PEREMPUAN NAKAL MILIK POLISI TAMPAN

PEREMPUAN NAKAL MILIK POLISI TAMPAN
Ep 13


__ADS_3

Zidan ternyata dipindahkan ke divisi tindak kejahatan dan kekerasan. Baru hari ini dia akan bertugas di bagian itu, dan artinya ia tak menjabat sebagai ajudan atasan mereka lagi. Nantinya Zidan akan terjun langsung ke lapangan dan ikut berpatroli rekan-rekannya yang lain.


Meskipun dirinya sudah berpindah divisi tetapi ruangan yang sebelumnya ia tempati itu masih menjadi ruangan miliknya. Karena dia merupakan wakil ketua tim di divisi kejahatan. Ruangan itu bisa di bilang ruangan tetap nya lah, bisa dibilang ia di anak emaskan di tempatnya bertugas sekarang. Tapi ruangan itu akan jadi milik orang lain kalau dia sudah tidak bertugas di mabes.


Zidan duduk di meja kerjanya sambil melihat ponselnya saat ini, dia menunggu kabar dari kekasihnya yang belum juga mengabarinya. Padahal ia sudah mengatakan pada Gladys soal masalahnya tapi perempuan itu tak kunjung memaafkan. Bahkan dia juga sudah memposting foto Gladys menunjukkan bahwa dia sudah memiliki kekasih dan kekasih bukan orang yang di gosip kan dengannya.


“Mau mu apa sih Gladys, aku sudah melakukan apapun agar kau memaafkan ku tapi sampai sekarang kamu belum memberikan respon sama sekali” gumam Zidan bingung sambil melihat ponselnya yang berpuluh pesan ia kirim ke Gladys sejak mereka marah waktu itu tapi tak ada balasan dari perempuan tersebut.


“Apa kalau perempuan itu yang mengklarifikasinya, Gladys akan percaya denganku. Tapi syarat konyol itu” geram Zidan saat dia mengingat syarat yang diberikan Sheana padanya.


“Apa aku ikuti saja syarat itu, hanya jalan dengannya sebanyak tiga kali kan? sepertinya tak cukup berat” gumam Zidan lagi, memikirkan syarat yang diberikan oleh Sheana. Apa lebih baik dia mengikuti syarat dari perempuan itu. kalau itu berhasil ia jalankan. Masalahnya dengan Gladys juga akan teratasi, pikir Zidan.


Dan tanpa menunggu lama, dia langsung akan mengetikkan sesuatu di ponselnya.


“Aku lupa belum kalau tidak memiliki perempuan itu” ingat Zidan, dia kemudian tampak berpikir seperkian detik dia langsung berdiri. Entah mau kemana dia, yang jelas pria itu langsung berjalan keluar membuka pintu ruangannya.


......................................


Sheana sedang ada di kamarnya, dia tampak sibuk menatap make up nya yang ada di tas slempang kecilnya. Perempuan itu juga sudah rapi dan sepertinya akan keluar entah mau kemana dia pergi. Saat dia sibuk dengan kegiatannya itu, ponsel miliknya yang berada di nakas berbunyi membuatnya melihat kearah ponsel yang tergeletak di nakas meja tersebut.


“Siapa yang menghubungiku” ucapnya saat melihat nomor yang tak ia kenal menghubungi dirinya saat ini. ia membiarkannya saja, tak ingin mengangkat panggilan yang tak ia kenal.


Begitulah Sheana ia malas mengangkat panggilan dari orang yang tidak ia kenal, apalagi nomornya saat ini baru jadi siapa yang menghubungi nomor barunya. Perasaan baru kemarin dia ganti nomor tapi sekarang sudah ada yang menghubungi.


Lagi, ponsel hitam itu bergetar di eja membuat Sheana yang akan mengambilnya langsung menggerutu karena nomor barusan lagi-lagi menelponnya.


“Tidak akan aku angkat mengerti,” ucapnya dan langsung menolak panggilan itu.


“Saya Zidan, tolong angkat panggilan dari saya” begitulah isi pesan yang baru saja masuk. Baru saja Sheana melihat pesan itu sebuah panggilan masuk.


“Pria itu,” desisnya dan langsung mengangkatnya.


“Hemm ada apa? dapat nomorku darimana? Cie, kau menghubungiku duluan.” Ucap Sheana yang diakhiri dnegan ucapan yang terlalu percaya diri.


“saya mau dengan syarat yang kau berikan waktu itu”

__ADS_1


“Serius,?”


“Kau pikir saya bercanda, tapi dengan satu syarat juga dari saya.”


“Ciih, kau memberiku syarat juga” decih Sheana.


“kau harus mengklarifikasi di media kalau kau memang tidak ada hubunganku dan kau harus minta maaf di media soal ini”


“KAU MEMERINTAH KU” sentak Sheana tak terima.


“Saya tidak memerintah mu, saya hanya melakukannya dengan imbang. Bukannya adi lkan, jika saya memberi syarat juga padamu”


“TERSERAH” Sheana yang marah langsung mematikan panggilannya. Dia malah jengkel sendiri, niatnya ingin mempermainkan polisi itu dengan menyebarkan banyak rumor malah dia yang di perintah. Ia tak suka orang lain memerintah nya. Sheana yang kesal langsung membuang tas kecilnya ke kasur, dia yang tadinya akan keluar jadi tidak mood untuk pergi. Ia harus berpikir soal itu, niatnya untuk mengajak kencan pria itu adalah untuk membuat skandal dan membuat perusahaan kakeknya hancur dan ada di tangannya. Tapi malah dia yang di berikan syarat seperti itu, tak ada niat dirinya untuk klarifikasi.


Bagaimana bisa ia klarifikasi, kalau ia membantah hubungan itu bisa-bisa kakeknya menjadikan dia barang untuk di jual.


Sheana yang sedang frustasi dan kesal, merebahkan dirinya di kasur sambil menatap langit-langit kamarnya.


Ponsel Sheana berbunyi lagi, dia yang kesal langsung mengangkat ponsel yang sedari tadi masih dia genggam.


“Sheana ini kakek,” ucap suara pria paruh baya di seberang sana. Sheana menjauhkan ponselnya baru ia lihat nama siapa.


“Hemm ada apa kek, hehe maaf. Aku kira nomor salah sambung tadi” ucap Sheana yang terlihat pura-pura tersenyum dan ceria saat mengangkat panggilan dari kakeknya itu.


“Iya cucu kesayangan kakek, nggak pa-pa kok. Kamu dimana sekarang sayang”


“Aku, aku di rumah temenku” jawab Sheana berbohong.


“Oh, nanti kamu bisa tidak temui kakek di rumah. kamu semenjak ada berita soal dirimu waktu itu kamu tidak pernah pulang ke rumah kakek. Nanti bisa ya datang ke rumah?”


“Maaf aku nggak bisa kek, hehe anak muda. Masih senang-senang ini kek. Kalau ketemu di luar aja gimana, di restauran atau dimana”


“Nggak bisa ya kalau ke rumah kakek. Nenek kamu lagi sakit ini jadi dia ingin ketemu sama cucu kesayangannya, eh malah kamu nya nggak bisa kesini”


“nenek sakit, maaf ya kek. Aku beneran ngga bisa ke sana, lain kalian ya. Titip salam buat nenek semoga cepat sembuh”

__ADS_1


“Iya terimakasih cucu kesayangan kakek.”


“Ya sudah kek, ini temenku ngajak ngobrol. Nanti aku telpon lagi” ucap Sheana dan langsung mematikan panggilannya.


“Kau pikir bisa menemui ku kakek tua bangka, semoga saja nenek tua bangka itu sakit beneran. Penipu busuk” sinis Sheana saat dia sudah mematikan panggilannya.


“Kalian semua membenciku, aku juga membenci kalian. Lihat apa yang akan aku lakukan di keluarga ini” ucap Sheana meyakinkan dirinya sendiri untuk menghancurkan keluarganya sendiri.


.....................................................


“Bripka Zidan,” panggil Ilham yang berjalan menghampiri Zidan yang duduk di bangku depan ruangan pria itu. Zidan yang sedang memegang capuccino panasnya dan tak terllau fokus langsung sedikit terkejut mendapati sebuah tangan yang memegang bahunya membuat cangkir sterofom di tangannya terjatuh membuat cappucino nya tumpah ke lantai.


“Astaga Ilham” seru Zidan yang terkejut.


“Maaf Bang, abang nggak fokus kenapa sih” tukas Ilham.


“Galau tuh ham, karena pindah divisi yang tadinya enak sekarang harus banyak kerja” sindir seorang pria yang duduk di ku bikan tempat meja ilham biasanya duduk.


“Apaan Yo, jangan ngarang. Saya nggak ngegalauin itu. dan saya siap dan senang-senang saja di tugaskan di manapun” elak Zidan menatap tak senang pada Mario rekannya yang juga termasuk juniornya di sana.


“Maaf bang salah” ucap Mario yang menyadari kesalahannya. Padahal niatnya bercanda tetapi Zidan sepertinya menanggapinya serius.


Zidan tak menanggapinya, dia berdiri untuk mengambil alat pel yang ada di belakang dekat ruang ganti mereka.


Tapi sebelum dia pergi kesitu Ilham menghentikannya,


“Udah bang nggak usah di pel nanti, ada yang bersihin” ucap pria tersebut.


“bener Bripka Zidan, nanti ada yang bersihin” sahut polisi yang lain, yang bernama Farel. Dia memiliki pangkat di atas Ilham dan Mario.


“Nggaklah, nanti kalau orang lain lewat sini bagaimana. Di lihat tamu yang dateng juga nggak enak” pungkas Zidan dan tetap berjalan untuk mengambil alat pel.


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2