PEREMPUAN NAKAL MILIK POLISI TAMPAN

PEREMPUAN NAKAL MILIK POLISI TAMPAN
Ep 34


__ADS_3

Satria mengantar Sheana ke sebuah Cafe yang tak jauh dari hotel tempat mereka makan siang tadi. Sheana terpaksa mau di antarkan oleh Satria karena Sean ada urusan di kantor, alhasil disinilah Sheana di dalam mobil Satria.


Sedari tadi tak ada pembicaraan sama sekali di antara kedua orang itu, Sheana yang ogah memulai dan Satria yang bingung harus bertanya apa disaat kakaknya itu menutup diri dengannya.


“Cafe Lotuskan kan?” tanya Satria pada Sheana, dia melihat sekilas kearah perempuan itu.


“hemm, jalan depan belok kiri” balas Sheana singkat dan dia langsung sibuk kembali dengan ponselnya.


“Iya aku tahu dimana tempatnya” jawab Satria.


“sok tahu, memang kau pernah kesana”


“Aku memang belum pernah kesana tapi aku sering lewat depan Cafenya sama ibu”


“nggak usah bahas ibu lo deh, gue males dengernya” sinis Sheana dia jadi badmood saat pria itu menyebut ibu.


“Ibu itu juga ibu kak Sheana, bukan ibu ku saja”


“helo, bocah. Kau tidak dengar waktu itu ibu mu bilang apa, dia tidak menggapku mengerti. Jadi untuk apa aku menganggapnya ibu”


“Aku bukan bocah lagi kak, umurku dua puluh dua tahun. Jangan asal sebut aku bocah” Satria tak terima dengan panggilan itu.


“Sudahlah tidak usah banyak omong dan sok akrab denganku” tukas Sheana.


“Ya tentu aku harus banyak omong berhadapan dengan kakak yang super ketus. Satu yang perlu kakak tahu. Ibu ada alasan tersendiri tidak mengakuimu sebagi anaknya”


“Tidak usah bahas dia, hentikan mobilnya aku mau turun” ucap Sheana pada Satria.


“Ya jelas mau turun Cafenya tuh” ucap Satria ssambil membelokkan mobilya kesebuah tempat dimana tujuan Sheana.


Sheana hanya diam saja saat Satria mencibir, dia langsung keluar dari dalam mobil itu.


“terimakasih tumpangannya, sudah sana pulang” pungkas Sheana sambil turun dari mobil dan menyuruh Satria untuk pulang.


Satria diam saja dan melihat kearah Sheana yang berjalan masuk kedalam cafe, ia terus melihat karena penasaran Sheana akan bertemu siapa.


...................................

__ADS_1


Zidan ditengah tugasnya mampir kesebuah Cafe yang dia lewati menuju kantor polisi, dia memesan kopi yang ia inginkan di kasir matanya tak sengaja melihat dua orang yang tak asing baginya tengah berbincang satu sama lain di salah satu meja yang ada di Cafe itu.


Keningnya mengernyit melihat heran pada perempuan yang selama ini terlihat ketus dengan siapapun tampak bersahabat bahkan tersenyum pada seorang pria yang cukup ia kenal.


“Sejak kapan mereka berdua dekat” gumam Zidan heran saat dia melihat Sheana dan Toni berada di satu meja bahkan saling mengobrol selayaknya orang yang kenal cukup lama.


“bang ini Coffeenya” seorang barista memberikan Coffe yang dipesan Zidan tadi.


“terimakasih” jawab Zidan smabil menerima kopi tersebut. Dia langsung berjalan mendekat kearah Sheana dan juga Toni, dia meresa ingin mendekat kearah mereka saja. dan dia juga ingin berbicara dengan Sheana soal keseriusannya untuk tanggung jawab serta menanyakan apakah perempuan itu sudah merasakan tanda kehamilan atau belum.


“Maaf mengganggu kalian” ucap Zidan saat sampai di depan mereka berdua.


Sheana dan Toni langsung terdiam, wajah mereka sama-sama berubah dingin saat melihat Zidan ada didepan mereka. Toni memang kesehariannya bersikap dingin bahkan lebih dingin dari Zidan.


“Bripka Zidan ada disini?” tanya Toni menatap seniornya.


“Aku tidak sengaja mampir, kau sendiri kenapa ada disini. sejak kapan kalian berdua dekat seperti ini?” tukas Zidan dan langsung to the point.


“Apa urusanmu dan kenapa kau harus tahu sejak kapan aku dan Toni dekat.” Sahut Sheana sambil berdiri menatap Zidan.


“Aku seniornya, memang salah aku ingin tahu”


“Konyol,” ledek Sheana.


“Bripka Zidan, ada apa anda kemari?” tanya Toni yang melerai dua orang itu.


“Aku hanya ingin menyapa saja” jawab Zidan enteng.


“hanya menyapakan ya sudah sana pergi” usir Sheana pada Zidan.


Zidan bukannya pergi dia malah menarik kursi disebalah Sheana dan dia langsung duduk di kursi tersebut.


“Boleh aku bergabung dengan kalian” ucap Zidan sambil melihat Sheana yang menatapnya jengah.


“Ya sudah silahkan, tapi aku pergi dulu. Toni lain kali kita bicara lagi, seniormu yang munafik membuatku mual” tukas Sheana dan langsung pergi dari situ meninggalkan Zidan dan juga Toni yang terlihat tak suka pada Zidan. Gara-gara Zidan, Sheana pergi begitu saja dan pembicaraan mereka terhenti.


“Bang maaf, aku rasa juga harus pergi. Ada teman lain yang ku temui, sampai ketemu di kantor” ucap Tni dan langsung pergi juga menyusul Sheana yang sudah berada di luar.

__ADS_1


Zidan terperangah melihat keduanya yang langsung pergi dari hadapannya saat ini,


“Kenapa anak itu seakan marah padaku? Salahku apa, aneh” kesal Zidan pada Toni yang pergi begitu saja.


Zidan lalu diam saat melihat Sheana masuk kedalam sebuah mobil, matanya memincing melihat di dalam mobil itu ada seorang pria yag tak begitu jelas terlihat.


“kenapa dia selalu di keliling beberapa pria” gumam Zidan terus melihat mobil yang di naiki Sheana berjalan pergi meninggalkan area Caffe.


.........................................


“Siapa dua pria tadi?” tanya Satria yang mengemudikan mobilnya saat ini menuju pulang. Dia tadi memanggil Sheana saat di parkiran mobil meminta kakaknya itu masuk kedalam mobilnya. Dia tadi melihat ketiga orang yang mengobrol di dalam Cafe dan dia bisa melihat ekspresi wajah Sheana yang kesal. Jadi dia meminta kakak perempuannya itu untuk masuk kedalam mobil miliknya.


“Kau kepo sekali sih?”


“Wajar aku kepo, aku adikmu. Ayolah kita tidak usah saling ketus, kita terlahir dari rahim yang sama. Aku tidak membencimu sebagai kakak, dan aku tidak masalah ibu punya anak lain sebelumnya. Mari jalin hubungan saudara,”


“Bilang padaku, kalau kau tidak bilang aku temui mereka saja langsung. Pria yang memakai seragam polisi tadi yang pernah kau ajak ke Semarang kan?” lanjut Satria yang terlalu banyak bicara karena dia penasaran sekali.


“hemm,”


“Pria yang ketemui tadi namanya Toni, mereka berdua rekan di kepolisian. Toni sahabat masa kecilku saat di Australia dulu, dan aku baru tahu soal itu saat dia menghubungiku tadi di hotel” jawab Sheana jujur, entah mengapa dia terperdaya perkataan bersahabat dari Satria karena pria itu tampak akan mendengarkan keluh kesahnya.


“Terus satunya yang memakai seragam?” lagi Satra begitu kepo dengan hal itu. karena dia yakin kakaknya itu dan pria berseragam tersebut ada hubungan.


“Tidak usah bahasa dia, dia pria sombong dan munafik.” Kesal Sheana saat mengingat Zidan.


Satria yang fokus menyetir dan sesekali melihat kearah Sheana sudah bisa mengambil kesimpulan soal itu kalau kakaknya tersebut memang ada hubungan dengan Zidan.


“Apa perlu aku yang bicara padanya, selagi aku ada di jakarta” ucap Satria


“Untuk apa kau bicara padanya, nggak usah ikut campur. Dan jangan sok deh mentang-mentang gue sudah mau bicara sama lo”


Satria hanya diam saja mendengar omelan dari Sheana itu, dia hanya fokus menyetir tapi ia juga tampak berpikir terlihat dari matanya yang sesekali melirik kearah Sheana.


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2