
Zidan buru-buru masuk kedalam apartemennya, sedari perjalanan pulang tadi ia terus berdoa berharap kalau sang istri ada di rumah. kalau Sheana tidak ada dan kalau perempuan itu kenapa-kenapa ia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.
Zidan membuka pintu apartemennya, dan ia langsung kecewa karena apartemennya masih sepi. Zidan langsung berjalan ke kamarnya saat ini siapa tahu ada Sheana di dalam.
“Sayang, “ panggil Zidan sambil berjalan membuka pintu kamarnya saat ini, namun masih tak ia temukan istrinya. Kamarnya itu kosong tak ada Sheana di situ, ia melangkah lemah masuk kedalam kamar..ia bingung harus mencari kemana lagi.
“Telpon, benar aku harus menelponnya” pungkas Zidan dan langsung menuju laci meja mencari Charger. Ia akan mengisi daya ponselnya baru akan menelpon Sheana.
Zidan menaruh sebentar ponselnya, sambil menunggu ponsel itu bisa dinyalakan. Dia melepas seragam dinasnya yang masih melekat saat ini.
“Sheana kamu dimana? Aku benar-benar mengkhawatirkanmu” gusarnya smabil buru-buru melepas seragma dinas dari tubuhnya. Ia langsung menyambar ponselnya yang sudah menyala. Tak tunggu waktu lama lagi dia langsung menekan noor sang istri.
Menunggu beberapa menit sampai terjawab, tetapi hanya dering saja yang terdengar Sheana tak kunjung mengangkat panggilan darinya.
“Ayo sayang, angkat dong. Kamu dimana sekarang” pungkasnya penuh kegelisahan.
Dia kembali menekan nomor Sheana untuk kedua kalinya, berharap panggilan kedua ini di angkat oleh istrinya. Tapi sama saja panggilan itu tak kunjung di angkat.
Zidan sudah bingung haru melakukan apa untuk menemukan istrinya itu, dia akhirnya keluar kamar dengan masih memakai kaos polos abu-abu kecoklatan dan juga celana panjang dinasnya. Ia akan memikirkan cara bagaimana bisa menemukan Sheana.
.........................................
Sheana sudah puas dan juga sudah kenyang berada di apartemen Satria, dia memutuskan pulang kerumahnya. Karena ia sudah ingin istirahat waktu juga sudah menunjukkan delapan malam. Dia bodo amat kalau Zidan mencari dirinya salah sendiri pria itu tadi melupakannya begitu saja, entah sibuk apa Zidan sampai lupa dengannya yang menunggu satu jam an seornag diri di taman.
Sheana membuka pintu apartemennya, ia cukup terperangah karena lampu di apartemennya saat ini masih mati.
“Apa Zidan belum pulang” batinnya sambil berjalan masuk kedalam, ia langsung menyalakan lampu apartemen itu dan betapa terkejutnya dia melihat Zidan yang duduk di sofa melihat kearahnya dengan tatapan kosong.
“Astaga,” kaget Sheana saat melihat Zidan, ia memegang dadanya karena terkejut mendapati Zidan duduk sendiri dalam kegelapan.
“Ngapain disitu, kayak hantu aja.” Kesal Sheana menatap kesal Zidan.
Zidan berdiri sambil melihat Sheana, tanpa aba-aba dia langsung memeluk Sheana lega. Karena istrinya tak kenapa-kenapa.
“kau darimana saja sayang, aku mencarimu kemana-mana” tukas Zidan memeluk istrinya cukup erat.
Zidan memang mencari Sheana kemana-mana, dia bahkan tadi kerumah mertuanya untuk mencari sang istri tapi Sheana tak ada disana. Bahkan tadi dia juga pergi ke pantai tempat Sheana biasanya merenungkan diri tapi juga tidak ada. Dan ia juga baru saja pulang kerumahnya duduk dalam kegelam sambil memikirkan keberadaan Sheana. Jujur tadi ia sangat taku Sheana pergi entah kemana, tapi sekerang setelah melihat wajah istrinya yang tidak kenapa-kenapa membuatnya merasa lega.
“Augh, sakit, jangan erat-erat kenapa” Sheana langsung mendorong Zidan, karena ia merasa engap dengan Zidan yang memeluknya perutnya terasa tertekan oleh tubuh pria itu.
“maaf, aku hanya lega melihatmu tidak apa-apa” ucap Zidan. “kamu darimana saja, aku mencarimu kemana-mana sayang. Aku takut ka...” lanjut Zidan mengutarakan rasa cemasnya tapi Sheana buru-buru memotong ucapan suaminya itu.
“Seharusnya aku yang tanya darimana saja kau sampai lupa menjemputku, kalau tidak bisa menjemput bilang jangan menyuruhku menunggu seperti orang bodoh” tukas Sheana mengungkapkan kekesalannya.
“Sayang aku minta maaf, aku tadi ada urusan. Tolong maafkan aku, aku tadi lupa kalau aku menyuruhmu menunggu” Zidan memegang tangan Sheana menyesali apa yang telah ia lakukan.
“Lupa? Kau bilang lupa, berarti aku tidak berharga bagim sampai kau melupakanku. Apa yang membuatmu sampai melupakanku hah” Sheana menghempas tangan Zidan dengan emosi.
“Sayang, aku minta. Aku tahu aku salah, tapi tadi aku benar-benar ada urusan, jadi maafkan aku ya” Zidan berusaha meraih tangan Sheana kembali tapi Sheana malah mundur tak mau dipegang oleh Zidan. Ia kecewa dengan pria itu yang bila lupa kalau akan menjemputnya.
“Sayang,.” Ucap Zidan memelas..dia mendekati Sheana.
“Jangan dekati aku, aku tidak mau kau dekati. Kau bau, sana mandi dulu, aku tidak mau kau sentuh” ucap Sheana malah mempermasalahkan bau badan Zidan. Hal itu semakin membuatnya kesal, ia sudah emosi ditambah emosi dengan Zidan yang berkeringat menurutnya sangat bau dan dia tak tahan.
“Apa?”
“Sana mandi, aku kesal denganmu” ucap Sheana dan langsung berjalan pergi masuk kedalam kamarnya saat ini. Zidan tak tinggal diam saja, dia langsung menyusul Sheana masuk kedalam kamarnya.
__ADS_1
“Sayang, aku mau jelasin dulu alasanku ta...”
“AKU BILANG MANDI, KAU BAU” marah Sheana.
“Oke, aku mandi. tapi kamu disini saja tunggu aku selesai mandi..nanti aku jelaskan semuanya. Kamu jangan marah-marah lagi” ucap Zidan akhirnya mengalah dan dia langsung mengambil handuk dan berjalan ke kamar mandi.
Sheana hanya diam saja sambil memalingkan wajah kesal, ia malas melihat kearah Zidan. Dia langsung duduk di pinggir ranjang sambil membuang muka menatap foto pernikahan yang belum lama di pajang di kamar mereka.
“Kak Sheana jangan mikir aneh-aneh dulu sama kak Zidan, dari yang aku lihat dia cinta kok sama kakak. Kak Sheana jangan asal marah dulu, kesel boleh tapi kalau marah jangan. Dan layani terus kak Zidan, sekesalnya kakak padanya dia tetap suami kakak. Jadi kak Sheana harus melayaninya, membuatkannya makan dan lain-lain. Itu sih yang ibu sama mbah putri ajarkan sama adik aku di Semarang. Anak perempuan harus begitu pada suaminya” Sheana ingat akan nasehat Satria itu. entah mengapa, dia selalu lemah dan menurut jika dinasehati oleh adiknya tersebut. Karena Satria seperti memakai hatinya saat berbicara beda dengan orang lain.
Sheana setelah mengingat nasehat dari Satria itu, ia tiba-tiba saja berdiri. Pikirannya sekarang ingin membuatkan makan malam untuk Zidan, ia tahu dari wajah suaminya tadi kalau tengah lelah dan pastinya belum makan karena masih memakai seragam polisinya. Sheana langsung keluar dari kamarnya, dia ingin membuatkan makan malah lebih dulu baru mereka akan bicara.
Zidan sudah selesai mandi, dia langsung berjalan keluar, dan langkahnya terhenti karena dia tak melihat sang istri didalam kamar padahal tadi ia menyuruh Sheana untuk menunggu dirinya.
“Sayang..” panggilnya siapa tahu Sheana ada di balkon. Tak ada sahutan sama sekali di dalam kamarnya saat ini.
Ia yang belum berganti pakaian dengan handuk yang masih terlilit di pinggangnya memutuskan untuk keluar kamar. entah mengapa dia was-was sekali kalau Sheana marah dan pergi meninggalkannya.
“Sayang..” panggil Zidan saat berjalan keluar dari kamar.
“kenapa sih?” akhirnya Sheana menjawab panggilannya. Meskipun terdengar ketus tapi ia lega istrinya ada di apartemen saat ini. ia melihat Sheana yang menyiapkan makanan di atas meja.
“Aku kiria kau kemana, aku takut kau pergi” pungkas Zidan smabil berjalan kearah Sheana. Ia langsung memeluk istrinya dari belakang.
Sheana yang sedang menata meja makan menghentikan kegiatannya karena pelukan tiba-tiba Zidan.
“Ada apa sih, dari tadi meluk terus” kesal Sheana.
“Nggak pa-pa, aku hanya takut kehilanganmu” jawab Zidan memeluk Sheana.
“Oke my Wife, aku ganti baju dulu. Terimakasih sudah membuatkanku makanan” ucap Zidan sambil mengecup pipi kanan Sheana sebelum ia berjalan pergi.
Setelah Zidan pergi Sheana langsung duduk di kursi meja makan itu, ia memegang perutnya yang agak kaku.
“Apa begini orang hamil rasakan, cuman melakukan hal kecil begini sudah capek” gumamnya sambil mengusap perutnya tersebut. Rasanya begitu engap bahkan membuatnya ngos-ngosan padahal ia tak melakukan pekerjaan yang cukup berat.
Tak butuh waktu lama, Zidan sudah berganti baju dan sekarang bergabung dengan Sheana di meja makan.
“Kamu nggak ikut makan sayang?” tanya Zidan saat Sheana selesai mengambilkan mie goreng di piringnya sedangkan sang istri tak mengambil sama sekali.
“Aku masih kenyang, kau makan saja. aku temani disini” pungkas Sheana.
“kenyang? Kau makan apa?”
“Makan banyak, tadi Satria aku suruh membelikan ku banyak makanan” ucap Sheana.
“Satria? Kau tadi bersamanya?”
“Iya, aku dari tadi di apartemennya”
“Apa?” Zidan terkejut mendengarnya. Ia tidak kepikiran sama sekali untuk ke apartemen Satria, ia malah mencari Sheana ke banyak tempat nyatanya sang istri ada di apartemen depan.
“Kenapa?” tanya Sheana bingung.
“Asaga sayang, kenaa tadi kamu nggak angkat telpon aku. kamu tahu nggak, aku nyari kamu ke semua tempat termasuk ke pantai dan rumah orang tuamu. Tahunya kamu di apartemen Satri”
“Salah sendiri ponselmu tadi mati, kau tahu juga nggak kalau aku nunggu sendiri kayak orang hilang berkali-kali ditanyaain orang ngapain di taman sendirian lagi hamil lagi” ucap Sheana membalikkan omongan Zidan. Ia memang balas dendam karena suaminya tak bisa dihubungi jadi dia juga melakukan hal yang sama.
__ADS_1
“Ya aku minta maaf, aku nggak tahu kalau ponselku mati sayang. Maafin aku..” ucap Zidan.
“hemm, sudah cepat makan” ucap Sheana.
“kamu nggak marah kan?”
“nggak, kesel aja. Buruan makan, aku ngantuk pinggangku rasanya juga ingi direbahkan”
“Siap laksanakan sayang, kamu beneran masih kenyang. Kalau belum aku suapi,..”
“Masih”
“ya sudah, aku makan dulu” ucap Zidan dan langsung melahap makanannya tersebut.
......................................
Sheana yang tadinya sudah terlelap disebelah Zidan tiba-tiba saja terbangun. Ia merasa haus dan langsung mengambil segelas air yang memang selau tersedia di nakas meja sebelah tempat tidurnya.
Ia membuka ponselnya dulu sebelum tidur kembali, memang beginilah kebiasaannya saat terbangun di malam hari membuka ponsel melihat nitifikasi atau sosial media dulu baru tidur lagi. Dan ia melihat ada beberapa pesan dari nomor yang tidak di kenal dan itu berupa foto, Sheana yang penasaran dengan nomor siapa itu langsung membukanya..matanya langsung melebar saat melihat apa yang nomor tersebut ia kirimkan padanya.
Foto Zidan dengan perempuan yang cukup familiar baginya, itu Gladys mantan tunangan suaminya sendiri.
“Apa ini, siapa yang mengirimkannya padaku” ucapnya tak percaya.
“Lihat suamimu, masih mencintai tunangannya. Bahkan mendengar mantan tunangannya masuk rumah sakit dia langsung datang dan memeluknya cukup erat” begitulah pesan yang meprovokasi di foto tersebut.
Sheana langsung melihat kearah Zidan dengan wajah mengerasnya, ia menahan marah menatap suaminya itu.
“Jadi kau tadi tidak menjemputku karena kau memilih melihat mantan tunanganmu” gumam Sheana sambil melihat Zidan yang tertidur pulas. Tatapan Sheana tampak begitu kecewa dengan Zidan saat ini..
Sheana lalu memegang ponselnya lagi, ia akan menelpon noor tersebut yang sudah mengiriminya pesan. Dia menunggu dering di seberang sana tapi sayang nomor itu tidak bisa dihubungi bahkan sudah tak terdaftar lagi.
“Apa-apaan ini, kenapa nomronya tidak bisa di hubungi” tukas Sheana melihat nomor tersebut. “Siapa sebenarnya yang mengirimiku pesan ini,” ucapnya penasaran.
Karena nomor itu sudah tidak bisa dia hubungi lagi, Sheana menaruh begitu saja ponselnya di atas meja. ia kembali melihat Zidan..
“Sebenarnya perasaanmu padaku itu serius atau hanya pelampiasanmu semata” ucap Sheana menatap sendu wajah sang suami.
Ketakutan yang selama ini dia bayangkan akhirnya terjadi juga, Zidan yang terus bilang menyukainya dan yang sudah membuat hatinya luluh nyata-nyatanya masih perduli dengan mantan tunangan pria itu.
“Kenapa kau tidak jujur dengan perasaanmu sendiri, kalau kau tidak menyukaiku tidak usah bilang suka dan tidak usah memberikan perhatian lebih padaku. Jadi keraguanku selama ini benar kalau kau hanya ingin bertanggung jawab saja karena sudah menghamiliku” ucap Sheana lirih, ia mengungkapkan pendapatnya sendiri didepan Zidan yang tertidur.
Ingatan akan Kevin dulu yang bilang kalau Zidan hanya bertanggung jawab saja padanya kembali terputar kembali di kepalanya. Kenapa ucapan itu seakan benar sekarang padahal dulu ia tak memperdulikannya.
Sheana memendam amarah saat ini, tapi dia hanya bisa diam. Rasanya tak tega membangunkan Zidan untuk membicarakan masalah ini, esok saja ia akan mengeluarkan segala amarahnya pada suaminya itu. dia akan mempertegas hubungan mereka, jika memang Zidan hanya beriat ertanggung jawab saja dan terpaksa mencintainya. Ia akan melepas pria itu, dia akan menjauh dari kehidupan Zidan. Tapi ia juga bingung bagaimana soal anaknya jika memang mereka berpisah..
“Benar, aku akan bawa anakku bersamaku nanti. Aku tidak ingin anakku sama sepertiku hidup dalam kebencian istri ayahnya.” Ucap Sheana matanya berkaca-kaca sambil merebahkan diri membelakangi Zidan.
Itulah keputusannya nanti jika memang Zidan dan dia akan berpisah, ia akan membawa anaknya bersama dengan dirinya. Ia akan membesarkan anaknya tanpa Zidan, daripada anaknya harus mengalami hal serupa sepertinya dulu.
“Bodoh kenapa aku jadi menangis begini,” rutuk Sheana mengusap matanya yang tiba-tiba saja menangis. Kenapa dia jadi cengeng seperti ini membayangkan hal itu..entah mengapa ia juga terbayang kenangannya dimasa lalu ang menyedihkan membuat rasa takut timbul dihatinya mencemaskan nasib anaknya kalau sampai jatuh ketanga Zidan nantinya.
“Nggak, nggak akan aku biarkan kedua anakku nanti berada di tangan Zidan dan perempuan itu” pungkas Sheana, dia langsung memejamkan matanya sambil memeluk perutnya sendiri. dia akan mempertahankan anaknya apabila hal terburuk yang terjadi, dimana dia dan Zidan berpisah.
°°°
T.B.C
__ADS_1