PEREMPUAN NAKAL MILIK POLISI TAMPAN

PEREMPUAN NAKAL MILIK POLISI TAMPAN
Ep 12


__ADS_3

“Kalian bisa tidak sih lebih cepat sedikit” Shena yang tadinya duduk menunggu gilirannya utuk melapor sudah tak sabar.


“Nona Sheana mohon duduk dulu, giliran anda sebentar lagi” ucap polisi yang duduk mencatat laporan orang-orang.


“dari tadi giliran anda sebentar lagi, kau tidak lihat aku sudah menunggu setengah jam” kesal Sheana yang begitu tak sabaran.


“Iya nona sabar, ini masih ada orang didepan anda” polisi itu berusaha untuk menenangkan Sheana.


“Sabar, sabar-sabar. Sabar ada batasnya, kau tidak tahu aku siapa?” Sheana benar-benar tak bisa menunggu lagi. Baginya ponselnya cukup penting.


“Minggir tuan, aku duluan” Sheana berusaha menyuruh orang yang duduk di depannya untuk pergi agar dia bisa di proses laporannya.


“Maaf nona, saya belum selesai, anda bisa sabar sedikit tidak” pria muda yang sedari tadi duduk diam akhirnya juga tak bisa menahan kesalnya karena Sheana.


“Tidak, kau dengar.” Jawab Sheana seakan tak perduli dengan tatapan yang lainnya.


Polisi yang didepan mereka, merasa pusing sendiri.


“Tolong Tuan, Nona Sheana bisa diam sebentar saya sedang mencatat laporan” Polisi itu berusaha melerai.


“Kau dengar nona, polisi itu menyuruh kita diam. Jadi sekarang kau diam dan kembali ketempat oke” pemuda itu meminta Sheana untuk kembali tempatnya.


“Kau siapa berani menyuruhku hah” Sheana seakan tak terima.


“Bodo amat kau siapa, yang jelas kau perempuan yang selalu ingin di prioritaskan” cibir pria itu dan kembali melihat ke depan.


“Kau,.” Sheana akan memukul pria itu tapi pemuda itu dengan sigap langsung menahan tangan Sheana.


“Nona Sheana kau bisa dengar ucapan saya, kalau anda masih bersikeras tetap disini. saya bisa memasukkan anda ke sel” ancam polisi yang sudah lelah mendengar perdebatan.


“Ada apa ini, kenapa ribut-ribut” suara bariton membuat semuanya menoleh kearah pria paruh baya yang baru saja masuk dengan pemuda tampan di sebelahnya.


Siapa lagi orang itu kalau bukan Hanif yang atasan dan juga Zidan ajudannya. Melihat itu Sheana hanya membuang muka malas sambil bersedekap dada.


“Maaf komandan, Nona Sheana baru saja membuat keributan” lapor Polisi yang melerai Sheana dan pemuda barusan.


“Sheana apa kabar?” sapa Hanif pada Sheana.


“Seperti yang kau lihat bagaimana” jawab perempuan itu tak terlalu menanggapi.


Hanif hanya tersenyum kecil saja dengan tanggapan Sheana barusan. Sedangkan Zidan menatap datar saja tanpa ekspresi, dia berjalan mengikuti Hanif untuk mendekat kearah Sheana.


“Ilham ada apa?” tanya Hanif pada polisi yang bertugas tersebut.


“Ini Ndan, Nona shea..”


“Sudah tidak perlu di lanjutkan, aku mengalah. Yang jelas urus laporan ku, tolong carikan pencuri yang mengambil ponselku di jalan kenangan. Aku pergi” kesal Sheana, dia malas jika sahabat papanya itu ikut campur. Dia langsung berjalan pergi melewati Hanif dan juga Zidan, dia saling tatap dalam diam dengan Zidan yang juga menatapnya.

__ADS_1


“Maaf Ndan, saya ijin permisi lebih dulu” Zidan meminta ijin karena dia ingin menyusul Sheana. Ia perlu bicara dengan perempuan itu.


“tunggu sebentar, saya ingin berbicara denganmu” Zidan menahan tangan Sheana agar tidak berjalan pergi.


“Apa sih main pegang-pegang” Sheana menepis tangan Zidan saat ini.


“Oke,.” Zidan langsung melepaskannya.


“Apa yang ingin kau katakan” sinis Sheana yang memang sedang tak mood.


“Klarifikasi di media soal apa yang kau bilang empat hari lalu”


“Apa yang ku bilang?”


“Jangan pura-pura bodoh, aku lihat kau perempuan yang cerdik”


Sheana tampak berpikir,


“Oh, soal itu. aku tidak mau, kau klarifikasi saja sendiri” Sheana yang seperti tahu apa yang dimaksud polisi tampan didepannya langsung berjalan pergi.


“Mau kemana kau, saya belum selesai bicara” lagi Zidan menahan tangan Sheana.


“Lepaskan,” Sheana meminta Zidan untuk melepaskan tangannya.


“Saya tidak akan melepaskannya sebelum anda klarifikasi pada media soal ucapan mu waktu itu”


“Bukannya sudah aku bilang, kau klarifikasi saja sendiri.”


“Terserah, aku tidak perduli” Sheana seakan tak takut mengenai hal itu.


Zidan memijiat pelipisnya, dia pusing dnegan cara apa lagi agar perempuan kerasa kepal didepannya mau mengklarifikasi semuanya.


“kau mau aku mengklarifikasinya, kalau diantara kita tidak ada hubungan apa. mau mu itu kan?” ucap Sheana saat pria didepan tampak frustasi menghadapi dirinya.


Sontak Zidan langsung melihat kearah Sheana, dia yang tadinya merasa habis akal langsung menatap perempuan didepannya.


“Ya, itu yang saya mau. kau bisa kan,?”


“Bisa, dengan syarat” Sheana melepaskan tangannya dari Zidan menatap pria itu yang melebarkan matanya.


“syarat?” bingung Zidan.


“hemm, kalau kau ingin aku mengklarifikasinya. Kau harus jalan denganku selama tiga kali”


“Kau gila nona? Kau sengaja melakukannya kan?”


“Ya sudah kalau kau tidak mau, aku tidak memaksamu” ucap Sheana dan akan pergi.

__ADS_1


Zidan menahan tangan Sheana lagi,


“Saya sudah punya pacar, jadi tak mungkin saya jalan denganmu. Dan saya mohon klarifikasi semuanya didepan media, ini semua demi keluarga calon saya mengerti” perintah Zidan dengan tegas di akhir ucapannya.


“Bodo amat, bukan urusanku. Kalau kau tidak mau jalan denganku sebanyak tiga kali. Aku tidak akan mengklarifikasi semua itu. terserah juga soal kekasih mu ataupun keluarganya. Itu bukan urusanku” Sheana melepas tangannya dari Zidan dan dia langsung berjalan pergi. Zidan hanya termenung ditempatnya, dia sudah habis akal harus bicara apa lagi pada perempuan tersebut.


.........................................


Siang hari Sheana berjalan ke mal, dia pergi ke mall dengan dandanan yang cukup seksi dnegan sepatu hak tinggi serta roknya yang ada di atas lutut. Tentu saja dia pergi ke mall untuk membeli ponsel, ponselnya hilang dan belum ada kabar hingga saat ini.


“Polisi-polis itu memang bodoh berarti, hanya menemukan pencuri ponsel saja tidak bisa. Sudah hampir satu hari tapi mereka belu menemukannya” gerutu perempuan itu sambil berjalan. Ia tak perduli dnegan tatapan-tatapan orang yang menganggapnya aneh atau apalah.


Ia masuk ke salah stau toko penjualan ponsel,


“Mau ponsel terbaru dengan merk yang terkenal” ucapnya yang datang-datang langsung bilang begitu pada karyawan perempuan didepannya.


“Iya Nona bagaimana, bisa saya bantu” perempuan itu merasa aneh pada pembeli yang baru saja datang didepannya.


“Kau tuli, aku bilang satu ponsel terbaru di toko mu ini. yang merek terkenal” tukas Sheana


“I..iya maaf, nona saya kurang paham tadi” perempuan itu terbata karena terkejut mendengar ucapan kasar dari seorang pembeli. Sheana langsung duduk di kursi yang ada di depan etalase itu, dia melipat kakinya sambil melepaskan kacamatanya saat ini. Sheana memang kemana-mana selalu mengenakan kaca mata hitamnya.


“Saya mohon mbak, ponsel yang saya tunjuk tadi tolong berikan pada saya anak saya membutuhkannya. Uangnya hanya kurang dua ratus ribu saja kan. Saya mohon mbak, berikan pada saya ponselnya. Besok saya kemari lagi untuk melunasi kekurangan itu” terdengar bapak-bapak yang memohon pada karyawan toko ponsel itu. Sheana yang mendengarnya menoleh melihat bapak-bapak yang tak jauh darinya.


“Tidak bisa pak, uang bapak kurang kan. jadi tidak bisa kalau bapak minta ponsel itu, lebih baik ganti ponsel lain saja” ucap karyawan pria


“Tapi mas, anak saya pengen yang itu. saya mohon ya mas tolong beri saya ponselnya. Besok saya bayar kekurangannya itu”


“Saya mohon maaf pak, benar-benar tidak bisa pak” ucap karyawan perempuan.


“Kalau misalkan anaknya ingin ini pak, dya harus ngumpulin duit yang banyak pak. Kalau tidak ada duit ya nggak usah beli” ucap karyawan wanita lainnya.


“Berapa harganya, saya bayar” Sheana langsung berdiri dari duduknya saat ini. dia mendekati ketiga orang itu.


Ketiga orang itu langsung melihat kearah Sheana yang menatap mereka tajam.


“Kau masih kerja disini saja belagu, ponsel harga segitu apa salahnya di serahkan.. miskin jangan teriak miskin pada orang lain” cibir Sheana dan langsung mengeluarkan uang sesuai yang diberitahu karyawan itu.


“Bapak tidak usah terkesima begitu, ambil ponselnya pak. Berikan anakmu,” ucap Sheana dan langsung kembali ke tempatnya setelah membayar semua itu.


“Nona serius,”


“Apa wajah saya terlihat berbohong”


“terimakasih nona, terimakasih.. saya benar berterimakasih pada anda” bapak itu benar-benar berkaca mengucapkan terimakasihnya pada Sheana. Dengan ponsel ini dia bisa pulang dan memberikan kejutan untuk sang anak.


Sheana hanya diam saja, dia tak merespon ataupun tersenyum. Ia justru fokus memainkan kaca matanya

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2