
_____________________________________________
[Snow Wolf]
Level: 18
Keterangan: Monster yang mudah dijumpai di wilayah bersuhu minus. Memiliki resistansi tinggi terhadap elemen es, sementara lemah terhadap elemen api dan petir.
_____________________________________________
Efek Gelar [Thunder Silencer] membuatku dapat melihat informasi dari monster yang berada di sekitar ku. Itu sangat praktis aku dapat mengukur kekuatan lawan sehingga bisa menentukan apakah aku akan melawannya atau kabur.
Terdapat fitur mini map pada menu status, di awal permainan fitur itu tidak terlalu berguna karena masih kosong, namun seiring waktu sistem peta akan mencatat wilayah yang player lewati.
Tapi berkat gelar yang aku dapatkan setelah membunuh ayam jago gledek membuat peta wilayah benua Jotun terbuka seperempatnya.
“Sangat sepadan.” gumamku. Mungkin aku juga perlu mengalahkan tiga bos lapangan yang tersisa untuk membuka seluruh benua es ini.
Awooooo....
Lolongan serigala terdengar dari kejauhan, di atas bukit bersalju kami dapat melihat seekor serigala tengah menatap kearah kami. Semua warga yang ikut menjadi ketakutan dan segera berkumpul, sementara mereka yang madih bisa bertarung berusaha melindungi yang lain.
“Serigala salju, jika pemimpin mereka memperlihatkan dirinya itu berarti kita telah terkepung.” ucap Butcher.
Seperti yang dikatakan tukang daging itu, ada total sembilan serigala yang telah mengepung kita. Bulu putih para serigala salju membuat mereka mudah berkamuflase dengan wilayah sekitar yang dipenuhi salju.
Tapi beruntung dengan peta yang aku miliki semua letak serigala bisa aku ketahui. Aku segera memberitahu letak para serigala para Sania dan yang lain.
“Kau memiliki mata yang tajam.” Sania memuji penglihatanku yang sebenarnya bukan penyebab aku melihat letak para serigala.
“Itu sangat membantu tapi tetap sembilan serigala bukanlah lawan yang mudah.” balas Butcher.
“Kita pasti bisa melaluinya, benar bukan Estrid?.” entah kenapa Herka begitu yakin jika aku bisa melawan para serigala.
“Mungkin.....” aku menatap pedang yang Sania pinjamkan. Melihat pantulan wajahku pada bilangan pedang membuatku sadar jika ada coretan merah di wajah. Herka mengatakan jika itu adalah rune penyembuhan yang dia buat saat aku masih tidak sadarkan diri.
“Ya kita pasti bisa!.” jawabku dengan penuh keyakinan.
Awoooo....
__ADS_1
Lolongan itu kembali terdengar, pemimpin serigala salju mengisyaratkan untuk semua serigala menyerang rombongan. Akan sangat menyulitkan untuk melindungi semua orang jika serangan datang dari segala arah. Untuk itu aku memerintahkan para warga untuk mundur.
“Nona Sania dan tuan Butcher tolong fokus lebih dahulu pada serigala di belakang, sementara nyonya Herka jaga agar para serigala di samping tidak mendekat.”
Mengikuti arahan dariku, semua orang mulai mundur, Sania memanah salah satu serigala salju sebelah kiri namun tidak cukup membunuhnya.
Tuan Herka mencoba menyerang serigala yang datang, tapi itu merupakan pertarungan yang sulit. Hampir saja dia terluka oleh gigitan tapi beruntung aku sempat memberikan batasan.
“Lawan mu bukan dia.” dengan cepat aku meraih leher serigala salju dari belakang lalu segera menikam pedang ke perutnya. Serigala salju mengerang kesakitan saat kesehatannya mulai berkurang dengan sangat cepat.
Tapi tidak berhenti sampai disitu, tuan Butcher segera membantuku dengan membelah perut serigala dengan pisaunya membuat isi perut monster itu terburai keluar.
Ding!
[Berhasil mengalahkan serigala salju, mendapatkan 300 Exp]
Notifikasi terdengar begitu serigala salju dipastikan mati. Tuan Butcher dan aku saling bertatapan setelah kerja sama kami berhasil mengalahkan satu musuh, kami mengangguk kecil lalu kembali ke pertarungan.
Sania berhasil melumpuhkan satu serigala dengan panahnya, sementara Herka menjauhkan kelompok yang lebih besi menggunakan batu yang dapat meledak. Aku dapat melihat batu yang Herka gunakan memiliki coretan aneh, apa itu Rune?.
“Estrid, aku khawatir jika batu ledak yang aku miliki tidak akan bertambah lama.” ucap Herka.
“Dengan ini aku tidak perlu lagi menahan diri.” sendirian aku berlari menuju tujuh serigala salju yang masih tersisa.
Semua poin stat yang aku miliki dialokasikan pada kecepatan dan sedikit untuk kekuatan, tubuhku terasa lebih ringan karena kecepatan yang bertambah.
Lawan ku adalah Monster dengan level yang lebih tinggi dariku dan jumlah mereka lebih banyak. Mungkin player biasa akan lebih memilih untuk bertarung bersama party jika mendapatkan kondisi pertarungan seperti ini, tapi aku percaya dengan kekuatanku yang terasah di dunia nyata.
Grawrrr...
Empat serigala salju menerkam keahlianku, dengan mudah aku menghindar keempatnya sambil menebas pedang. Bilah pedang yang tidak tajam membuat serangan tidak terlalu efektif, aku pun harus mengeluarkan tenaga lebih kuat agar menyebabkan kerusakan lebih baik.
Serigala yang tersisa datang memberikan bantuan, melawan enam sekaligus membuatku kerepotan. “Argh!.” aku meringis kesaksian ketika tangan kiri berhasil digigit oleh salah satu serigala, suara cemas terdengar dari para warga hingga Sania mulai mengarahkan panahnya untuk membantu.
Tapi itu tidak diperlukan.
“Arrrgggggg!.” teriakan kemarahan ku keluar, mengaktifkan kemarahan Viking membuat kekuatanku bertambah lebih besar. Dengan keras serigala yang menggigit tanganku terkapar tidak berdaya.
Merasa pedang yang aku gunakan tidak berguna aku segera melemparnya. Kuatnya lemparan membuat satu serigala salju terbunuh seketika.
Beralih dari pengguna pedang menjadi pertarung tangan kosong membuatku justru lebih kuat. Apa ini karena efek amarah Viking atau memang aku tidak bisa menggunakan pedang karena suatu alasan, entah apa pun itu saat ini aku merasa luar biasa.
__ADS_1
Kaiiiing...
Tangisan serigala salju terdengar saat aku menendang tubuhnya dengan keras. Serigala lain mencoba menerkam namun tanganku dengan cepat mencengkram rahangnya lalu mematahkan dengan tangan kosong.
Empat serigala salju terbunuh dengan cepat membuat sisanya menjadi ketakutan. Dua serigala mundur dengan kaki yang terluka sementara pemimpin mereka masih diam mengawasi.
Aku dan pemimpin serigala saling bertatapan, bersiap untuk bertarung, namun...
“Itu bukan serigala salju biasa, serigala itu sudah berevolusi. Berhati-hati dengan gigitannya yang dapat membuat tubuhmu beku dalam sekejap.” Sania mencoba memperingatiku, tapi sebagai balasannya aku hanya tersenyum kecil.
“Aku pikir serigala itu sudah mati setelah pertarungan itu, tapi sepertinya pengorbanan Hektor sia-sia.” tatapan wanita pedagang itu dipenuhi oleh kemarahan dan dendam pada pemimpin serigala salju.
“Jangan khawatir, ” aku kembali mengaktifkan kemarahan Viking yang selain dapat memperkuat tubuh juga membuat warna rambutku agak menjadi kusam. Aku berpikir karena level kemarahan Viking yang meningkat hingga menyebabkan efek samping.
Aku berlari menuju pemimpin serigala salju, sementara monster itu mulai memasang kuda-kuda seakan bersiap melakukan serangan jarak jauh.
“Dia Kan mengeluarkan Auman!.” teriak Sania.
Lalu dari mulut serigala salju keluar badai es yang langsung menerjang negaraku. Semua orang terdiam saat tubuhku tertelan oleh badai salju dari serigala salju, mereka berpikir aku akan menghindari serangan itu tapi dugaan mereka salah.
“Aku benar-benar tidak merasakan apa pun!.”
Blar! Ledakan terjadi membuyarkan badai, aku menggunakan kemarahan Viking lebih kuat hingga terjadi ledakan energi, rambut putihku pun semakin kusam dengan corak kecoklatan karena kemarahan.
“Perlihatkan lebih banyak.” aku menantang serigala salju. Monster itu mengeram memperlihatkan taring kristal yang terlihat begitu dingin.
Graawwrrr! Serigala salju berlari ke arahku aku pun menerjang kearahnya. Terjadi bentrokan antara kami, aku memeluknya sekuat tenaga sebentar serigala mencakar dan menggigit leherku.
Darah keluar dari luka akibat gigitan namun efek pembekuan gagal karena aku kebal terhadap elemen Es. Menahan rasa sakit aku terus mengencangkan pelukan pada serigala yang semakin memberontak.
Krack!
Kaing!
Tapi kekuatan yang tidak sebanding membuat serigala itu akhirnya mati dalam pelukanku dengan tulang punggung yang patah. Jasad serigala tergeletak begitu aku melepasnya, melihat itu serigala yang tersisa begitu ketakutan.
Aku menghirup udara dalam-dalam, hawa dingin yang masuk kedalam paru-paru membuat kesehatanku kembali pulih. Para warga terdiam melihat aku yang tidak seperti manusia, namun Herka bertepuk tangan menyadarkan para warga yang kemudian ikut bertepuk tangan memberikan ucapan selamat padaku.
***
Bersambung.
__ADS_1