PEREMPUAN NAKAL MILIK POLISI TAMPAN

PEREMPUAN NAKAL MILIK POLISI TAMPAN
Ep 57


__ADS_3

Satria dengan suka rela membawakan belanjaan kakaknya, tangannya penuh dengan tas-tas belanjaan sang kakak. Meskipun ia tak protes membawakan belanjaan itu, tapi ia jengah melihat kakaknya yang banyak berbelanja baju dan juga sepatu.


“Kak, ini sudah banyak lebih dari lima. Kau masih mau beli lagi?” tutur Satria sambil mendekati Sheana yang masih memilih sepatu flat.


“Sabar sebentar kenapa, sepatuku masih kurang” tukas Sheana yang tak memperdulikan Satria.


“Hah, lima masih kurang. Kakak apa nggak punya sepatu sih” Satria yang mulai kesal berjalan mengikuti kakaknya berjalan.


“Punya banyak, tapi sepatunya tidak bisa aku pakai semua jadi aku beli lagi” jawab perempuan itu.


“Kalau banyak kenapa beli, menghambur-hamburkan uang saja” pungkas Satria.


“Kau tidak lihat suamiku cerewet karena aku pakai heels, dan dirumah sepatuku helels semua. Tidak mungkinkan aku pakai sepatu seperti ini terus” tukas Sheana sambil melihat sepatu sport.


“Lima cukuplah kak, nggak usah banyak-banyak” Satria masih saja terus menceramahi Sheana.


“Seharusnya aku tidak mengajakmu, lebih baik aku ajak Sean daripada dirimu” geram Sheana yang merasa jengan dengan omelan Satria.


“Ya terus kenapa nggak ajak kak Sean tadi, mending aja aku daripada dia. kalau dia mana mungkin kau bisa beli banyak begini” sungut Satria.


“Cerewet sekali, ibumu pastis epertimu cerewet begini makanya anaknya juga begini” kesal Sheana dan langsung melenggang pergi. Dia tak jadi membeli sepatu lagi karena Satria terus mengomel.


“Ibu ku itu juga ibu mu, kau lupa” seru Satria tak mau kalah.


Sheana menghentikan langkahnya, dan berbalik menatap sang adik yang terdiam merasa bersalah.


“Aku tidak punya ibu mengerti,” tukas Sheana datar.


“Kak, aku minta maaf jangan marah” Satria berusaha mengimbangi langkah Sheana.


“hemm, ayo pulang” balas Sheana dan langsung mengajak pulang.


“Kau yakin mau pulang, kalau mau beli lagi nggak pa-pa” ucap Satria yang berjalan di belakang Sheana.


“Nggak, pulang saja. aku sudah capek,” jawab Shean dan melihat sekilas kebelakang tampa dia sadari ia menbarak seseorang yang membuat barang-barang perempun yang tersenggol Sheana jatuh berserakan di lantai.


Sheana hampir terdorong untung saja dia bisa berdiri tegap hingga tidak terjatuh. Ia mengusap perutnya lega, karena tidak jatuh. Ia langsung melihat kearah perempuan yang dibantu oleh dua orang untuk mengambil barang-barang yang jatuh tersebut.


“Hei nona kalau jalan hati-hati dong” ucap salah satu teman dari perempuan yang ditabrak oleh Sheana.


“Kau menyalahkanku, yang menabrak siapa. Dasar kampungan,” tukas Sheana tak terima, dia mendekati ketiga perempuan tersebut.


“Kak, kak sudah. Maaf nona-nona sekalian kakakku tidak sengaja” sahut Satria langsung memotong perbincangan keduanya. Ia bisa pastikan kalau nanti suasana malah semakin panas kalau ia tidak bicara.


“Her, sudahlah, dia mungkin tidak sengaja. Ayo bantu aku dan Vi..” ucapan perempuan yang ditabrak Sheana tadi terhenti saat dia mendongak dan melihat siapa yang ada didepannya saat ini.


Begitu juga dengan Sheana yang tampak terkejut tetapi dia berusaha tak menunjukkannya. Perempuan masa lalu suaminya ada didepan dirinya saat ini,.


“Tapi Gladys, dia yang salah tapi dia yang malah marah pada kita” kesal Herlina teman dari Gladys yang sempat bersitegang dengan Sheana.


Gladys perlahan berdiri diikuti oleh rekannya yang bernama Vita,


“Sudahlah her, nggak pa-pa mungkin kita yang salah” Gladys berusaha mencoba menenangkan temannya tersebut. Ia memegang bahu Herlina dan menatap datar pada Sheana tetapi seperkian detik kemudian dia tersenyum manis pada Sheana.


Sheana yang melihat itu bingung, dengan ekpresi aneh perempuan didepannya.


“Her, benar kata Gladys mungkin kita yang salah. Tadi kita juga ngobrol sambil jalankan” ucap Vita yang merasa setuju dengan ucapan Gladys.

__ADS_1


“Dengar, temanmu sendiri yang mengaku salah. Sok ngegas tapi nggak tahu kalau salah” sinis Sheana pada perempuan bernama Herlina.


“Kau perempuan tak tahu diri ya,” geram Herlina dan akan mendekati Sheana tapi ditahan oleh Vita.


“Tenang her, dia hamil jangan kasar-kasar”


“kak sudahlah kak, ayo pergi,” Satria mengajak Sheana pergi tetapi Sheana masih diam di tempatnya. Ia melihat Gladys yang diam memperhatikannya.


“Kau nona Sheana kan?” tanya Gladys yang akhirnya membuka mulut.


“Kenapa kau bertanya? kau sudah tahu diriku kan” tukas Sheana.


“Aku hanya memastikan saja kalau kau Sheana perempuan yang pintar mengambil hati semua orang” ucap Gladys terdengar seperti mencibir dengan wajah sok polos.


“Maksudmu apa hah, kau mencibirku begitu” tukas Shean yang merasa kalau ucapan itu begitu meledeknya.


“Kak sudahlah ayo, kita yang salah disini. harusnya kakak minta maaf bukannya malah mau ribut” Satri memegang lengan Sheana mengajak perempuan itu pergi.


“Ini cewek songong banget ya, padahal nggak ada yang cibir dia. eh nuduh orang” sahut Herlina menatap kesal Sheana.


“Sudahlah her, namanya juga orang kaya mau melakukan apapun dia bisa temasuk mengambil kebahagian orang.” Timpal Gladys menatap Sheana sedikit sinis.


“Kau..”


“Kak Ayo,” Satria menarik Sheana paksa, dia tidak ingin ada keributan antara kakaknya dna orang-orang yang tidak ia kenal itu.


Gladys hanya melihat saja, dia melipat kedua tangannya di dada memperhatikan Sheana yang sudah pergi.


“Lihat dan tunggu saja, aku akan mengambil apa yang menjadi milikku” gumam Gladys


“Ah, nggak Vit..kamu salah denger, ayo kita cari makan” jawab Gladys dan wajahnya berubah ceria, dia menampakkan senyum manisnya.


............................................


“Pak, bu bisa di lihat itu calon bayinya dan terlihat ada dua janin di situ” ucap sang dokter sambil mengarahkan kearah gambar dua janin yang saling berdekatan tersebut.


“Apa dok dua?” Sheana dan juga Zidan kaget mendengarnya.


“Iya pak Zidan dan bua Sheana..anak kalian kembar dan keduanya juga terlihat sehat” jelas sang dokter.


Zidan dan Sheana langsung saling ihat satu sama lain, Zidan menggenggam erat jemari Sheana matanya berbinar melihat layar dimana sang bayi terlihat.


“Sayang, anak kita kembar” ucap Zidan tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Ia menunduk mengecup kening Sheana.


Sheana sendiri masih terpaku, ia seakan tak percaya kalau tengah hamil anak kembar sekarang.


“Ini serius,” ucapnya masih tak percaya.


“Iya bu, ini serius masa main-main. Tolong di jaga kandungannya ya, saya juga akan merespkan vitamin untuk bayinya. silahkan turun bu, sudah selesai pemeriksaanny” ucap sang dokter sedikit tersenyum melihat ibu muda didepannya yang tampak tak percaya.


“Ayo sayang,” Zidan segera membantu Sheana untuk turun dari ranjang dan menuntun sang istri untuk duduk di depan sang dokter yang sedang menuliskan resep vitamin serta mengisi beberapa keterang di buku yang ia dan Sheana bawa.


‘Dok, istri saya dan calon anak-anaks aya benar-benar tidak apa-apa kan? mereka sehat-sehat saja kan?” tanya Zidan memastikan kalau istri dan anak-anaknya tidak apa-apa.


“Iya pak, ibu dan anaknya sehat-sehat kok tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Bahkan kalau kalian mau berhubungan intimpun juga tidak apa-apa asalkan dengan hati-hati melakukanya takut kalau bayinya kenapa-kenapa” ucap dokter perempuan itu.


Wajah Sheana memerah mendengar itu, bisa-bisanya sang dokter menyebutkan hal itu.

__ADS_1


“Baik dok terimakasih sarannya” jawab Zidan.


“Kalau begitu ini buku kehamilannya, dan ini vitaminnya. Dua minggu lagi toong datang untuk pemeriksaan lagi ya pak bu” ucap sang dokter begitu ramah.


“Iya dok, terimakasih” jawab Sheana dan juga Zidan.


“Kalau begitu kita permisi dulu dok” ucap zidan pamit pergi.


“Iya mari,” jawab sang dokter sambil berdiri menyalami Sheana dan juga Zidan.


Keduanya langsung berjalan keluar dari ruangan dokter tersebut. Zidan berjalan sambil memeluk pinggang Sheana ia sesekali mengusap perut istrinya.


“Aku senang banget sayang, anak kita kembar..aku benar-bena rnggak nyangka kalau kita bakal punya anak kembar” Zidan tak bisa menutupi rasa bahagianya.


“Kamu kenapa diem saja? kamu nggak senang kita punya anak kembar” ucap Zidan lagi saat menyadari Sheana hanya diam saja dan hanya tersenyum tipis.


“Seneng kok” jawab Sheana singkat.


“Kalau senang kenapa wajah kamu kayak biasa saja,” heran Zidan.


“Hah, aku..aku capek saja” jawab Sheana berbohong, padahal saat ini dia sedang melamun memikirkan soal Gladys tadi yang tak sengaja bertemu dengannya.


“Kamu capek? Kita duduk di kuris itu dulu kalau begitu” pungkas Zidan mengajak Sheana untuk duduk dulu baru pulang.


“Nggak usah, kita pulang saja.” tolak Sheana karena ia malas berlama-lama di tempat ini.


“Bang Zidan?” panggil seorang pria dari arah jalan yang ada di samping mereka.


Keduanya langsung melihat kearah pria tersebut, Zidan langsung terdiam melhat pria itu. sedangkan Sheana menatap penasaran.


“ternyata benar kamu bang, aku tadi mau manggil takut salah. Eh beneran kamu” ucap Bayu salah satu dokter dirumah sakit ini. dia rekan kerja Gladys dan ia tahu soal Zidan.


“Kamu yu,” lirih Zidan, dan dia merasa gelisah sesekali melihat Sheana yang menatap penuh tanda tanya.


“Iya bang, lama kita nggak ketemu. Bang Zidan ada apa kesini? Mau nemuin dokter Gladys ya?” tanya Bayu yang tak mengerti apa-apa. tapi dia melihat penasaran Zidan yang memeluk perempuan disebelahnya yang sedang hamil.


“nggak” jawab Zidan singkat.


“Oh, maaf dia siapa bang?” tanya Bayu yang begitu penasaran.


“Saya istrinya, dia tidak ada hubungan lagi dengan Gladys” tukas Sheana dan mengulurkan tangannya pada Bayu.


“Apa?” Bayu tampak terkejut mendengarnya, karena dia tak tahu kalau Zidan sudah menikah dengan orang lain.


Zidan langsung melihat kearah Sheana, dia juga terkejut dengan Sheana yang tiba-tiba menjawabnya.


“Bayu, ini istri saya namanya Sheana” ucap Zidan yang akhirnya memperkenalkan Sheana pada Bayu.


“Oh, maaf ya bang. maaf juga nona saya tidak tahu kalau kamu istrinya bang Zidan” Bayu merasa tidak enak dengan keduanya.


“Makanya tanya dulu jangan asal ngomong” ucap Sheana dan langsung melepas tangan Zidan dari pinggangnya. Ia berjalan lebih dulu meninggalkan dua orang itu.


“Sayang,” panggil Zidan saat Sheana pergi meninggalkannya.


“Bayu, maaf saya permisi dulu” ucap Zidan dan langsung menyusul sheana yang berjalan pergi.


°°°

__ADS_1


__ADS_2