Penyihir Hitam Log-in

Penyihir Hitam Log-in
34. Pagi yang Menghawatirkan


__ADS_3

Ding!


[Avatar yang anda gunakan telah kehilangan kesadaran]


[Avatar memasuki mode istirahat untuk pemulihan selama 5 jam waktu nyata]


[Terimakasih telah bermain Minvers Lost Civilization, selamat beristirahat]


Suara sistem membangunkan aku yang masih berada di dalam kapsul. Aku segera bangkit dan memeriksa kondisi tubuhku. tidak ada luka di manapun namun aku masih merasakan sakit yang dialami oleh Avatar game yang aku mainkan.


“Sunguh aneh...” aku terjatuh karena kaki terasa lemas seakan seluruh tenagaku lenyap bingitu saja. “Aku bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Avatar. Rasa sakit, kelelahan dan kemarahan terbawa ke dunia nyata.”


Awalnya aku berpikir jika semua itu hanya efek sementara setelah permainan, tapi ternyata rasa sakit itu bertahan cukup lama. Aku pun mulai berpikir ada sesuatu yang tidak beres tentang Minvers terbaru.


“Ya terserahlah, sangat konyol jika aku berpikiran bisa menemukan semua jawaban sekaligus.”


Setelah rasa sakit reda aku segera mengecek keadaan Hanna, dia masih terhubung dalam permainan dan sedang melakukan live streaming.


Membuka Ytub aku mencari tahu bagaimana reaksi para player tentang Minvers Lost Civilization terutama bagian rasa sakit yang terasa begitu nyata.


“Aku khawatir pada Hanna, aku tidak ingin dia terluka saat bermain”


Minvers Lost Civilization menjadi fenomena luar biasa. Baru tiga jam sejak perilisan tapi sudah menjadi trending topik diberbagai platform digal.


Banyak konten kreator di Ytub yang saat ini tengah melakukan live streaming, mereka tidak akan melewatkan kesempatan untuk bermain Minvers di hari pertama.


Ditambah kelangkaan Vgear saat ini membuat banyak orang yang ingin bermain Minvers tapi tidak memiliki virtual gear terpaksa menahan diri dan hanya bisa menonton melalui live streaming.


Aku melihat channel Hanna yang saat ini tengah ditonton oleh dua ribu orang. Sepertinya dia saat ini tengah berada di kerajaan Jayakarta, kerajaan sama seperti Minvers sebelumnya. Namun ada perbedaan mencolok pada kerajaan Jayakarta sekarang yang jauh lebih miskin.


[Black Witch: Hanna aku mati (cry emot)]


Aku mencoba berkomentar walaupun tidak yakin Hanna akan membacanya karena kolom komentar naik dengan cepat. Tapi ternyata Hanna melihat komentar yang aku buat.


“Hah... Black Witch, apa itu kakak?!.” dia terlihat terkejut melihat melihat nama yang aku gunakan.


[Anon2: kakak?.]


[Demit Lo: Kakak perempuan Hanna Chan!]


[Ngarp com: Dia pasti bicara padaku]

__ADS_1


Kolom komentar langsung dibuat penasaran setelah Hanna menyebut tentangku.


[Black Witch: aku pikir tadi siang kau lupa untuk mengangkat jemuran]


“Huwaaaa... itu beneran Mbakyu!.”


Hanna langsung yakin jika black Witch adalah aku setelah diberikan klue. Setelah itu dia menjadikan aku sebagai moderator agar dapat lebih mudah untuk membaca komentar yang aku berikan.


“Jadi kakak terbunuh di hari pertama, dan itu baru berlangsung selama tiga jam. Bagaimana mungkin?.”


[Black Witch: itu karena burung]


“Burung?.”


Kolom komentar seketika dibanjiri dengan kritik dan makian padaku karena mati oleh binatang lemah. Melihat itu Hanna marah pada penontonnya yang membicarakan hal buruk tentangku.


Ya tidak semua orang menonton streamer karena mereka senang pada streamer tersebut. Seringkali beberapa heaters pun akan ikut menonton kreator yang mereka benci untuk terus mengolok-olok apapun yang dilakukan si kreator.


[Black Witch: kendalikan dirimu, perhatianmu terlalu berharga untuk orang-orang seperti mereka]


Komentarku seketika mendapatkan banyak hujatan dari para heaters. Tapi aku tidak memperdulikannya dan kembali memberikan komentar untuk Hanna.


“Ay ay kapten.”


Aku mengirimkan video saat aku bermain Minvers pada Hanna. Jujur aku tidak berharap video itu akan di tampilkan pada beranda channel AFK studio karena terlalu membosankan.


“Ya siapa juga yang akan menonton seseorang berjalan ditengah ladang salju selama lima jam hanya untuk berakhir diganggu seekor burung.” Pikirku.


“Tapi mungkin akan cukup banyak pria bajingan yang menonton bagian perkelahian...” aku teringat jika saat berkelahi dengan burung raksasa, perlengkapan yang aku gunakan sebagai besar hancur sehingga aku hampir tel4_jang.


“Aku harus meminta Hanna untuk mengedit bagian itu.” teringat sesuatu yang penting aku segera menghubungi adikku lewat telepon.


Setelah semua selesai aku segera pergi tidur. Kasur yang empuk dan udara dingin membuatku merasa nyaman di dalam selimut, kelelahan yang aku alami setelah bermain Minvers membuatku dengan cepat tertidur lelap.


***


Hari berikutnya seperti biasa pagi-pagi aku sudah berada di dapur memasak sarapan untuk kami berdua.


“...met paghie mbak....” Hanna turun dari lantai dua sambil menguap, dia terlihat masih mengantuk. Tapi lebih para dari itu Hanna bahkan berjalan turun sambil menatap handphone.


“Hey hati-hati jika berjalan di tangga.” aku memarahinya, tapi Hanna tidak menghiraukan.

__ADS_1


“Maaf kak aku hanya ingin melihat hasil dari streaming tadi malam.” balasan yang kemudian mengambil handuk lalu menuju kamar mandi.


“Jangan bermain ponsel saat mau mandi!.” aku kembali memarahinya tapi tidak ada jawaban dari Hanna. “Dasar anak jaman sekarang, mereka akan lupa pada segalanya begitu memegang ponsel.” gumamku kesal.


[... Berita terbaru seorang gadis ditemukan tewas setelah membaw ponsel di kamar mandi]


Tiba-tiba televisi yang sedang menyiarkan konten viral berubah menjadi berita kriminal. “Hanna kau mendengarnya?, Mungkin kau akan bernasib sama seperti gadis di televisi itu.” ucapku bercanda, tapi masih tidak ada jawaban dari adik perempuanku.


[... Korban tewas disebabkan baterai bertenaga nuklir di ponselnya mengalami kebocoran... ]


“Ponsel dengan baterai nuklir, seriusan?.” dalam hatiku mulai bertanya-tanya apakah ponsel yang digunakan Hanna juga bertenaga nuklir.


Aku iseng bertanya pada adikku yang masih di dalam kamar mandi tapi kembali tidak ada jawaban. Membiarkan adikku yang sedang sibuk walaupun entah apa yang sedang dia lakukan di kamar hingga menjadi begitu hening, aku melakukan pekerjaanku yang lain sambil menunggu masakan matang.


“Hanya tersisa membuang sampah...” membawa beberapa kantung hitam berisi sampah aku hendak keluar rumah, tapi sebelu itu...


[... korban baru ditemukan setelah tiga jam waktu kematia. Awalnya Kakak perempuan korban tidak menduga kematian adiknya yang berada di kamar mandi karena tidak ada yang mencurigakan, tapi setelah tiga jam korban tidak keluar dari dalam kamar mandi yang begitu sepi membuat kakak korban mulai curiga, dia pun mendobrak pintu kamar mandi dan menemukan adiknya sudah tidak bernyawa.]


“Hemm.... terdengar Mirip....” tatapanku kembali tertuju pada kamar mandi yang masih hening, berpikir mungkin terjadi sesuatu pada Hanna membuatku khawatir. Tapi mengingat jika Hanna tidak memiliki ponsel dengan baterai Nuklir membuat kecemasanku lenyap.


Namun itu tidak bertahan lama karena di tong sampah depan rumah aku melihat kotak bekas ponsel terbaru yang dengan jelas dikatakan jika ponsel itu dilengkapi dengan baterai bertenaga nuklir. Baterai yang tidak perlu dicharger selama tiga tahun.


Aku diam membeku saat mengingat jika kemarin Hanna mengatakan telah mengganti ponselnya. Dia telah mendapatkan banyak uang hasil investasi virtual gear fan membeli ponsel keluaran terbaru.


Mengingat ini itu membuat kecemasanku melonjak, dengan cepat aku segera berlari masuk rumah lalu menuju kamar mandi. Dengan panik aku mendongak pintu kamar mandi...


“Hanaaaaaaah...... ?” begitu masuk kamar mandi dengan tidak santai, aku mendapati adikku yang masih menonton video di ponselnya.


“Ka... kak...” dia terkejut karena aku tiba-tiba masuk. Tapi seketika dia menjadi takut saat melihat wajahku yang marah.


“Cepat mandi!.”


Bltak!


“Owieeeee...”


Aku segera merebut ponsel Hanna lalu menjitak kepalanya dengan keras sebelum akhirnya keluar dari kamar mandi dengan kesal.


***


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2