PEREMPUAN NAKAL MILIK POLISI TAMPAN

PEREMPUAN NAKAL MILIK POLISI TAMPAN
Ep 10


__ADS_3

Zidan menggaruk kepalanya yang tak gatal, dia pusing sendiri harus apa sekarang. Kekasihnya sedikit marah terhadapnya gara-gara berita yang seenaknya sendiri yang mengatakan dia pacar dari Sheana Ravero.


“Aish, gara-gara perempuan itu sekarang Gladys marah padaku” kesal Zidan, dia risau sendiri mengenai hubungannya.


“Bripka Zidan,” panggil seorang pria paruh baya berseragam polisi dengan banyak pangkat di bajunya. Zidan yang dipanggil tak mendengarnya dia masih terlihat tak fokus.


“Bripka Zidan..” Sekali lagi pria itu memanggil Zidan yang tentu saja langsung terkejut dan berdiri memberi hormat.


“Maaf siap salah Ndan” ucapnya sembari memberi hormat.


“melamun kan apa, sampai tidak mendengar saya memanggilmu” kekeh pria itu yang tak mempersalahkan Zidan yang tak begitu fokus.


“Ijin menjawab, saya tidak melamun kan apa-apa ndan” elak Zidan.


“Bripka Zidan, Bripka Zidan. Ya sudah ayo kita pergi kalau begitu” ajak atasan Zidan.


“Siap ndan” jawab Zidan dan langsung mengikuti langkah sang atasan, dia kesehariannya memang mengawal atasannya itu kemanapun dia pergi.


“Hari ini kamu temani saya ke rumah sahabat lama saya mau kan?” ucap atasan Zidan itu sambil melihat kearah Zidan yang ada di belakangnya.


“Siap ndan” jawab Zidan, yang selalu menjawab siap.


“Kalau begitu mari kita pergi, oh iya Bripka Zidan, kemungkinan Mabes mau merushafle jabatan. Misalkan kamu kalau bertugas di lapangan tidak masalah kan?” ucap atasan itu. dia memang terlihat dekat dengan Zidan.


“Tidak masalah ndan, karena tugas saya. Di bagian manapun saya ditempatkan saya siap,” bagus. Beberapa tahun ini kamu ngawal saya, nggak pernah kamu ngecewain saya Bripka Zidan.” Komandan itu menepuk bahu Zidan pelan.


........................................


Zidan ternyata menemani atasannya ke rumah keluarga Ravero, lebih tepatnya rumah Johan Ravero yang tak lain adalah ayah dari perempuan gila yang kemarin membuat keributan di kantor polisi.


“Bripka Zidan santai saja, tidak usah tegang. Apa karena ini rumah Papa dari pacarmu” ucap atasan Zidan yang melihat Zidan tampak tak nyaman duduk disebelahnya.


Tentu saja mendengar itu Zidan terkejut, Pacar? Siapa pacarnya.


“Maaf Ndan, perempuan itu bukan pacar saya” ucapnya menyangkal hal itu.


“Loh masa, saya lihat di berita kalau kamu pacar Sheana anak teman saya”


“Itu salah paham ndan, perempuan itu bukan pa..”


“Hanif saya minta, kalian pasti menunggu saya cukup lama” Johan yang baru saja datang dari luar membuat ucapan Zidan terhenti karena kedatang orang itu.


“Tidak masalah, maklumlah saya harus nunggu pengusaha besar seperti kamu” atasan Zidan tak mempermasalahkan hal tersebut. Dia langsung berdiri memeluk teman lamanya.


Zidan juga ikut berdiri menyambut kedatangan orang tersebut,


“Darimana tadi han?” tanya atasan Zidan pada Johan.


“Biasa ngurus masalah keluarga” Johan menjawabnya sambil duduk didepan dua orang tamunya.


“Saya kesini tadi kaget lihat banyak reporter di luar, busyet pengaruh keluarga kamu memang belum redup ya’ kekeh Hanif.


“Ya beginilah, saya males aslinya diliput seperti ini.” jawab Johan sambil tersenyum, dan pandangannya terarah pada Zidan yang tersenyum kikuk. Johan seperti pernah melihat pria itu tapi dimana, pria muda didepannya terlihat tidak asing untuknya saat ini.


“Ya sudah sabar saja, mereka pasti juga capek ngeliput kamu. oh iya kenalkan ini ajudan saya,” ucap atasan Zidan sambil mengenalkan Zidan pada Johan.


“Salam kenal ya anak muda,” ucap Johan sambil mengulurkan tangannya pada Zidan. Zidan balik menjabat uluran tangan itu, dia merasa orang didepannya cukup ramah tapi kenapa anak perempuannya seperti tak waras baginya.

__ADS_1


“Salam kenal juga tuan” jawab Zidan.


“kemana anak istri kamu, kenapa sepi?” tanya atasan Zidan.


“Istri dan anak bungsu saya sedang ke Singapura. Selina ada show di sana, kalau kedua anak saya lain sedang ada urusan masing-masing” jawab Johan.


“Oh, saya kira kemana mereka. Sean pasti sudah besar ya, saya terakhir ketemu masih kecil dia”


“Bukan besar lagi, dia sudah dewasa sekarang tingginya saja tinggi dia dari saya” jawab Johan.


“Kalau Sheana apa masih sering nangis seperti dulu, dulu dia manja sekali denganku. Bahkan mau ikut saya waktu pulang ke Indonesia”


“Sheana dia..”


“Daddy, Sheana tidak ada di rumah Kakek sekarang. Apa yang ha..” Sean yang tak tahu ada tamu dirumahnya berbicara sambil masuk kedalam. Dan langkahnya langsung berhenti saat melihat ada dua orang yang duduk di ruang tamu bersama dengan papanya.


Otomatis ketiga orang itu langsung melihat kearah pintu masuk dimana Sean yang baru saja masuk kedalam rumah.


“OH ada tamu, maaf mengganggu” ucapnya dan wajahnya berubah datar.


“Sean duduk disini dengan kita, kau ingat dengan Om hanif teman papa dulu yang ke Australia”


“ya,.” Jawab Sean dan dia langsung berjalan mendekati ayahnya menghampiri ketiga orang tersebut.


“Wah bener ya, anak kamu sudah besar sekarang. Masih ingat Om nggak Sean?” Hanif merasa terpukau melihat Sean yang tumbuh cukup tinggi dan tampan.


“Ingat Om, apa kabar” jawab Sean dan mengulurkan tangannya pada Hanif.


“Kabar Om tentu saja baik, makin gede aja kamu Sean gantang lagi”


“Sean,” ucap Zidan sambil mengulurkan tangannya.


“Zidan” balas Zidan, dan dia menjawabnya singkat. Ia sedikit merasa tak enak dengan pria didepannya yang sempat ia tuduh sebagai orang jahat karena waktu itu Sean akan membawa paksa Sheana.


Sean sendiri yang hafal betul siapa pria didepannya, hanya memilih diam. Dia tak ingin membahas yang sudah berlalu itu. dia langsung duduk disebelah papanya.


Sedangkan Zidan dan atasannya juga langsung duduk, melanjutkan obrolan mereka.


...........................................


Malam hari Sheana baru pulang, dia kesal dan berkali-kali menendang ban mobilnya yang tadi sempat bocor di tengah jalan untung dia membawa ban serep. Sebenarnya kekesalannya bukan karena itu saja tetapi para reporter yang berada di rumah kakeknya tak kunjung pergi membuatnya terpaksa datang ke rumah papanya.


Dia tahu betul Papanya pasti sudah mengusir para pemburu berita murahan itu dari rumah makanya dia bisa pulang kesini, aslinya dia malas pulang ke rumah papanya. Tahu sendiri di rumah ini ada nenek lampir dan anaknya yang menyebalkan.


“Mobil bodoh, lihat aku akan menggantimu” rutuk nya sambil melihat kearah mobilnya yang sudah berada di parkiran depan rumah. Dia sendiri sudah berada di tangga kecil yang ada didepan rumahnya sambil menatap mobil merah itu.


Ia berjalan kesal sambil membawa tas kecilnya masuk kedalam rumah, membuka pintu yang tertutup itu dengan kasar.


“Kenapa juga daddy membeli rumah disini, rumah seperti ini dibeli” gerutu Sheana yang melihat desain interiornya yang menurutnya tak pas.


Langkah Shea terhenti saat dia melihat empat orang yang duduk di ruang tamu, agak jauh dari dirinya. Karena rumah itu dari pintu dan sofa ruang tamunya agak berjauhan,.


“Sheana, kau pulang..” kaget Johan dan juga Sean yang tak menyangka Sheana akan pulang ke rumah mereka.


Sheana hanya diam saja, dan dia menatap datar keempat orang itu. tatapannya sekilas melihat kearah polisi yang bertemu dengannya di kantor polisi kemarin.


Tapi Sheana tak perduli, dia langsung berjalan masuk kedalam mengabaikan kempat orang itu seakan keempatnya tak berada disitu.

__ADS_1


“Sheana, kenalkan dirimu dulu. Ini OM Ha..”


“Untuk apa aku mengenalkan diriku, aku tidak mengenalnya” potong perempuan itu menatap datar ayahnya.


“Sheana yang sopan” nasihat Sean.


Sheana lagi-lagi tak menggubrisnya, dia masih terus berjalan masuk kedalam. Dia tak perduli orang-orang itu, karena itu bukan urusannya.


Zidan yang melihat itu sedikit terperangah, beginikah sikap perempuan itu dengan keluarganya sendiri. apa dia tak akur dengan orang tua maupun saudaranya.


“Maaf Hanif, saya permisi sebentar” pamit Johan dan memberi kode pada Sean agar tetap ditempat menemani tamu mereka.


“Iya, silahkan” ucap hanif.


“Maaf ya Om dan Zidan soal sikap Sheana” ucap Sean mengalihkan perhatian dua orang itu dari Johan yang langsung menyusul Sheana.


“Sheana berhenti,” tukas Johan yang sudah ada dibelakang anaknya yang akan menaiki tangga.


“Apa?” Sheana berbalik melihat ayahnya.


“Kau tidak lihat didepan ada tamu, tunjukkan sopan santun mu”


“ya terus”


“Apa Daddy mengajarimu seperti itu,?”


“Itu tamu Daddy kan ya sudah, lalu kenapa aku menyapanya. Itu bukan urusanku”


“Ya Dady tahu itu bukan urusanmu, tapi setidaknya kau sapa dia”


“Ogah, aku bukan orang munafik yang sok manis pada orang yang tidak ku kenal. Aku bukan istrimu atau anakmu Sih murahan Selina itu”


“Sheana jaga mulutmu, itu adikmu”


“Adik? Aku tidak punya adik ataupun kakak mengerti aku anak tunggal bukan begitu Tuan Johan,. Aku joga ogah dikenal sebagai anakmu atau istrimu itu”


Plakk


Tamparan keras diterima Sheana, dia langsung menatap tajam Daddy nya.


“Mulutmu semakin kesini semakin liar”


“Terserah mulut-mulutku, tampar terus Dad. Mumpung ada polisi disini, aku laporkan sebagi kekerasan di rumah tangga’ ancam Sheana.


“Kau,..” Johan hendak akan menampar Sheana lagi.


“Itu Polisinya, panjang umur.” Ucap Sheana sambil melihat kearah yang tak jauh darinya. Zidan pria itu terkejut melihat dua orang yang sedang berdebat di tangga. Ia yang tadinya akan ke kamar mandi melihat hal seperti itu membuatnya merasa tak enak.


Johan langsung menurunkan tangannya, ia merasa tak enakan saat tamunya melihat ini semua.


Sheana sendiri tak perduli, dia langsung berjalan naik keatas meninggalkan dua orang yang terlihat canggung untuk saling melihat.


Zidan melihat kepergian Sheana, dia tak sengaja melihat wajah perempuan itu yang tampak merah di sebelah kirinya. Sheana pergi berjalan menatap lurus ke depan, dia malas lagi untuk bicara apa-apa.


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2