
Setelah pesawat masuk kedalam Karathon, awan hitam menutupinya lalu badai pun mulai reda yang menandakan pulau terapung telah meninggalkan daerah itu.
Alena, manusia bersayap anggota Cronous Sage tingkat pertama. Usianya masih dua puluhan, namun dari luar dia terlihat lebih tua seakan usianya sudah mencapai dua kali lipat dari seharusnya. Itu disebabkan Alena sering menggunakan teknik memanggil malaikat.
Sayapnya yang basah membuat Alena tidak dapat terbang, dia pun mengumpulkan energi di tubuhnya untuk melapisi bagian bawah sepatu. Seakan berdiri di atas kaca Alena berdiri di atas air seperti ninja. Diikuti oleh tiga rekannya, mereka kembangkan menuju negara mereka.
“Maaf aku tidak bisa menyelesaikan misi.” kata Alena pada seseorang di telefon.
[Menyedihkan!.] Suara dari telepon terdengar begitu marah.
[Sekali lagi keluarga Ningrat keparat itu mengambil bagian terbaik untuk mereka sendiri.]
Segala caci-maki terdengar dari telepon membuat Alena agak menjauhkan alat telekomunikasi itu dari telinganya. Wanita itu tidak ingin menderita masalah pendengaran akibat terlalu banyak mendengar kata-kata kotor.
Hingga berapa menit kemudian suara dari telepon berhenti karena lelah terus berbicara. Lalu sekarang giliran Alena yang diminta berbicara mengenai apa yang terjadi di perbatasan.
Alena menceritakan usahanya dan rekannya menahan Erina, usaha keras hingga memaksa keempatnya memanggil malaikat.
[Bahkan setelah memanggil malaikat pun kalian tidak dapat merebut pemuda itu!.] Suara terdengar begitu terkejut.
“Black witch, Swallotail memang seperti yang dirumorkan.”
[Itu bukan sebuah jawaban yang harus kau berikan setelah mengurangi lima tahun usiamu dah rekanmu!.]
“Maaf tertua.”
Cronous Sage sebuah organisasi yang sudah berdiri lebih lama dari negara tertua. Kekuatan terkuat mereka adalah perlindungan dari malaikat yang telah diturunkan dari generasi pertama.
Tapi harga dari menggunakan kekuatan itu tidaklah murah. Mengurangi usia menjadikan anggota Cronous Sage sangat berhati-hati menggunakan kekuatan yang mereka miliki, jika tidak maka mereka tidak akan bisa mencapai usia tiga puluh tahun.
Sangat menyedihkan dimana kebanyakan anggota Cronous Sage saat ini terlihat begitu tua walaupun sebenarnya jiwa mereka masih muda. Karena masalah tersebut organisasi lain memberi julukan sekte Cronous Sage sebagai panti jompo.
Karena masalah yang diakibatkan oleh kekuatan mereka miliki membuat sekte Cronous Sage berkeinginan besar untuk menemukan obat keabadian. Jika saja usia mereka lebih panjang maka tidak ada rasa khawatir untuk menggunakan kekuatan yang mereka miliki.
Dengan itu Cronous Sage dapat dengan mudah mengalahkan organisasi lain bahkan keluarga Ningrat sekalipun. Secercah harapan muncul ketika permainan Minvers hadir, walaupun terdengar konyolnya jika seseorang mengatakan para player akan mendapatkan kekuatan jika memainkan game tersebut.
__ADS_1
Tapi kenyataannya itulah yang terjadi, setelah satu setengah tahun melakukannya penelitian pada game Minvers, Cronous Sage mendapatkan fakta mengejutkan jika para player Minvers bertambah kuat seiring dengan kekuatan Avatar mereka di Game.
Dengan informasi yang mereka miliki, sekte Cronous Sage berharap mereka dapat menemukan obat keabadian di game Minvers, karena sebab itulah mengapa mereka sangat menginginkan Glen yang merupakan pencipta Minvers itu sendiri.
Namun sayangnya usaha yang mereka lakukan sia-sia, orang yang diharapkan dapat memberikan mereka keabadian justru saat ini tengah berada di tangan musuh terbesar sekte mereka.
***
Indonesia.
Hanna pulang dengan mengendarai mobilnya, dia melihat langit yang mulia menghitam dengan gemuruh petir terdengar cukup sering.
"Padahal tadi begitu cerah, kenapa tiba-tiba seolah badai akan datang?." Ucap gadis di samping Hanna. “Mungkin ibuku pulang.” jawab Hanna yang wajahnya terlihat bahagia. Mendengar itu wanita disampingnya hanya terdiam dengan heran.
Kiana Larasati adalah teman sekolah Hanna, dia juga orang dibalik karakter Avatar Hilda si penyihir tinju. Mereka telah berteman sejak kelas satu sekolah menengah atas.
Begitu sampai di rumahnya Hanna terlihat gugup dia seperti tidak sabar untuk masuk kedalam dan berharap jika tebakannya benar.
“Aku pulang....”
“Selamat datang Hanna.”
“Ada apa Hanna, apa kau tidak rindu pada ibumu?.” tanya wanita itu dengan wajah sedih. Mendengar perkataan itu membuat Hanna yakin jika sosok di depannya adalah orang yang dia pikirkan.
“Momi....” Hana langsung memeluknya sambil menangis, sementara di belakang Kiana bingung dan merasa canggung karena baru kali ini melihat Hanna menangis.
Kemala Retnasari, dia terlihat biasa saja dari luar, hanya terlihat lebih muda walaupun sudah memiliki dua anak, Kiana bahkan mengira jika dia adalah kakak perempuan Hanna yang ingin diperkenalkan padanya.
Tapi dibalik itu semua wanita itu merupakan pemimpin dari organisasi besar yang menguasai hampir lima belas persen wilayah sekala dunia.
Beberapa saat kemudian Hanna bisa menenangkan dirinya setelah ibunya menenangkan dengan mengusap lembut rambut gadis itu.
“Jadi apa kau ini memperkenalkan temanmu pada ibu?.” tanya Retna.
Hanna kembali teringat pada temannya “Oh iya aku lupa. Ibu dia adalah teman sekolah ku namanya Kiana.”
__ADS_1
“Salam tante.” balas Kiana dengan sopan.
Retna kemudian mengajak keduanya masuk. Begitu berada di dalam Kiana mencium aroma sedap yang langsung membuat perutnya berbunyi. Wajahnya seketika menjadi merah manakala suara perutnya terdengar oleh Hanna dan ibunya.
***
Di meja makan lima orang tengah menyantap makan malam bersama. Satu pria dan empat wanita, meja makan itu terlihat begitu hangat saat masing-masing dari mereka saling bercerita.
“Hemm... Setelah sekian lama tersiksa dengan makanan fast food, akhirnya aku kembali merasakan makanan yang sesungguhnya.” dengan berderai air mata pria itu menghabiskan piring ke tiganya.
“Aku tahu masakan Padang buatan kakak sangat lezat, tapi apa kau tidak apa-apa makan sebanyak itu?.” Hanna terkejut dengan banyaknya makanan yang masuk kedalam mulut sepupunya.
Gilang Sakalangit adalah identitas sebenarnya dari Glen Clownsky. Dia seorang mata-mata yang ditugaskan masuk ke perusahaan Metaworld, wajah pria yang sebelumnya seperti orang Eropa hanyalah penyamaran.
“Jangan khawatir pada si Toni ini, dia mampu menghabiskan semua makanan di sebuah hajatan pengantin seorang diri.” Erina mengatakan pada Hanna untuk tidak memperdulikan nafsu makan Gilang yang besar.
“Oh ya aku ingat itu Ahahaha...” Hanna teringat kenangan masa lalu yang membuatnya tidak dapat menahan tawa.
“Hey, jangan hanya mengingat momen buruk tentang aku. Lagi pula namaku bukan Toni!.” Gilang protes karena namanya tiba-tiba diganti. Toni menjadi sebutan Gilang karena nafsu makannya yang luar biasa besar sehingga dia dilambangkan sebagai perwujudan dari kerakusan (Gluttony).
Percakapan mereka semakin melebar, sebagian besar pembicaraan mengenai kehidupan Hanna yang ditanyakan oleh Retna. Itu wajar karena selain melalui live streaming, Retna tidak mengetahui kehidupan putri bungsunya itu di kehidupan nyata.
Dari cerita yang disampaikan Hanna, dia sering mengajak Kiana menginap di rumah untuk menemaninya. Itu membuat Ratna sangat berterima kasih kepada gadis itu karena telah menemani putrinya.
Kemudian setelah selesai makan malam, Hanna dan Kiana merasa iri dengan Gilang yang masih terlihat normal walaupun telah mengonsumsi tujuh porsi besar makanan.
“Kemana semua perginya makan yang tadi kau makan?.” tanya Hanna penasaran.
“Mereka semua pergi ke dalam hatiku.” balas Gilang sambil membantu simbol hati dengan jarinya, melihat itu keduanya seketika merinding.
“Apa ini yang dinamakan joke bapac-bapac?.” ucap Erina.
“Sepertinya aku tadi mendengar suara bel berbunyi ‘Cringe Cringe’.” imbuh Kiana.
Tono alias Gilang langsung nangis di pojokan setelah di sebuah bapakidan menjijikkan oleh dua gadis SMA itu.
__ADS_1
***
Bersambung.