
Hendra akhirnya bertemu dengan Sheana di sebuah tempat makan, yang sebelumnya pertemuan itu terjadi atas pengaturan dari Satria. Pria itu mengajak kakak dan kakak iparnya untuk sarapan bersama di luar.
Tentu saja Sheana tak langsung mengiyakan ajakan tersebut, dia tak mau makan di luar dan hanya ingin makan dirumah saja. tapi karena Satria yang terus merengek padanya untuk makan bersama di luar membuat Zidan yang ikut turun tangan. Akhirnya mau tak mau Sheana mengikuti apa yang Satria inginkan untuk sarapan bersama.
Tapi saat mereka bertiga tiba di rumah makan ada seorang yang sudah menunggu mereka disitu. dan ia tahu siapa orang itu. pria paruh bya yang tak lain adalah ayah dari Satria.
“Kenapa diam sayang?” tanya Zidan saat Sheana tiba-tiba saja berhenti berjalan.
“Bukannya itu ayahmu? Kenapa kau mengajak dia kesini?” ucap Sheana smabil melihat kearah Satria yang sedikit berada di depannya.
“Ayo makan dulu kak, aku lapar” bukannya menjawab Satria malah berdiri ditengah-tengah Sheana dan Zidan menarik kedua tangan dua orang tersebut.
“Kalian berdua silahkan duduk” ucap Hendra yang berdiri sambil mempersilahkan Zidan dan Sheana untuk duduk.
Zidan dan juga Sheana saling pandang saja, mereka sekilas melihat kearah Satria yang sudah duduk lebih dulu.
“Aku ayahnya Satria, silahkan duduk” ucap Hendra
“Iya Om, sebelumnya salam kenal. Saya Zidan om” ucap Zidan ramah smabil mengulurkan tangannya pada Hendra.
“Saya Hendra,” jawab ayah Satria dan balas menjabat tangan Zidan.
“Kau Sheana kan? salam kenala Sheana” ucap Hendra lagi sembari mengulurkan tangannya pada Sheana.
Sheana tak membalas uluran tangan itu, dia langsung menarik kursi disebelah Satria dan langsung duduk melihat buku menu.
Hendra hanya tersneyum tipis saja melihat kelakuan sheana, sedangkan Zidan terlihat tidak enak pada hendra. Dia juga langsung duduk di dekat istrinya. Meja makan itu berbentuk bundar sehingga cukup dekat satu sama lain.
“Kenapa kau mengajak ayahmu kesini?” bisik Sheana di telinga Satria.
“Aku pesan makanan dulu, ayah makanannya sama denganku kan. kak Zidan ayo kita pesan makanan dulu kakak pasti tau apa yang mau dipesan kak Sheana” Satria mengabaikan ucapan Sheana dia malah mengajak Zidan untuk memesan makanan.
Satria memberi kode Zidan dengan matanya, dan kebetulan Zidan melihat itu membuat dia langsung berdiri.
“Ayo kau denganku saja yang memesan makanan. Sayang kau tunggu disini sebenta aku pesankan makanan yang enak buatmu” ucapnya
“Hemm” jawab Sheana singkat, dia tidak tahu kalau dia snegaja di tinggal di situ berdua dengan ayah Satria.
Zidan dan Satria langsung pergi meninggalkan mereka berdua di meja makan itu, Sheana anya diam saja smabil sibuk melihat ponsel miliknya sedangkan hendra terus melihat kearah Sheana seakan menganalisis orang seperti apa anak dari istrinya tersebut.
“Boleh om kenalan denganmu?” tanya Hendra yang mulai membuka suaranya.
Sheana langsung melihat wajah Hendra, mengalihkan pandangannya dari ponsel.
“Untuk apa? aku rasa kita tidak perlu kenalan. Kau pasti sudah tahu siapa diriku lewat media” jawab Sheana dengan tidak ramah bahkan terkesan lancang dengan orang dewasa.
“Ya aku tahu dirimu, kau sesekali muncul di media digital ataupun cetak. Kakek dan ayahmu merupakan orang terkenal jadi tentu saja aku tahu”
“Kalau kau sudah tahu siapa diriku lalu kenapa masih tanya boleh kenalan atau tidak”
“Yang ku maksud kenalan yaitu aku ingin mengenalmu sebagai anak dari istriku. Bisakah kita berkenalan soal itu”
Sheana diam, dia menatap pria paruh baya didepannya. Ia sebenarnya sedikit terkejut darimana pria itu tahu kalau dirinya anak dari istri orang itu.
“Aku sudah tahu kau anak dari istriku, jadi mari kita saling mengenal. Aku Hendra atau kau bisa memanggilku dengan sebutan ayah Hendra” hendra cukup ramah sambil mengulurkan tangannya pada Sheana.
Sheana malah tersenyum sinis mendengar ucapan Hendra.
“Apa istrimu yang menyuruhmu menemuiku dan memintaku memanggilmu ayah?” ucapnya menatap Hendra.
“Tidak, ibumu tidak tahu aku menemuimu. Ini inisiatifku sendiri untuk bertemu denganmu. Aku juga ingin mengucapkan terimakasih padamu karena suda baik terhadap Satria”
“Dia bukan ibuku, aku tidak punya ibu tuan. Dan tak perlu baik denganku.”
“Bagaimanapun dia tetap ibumu, jangan seperti itu”
“heh Ibu? Ibu darimana? Ibu membuang anaknya begitu saja dan saat anaknya ingin bertemu dengannya dia tidak menganggap anak itu sama sekali malah menyuruhnya pergi. Apa itu dinamakan seorang ibu. Baginya aku hanya anak haram yang tak sengaja dia kandung”
“Sheana, aku tahu kau marah dan kecewa dengan ibumu tapi bagimanapun kau tetepa darah dagingnya. Tolong jangan masukkan hati, dan soal anak haram tidak ada anak yang haram semua anak itu terlahir suci” Hendra berusaha menasehati Sheana.
“Kau tahu apa, dan kau kenapa masih membela istrimu yang salah itu. kau tidak jijik atau kecewa dengannya”
“Aku kecewa, tapi aku mencintai ibumu sangat dalam. Dan akupun menerima diirmu sebagai anakku saat ini. karena kau tidak salah atas semuanya,”
__ADS_1
“pembahasan macam apa ini, pagi-pagi ku yang lapar direcoki oleh anakmu itu dan malah membahas hal memuakkan seperti ini. kalau tidak ada niatan untuk makan lebih baik aku per..” baru saja Sheana akan berdiri Satria dna juga Zidan sudah datang kembali
“Mau kemana kak, duduk lagi” pungkas Satria
“Ayo duduk lagi sayang, makanannya sbenetar lagi sampai” pungkas Zidan meminta sang istri untuk duduk lagi.
“kalau kau marah dengan ibumu, dia akan aku suruh ke sini menemuimu untuk minta maaf. Jadi tolong maafkan dia saat ia memohon padamu nantinya” ucap Hendra dan langsung berdiri dari duduknya.
“Satria ayah tunggu di apartemen, nanti antarkan ayah ke bandara” lanjut Hendra berbicara pada anaknya.
“Loh yah, ayah nggak makan dulu”
“Ayah masih kenyang, ayah juga nggak mau kakak kamu nggak nyaman sama ayah” pungkas Hendra.
“Om, istri saya nggak pa-pa kok, benarkan sayang” ucap Zidan.
“Nggak pa-pa saya mau kembali ke apartemen Satria saja banyak barang yang harus saya rapikan karena nanti saya mau kembali ke Semarang” ucap Hendra smabil tersenyum dan berlalu pergi.
“Ya sudah sana ayah ke apartemen saja” tukas Satria. Sheana hanya diam saja cuek dengan hal tersebut.
.......................................
Satria masuk ke apartemen Sheana setelah dia dari bandara untuk mengantarkan ayahnya pulang ke Semarang.
“Kenapa lagi sih kau menemuiku?” kesal Sheana saat melihat Satria yang berdiri didepan pintunya. Dikala modonya sednag tidak bagus orang-orang menyebalkan membuatnya kesal sedari pagi hingga siang.
“Aku masuk, kak Zidan ada?” Satria langsung menyelonog masuk sambil menanyakan kakak iparnya tersebut.
“Nggak ada, dia pergi. Mau apa kau kesini” balas sheana sambil berjalan di belakang Satria setelah ia menutup pintu apartemennya.
“Kak aku izin ambil minum di kulkasmu ya” bukannya menjawab Satria malah minta minum dan langsung berjalan kearah dapur.
‘kau mulai kurang ajar ya, mentang-mentang aku baik padamu kau jadi seenaknya begini” omel Sheana sambil membuntuti pria itu.
“Ya apa salahnya dirumah kakak sendiri”
“Salah” jawab Sheana.
“Pelit amat, dengan saudara sendiri”
“Saudara darimana?”
“Aku adikmu, apa bukan saudara”
“terserah apa yang kau katakan” kesal Sheana karena Satria terus menjawab ucapannya, dia langsung berjalan pergi meninggalkan orang itu di dapur. Satria buru-buru mengembalikan botol minum kedalam kulkas dan dia menyusul Sheana yang sudah duduk di sofa menonton televisi.
“Kak, aku kepo soal perbincangan kakak dengan ayahku tadi. Apa yag ayahku katakan padamu?” tanya Satria penasaran. Karena dia ingin tahu perbincangan ayahnya dengan Sheana. Ayahnya yang sedari perjalanan ke bandara ia tanyain tidak mau menjawabnya membuat ia semakin penasaran saja.
“Tidak ada hal penting yang dibicarakan”
“Masa, kak misal kalau ibu nemuin kak Sheana dan minta maaf. Kakak mau maafin dia nggak?” tanya Satria duduk disebelah Sheana smabil memperhatikan wajah kakaknya tersebut.
“Bukan urusanmu” ketus Sheana tanpa melihat Satria.
“Ya jelas urusanku, dia ibuku juga dan kau kakakku”
“Bisa diem nggak” Sheana menatap tajam Satria. Dia benar-benar kesal karena ornag disebelahnya cukup cerewet.
“Nggak usah mlotot begitu bisa nggak, kalau bukan kakakku aku tusuk dengan jariku” sungut Satria dengan tatapan tajam Sheana.
“kakak ini perempuan, jangan galak-galak. Bentar lagi juga mau jadi seorang ibu kan,” pungkas Satria pada Sheana.
Sheana hanya diam saja dengan omelan Satria barusan, dia mengabaikannya saja kembali fokus menonton televisi didepannya saat ini.
“Kak, ayah ngomong apa tadi?” tanya Satria yang masih penasaran karena tak mendapat jawaban dari kakaknya itu.
“Nggak ada yang diomongin, jangan berisik bisa. Kalau kau masih bicara lagi lebih baik keluar dari apartemenku. Kepalaku pusing sekarang”
Satria akhirnya memilih diam saja sambil terus melihat Sheana.
“Kak Zidan kemana?” tanya Satria.
“Pergi kerumah temannya, kenapa kau tanya soal suamiku?”
__ADS_1
“Ya tanya saja, apa salahnya. Ya sudahlah kalau kak Sheana tidak mau bicara denganku, aku pergi saja mau nitip sesuatu tidak. Kalau nitip aku belikan,” pungkas Satria.
“Nggak, sana pergi” ucap Sheana mengusir Satria agar pergi.
‘jahatnya,” balas Satria smabil menggelengkan kepalanya. “Ya sudah aku pergi, hati-hati dirumah sendiri” lanjutnya lagi sambil melenggang pergi meninggalkan Sheana.
Sheana tak menjawabnya, dia hanya fokus ketelevisi dan melihat sekilas kearah Satria yang berjalan keluar dari apartemennya.
........................................
Ditempat lain Zidan sedang bersama Ilham mereka saat ini berada di dalam mobil mengintai rumah Gladys, sebelumnya Zidan sudah meminta rekannya yang bernama Viktor yang bagian intel untuk mengawasi keluarga Gladys dan pria itu memberikannya info kalau Gladys tidak apa-apa dan tidak ada masalah di keluarga itu.
“Bang, kita ngapain disini?” tanya Ilham melihat sekilas Zidan yang fokus melihat rumah Gladys.
“Kau pernah lihat perempuan yang pernah aku uplod disosial mediaku dulu kan? sebelum aku mengenal Sheana dan foto itu aku hapus saat banyak yang komen” ucap Zidan pada Ilham.
“Iya cewek pakai baju dokterkan?” jawab Ilham saat mengingat itu.
“iya, dia mantan tunangannku. Dan ayahnya tidak terima aku memutuskan pertunanganku begitu saja dengan anaknya”
“Apa? jadi waktu bang Zidan bilang dulu soal ada tunangan dan tidak ada hubungan dengan nona Sheana itu benar?”
“Iya, tapi hubunganku dan Gladys tidak berjalan mulus meskipun aku mencintainya dulu banyak rintangan dan halangan yang dilalui tapi tak ada jalan keluar. hingga aku bertemu Sheana, karena separuh hatiku sudah milik Sheana jadi aku melepaskan Gladys dan membatalkan pertunanganku dengannya. Ayahnya tidak terima dnegan hal itu dan beberapa hari lalu dia datang dan memukul diirku serta mengatakan kalau anaknya Depresi karenaku” tutur Zidan.
“Lalu bang, kenapa kau malah mengajakku kesini? Memang apa yang bisa aku bantu?” ucap Ilham yang seakan mengerti kalau Zidan meminta bantuannya.
“Kau pura-pura menjadi tamu dirumah itu, dan lihat bagaimana kondisi Gladys sebenarnya. Karena aku ingin tahu langsung perempuan itu benar-benar Depresi atau tidak”
“kenapa bukan bang Zidan sendiri saja yang masuk?”
“Tidak mungkin aku masuk kesana, bagaimana kalau mereka malah berpura-pura didepanku. Aku rasa mereka bilang soal Gladys Depresi karena ingin menjebak diirku agar melihat Gladys. Dan kalau Sheana tahu aku menemui Gladys bisa runyam kedepannya, istriku sedang hamil sekarang dia pasti akan sangat kecewa denganku”
“Ya sudah nanti aku saja yang akan masuk kedalam, tapi kita perlu menyusun rencana bang agar tidak ketahuan” pungkas Ilham.
“Iya,”
“bang, bang ada dua orang cewek yang baru keluar dari rumah” Ilham yang tak sengaja melihat dua orang perempuan langsung memukul-mukul kecil lengan Zidan agar melihat kearah rumah Gladys.
Zidan langsung melihat kearah Ilham memintanya, benar saja ada dua orang yang baru saja keluar dari rumah Gladys.
“Mereka,.” Ucap Zidan saat melihat kedua orang itu.
“Bang Zidan kenal?” tanya Ilham.
“Kenal mereka teman-teman Gladys” jawab Zidan.
“Apa sekarang saja aku masuk kerumah dia bang, soal rencanak aku pikirkan sendiri saja” ucap Ilham.
“Tunggu sebentar ham, kita pantau saja dulu. Ilham itu bukannya Toni..” ucap Zidan tampak terkejut saat tak lama dari dua orang itu keluar dari rumah Gladys. Gladys dan juga Toni rekan Zidan baru saja keluar dari rumah tersebut.
“Benar bang, itu Toni bang. kenapa dia bisa ada disitu? dia kenala dengan tunangan bang Zidan?”
“Mmm, maksud saya dengan mantan tunangan bang Zidan?”
“Setahuku Toni tidak kenal dengan Gladys” jawab Zidan masih tampak terkejut karena melihat salah satu rekannya keluar dari dalam rumah Gladys. Padahal selama ini Toni tidak mengenal Gladys begitu juga sebaliknya. Tapi kenapa Toni bisa berada di rumah Gladys saat ini.
“Tapi mereka berdua kayak sudah saling kenal bang, lihat perempuan itu melambaikan tangan sambil tersenyum pada Toni” ucap Ilham memperhatikan dua orang dari mobil.
“Sebenarnya darimana mereka saling kenal” gumam Zidan penasaran.
“Apa aku turun sekarang bang, Toni sudah pergi” ucap Ilham.
“Nanti saja, kita amati saja dari sini. Kau tadi lihat Gladyskan menurutmu dia seperti orang normal atau tidak”
“Dari penglihatanku tadi dia tampak normal, tidak seperti orang yang sedang depresi”
“Sepertinya keluarga perempuan itu sedang melakukan rencana untukmu bang?” lanjut Ilham menebak semua itu.
Zidan diam sambil memikirkan ucapan ilham padanya, apa benar keluarga Gladys ingin menjebak dirinya. Kalau semua itu memang benar, ia tidak bisa tinggal diam
°°°
T.B.C
__ADS_1