
Ribuan titik cahaya kembali bersinar di Festaland. Cahaya yang merupakan efek teleportasi dari para player yang gugur dalam pertandingan.
Dalam waktu sepuluh menit telah gugur sebanyak seratus ribu player. Pertandingan terus berlangsung dan belum ada yang menunjukkan akan segera berakhir.
Tapi beberapa arena pertandingan sudah memperlihatkan juaranya, mereka adalah player terkuat dari setiap area yang mulai diwaspadai oleh peserta lainnya.
Sebagian player menyerah melawan para juara itu, tapi sebagian lainnya memilih untuk melakukan perlawanan.
***
Berdiri ditengah area, Estrid menatap para player yang masih tidak bergerak dari tempatnya. Kapak Jarnbjorn (dibaca Yarnbyorn) yang bilahnya begitu dingin siap memperlihatkan kejutannya.
Para player saling bertatapan, mereka mengangguk secara bersamaan, seakan kesepakatan telah terjadi dari lirikan mata tanpa percakapan.
Mereka para player di arena itu telah sepakat jika mengalahkan wanita serigala dengan senjata kampak adalah prioritas utama, karena dia dianggap terlalu berbahaya.
“Nice...” gumam Estrid dengan senyum lebar.
“Peluru kegelapan!”
“Tembakan beruntun!”
“Panah api!”
“Duri Es!”
“Ledakan Angin!”
Beragam sihir dan anak panah dilepaskan para player untuk wanita itu. Estrid segera bertahan dengan prisai guardian, tapi posisinya yang berada di tengah tentu membuat Estrid ditargetkan dari semua sudut, sehingga perisai kecil itu tidak mungkin melindunginya dari semua serangan yang datang.
Tapi itu bukan masalah besar untuk Estrid.
Menggunakan efek Counter pada perisai guardian, Estrid menolak beberapa serangan sihir hingga anak panah, membuat serangan itu kembali ke pemiliknya. Beberapa player sangat terkejut ketika serangan yang ditujukan untuk Estrid, justru berbalik menyerang mereka sendiri.
Namun semua Counter pembalikan serangan dan usaha mengelak yang Estrid lakukan, tidak cukup untuk menahan semua serangan yang datang. Tubuhnya dilumuri darahnya sendiri, beberapa sihir dan anak panah melukainya membuat Estrid terlihat begitu mengerikan.
Serang sihir dari para penyihir berhenti karena skill mereka masuk masa jeda (Cooldown). Sementara para archer kehabisan anak panah sehingga perlu mengambil yang lain dari penyimpanan.
Serangan gelombang pertama berakhir, namun Estrid masih bisa berdiri. Player lain tidak tahu berapa kesehatan Estrid yang tersisa, tapi melihat seluruh luka yang diderita oleh wanita itu, mereka pun mengira jika kesehatannya berada dibawah 20%.
Estrid diam sambil memejamkan mata, setiap player yang melihatnya menyangka dia sudah pasrah dengan kekalahannya. Tapi yang dipikirkan oleh Estrid sebenarnya adalah...
“Ini terasa seperti...”
Setiap player kembali waspada ketika melihat Estrid masih bisa bergerak.
“...Kekecewaan yang luar biasa.”
__ADS_1
Estrid menggenggam erat Jarnbjorn, lalu yang terjadi berikutnya sangat mengejutkan setiap player. Tanpa menggunakan potions, luka-luka yang diderita oleh Estrid mulai sembuh, mereka pun tidak melihat jika dia menggunakan skill penyembuhan apapun.
“Serangan yang kalian berikan sangat payah.”
Seperti seorang masoqis, Estrid merasa kecewa dengan rasa sakit yang dia terima dari para player tidak seperti yang dia bayangkan.
“Kalian harus melakukan lebih keras jika ingin membuatku keluar!.” sebuah perbatasan yang terdengar agak ambigu.
Tapi perkataan Estrid merupakan sebuah kebenaran. Untuk melawan kemampuan penyembuhan yang dia miliki, setiap player harus mati-matian menyerangnya dengan cepat dan kuat sebelum efek penyembuhan diaktifkan.
“Biar aku tunjukkan seperti apa serangan yang sebenarnya.”
Estrid mempererat genggaman pada kapaknya, dengan cepat lapisan Es menutupi seluruh bagian kapak. Melihat itu semua player sadar jika Estrid sedang mengisi daya sihir pada senjatanya.
Para player tentu tidak tinggal diam, mereka yang memiliki job garis depan seperti knight, warrior, brawler dan semacamnya segera menyerbu Estrid. Sementara player dengan job mage, Archer, dan healer mencoba memberikan dukungan.
“Kalian terlambat....” ucap Estrid pada setiap player. Rambutnya perlahan menjadi kecoklatan, amarah wanita itu tidak sepenuhnya dikeluarkan. Kilatan petir menjalar dari kapak yang membeku.
“Frost Thunder Circle Slash!.”
Estrid berputar 360 derajat saat mengayunkan kapaknya. Gelombang super dingin dengan aliran petir mulai menyebar dengan lingkaran penuh. Player yang berada di barisan terdepan mendapatkan luka fatal akibat serangan Estrid.
“Gila kerusakan macam apa ini!.”
Player yang terkena serangan dibuat sangat terkejut ketika melihat kesehatan mereka berkurang antara tiga puluh hingga lima puluh persen, bahkan ada beberapa yang langsung tewas akibat level dan kesehatan yang sangat rendah.
“Frostbite dan Paralysis? Yang benar saja!.”
“Sial, aku akan menjadi patung Es!.”
“Tidak bisa bergerak!”
“.Batu.... aku.... membatu!”
Yang berhasil bertahan dari serangan Estrid belum tentu merasa lebih baik. Mereka menderita dua efek yang sangat merugikan yaitu radang dingin dan kelumpuhan.
Frostbite (radang dingin) akan membuat penderitanya mengalami penurunan kecepatan gerak, dan jika efek semakin parah maka kesehatan player akan mulai berkurang.
Untuk menghilangkan efek Frostbite player harus berada di dekat sumber panas, atau cara yang pulang mudah adalah terus bergerak agar tubuh player menjadi hangat hingga efek Frostbite akan berkurang seiring waktu.
Tapi bagaimana mereka bisa bergerak jika efek kedua dari serangan Estrid malah membuat setiap player menjadi lumpuh.
Paralysis, abnormal status yang diderita player ketik terkena serangan elemen listrik. Abnormal seratus ini membuat player mengalami sengatan listrik selama beberapa waktu, mengakibatkan Avatar player menjadi begitu kaku.
“Itu baru yang dinamakan sebagai seni pertarungan.”
Estrid kagum dengan efek dari serangannya yang dapat membuat 20 player membeku menjadi patung Es. Keberhasilan itu dikarenakan senjata barunya, Jarnbjorn yang dapat menampung kekutan listrik Estrid dalam jumlah besar, sekaligus menimbulkan efek sihir Es di setiap serangan.
__ADS_1
Senjata biasa akan langsung meledak jika Estrid mengulurkan energi listrik terlalu banyak, daya tahan pun akan cepat berkurang sehingga tidak cocok untuk digunakan sebagai senjata utama.
Sehingga Estrid sebelumnya lebih sering menggunakan teknik kapak lempar. Hingga akhirnya dia mendapatkan senjata yang mampu menahan kekuatan listrik dalam dirinya.
“Seluruh pekerjaanku selama beberapa Minggu terakhir, terbayar lunas.” Tidak ada penyesalan sedikitpun yang Estrid rasakan setelah mencoba kemampuan dari senjata buatannya itu.
Pertarungan di arena terus berlangsung, player yang tersisa terus mencoba yang terbaik untuk mengalahkan Estrid. Melihat kegigihan mereka membuat Estrid sangat bahagia, itu karena tidak ada sesuatu yang membosankan seperti para player yang menyerah ditengah pertandingan.
“Aku player dari Warlord, aku yang akan mengalahkan mu!.” teriak seorang player dengan perisai menara, dia berlari dengan cepat kearah Estrid.
Estrid terdorong oleh teknik (Shild Dash), kesehatannya hanya berkurang sedikit akibat serangan itu. Karena memang tujuan sebenarnya dari serangan pendorong bukanlah untuk memberikannya kerusakan, tapi untuk memindah target serangan.
Player dengan perisai besar terus mendorong Estrid hingga ke tembok, dibelakang player itu beberapa penyihir memberikan peningkatan padanya.
Tapi player dari Guild nomor satu sebenarnya tidak tahu apa yang sedang dilakukan. Dia hanya ingin mendorong Estri menuju tembok, tanpa rencana lanjutan yang akan dia lakukan setelah Estrid terhimpit tembok.
“Jadi hanya seperti ini kekuatan seorang player dari guild nomor satu?.”
“Apa!.”
Player itu merasa marah karena perkataan Estrid yang terus dia dorong menuju tembok. Kemarahan itu membuatnya semakin kuat mendorong.
Tapi hal aneh terjadi saat Estrid yang disldorong terasa semakin berat dan terus bertambah berat, membuat pergerakannya semakin melambat hingga akhirnya player itu tidak mampu lagi bergerak.
Dia merasa seakan sedang mendorong batu besar. Namun yang sebenarnya adalah Estrid menahan dorongan dari perisa menggunakan satu tangannya saja. Rambutnya yang sudah menjadi merah membara membuat kejutannya semakin menggila.
Blam! Estrid menendang perisai yang mendorongnya dengan begitu keras sehingga pengguna perisai terpental begitu jauh.
Player yang masih bertahan hendak menyerang menggantikan player dengan perisai. Tapi mereka segera berhenti saat tekanan dari aura Conqueror Estrid mulai merebak.
“Mari akhiri saja sampai di sini.”
Memasukan kekuatan dalam jumlah besar pada kapaknya, Estrid mengakhiri pertarungan di arena tempatnya berada dengan satu serangan terakhir yang sangat brutal.
“Lightning Smith, Frost Thorn!.”
Estrid menghujam kapaknya dua kali, pertama menyebabkan gelombang kejut yang menyebar keseluruh area sehingga semua player yang terkena serangan itu menjadi lumpuh.
Lalu serangan kedua membuat duri Es muncul dari dalam tanah menusuk para player yang tidak mampu bergerak. Serangan itu pun sekaligus menjadi serangan penutup.
Ding!
[Selamat, anda berhasil melalui tahap pertama turnamen]
***
Bersambung.
__ADS_1
[Note: sepertinya author akan Hiatus novel ini sebentar karena akan fokus pada novel Supreme Being]