru pedang itu yang hancur.


Menolak untuk menyerah aku menggunakan pedang kedua.


“Oh!.”


Sempat merasa senang saat pedang kedua masuk diantara sela-sela batu, tapi itu tidak bertahan lama karena pedang tersebut patah akibat tidak dapat menahan beban tubuhku.


Semus benda yang aku dapatkan dari mayat beku adalah sampah, bahkan baju yang aku gunakan dari mayat-mayat itu pun dapat dengan mudah rusak.


Braak!


“Agghh!.”


Tubuhku membentur bebatuan tebing dengan begitu keras. Itu terasa sangat menyakitkan, seakan tulang belakangku bergeser.


Rasa sakit yang begitu nyata membuatku tidak dapat berpikir untuk sesaat, akibatnya kemarahan mulai meluap karena rasa sakit yang aku alami semakin parah.

__ADS_1


Graaaaa! Dengan penuh amarah aku mengambil sebuah kapak yang terlihat masih bisa digunakan dari inventori. Mengayunkan kapak itu sekuat tenaga dengan kemarahan Viking, kapak itu menembus bebatuan hingga menghentikan tubuhku jatuh.


“Ini sangat buruk.” sambil terus berpegang pada kapal aku melihat luka di pinggang akibat benturan barusan. Darah mengalir dari luka sobek yang begitu lebar dan mungkin beberapa tulang rusukku patah.


“Bagaimana mereka bisa menciptakan game seperti ini?.” semua yang aku alami membuatku merasa tidak sedang bermain game.


Kemarahan yang meluap membuatku sulit berpikr. Situasi ini sangat berbahaya, aku tidak boleh jatuh dalam kemarahanku sendiri.


“Aku pernah mengalami yang lebih buruk.” aku berkata pada diriku sendiri. “kemarahan ini hanya karena aku tidak menduga karena terus mengaggap jika Minvers hanya permainan biasa.”


Udara dingin membantuku meredakan kemarahan hingga efek Viking rage akhirnya menghilang. Kemarahan reda aku pun dapat kembali berpikir jernih.


Setelah menenangkan diri aku berusaha mencari tempat untuk untuk berpijak. Darah yang terus mengalir akan menjadi masalah jika tidak segera ditangani. Beruntung dari tempat aku bergelantungan terdapat batu yang bisa aku jadikan pijakan.


“Sepertinya ini akan menjadi keberuntungan terakhir ku.” batu itu tidak cukup lebar, hanya mampu menahan satu kaki. Tapi itu sudah lebih dari cukup untukku.


Aku mulai berayun, kakiku berjalan di dinding tebing untuk melakukan ancang-ancang. Kemudian saat sudah yakin aku segera menarik kapak yang aku gunakan untuk bergelantungan lalu berlari ditembok tebing menuju batu.


Dengan sempurna aku mencapai batu dan berdiri diatasnya. Sempat hampir terjatuh karena terlalu cepat berlari di dinding tebing, tapi aku berhasil mengendalikan keseimbangan tubuhku.


Merasa aman setelah mendapat tempat berpijak, aku segera mengambil beberapa kain dari baju para mayat beku. Aku bermaksud menggunakan kain tersebut untuk menutupi luka.


“Arg!.” aku berusaha menahan rasa sakit saat menekan luka menggunakan kain.


Hampir setengah dari kesehatanku lenyap hanya karena luka barusan. Tapi jika dilihat dari betapa tingginya aku terjatu, kupikir itu masih masuk akal. Bahkan sungguh luar biasa jika ada orang yang bisa selamat Deri kejadian yang baru saja aku alami.


“Tidak buruk.” ucapku yang mencoba duduk di atas batu. Aku berusaha untuk beristirahat, entah karena terlalu lelah akibat insiden tadi yang hampir mengancam nyawa atau hanya sekedar memulihkan kesehatan.


Tapi sayangnya pemulihan kesehatan otomatis hanya berlaku ketika bar kesehatan dibawah 20%.


Keadaan sangat sunyi, hanya suara hembusan angin kencang yang aku dengar. tapi kesunyian segera berakhir ketika suara itu terdengar


Keaaaak!


Aku mendengar suara pekikan burung dari kejauhan. Kemudian penglihatanku menangkap siluet yang bergerak dari balik awan.


“Itu besar.” gumamku ketika menyadari jika aku tidak lagi sendiri ditempat ini.


***


[TP POV]


Estrid (nama Avatar) menggenggam erat kapak ditangannya, dia bersiap mempertahankan diri jika burung raksasa yang terbang di balik kabut melakukan serangan padannya.

__ADS_1


Dugaan Estrid benar, siluet burung itu bergerak mendekat kearahnya. “Tadi begitu sunyi lalu kenapa tiba-tiba datang burung yang ingin menyerang ku?.” Estrid memikirkan beberapa hal yang mungkin menyebabkan burung itu menemukan dirinya.


“Apa karena teriakan saat aku jatuh atau dia mencium darah?.” pikir Estrid.


“Apapun itu kemarilah, aku akan membuatmu menjadi daging panggang.” Estrid begitu yakin dapat mengalahkan monster pertamanya.


“Aku sudah menunggu ini selama lima jam.” Estrid tidak sabar melakukan pertarungan setelah menghabiskan waktu lama di hamparan salju yang begitu sepi.


Namun keberanian wanita itu seketika lenyap setelah burung itu menampakan wujudnya dari balik kabut.


Kreeekkkk!


“Seriusan!.” Estrid begitu terkejut melihat besarnya burung yang menghampirinya. Ukuran makhluk itu bahkan lebih besar dari sebuah pesawat Superjumbo Jet.


Paruh raksasa terbuka lebar menunjukkan rongga mulut seperti goa yang dapat dimasuki oleh Estrid tanpa kesulitan. Tapi tentu saja Estrid tidak memiliki niat masuk kedalam goa yang akan membuatnya dicerna.


Estrid melompat menghindari paruh yang hendak memakannya. Dia kembali menggunakan kapak sebagai pengait pada batu tebing. Estrid melihat tempat yang beberapa saat lalu menjadi pijakannya sekarang telah hancur akibat tabrakan paruh burung raksasa.


Keaaaak!


Burung raksasa menarik kepalanya dari lubang di tebing yang terbentuk oleh paruhnya sendiri. Monster itu menatap Erina yang berhasil menghindari serangan.


Sadar jika burung raksasa akan kembali menyerang, Estrid segera mencabut kapak dari batu lalu menendang tebing yang membuatnya melompat cukup jauh.


“Hampir saja.” Estrid bersyukur dapat menghindari serangan kedua, walaupun dia hampir tidak selamat karena telat satu detik saja Estrid akan berakhir di dalam mulut yang terus mengejarnya.


Kraauuuk! Burung itu marah ketika usaha kedua kalinya untuk memakan Estrid kembali gagal. Dia tidak peduli lagi untuk memakan Estrid, kemarahan monster itu hanya ingin melenyapkan makhluk rendah yang membuatnya merasa terhina.


Kraaaarrr...


Burung raksasa membuka lebar mulutnya kearah Estrid. Dari dalam tenggorokan burung itu Estrid dapat melihat cahaya yang semakin terang.


“Tidak akan semudah itu....” Estrid melompat kerah mulut burung. “.... burung perkutut sialan!.” Dia menebas kapak ke mulut burung raksasa hingga melukai bagian rahang. Bersama dengan itu kilatan petir keluar dari paruh burung menyebabkan ledakan besar.


Selamat dari serangan ketiga, Estrid kini berada di atas punggung monster yang hendak memakannya. Burung raksa semakin marah ketika merasakan sakit di mulut akibat serangan Estrid.


“Sekarang apa yang akan kau lakukan?.” berada di punggung burung membuat Estrid tidak tersentuh. Wanita itu sekarang dapat melakukan serangan pada makhluk yang mencari masalah dengannya.


***


Bersambung.


Note: bagus yang mana Sudut pandang pertama atau orang ketiga?.

__ADS_1


__ADS_2