
Zidan menahan tangan Sheana yang sudah akan berjalan keluar rumah sakit
“Sayang tunggu, kenapa kamu main pergi aja” Zidan menahan tangan Sheana menatap istrinya bingung.
“aku laper,” jawab Sheana asal, padahal alasannya langsung pergi karena malas saja berbicara dengan dokter tadi. Dokter itu pasti membahas soal Gladys dan itu membuatnay tak senang mendengar nama perempuan licik itu.
“Kamu laper? Mau makan apa? ayo cari makan” Zidan yang tadinya bingung dengan sikap Sheana langsung antusias saat istrinya bilang lapar. Karena hal inilah yang ia inginkan dimana sang istri ingin di carikan makan. Dia suka kalau istrinya sudah mulai ngidam dan menginginkan sesuatu.
“Ayok, tapi makan ikan yanng panjang itu”
“hah, ikan yang panjang? Ikan apa sayang” bingung Zidan karena dia tak tahu ikan apa yang panjang.
“Itu loh yang warna coklat,”
“Apa sayang..”
“Ihh, norak deh kok nggak tahu” kesal Sheana karena Zidan tidak tahu apa yang dia maksud.
“Ya jelas aku nggak tahu, kamu bilangnya ikan panjang. Ikan apa?”
“Itu loh yang namanya be..be..apa ya” ucap Sheana mulai mengingat ikan apa yang dia maksud.
“belut? Kamu mau itu?” ucap Zidan menebak.
“Nah itu, aku mau belut goreng. Carikan aku itu, sama aku mau es seperti yang di Semarang waktu itu” pinta Sheana.
“Oke siap, aku carikan. Apa yang nggak buat kamu, ayo” Zidan langsung kembali merengkuh Sheana mengajak perempuan itu pergi untuk mencari apa yang ia inginkan. Karena selagi masih siang, dua hal itu masih mudah di cari, es doger banyak di pinggir jalan kalau belut pasti ada di rumah makan dan jelas masih sangat banyak
Tapi saat direngkuh Zidan Sheana menolak dnegan melepaskan tangan pria itu darinya. Zidan merasa bingung dengan penolakan Sheana.
“kenapa?” tanya Zidan heran, karena Sheana melepaskan tangannya.
“Nggak pa-pa, nggak usah meluk aja” jawab Sheana dan langsung berlalu lebih dulu.
“Ya memang kenapa” Zidan masih heran sehingga mempertanyakan lagi.
“Nggak pa-pa males aja di peluk, ayo buruan nggak usah banyak tanya” jawab Sheana yang terdengar ketus.
Zidan diam sambil berjalan, ia terus memperhatikan istrinya yang berjalan tanpa menoleh kemanapun.
Sheana masuk kedalam mobil diikuti Zidan yang masuk, pria itu memasang seatbeltnya tak lupa dia juga akan memasangkan seatbelt ke Sheana tapi lagi-lagi Sheana menolaknya.
“Aku bisa sendiri kok,” ucap Sheana sambil memasang seatbeltnya sendiri.
__ADS_1
“Kamu marah sama aku?”
“Marah? Kenapa aku marah?” Sheana malah balik bertanya, ia terkesan cuek saat ini.
“Kalau kamu nggak marah kenapa dari tadi nolak apa yang aku lakukan,”
“Perasaan kamu aja, kan pasang seatbelt aku bisa sendiri. kenapa harus kamu pasangin, sudah ayo buruan kamu nggak mau anak kamu ngiler bukan. Aku dengar-dengar kata mama kamu kalau yang aku ingin tidak kamu lakukan anak kita nanti yang ngiler karena pengen” Sheana mengalihkan pembicaraan.
Zidan terpaksa menurutinya, dia akan membahasnya lagi nanti setelah mereka makan siang. Apa Sheana bersikap seperti ini gara-gara mereka tadi bertemu Bayu teman Gladys, batin Zidan sambil sekilas melihat istrinya tersebut.
Zidan langsung menyalakan mobilnya pergi meninggalkan parkiran rumah sakit untuk mencari rumah makan yang menyediakan hidangan belut. Tapi sebelum itu ia akan mencari es doger terlebih dahulu. Sheana sedari waktu itu selalu menginginkan es tersebut tapi karena waktu itu malam hari jadi ia tidak bisa membelikannya.
.....................................
Satria berjalan kesal kearah pintu apartemennya yang sedari tadi di gedor-gedor oleh seseorang dari luar. Hal itu membuatnya kesal, baru saja dia akan tidur karena semalaman ia bergadang dan pagi tadi ia harus pergi menemui teman Sean yang akan memberikan dia pekerajaan eh baru juga ia akan istrirahat sudah ada gangguan.
“Siapa sih,” ucapnya kesal sambil membuka pintu tersebut. Tadi yang wajahnya tampak lelah dan kesal langsung terbuka lebar serta wajah pemuda dua puluh dua tahun itu tampak terkejut saat melihat pria tegap berdiri didepannya sambil menatapnya serius.
“A..ayah,” ucapnya terbata, ia begitu terkejut mendapati ayahnya tahu kamar apartemennya dan ia pikir ayahnya itu sudah kembali ke Semarang.
“Ternyata kamar apartemenm disini, kamu pikir bisa menipu ayah.” Hendra langsung menyelonong masuk kedalam apartemen anaknya.
“Ayah ngapain sih kesini, aku kira ayah sudah balik Semarang tadi pagi” Satria menutup pintu apartemennya kembali dan berjalan masuk menyusul ayahnya yang sudah duduk di sofa smabil menatapnya tajam.
“Nipu apa sih, memang aku pencuri atau penipu apa?” Satria duduk di sofa single sambil melihat ayahnya.
“Oke kalau kamu nggak mau jujur sama ayah, kamu cukup jawab saja pertanyaan ayah.” Ucap hendra.
Mendengar itu membuat Satria deg-deg an, kenapa ayahnya bilang begitu apa ayahnya mengetahui sesuatu.
“Kau sudah tahu kan kalau dulu ibumu sempat menikah dan punya anak. Tapi anak itu sudah tiada sekarang” ucap Hendra menatap wajah anaknya yang tampak terkejut,.
“menikah?” bingung Satria, karena setahunya ibunya itu tidak pernah menikah dengan siapapun kecuali dengan ayahnya. Dan dia juga tahu kakaknya Sheana itu terlahir dari hubungan terlarang di saat ibunya masih cukup muda dulu, itupun tidak terikat pernikahan.
“Ya, ibu kamu sudah menikah dulu dan dia sempat punya anak tapi anak itu sudah tiada” jawab Hendra, mengingat pengakuan istrinya dulu saat mereka menikah dan dia tahu kalau Larasati sudah tak tersegel. Laras dulu menceritakan dia pernah menikah dengan orang lain tapi baru beberapa bulan mereka bercerai, dan perempuan itu keguguran.
“Apa itu yang dibilang ibu ke ayah?”
“Ya, ibu mu bilang itu. tapi dalam ucapan ibumu itu ada kebohongan yang baru ayah tahu sekarang”
“Maksud ayah?” Satria semakin gelisah kalau ayahnya sudah tahu semuanya, kalau sampai ayahnya tahu pasti ibunya akan terkena kemaran dari ayahnya itu.
“Anak ibumu sebenarnya masih hidupkan, dan perempuan yang bersamamu tadi pagi. Itu kakakmu kan? anak konglomerat Johan ravero” Hendra menatap serius Satria melihat ekspresi yang akan ditunjukkan putranya itu. dia akan menyangkal atau membenarkannya,.
__ADS_1
“Jawab Satria?” gertak Hendra karena anaknya tak kunjung menjawab.
“Aku akan jawab, tapi ayah harus janji..”
“Janji apa?”
“Janji kalau tidak akan melampiaskan kemarahan ayah pada ibu, dan tidak akan memberitahukan semuanya pada mbah kakung ataupun mbah putri”
“Kau mengatakan itu berarti semuanya benarkan, tadi anak ibumu..” hendra tampak kecewa karena istrinya berbohong soal anaknya dulu. padahal kalaupun Laras jujur anak dari pernikahan dulu masih hidup dia akan menerima anak itu tapi kenapa istrinya malah memilih berbohong.
“Ya, kak Sheana memang anak ibu. Tapi...”
“Kalau dia anak ibumu kenapa ibumu tidak mau mengakuinya dan kenapa tidak bilang pada ayah, kalau ibumu bilang ayah bisa terima anaknya juga. Argghh kenapa ibu malah menutupi semuanya” Hendra mulai geram dengan istrinya.
“Ayah, ini tidak semudah yang ayah pikir. Dan untuk yang aku akan ucapkan ini, aku memohon denga snagat pada ayah jangan emosi dan memarahi ibu. Kak Sheana memang anak dari ibu, tapi yang perlu ayah tahu dia..dia bukan anak yang terlahir dari hubungan resmi” Satria terasa berat untuk mengatakannya.
“maksudmu, nggak ngerti apa yang kamu bicarakan?’
“Ibu sebelumnya belum pernah menikah dengan siapapun, ibu dan ayah kak Sheana belum pernah menikah mereka melakukan kesalahan sebelumnya dimana usia ibu yang masih begitu muda sedangkan ayah kak Sheana sudah memiliki istri dan anak satu pada saat itu” jelas Satria menceritakan apa yang dia tahu selama ini ia mengetahui hal itu karena waktu usianya baru tujuh belas tahun dirinya tak sengaja mendengar ibunya dan orang tua ibunya berbicara soal masalah itu.
“Apa? jangan asal bicara kamu Satria. Ibu kamu nggak mungkin bohong sama ayah”
“Aku nggak asal bicara yah, aku denger sendiri waktu itu ibu bicara sama kakek sama nenek soal itu”
“Astaga Laras, kenapa kamu bohongi aku” Hendra mengusap wajahnya kasar, ia tak menyangka istrinya membohongi dirinya selama ini.
“Ayah jangan marah sama ibu, coba pahami ibu saat itu yah. Di usianya ke tujuh belas tahun, dia masih labil yah. Jadi aku mohon jangan marah sama ibu” Satria memohon pada ayahnya yang tampak kecewa serta marah pada ibunya. Ia tidak ingin sang ibu di marahi oleh ayahnya. Meskipun saat ini dia juga marah pada ibunya karena tidak mengakui kakaknya.
“Ayah nggak marah, ayah kecewa sama ibu kamu. kenapa dia nggak jujur sama ayah, ayah merasa di bohongi selama ini. padahal ayah sudah menerima dia yang waktu itu bilang dia janda, tapi ternyata..” hendra tak bisa melanjutkan ucapannya ia masih begitu kecewa.
“Apa ini alasan kamu beberapa bulan ini sering bertengkar dengan ibumu?” tanya Hendra yang kembali mendongak melihat sang anak.
“Sebenarnya bukan karena ini sih, ada kekecewaan lain yang buat aku kesal sama ibu”
“Apa?”
“Karena ibu nggak mengakui kak Sheana sebagai anaknya, padahal kak Sheana butuh kasih sayang seorang ibu dan dia sudah beberapa tahun mencari ibu dan baru ketemu beberapa bulan lalu tapi ibu malah nggak mau nerima dia sebagai anak. Itu yang buat aku kecewa sama ibu sampai saat ini,”
“Seharusnya dia tidak bersikap seperti itu, anaknya mencari sudah cukup lama dia harusnya menerima anak itu yang sudah dia tinggalkan begitu saja dulu di depan rumah, ia harusnya memeluknya dan juga memberikan kasih sayang yang selama ini tidak ia berikan, bukan malah menyuruhnya pergi. Itulah yang membuatku kecewa yah, padahal ibu selama ini mengajariku untuk memberikan kasih sayang pada siapapun” jelas Satria menjelaskan isi hatinya soal kekecewaanny pada sang ibu.
Hendra hanya diam saja , ia tak bisa berkata-kata. Ia juga kecewa pada istrinya yang sudah ia nikahi selama dua puluh dua tahun ini. dan selama dua puluh dua tahu, istrinya itu menyembunyikan rahasia yang cukup besar darinya.
°°°
__ADS_1