Penyihir Hitam Log-in

Penyihir Hitam Log-in
78. Ragnar


__ADS_3


Shaaaaa!


Monster lain kembali keluar dari inti monster, kali ini monster itu merupakan ular raksasa sepanjang 35 meter. Pasukan Draugher segera melakukan serangan, ular raksasa membalasnya dengan semburan cairan kehijauan dari mulutnya.


“Uwah, itu cairan asam.” kata Estrid yang melihat banyak Draugher tumbang setelah dilarutkan oleh cairan asam.


Pertarungan sengit terjadi, ular raksasa walaupun sendirian tapi bisa mengimbangi kekuatan jumlah para Draugher.


“Monster yang muncul terus bertambah kuat. Di pertarungan selanjutnya mungkin para Draugher akan musnah.”


Merasa jika akan berbahaya jika terus dibiarkan, Estrid pun mengambil keputusan mengikuti saran dari Dewi Freyja mengambil inti monster.


{Good luck with that thing}


Ucap Dewi Hel yang setelah itu suaranya tidak terdengar lagi.


Mencari kesempatan untuk turun, Estrid terus mengawasi pertarungan di bawah. Pasukan Draugher yang terkoordinasi mulai menarik diri mengarahkan ular raksasa menjauh dari inti monster.


“Apa perasaanku saja atau mereka memang memberiku kesempatan untuk aku mengambil inti monster?.” aku teringat jika Hel sebelumnya mengancam aku dengan menggunakan para Draugher.


'Apakah mungkin jika Hel yang mengendalikan para Draugher saat ini?.' batinku bertanya.


“Apa pun itu yang yang terpenting sekarang adalah mengambil inti monster sebelum benda itu melahirkan monster baru.”


Ular raksasa telah di giring agak jauh dari inti monster. Mengambil kesempatan itu aku segera terjun masuk kedalam lubang bekas pedang besar tertancap.


Brak!


“Ghaaak!”


Walaupun aku sudah menggunakan perisai guardian sebagai bantalan ketika mendarat, tapi rasa sakit terjatuh dari ketinggian 30 meter memang sangat sulit di tahan.


Aku sekarang berdiri di atas batu kristal yang ukurannya sangat besar. Inti monster terbesar yang pernah aku lihat adalah milik Thunder Rooster yang setara dengan bola sepak. Sementara monster-monster yang selama ini aku hadapi hanya memiliki inti sebesar jari, ada pula yang sebesar telapak tangan tapi itu sangat jarang.


Keadaan sekitar begitu gelap, lubang bekas tusukan pedang raksasa tidak disangka begitu dalam. Tiba-tiba aku merasakan suhu hangat dibawah kakiku, inti monster pun mulai bercahaya.

__ADS_1


“Apa Itu?.” aku merasakan melihat sesuatu di dalam inti monster.


Deg deg!


“Gasp!.” aku tersentak kaget ketika kilatan cahaya bersinar dari dalam inti monster dan memperlihatkan sekilas sosok seorang wanita di dalamnya.


“Apa sebenarnya ini?.” Sebuah pertanyaan yang ingin Estrid dengar jawabannya, tapi tidak ada jawaban dari Dewi Hel maupun Dewi Freyja.


Inti monster semakin memanas, karena takut jika monster lainnya akan muncul Estrid pun segera memindahkannya ke inventori. Kristal hitam kemerahan itu menjadi begitu panas hingga tanggal Estrid serasa menggenggam bara api.


“Aaaarrrg!.” dia menjerit kesakitan tapi tangannya tidak melepaskan inti monster. Hingga akhirnya.


Ding!


[Mendapatkan Chaos Seed]


Inti monster itu menghilang dari pandangan Estrid, masuk kedalam inventori. “Aaaa... Panas panas.” setelah berhasil memindahkan inti monster, segera Estrid mengambil segenggam salju dari inventori untuk mendinginkan telapak tangan yang melepuh.


Setelah merasa tangannya baikan, Estrid berniat untuk segera keluar dari tempat itu. Bau busuk disekelilingnya terlalu parah hingga harum bunga Lunar Tear tidak dapat menetralisir bau busuk.


Berusaha merangkak naik membuat tubuh Estrid dipenuhi oleh darah busuk. Hingga akhirnya dia bisa keluar, tapi di sekitar tempat itu sudah ada pasukan Draugher yang mengacungkan senjata mereka kearah Estrid.


Dia merasa jika hari ini adalah hari kematiannya. Tidak ada yang bisa dia lakukan untuk menghindari situasi saat ini, kemampuan tidak terlihat saat ini memasuki masa cooldown sehingga Estrid tidak bisa menggunakannya untuk kabur.


Grogreeee!


Suara yang begitu serak terdengar keras, dalam sekejap para Draugher menarik senjata mereka. Pasukan itu terbelah lalu sosok Draugher dengan tanduk besar di helem, memakan Armor tebal serta membawa dua kapak besar, berjalan menghampiriku.


‘Em.... Hel? Dewi Hel... halo ada seseorang di San?.’ Aku mencoba berkomunikasi dengan para Dewi yang menghuni tubuhku, tapi tidK adalah satupun jawaban.


Draugher bertanduk itu menatapku yang masih di dalam lubang daging. Aku bersiap-siap jika dia menyerang ku, tapi secara tidak terduga Draugher itu justru menaruh kedu kapaknya do punggung lalu mengulurkan tangannya padaku.


Grouugh!


Entah apa yang dia katakan, tapi tanpa pikir panjang segera aku mengambil tangan itu yang dengan kuat menarik aku keluar dari lubang.


***

__ADS_1


Draugher, para prajurit yang mati secara tidak terhormat, jiwa mereka tidak tenang dan terjebak dalam jasad yang telah mati. Begitu kira-kira informasi yang Estrid dapat saat mengidentifikasi Draugher yang dulu pernah dia lawa.


Tapi berbeda dengan para Draugher yang saat ini berdiri di depannya.


___________________________________________


[Ragnar Lodbrok Level 230]


Keterangan: Kesatria perang kerajaan Vrisgard, sebuah kerajaannya telah hancur akibat serangan Dewa kekacauan. Setelah perang besar melawan Dewa kekacauan berakhir, Ragnar Lodbrok bersama pasukannya terus menjaga tempat dewa kekacauan terbunuh agar inti Dea itu tidak diambil oleh tangan yang salah.


___________________________________________


Estrid hanya bisa menelan ludah saat melihat level pemimpin dari para Draugher.


Tugas para Draugher telah selesai karena benih kehancuran yang selama ini mereka jaga telah berada di tangan seseorang yang dipercayai oleh dua Dewa Aesir.


Ragnar memberikan sebuah peta yang menunjukan letak kerajaan Vrisgard dan juga sebuah buku berjudul catatan harian Kesatria Es. “Terimakasih.” ucap Estrid menghargai pemberian dari Draugher itu.


Sosok wanita cantik dengan sayap dan baju zirah berterbangan di langit, angin lembut bertiup menerbangkan para pasukan Draugher yang perlahan menjadi abu.


Setelah penantian panjang hingga kemanusiaan mereka terganti menjadi wujud monster, akhirnya tugas mereka telah selesai, para Valkyrie mengantarkan mereka ke peristirahatan terakhir di Valhalla.


Estrid terdiam menikmati momen langka itu, perlahan senyum di bibirnya semakin melebar saat melihat item yang ditinggalkan oleh para Draugher.


“Sniffff.....” dia menarik nafas begitu dalam, lalu muntah karena bau busuk dari mayat raksasa. “Sangat konyol, aku tidak akan melakukannya lagi.”. Estrid kemudian melakukan pembersihan area itu, banyak harta Karun yang dia dapat seperti peralatan prajurit, material monster yang dibunuh oleh Draugher dan tentu saja tulang raksasa atau yang disebut sebagai Dewa kekacauan.


“Sungguh aku mendapatkan banyak harta Karun hari ini.” sebagai rasa terima kasih Estrid membuat monumen yang terbuat dari blok batu.


[Di sini tempat Dewa kekacauan terbunuh. Kesatria hebat bernama Ragnar Lodbrok dari kerajaan Vrisgard, bersama ribuan pasukannya telah menjaga inti dewa dari tangan yang tidak bertanggung jawab. Tidak diketahui seberapa lama mereka menunggu hingga kemanusiaan mereka menghilang. Akhirnya penantian pasukan kesatria Ragnar berakhir saat bertemu dengan ku]


“Aku pikir ini cukup bagus.” Estrid menatap prasasti yang dia buat. Lempengan batu setinggi dua puluh meter dengan tulisan kuno yang dia pelajari dari Priska. Bunga Lunar Tear dia tanam disekitar tempat itu, Estrid yakin jika tanah tempat bersemayamnya Dewa akan sangat subur hingga bunga Lunar bisa tumbuh.


“Baiklah, saatnya melanjutkan perjalanan.”


Matahari hampir terbenam, Estrid menikmati perjalannya hari ini. Gunung Frieg ada di depan mata, ia sangat tidak sabaran melihat apa lagi yang bisa di jelajahi.


***

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2