
Sheana masuk kedalam mobil Zidan begitu juga dengan Zidan, yang siap mengemudi sambil melihat kearah Sheana yang sudah duduk disebelahnya.
“Sebenarnya kau ingin mengajakku kemana? Kenapa rempong sekali harus ganti baju segala” protes Sheana yang mulai mengomel.
“Nanti kau juga tahu kita akan kemana, sekarang kau ikut saja dan tidak usah banyak protes” pungkas Zidan pada Sheana.
Sheana yang mendengar itu memasang seatbeltnya dengan kesal,
“Karena kita sebentar lagi akan menikah, bleh aku tau masa lalumu?” tanya Zidan hati-hati, sambil perlahan menyalakan mesin mobilnya.
Sheana langsung menoleh kearah pria tersebut,
“Kenapa kau harus tahu masa laluku?” Sheana terlihat keberatan untuk memberitahukan masa lalunya pada Zidan.
“Ya karena aku akan jadi suamimu, untuk mencegah sesuatu yang tidak diinginkan bukannya dari awal saling jujur satu sama lain” jelas Zidan dan menjalankan mobil miliknya keluar dari halaman rumah Sheana.
“Aku rasa belum hak mu untuk tahu masa laluku,”
“Oke, jika kau tidak ingin mengatakannya. Kalau begitu aku tanya padamu, kau pernah berpacaran sebelumnya? Berapa banyak mantan pacarmu?”
Sheana langsung diam, dia menelan ludahnya. Rasanya malas untuk menjawab itu, karena ia gengsi untuk bilang kalau dia tidak punya mantan pacar, jangankan mantan pacar sebeumnya saja ia tak pernah pacaran.
“Kenapa diama?” Zidan yang tak mendapat jawaban dari Sheana langsung melihat kearah perempuan itu.
“Te..tentu pernah mantanku banyak” bohong Sheana sedikit tergagap.
“Siapa saja? aku ingin tahu” rasa penasaran Zidan.
“kepo banget, ngapai juga harus tahu, sudah sana fokus nyetir saja” kesal Sheana, dia juga glagapan sendiri karena bingung menjawabnya.
“baiklah, aku tidak akan bertanya lagi” ucap Zidan dan dia langsung fokus ke depan. Sebenarnya ia penasaran siapa saja mantan pacar Sheana tapi perempuan itu tampak tak suka dengan pertanyaannya daripada Sheana malah bersikap ketus padanya lebih baik dia mengalah untuk tidak bertanya lebih jauh lagi, kapan-kapan saja ia akan korek itu semua.
Setelah menempuh perjalanan kira-kira lima belas menit akhirnya mobil yang dikemudikan Zidan berhenti di sebuah rumah lantai dua bercat putih dengan halaman depan yang luas. Rumah siapa lagi itu kalau bukan rumah kedua orang tua Zidan, yup dia membawa Sheana ke rumah orang tuanya. Ia ingin mengenalkan Sheana pada kedua orang tuanya, sekaligus meminta orang tuanya untuk melamarkan Sheana untuknya.
Dia masih belum bertemu dengan kedua orang tuanya semenjak mereka kembali ke Indonesia. Entah tanggapan mereka nantinya apa saat melihat dirinya datang bersama wanita lain dan bukan Gladys yang mereka tak setujui.
“Ini rumah siapa? Kenapa kau mengajakku kesini?” tanya Sheana saat sudah berdiri di sebelah Zidan.
“Ayo masuk dulu” Zidan langsung menggandeng tangan Sheana mengajak perempuan itu masuk.
“Jawab dulu, aku tidak mau masuk kalau kau belum menjawab pertanyaanku” Sheana tetap berdiri di tempatnya membuat Zidan juga berhenti menarik Sheana.
“Ini rumah orang tuaku” jawab Zidan singkat.
__ADS_1
“Kau ternyata orang berada juga?”
“nggak, keluargaku masih jauh dibawah keluargamu” “Ayo masuk,” Zidan kembali mengajak Sheana untuk berjalan kerumahnya.
Sheana akhirnya mengikuti saja, dia berjalan dengan tangannya yang di gandeng oleh Zidan. Ia melihat sekitar yang tampak indah dan asri serta rumahnya yang juga besar namun sedikit tidak terurus karena catnya yang agak usang. Sheana melihat Zidan yang melangkah mantap menuju pintu masuk,
“Apa pria ini serius akan mengajakku menikah, sampai ia mengajakku ke rumah orang tuanya seperti ini” batin Sheana sambil terus melihat Zidan yang sudah menekan bel rumah saat mereka sudah berada di depan pintu masuk.
Beberapa menit kemudian pintu terbuka, seorang perempuan paruh baya membukakan pintu untuk mereka.
“maaf siapa?” tanya perempuan itu.
“Bilang saja Zidan Gautam Aditya datang berkunjung” jawab Zidan pada perempun paruh baya itu yang ia tebak sebagai asisten rumah tangga baru di rumah orang tuanya.
“oH den Zidan, masuk den” ucap asisten rumah tangga itu.
“Kau tahu akau?” Zidan tampat terkejut saat orang itu tahu soalnya.
“Tahu den, soalnya ibu sering cerita soal aden waktu di luar” jelasnya.. “mari masuk den, saya panggilkan ibu sama bapak dulu” ucap perempuan itu lagi.
Sheana yang mendengar hal tersebut merasa janggal dengan ucapan-ucapan keduanya,
“Ayo,” lirih Zidan mengajak Sheana masuk, sedari tadi genggaman tangan mereka tidak lepas sama sekali. Zidan terus menggenggam tangan Sheana, bahkan genggamannya semakin erat saat berjalan masuk. Dia gugup, dan sedikit takut kalau kedua orang tuanya akan marah padanya.
Zidan dan Sheana sudah duduk di sofa menunggu kedua orang tua Zidan yang belum muncul juga.
“Untuk apa kau kemari?” nada tegas dan tajam membuat Sheana dan Zidan menatap kedatangn dua orang yang menatap asing mereka.
Sheana tentu saja terkejut dengan ucapan seperti itu yang keluar dari pria paruh baya yang ia tebak sebagai ayah Zidan.
“Pa..” sang istri tampak mengusap lengan sang suami berusaha menenangkannya. Mama Zidan terlihat berkaca saat melihat Zidan, dia menatap hau anaknya yang beberapa tahun ini tidak ia temui.
“Maaf kalau aku kesini mengganggu kalian berdua, tapi aku ada alasan untuk kemari” ucap Zidan.
Kedua orang tua Zidan langsung duduk didepan dua orang yang bertamu kerumah mereka, keduanya menatap Zidan dan sesekali melihat perempuan yang berada di sebelah anaknya apalagi fokus keduanya tertuju pada genggaman tangan Zidan di jemari perempuan tersebut.
“Apalagi yang ingin kau katakan, kau sendiri yang memutuskan hubungan kita kan. jadi untuk apa lagi kau datang bertemu kita berdua”
“Papa, jangan begitu dengarkan Zidan bicara dulu” akhirnya mama Zidan mulai bersuara.
“Zidan bicaralah sayang,” pungkas sang mama lagi.
“Sebelum aku bicara, aku kenalkan dulu kalian pada Sheana. Sheana ini kedua orang tuaku, dan pa ma ini Sheana perempuan yang akan aku nikahi”
__ADS_1
“APA?” keduanya tampak terkejut.
“Bukannya kau memaksa untuk menikah dengan mantan adikmu, kenapa sekarang ganti orang. Jangan bilang ini orang bayaranmu agar kau bisa kembali kerumah ini begitu” tukas papa Zidan tak percaya.
Sheana yang mendengar itu melihat kearah Zidan, apa dia tidak salah dengar kalau tunangan Zidan itu mantan dari adiknya.
“Aku jelaskan nanti” ucap Zidan seakan mengerti tatapan dari Sheana.
“Aku dan Gladys sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, aku membatalkan pertunanganku dengannya. Dan perempuan disebelahku ini adalah calon istriku, jadi aku mohon restu kalian berdua dan aku ingin minta tolong lamarkan aku kepada orang tuanya” jelas Zidan dan dia meminta orang tuanya untuk melamarkan Sheana.
“Zidan kau seriuskan? Kamu tidak membohongi mama atau papa kan? kalau kau serius syukurlah, kenapa kau tidak sedari dulu memutuskan hubungan dengan Gladys sehingga keluarga kita tidak perlu terpecah belah seperti ini” ucapan lega sang mama yang penuh haru.
“Aku minta maaf, aku menyesal ma pa. Aku mohon maafkan aku,” lirih Zidan penuh penyesalan.
“Maaf tadi namamu siapa?’ tanya Papa Zidan yang langsung bertanya pada Sheana.
“Sheana” jawab Sheana singkat
“nak Sheana salam kenala ya, tante mamanya Zidan.” Mama Zidan langsung menghampiri Sheana duduk di sebelah perempuan itu memeluk erat Sheana. Mama Zidan merasa bersyukur kalau Zidan sudah menemukan perempuan baru selain Gladys.
Sheana langsung terpaku dengan pelukan tiba-tiba itu, dia belum pernah merasakan pelukan seperti saat ini apalagi pelukan seorang ibu.
“Kapan aku harus melamarkannya untukmu?” Papa Zidan yang melihat istrinya terlihat menyambut senang membuatnya mau tak mau betanya seperti itu. toh Zidan juga anaknya, meskipun beberapa tahun ini dia menjauhi putranya sendiri tapi meskipun ia menjauh dari putranya ia juga merasakan rindu seorang ayah. Sekarang Zidan juga menyesali apa yang dia lakukan.
“Tunggu, kenapa kalian berdiskusi sendiri seperti ini,” Sheana perlahan melepas pelukan mama Zidan dan dia menatap keduanya.
Zidan kembali menggenggam Sheana meminta perempuan itu untuk diam saja,
“Jangan dengarkan dia pa ma, dia akhir-akhir ini sering omosi bawaan bayi” ucap Zidan kepada kedua orang tuanya.
“Apa bayi? Dia hamil?” ucap papa Mama Zidan berbarengan.
“Hehehe iya, tapi papa dan mama jangan membicarakan kehamilannya didepan ayahnya nanti ya aku mohon”
“jangan bilang kau ingin menikahi Sheana karena dia hamil duluan?” tanya sang mama.
“Bukan karena itu ma, aku sengaja membuatnya hamil agar dia tidak jadi milik siapapun” ucap Zidan sambil tersenyum melihat Sheana yang menatap tak percaya pada Zidan. Omong kosong macam apa yang dikatakan pria itu, batin Sheana menaatp Zidan kesal. Zidan sendiri hanya tersenyum kecil sambil melihat kedua orang tuanya yang tak percaya.
Mama Zidan langsung kembali memeluk Sheana dengan hangat, dia begitu senang mendengar kabar ini.
°°°
T.B.C
__ADS_1