
Merman atau manusia ikan, membawa senjata trisula yaitu sebuah tombak dengan tiga mata tajam seperti harpun. Manusia ikan itu berenang dengan cepat menuju kearah Estrid yang sedang membangun tiang jembatan.
Saat manusia ikan itu berpikir jika serangannya kejutannya akan berhasi, tiba-tiba Estrid meledakan sebuah energi listrik dari tubuhnya. Banyak iklan di sekitar yang langsung tewas bahkan Frenzy Cod pun terkapar tidak sadarkan diri terkena serangan itu.
Tapi manusia ikan dengan kesehatan lebih baik dari ikan bisa dan ikan Cod masih bisa bertahan dari ledakan listrik dari Estrid. Namun tubuh manusia ikan tidak dapat digerakan karena efek Stun setelah mendapat luka dari serangan sihir elemen listrik.
“Mari lihat siapa pengecut yang mencoba menyerang aku dari belakang.”
Manusia ikan menatap tajam pada wanita manusia di depannya, tapi tatapan itu segera menunjukan ketakutan ketika Estrid menatap balik pada manusia ikan.
Estrid terus memperhatikan manusia ikan selama beberapa saat hingga akhirnya dia memutuskan untuk membawanya ke darat sebelum efek Stun berakhir. Semua orang dibuat terkejut saat Estrid kembali muncul ke permukaan dengan membawa monster ikan.
“Merman?.” kata Sania
“Ya, panggil Priska, mungkin dia bisa mengerti bahasa orang ini!.”
“Bahasa?.” Priska terlihat kebingungan.
Manusia ikan terbebas dari efek Stun, dia pun segera melakukan serangan pada orang-orang disekitar. Tapi karena trisula miliknya sudah diambil oleh Estrid, manusia ikan pun hanya bisa mengandalkan cakar ditangannya.
“Apa perlu aku habisi dia?.” tanya Hektor yang siap menggunakan tombaknya.
“Tidak, biar aku yang tangani!.” balas Estrid, dia segera menghampiri manusia ikan, serangan cepat dari monster level 25 itu tidak dapat Estrid hindari dan berakhir dengan luka cakar diwajahnya.
Tapi tanpa peduli jika tubuhnya terluka Estrid segera mencengkram leher manusia ikan lalu dengan kuat mendorongnya hingga membentur tanah begitu keras.
“Kerrkk....” manusia ikan tidak dapat berkata apa-apa saat lehernya tercekik. Dia hanya dapat menatap mata wanita itu dengan amarah.
“Tenang atau aku akan membunuhmu!.” kata Estrid.
Kemarahan Viking yang aktif secara pasif membuat kuatnya intimidasi dari wanita itu menghancurkan mental manusia ikan. Bahkan beberapa orang di sekitarnya pun tersentak kaget saat merasakan aura kemarahan darinya.
Rambut putih Estrid seketika berubah menjadi merah seperti kobaran api membuat manusia ikan ketakutan, dia tidak lagi berani macam-macam karena takut dibunuh wanita didepannya.
Melihat mental manusia ikan telah hancur, kemudian Estrid memita agar monster itu diikat di suatu tempat.
“Perlakukan dia dengan baik.” pesan Estrid.
__ADS_1
“Kenapa kau tidak langsung menghabisinya saja?.” kata Sania yang sepertinya tidak suka dengan manusia ikan.
“Kau pernah memiliki masalah dengan ras itu sebelumnya?.” tanya Estrid.
“Bukan bukan seperti itu. Aku hanya benci ikan karena bertahun-tahun memakannya dengan terpaksa. Kau pikir aku suka teh ikan yang dulu aku sajikan padamu?.” kata Sania.
“Jadi kau memberiku banyak teh ikan wajah itu karena tidak mau memakannya?.” Estrid menatap Sania dengan curiga, sementara NPC itu hanya tertawa kecil sambil menggaruk belakang kepalanya.
Mengabaikan tindakan Sania, pasukan anak-anak akhirnya tiba di wilayah pembangunan jembatan menunggangi kambing. Priska segera diminta untuk berbicara dengan manusia ikan.
Setelah beberapa menit saling mengobrol dengan bahasa yang tidak seorang mengerti kecuali keduanya, akhirnya Priska dapat menguasai bahasa manusia ikan.
“Sungguh kemampuan yang luar biasa.” kata Herka melihat Priska mengobrol dengan dengan lancar.
Alasan kenapa Estrid tidak langsung membunuh manusia ikan karena terdapat sebuah koloni monster air Merman di dasar sungai. Estrid tidak ingin jika menimbulkan pecahnya perang karena membunuh manusia ikan itu.
Menurut informasi yang Priska dapatkan, koloni manusia ikan berasal dari sebuah danau yang berada di hulu sungai yang lebih dekat dengan gunung Frieg. Sama seperti Elf pohon yang meninggal desa mereka, para manusia ikan pun meninggalkan danau tempat asal mereka karena hawa dingin yang begitu ekstrim.
Tiga tahun lalu koloni manusia ikan pindang ke area reruntuhan jembatan karena merasa air sungai di tempat itu lebih hangat, walaupun sebenarnya suhunya masih sangat mematikan untuk manusia biasa.
Dia takut jika melepaskan manusia ikan akan membuat malapetaka bagi penduduk desa. Tapi jika tidak dilepaskan pun akan menimbulkan masalah lain.
“Sangat membingungkan.” gumam Estrid. Melihat Estrid yang kebingungan, Herka pun menghampirinya dan berkata jika tidak perlu menghawatirkan desa dan para warga.
“Jangan menahan dirimu hanya karena menghawatirkan kami. Kami telah bertahan selama bertahun-tahun hidup dalam wilayah mematikan ini. Kau tahu itu bukan.” Herka berkata dengan penuh senyum, tapi dimatanya terlihat intimidasi yang mengagetkan ku.
Wanita tua yang telah mengajariku banyak hal tentang rune dan sihir, wanita pedagang yang merupakan sahabatku, lalu penjaga dengan tombak yang kekuatannya belum aku ketahui. Dan yang terakhir pasukan yang telah aku didik selama beberapa hari.
“Ya, mereka pasti akan menjaga desa ini tanpa masalah.”
Estrid menghampiri manusia ikan yang sedang terikat di sebuah kursi. Dia membawa kapak di tangannya, melihat itu manusia ikan sangat ketakutan. Dia melihat anak manusia yang sudah mengobrol panjang dengannya, tapi manusia muda itu hanya melempar senyum lebar.
‘Aku pasti akan mati hari ini.’ pikir manusia ikan yang sangat ketakutan. Tapi ternyata Estrid menggunakan Kapak hanya untuk melepas ikatan yang menahan manusia ikan.
“Priska, katakan padanya jika dia bebas. Dan kondisi desa saat ini yang berniat membangun lagi jembatan.”
“Siap komandan!.” balas Priska dengan lantang.
__ADS_1
Estrid berharap jika bisa membangun pertemanan dengan koloni manusia ikan. Atau setidaknya para iklan membiarkan mereka membangun jembatan.
Manusia ikan yang ditangkap kembali ke sungai, Estrid pun melanjutkan pembangunan tiang penyangga. Selain Frenzy Cod tidak ada lagi monster yang melakukan serangan padaku sehingga pembangunan tiang berjalan dengan lancar.
***
Setelah selesai membangun tiang jembatan, Estrid segera mempersiapkan segala sesuatu yang dia butuhkan untuk perjalanan jauh mendaki gunung Frieg.
Wof wof wof....
Alaska dan Pluto terus meminta agar diajak pergi bersama Estrid, tapi wanita itu bersikeras agar dua Serigala tetap menjaga desa.
“Jamgan menjadi anak nakal saat aku pergi oke!.” kata Estrid sambil memeluk Alaska dan Pluto.
Di depan gerbang desa para warga berkumpul untuk melepas kepergian Estrid. Bahkan raja kambing berkaki enam pun ikut hadir. Sepertinya dia bersiap untuk tanding ulang melawan wanita yang telah membuatnya terkapar dengan satu pukulan. Tapi melihat Estrid pergi, raja kambing pun menunda pertandingan untuk nanti.
“Doakan kesuksesan untuk ku.” kata Estrid yang kemudian berbalik meninggalkan desa.
“Selamat jalan!.”
“Good lucky!.”
“Kami akan menunggumu!.”
“Pasukan pengendara kambing akan melindungi desa, saat komandan besar pergi menantang puncak dunia!.”
Awooooo!
Auuuuuu!
Embeeekk!
Tanpa terasa air mataku mengalir di setiap langkahku menjauh dari desa. Aku tidak berbalik sekarang, karena jika aku melakukannya mungkin perjalanan ini tidak akan pernah aku mulai lagi untuk selamanya.
***
Bersambung.
__ADS_1