PEREMPUAN NAKAL MILIK POLISI TAMPAN

PEREMPUAN NAKAL MILIK POLISI TAMPAN
Ep 54


__ADS_3

Sean duduk di sebuah cafe yang tidak jauh dari apartemen adiknya, ia menunggu Sheana dengan makanan serta minuman yang sudah ia pesan dulu. Sesekali Sean melihat jam tangannya menunggu Sheana. Ia sedikit cemas takut kalau Sheana tidak mau menemuinya, karena perempuan itu masih belum sepenuhnya memaafkan dirinya atas masa lalu mereka dulu.


“Maaf lama,” baru saja dia memikirkan soal Sheana perempuan itu sudah datang dan menarik kursi didepannya. Ia melihat adiknya yang sudah hampir dua minggu tidak ia lihat, dan pandangannya jatuh pada perut Sheana yang sudah terlihat jelas kalau tengah hamil dengan baju pres body.


“Iya nggak pa-pa, kakak juga nggak masalah. Minum dulu, sudah kakak pesankan minuman kesukaan kamu” pungkas Sean.


“Makasih” Sheana langsung mengambil minumannya dan meminumnya sedikit.”Ada apa mengajakku bertemu disini?” tanyanya pada sang kakak.


“Kakak pengen masalah kita jangan berlarut-larut Sheana, kakak dengar kamu masih marah dengan kakak soal kejadian dulu. ya kakak akui kakak memang menyeramkan, kejam dan jahat. Tapi itu dulu, dulu kakak memang membencimu karena melihat mama yang terus sedih. Tapi setelah kakak lihat kamu menyembunyikan lukamu sendirian kakak ikut sedih, kakak ikut depresi melihatmu sedih. Maka dari itu kakak memutuskan untuk menjadi kakak yang baik buat kamu. Jadi, maafin kakak atas semuanya, kakak dari kamu masuk kerumah keluarga Ravero kakak paling antusias karena punya adik, waktu itu aku juga berjanji menjadi kakak yang selalu melindungi adiknya bahkan nama kamu itu nama dari kakak karena aku ingin nama kita sama Sean dan Sheana. Dua kakak adik yang saling ada dan saling melindungimu” jelas Sean panjang lebar, ia mengutarakan semuanya saat ini. ia tidak ingin di benci adiknya sampai kapanpun.


Sheana yang mendengarnya terdiam, ia baru tahu kalau namanya dari pemberian dari Sean, ia juga sedikit merasa luluh dengan ucpan Sean barusana. Kakaknya itu sangat menyayangi dirinya.


“Maafin kakak soal masalah dulu,” lirih begitu tulus Sean sambil memegang tangan Sheana.


“Aku maafkan, lagi pula itu masa lalu kan. ya sudah, kau tidak usah merasa bersalah lagi. Aku juga tidak akan bersikap ketus lagi padamu” jawab Sheana, cara bicaranya ia kontrol agar tidak terbawa suasana. Ia gengsi saja kalau harus bersikap kalem itu bukan khasnya.


“Serius kamu sudah maafin kakak, terimakasih. Kakak sayang sama kamu,” ucap Sean. “Oh iya kalau kakak boleh kasih saran, jangan gengsian dong kalau mau terharu dengan ucapan kakak jangan ditutupi begitu” gurau Sean sambil tersenyum melihat adiknya yang menutupi kesedihanya dengan kegengsian.


Sheana langsung menarik tangannya dari genggaman Sean, dia menatap kesal sang kakak.


‘Nggak usah mulai kak, nggak usah ngeledek begitu” kesal Sheana menatap Sean yang menahan tawa karena adiknay yang cemberut.


Sean langsung berdiri dari duduknya, berpindah duduk ke sebelah Sheana yang memalingkan wajahnya.


“Kamu memang gen Ravero Sheana, mirip daddy.” Ucap Sean sambil mengusap lembut kepala Sheana selayaknya Sheana masih kecil.


Sheana hanya diam saja smabil cemberut, melihat sekilas Sean yang malah tersenyum nggak jelas kearahnya.


Padangan Sheana beralih ke salah satu meja karena dia melihat orang yang tidak asing.


“Bukannya itu Satria? Kenapa bocah itu ada disana?” ucap Sheana saat melihat Satria yang tengah duduk bersama dengan seorang pria paruh baya berpakaian rapi.


Sean langsung melihat kearah Sheana menunjuk, benar itu Satria yang sedang berbicara dengan seorang pria paruh baya.


“Benar itu dia, dengan siapa dia disana” balas Sean.


“Papanya mungkin” sahut Sheana.


“Mungkin, ayo kesana” ucap Sean dan langsung berdiri dari duduknya.


“Ngapain nggak usah kak, itu urusannya” tukas Sheana yang menolak ajakan Sean.

__ADS_1


“Tapi dia adikmu, kita temui dia” pungkas Sean yang terus memakasa.


“Males,” tegas Sheana menolak sesekali dia melihat kearah Satria yang tampak serius berbicara dengan pria tersebut.


Satria sedang mengobrol dengan papanya pembicaraan mereka memang terdengar serius karena Satria tidak mau diajak pulang ke Semarang.


“Satria ayo ikut ayah pulang ke Semarang, ibu kamu cemas mikirin kamu disana” tukas Henra pada anaknya.


“Kan aku bilang nggak mau yah, aku ada urusan di sini” tolak Satria.


“Urusan apa? ayah tanya saja kamu nggak ngaku. Ayah tanya soal pacar kamu juga bilang nggak punya, lalu apa urusan kamu disini” heran Hendra.


“Ya pokoknya ada urusan ya, ayah kalau mau kembali ke Semarang balik aja. Dan nggak usah mikirin aku disin, aku sudah besar dan aku disini juga sudah ada tempat tinggal”


“makanya beri ayah alasan kenapa kamu kukuh ingin disini, kalau kamu ada alasan disini ayah nggak bakal maksa kamu buat kembali ke Semarang” “atau kamu marah sama ibu kamu,?” lanjut Hendra yang bingung dnegan keputusan anaknya untuk tetap di jakarta tanpa alasan kenapa pria itu harus menetap.


“Pokoknya ada alasan kenapa aku disini, udahlah ayah nggak usah miirin aku. mbah kakung sama mbah putri juga nggak amsalah aku disini, mending ayah urus adik-adik aja aku sudah dewasa yah” tegas Satria.


“Meskipun kamu sudah dewasa, kamu tetep anak ayah. Masih tanggung jawab ayah,.”


“Pokoknya aku nggak mau pulang ke semarang, bilang juga sama ibu kalau aku nggak mau pulang kesana sebelum ibu minta maaf sama seseorang” Satria langsung berdiri dari duduknya.


“Ayah nggak perlu tahu, ayah tanya saja sendiri sama ibu. Kalau ibu nggak mau minta maaf sama orang itu jangan harap aku kembali ke Semarang dan jangan suruh pengawal buat menjemputku paksa” tukas Satria sebelum pergi. Dia akan berjalan pergi meninggalkan ayahnya tapi tak sengaja ia melihat Sheana dan juga Sean yang berdiri untuk pergi juga.


“Kak Sean, kak Sheana” panggil Satria pada kedua orang itu.


Padahal keduanya sudah pura-pura tidak melihat Satria eh malah Satria yang menyapa mereka.


“Tuh anak kenapa malah nyapa kita” bisik Sean di telinga Sheana.


“entahlah,” balas Sheana.


“Ayah tidak usah khawatir denganku disini, ada dua orang itu yang menjagaku. Daa. Yah hati-hati kalau balik Semarang” Satria langsung berlari kecil menghampiri Sheana dan juga Sean.


Hendra hanya diam saja melihat penasaran kearah Satria yang sepertinya begitu dekat dengan dua orang yang baru ia lihat.


“Apa itu teman Satria, mereka orang baik atau bukan?” gumam Hendra masih terus melihat kearah anaknya yang langsung merangkul kedua orang itu.


............................................


“Bang Zidan, di luar ada bapak-bapak yang mau ketemu sama kamu” ucap Ilham yang membuka pintu ruangan Zidan.

__ADS_1


“Siapa?” tanya Zidan.


“Nggak tahu bang, yang jelas orangnya sombong, plus galak” jawab Ilham.


Zidan langsung berdiri dari duduknya, ia penasaran dengan siapa yang ingin menemui dirinya apalagi ciri-ciri yang disebeutkan Ilham dia tak merasa memiliki kenalan seperti itu.


“Orangnya suruh tunggu dulu ham, saya masih harus keruangan komandan dulu.” ucap Zidan dan berjalan kearah Ilham.


“Yaelah bang, males aku ketemu orangnya lagi. Galak banget, padahal aku ngomongnya sopa” Ilham rasanya malas untuk bertemu orang tersebut.


“Ya mau gimana lagi, kamu pilih ketemu komandan atau ketemu bapak-bapak itu. tahu sendiri komanda lebih sadis kan” ucap Zidan memberikan pilihan pada juniornya.


“Yaudah deh, aku kedepan dulu kalau gitu bang” Ilham mau tak mau menemui bapak-bapak tadi sedangkan Zidan ia harus menemui komandannya lebih dulu.


......................................


Zidan sudah selesai menemui komandannya, ia langsung berjalan keluar untuk menemui orang yang di katakan Ilham tadi. Sebenarnya siapa yang ingin bertemu dirinya di jam kerja seperti ini.


Zidan melihat kearah pos dimana orang tersbeut menunggunya seperti yang dikatakan Ilham padanya. Dia terdiam saat melihat siapa yang ingin bertemu dengannya, orang itu adalah ayah Gladys.


“Itu ayah Gladys, untuk apa dia ingin menemuiku” gumam Zidan sambil melihat kearah ayah dari mantan tunangannya.


Setelah diam memperhatikan Zidan memutuskan untuk mendekat kearah pria paruh baya yang belum mengetahui kehadirannya.


“Pak itu Bripka Zidan” ucap seornag polisi yang ada di pos memberitahu ayah Gladys soal Zidan yang berjalan mendekat.


“Baguslah akhirnya kau muncul juga disini” Ayah Gladys langsung berdiri dan keluar dari pos menghampiri Zidan yang berdiri melihatnya.


Bugghh..


Ayah Gladys tiba-tiba saja memukul Zidan hingga membuat Zidan hampir tejatuh tapi untung tubuhnya tegap dan tidak lemah. Ia masih kokoh berdiri sambil memegangi wajahnya dan sekilas mengusap sudut bibirnya yang berdarah.


“Maaf Om kenapa memukul saya,” tukas Zidan merasa tak terima.


“Kau masih tanya kenapa aku memukulmu, kau ahrus aku hajar sampai babak belur” geram ayah Gladys dan akan memukul Zidan lagi tetapi sudah ditahan lebih dulu oleh beberapa polisi yang ada di situ.


“Pak, pak tenang pak ini kantor polisi jangan mebuat keributan disini” tahan seorang polisi yang memegangi tangan ayah Gladys sedangkan Zidan sedikit di jauhkan dari ayah Gladys.


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2