
Pagi sudah menyapa, aktifitas sebagian orang sudah di mulai termasuk d kantor polisi saat ini yang sedari semalam tak tutup. Mereka dinas saling bergantian setiap harinya, kini para polis sibuk berjalan di dalam kantor beraktivitas seperti biasa. Sesekali mereka yang melewati sel sementara bagi mereka yang masih dimintai keterangan. Sel yang awalnya itu kosong kini mereka tertarik untuk melihat seorang wanita berselimut baju dinas polisi tengah tidur nyenyak tanpa terganggu sama sekali.
“Perempuan itu siapa? Ditangkap semalem? Kenapa dipisah sama orang yang lainnya” tanya seorang polisi yang baru saja datang bertanya pada rekannya yang melihat kearah sel. Di situ ada tiga sel, yang dua terisi beberapa orang dan hanya satu sel terisi wanita yang sedang tidur itu.
“”Lihat saja sendiri ham, kamu pasti kaget siapa itu” ucap Toni salah satu polisi yang ada di kantor itu meminta Ilham yang baru saja datang untuk melihatnya sendiri.
“Siapa sih? Kok dia selimutan pakai seragam. Seragam polisinya siapa lagi itu?” heran Ilham sambil berjalan mendekat.
“Busyet, nggak salah ton. Itu Sheana kan, anak Johan Ravero. Dia masuk sel, siapa yang berani masukin dia” kaget Ilham saat melihat Sheana lah yang ada di dalam sel.
“Yang dinas semalem lah,”
“Eh, eh itu bajunya bang Zidan kan?” tanya Ilham saat melihat Sheana yang berselimut baju dinas Zidan.
“jangan bilang bang Zidan yang masukin, wah gila bang Zidan. Anak konglomerat dia masukin kesini, pacarnya pula” tukas Ilham tak habis pikir dengan Zidan.
“Dia bukan pacarnya Bripka Zidan ham, jangan sembarang nyebar gosip” Tono berusaha untuk menasehati Ilham.
“Siapa yang sembarangan, beritanya begitu”
“Ya itu gosip, sudah aku bangunkan dia. seenaknya saja jam segini belum bangun” pungkas Toni, dan dia langsung mengambil besi pemukul yang gantung didekat tembok luar sel.
Tung, Tung, Tung
Suara besi yang dipukulkan ke sel terdengar cukup nyaring membuat yang lainya menatap kearah Toni yang memukul sel milik Sheana.
“pak Toni jangan keras-keras kenapa berisik” intrupsi yang lain.
“Kata Bripka Zidan harus keras” ucap Toni dia teru memukulkan tongkat besinya ke sel agar Sheana bangun.
Sheana merasa terganggu dengan bunyi tak jelas itu, dia sesekali menutupkan baju dinas Zidan yang ia kira selimut ke kepalanya tapi itu tak berarti sama sekali. Akhirnya dia bangun dengan kesal,
“Bibi apa-apaan sih bi berisik” omelnya dan langsung duduk tanpa menyadari dia berada dimana sekarang. Matanya masih sayup-sayup malas untuk membuka mata.
__ADS_1
“Hei nona, ini bukan di rumahmu. Bangun” seru Toni meminta Sheana bangun.
“Suara cempreng siapa lagi itu, brisik woi” tukas Sheana dan langsung membuka matanya lebar-lebar.
“Hahhaa suaramu dikatai cempreng Ton” ledek Ilham pada Toni.
“Kalian siapa sih berisik banget jadi orang, pergi dari kamarku” ucap Sheana,
“bentar, aku dimana?” ucapnya saat menyadari dia didalam sel saat ini.
“Apa? kenapa aku bisa disini. apa-apaan ini. dan bau apa ini, hueekk” ucap Sheana sambil melihat keatas dan sekitarnya. Apalagi saat ini dia mencium bau tak sedap membuatnya langsung mengendus bak kucing ke baju coklat alias seragam polisi yang ada di pangkuannya.
“Hueek, bau banget punya siapa ini” kesalnya saat mencium bau yang ternyata berasa dari baju dinas polisi itu. ia segera melemparkannya asal.
“hei kalian, bebaskan aku. bebaskan” Sheana langsung berdiri dan akan menerkam Ilham dan juga Toni. Tetapi dia tak bisa karena ada besi yang membatasinya.
“maaf nona kita belum bisa membebaskan mu sebelum Bripka Zidan datang” ucap Toni.
“Sekali lagi saya minta maaf nona, anda duduk saja dulu sebentar lagi Bripka Zidan datang dan dia yang akan mengeluarkan anda dari sini” ucap Toni dan langsung melenggang pergi.
“ton serius nggak lo bebasin” ucap Ilham yang menyusul Toni pergi.
Akhirnya setelah setengah jam berlalu Zidan sudah datang ke mabes, dia menaruh tas kecilnya dulu di ruangan baru setelah itu ia keluar ruangan untuk menemui Sheana yang katanya sudah marah-marah didalam sel. Ia sedari tadi diteror Tono yang memberitahunya soal Sheana yang marah-marah dan berteriak sehingga menggangu polisi-polisi yang lain
“Ada apa kau berisik begini, kau tidak lihat orang-orang melihatmu” tukas Zidan yang sudah berada di depan Sheana.
“bagus, kau datang juga. lepaskan aku dari sini, berani sekali dirimu denganku. Pria brengsek, polisi brengsek. dasar pria tidak tahu diri, lepaskan aku ‘ maki Sheana pada Zidan yang hanya diam menatapnya.
“Bisa diam, kalau kau tidak diam tidak akan ak..” Zidan belum selesai bicara Sheana menarik tangan Zidan membuat pria itu terbentur besi sel, polisi yang ada di situ terlihat was-was tapi mereka hanya bisa diam saat Zidan memberikan kode untuk tidak mendekat.
“Tidak akan kau apa hah, kau pikir aku takut dengan ancaman mu.” Pungkas Sheana tepat didepan wajah Zidan.
“Kau perempuan tapi kau sekasar ini” ucap Zidan tak habis pikir dengan Shena.
__ADS_1
“terserah bukan urusanmu”
Zidan menatap Sheana yang begitu tajam melihatnya, dia melepaskan tangan perempuan itu dari tangannya dan langsung membukakan sel tersebut. Sheana langsung keluar tapi sebelum itu dia mengambil baju dinas Zidan dan melemparkan ke pria itu.
“Kau sengaja memberiku baju bau mu itu padaku” ucapnya setelah melemparkan itu pada Zidan. Sebenarnya Zidan emosi dnegan itu, ia mengepalkan tangannya dan langsung mencengkram tangan Sheana mengajak perempuan itu keluar dari kantor polisi kalau mereka berdebat disini bisa-bisa ia juga akan mendapatkan sanksi.
.........................................
“Turun dari mobilku” usir Zidan saat dia sudah mengantar Sheana pulang kerumahnya.
“tidak kau suruh juga, aku akan keluar” sinis Sheana dan langsung keluar dari mobil milik Zidan. Dia berjalan cepat mengitari mobil itu untuk masuk kedalam rumahnya.
“Tunggu,” ucap Zidan dari dalam mobil menghentikan Sheana yang akan membuka gerbang.
“Apa?” ketus Sheana.
“Bawa ini,” Zidan melemparkan baju dinasnya pada Sheana seperti Shena melemparkannya padanya tadi saat ada di kantor polisi.
“Apa-apaan kau” tukas Sheana.
“Cuci itu sampai bersih, kalau kau tidak mencucinya kesepakatan kita berakhir” ancam Zidan.
“Hah, kau mengancam ku”
“Aku tidak mengancam mu, bukannya kau membutuhkanku untuk menemui kakek mu besok” ucap Zidan yang memiliki celah untuk mengancam Sheana.
Tadi saat mereka masih ada di jalan menuju rumah Sheana, perempuan itu di telpon oleh kakeknya meminta Sheana untuk datang bersama dengan pria yang digosipkan. Kalau Sheana tak datang dengan pria itu maka kesepakatan Sheana dan kakeknya batal. Entah kesepakatan apa yang perempuan itu lakukan dengan sang kakek.
“Kau memang kurang ajar,” geram Sheana dan langsung masuk kedalam sambil membawa baju dinas Zidan. Zidan yang ada di dalam mobil hanya tersenyum miring melihat pintu gerbang yang tertutup dengan cukup keras. Setelah itu ia langsung pergi dari tempat itu,
°°°
T.B.C
__ADS_1