
Sheana baru pulang kerumah bersama dengan Zidan, ia terkejut melihat Satria yang duduk di ruang tamu rumahnya.
“kenapa kau disini?” tanya Sheana sambil melihat kearah adiknya, dia sesekali melihat sekitar ia merasa cemas saja kalau daddynya melihat Satria, bagaimana reaksi ayahnya kalau tahu Satria anak dari ibu kandungnya.
Zidan yang juga menatap kearah Satria yang duduk sambil melihatnya saat ini,
“Aku kesini ingin bertemu kalian lah, tega kalian denganku menikah tidak mengabariku sama sekali” jawab Satria santai.
“Oh, kau belum mengenalku ya, kenalkan aku Satria pria waktu itu yang berpapasan denganmu di Semarang” Satri langsung berdiri dan mengulurkan tangannya pada Zidan.
“Zidan,” jawab Zidan menyambut uluran tangan dari Satria.
“Kenapa kau ada disini, cepat pergi sebelum dua nenek sihir datang. Dan sebelum daddyku ada dirumah” pungkas Sheana menyuruh Satria untuk pergi dari rumahnya.
“Kenapa kau takut kak, kau mencemaskanku ya..” gurau Satria pada Sheana.
“Terserahlah, aku keatas dulu” pamit Sheana pada Zidan ia mengabaikan Satria yang mencebikkan bibirnya.
“Silahkan duduk,” ucap Zidan menyuruh Satria untuk duduk kembali.
Satria dan Zidan langsung duduk berhadapan,
“Aku dengar kau polisi? Tugas dimana? Sejak kapan kenal kakak?” Satria terlihat mengintrogasi Zidan, dia ingin tahu saja soal pria itu dan sejak kapan dia kenal Sheana.
“Sepertinya kau protektif sekali dengan Sheana, bahkan melebihi Sean yang sudah bersamanya sejak lama” balas Zidan.
“Tentu aku protektif, karena aku adiknya. Aku ingin melindungi kakak perempuanku satu-satunya. Kalau kau keberatan untuk menajwabnya, tidak masalah aku bisa mencari tah sendiri soal mu. Tapi yang perlu kau ingat jangan pernah membuat luka untuk kakakku” pungkas Satria.
“Tidak akan pernah” jawab Zidan begitu yakin.
“Aku pegang ucapanmu,”
“Kalau begitu tidak usah tega-tegang sekarang, aku panggil apa nih mas atau bang atau apa?” nada bicara Satria berubah bersahabat dari yang serius kini berubah menjadi lembut.
“Panggil aku bang saja” jawab Zidan.
__ADS_1
“Oke, salam kenala bang Zidan” pungkas Satria sambil melempar senyum tanda dia menerima Zidan.
“Salam kenal juga,”
............................................
Sheana baru saja selesai mandi, dia keluar dengan jubah mandi berwanda biru dan juga handuk yang melilit di rambutnya yang basaha. Bersamaan dengan itu Zidan masuk kedalam dan dia terpaku saat melihat sang istri yang baru selesai mandi membuatnya pelan menuntup pintu.
“Kau selesai mandi?” tanya Zidan dengan suara yang sedikit berat.
“Seperti yang kamu lihat, kenapa?”
“Nggak pa-pa,” jawab Zidan melihat sekilas Sheana sebelum dia membuka lemari pakaiannnya.
“Hari ini kita jadi ke apartemenku, kamu tidak masalah kan?” ucap Zidan lagi sambil mengeluarkan beberapa baju miliknya. Bajunya yang ada dilemari sheana memang hanya beberapa karena waktu dia menikah seminggu lalu ia hanya membawa beberapa helai baju.
“aku tidak masalah” jawab Sheana sambil duduk di depan meja riasnya. Ia memakai lotion di tangan dan juga kakinya.
“Satria sudah pergi?” tanya Sheana sambil melihat kearah Zidan melalui kaca.
“Kamu diancam, diancam apa oleh bocah itu” Sheana langsung melihat kearah Zidan yang berjalan mendekat kearahnya.
“Nggak ada sih, aku bercanda kok.” Tukas Zidan bergurau
“Menyebalkan, “ grutu Sheana yang merasa di bohongi, dia sudah menanggapinya dengan serius tapi Zidan malah bercanda dengannya.
“Maaf, cepat ganti baju. Aku yang masukkan pakaian kita ke koper” perintah Zidan pada sang istri.
“Hemm” Sheana langsung berdiri mengambil bajunya dari dalam lemari.
“Kapan kamu berangkat dinas?” tanya Sheana sambil melihat kearah Zidan yang ada disebelahnya.
“Beberapa hari lagi, kenapa?”
“Nggak hanya tanya saja” jawab Sheana.
__ADS_1
“Kalau ada yang mau ditanya, tanyakan saja. tidak usah sungkan atau kaku denganku” ucap Zidan saat melihat Sheana yang seperti ingin bertanya sesuatu tapi perempuan itu urungkan.
“Tidak ada yang ingin aku tanyakan, sudah buruan kalau kamu mau naruh baju-baju di koper aku ganti baju dulu nanti aku bantu”.
“Oke,” Zidan langsung berjalan mengambil koper kearah lemari besar satunya dimana tempat koper-koper di taruh.
Zidan sudah membawa kopernya kebawah, dia tak sengaja berpapasan dengan kakak iparnya yang akan naik keatas. Sean tampak terkejut melihat dirinya yang membawa dua koper kebawah, pria itu terus melihatnya setelah tepat didepannya.
“Kau mau kemana? Kenapa membawa kopermu dan Sheana?” tanya Sean memincingkan matanya menatap dua koper di tangan Zidan.
“Hari ini aku akan membawa Sheana ke Apartemenku, kita akan tinggal di sana’ jawab Zidan sedikit tak enak saat menjawabnya karena ia lupa untuk bilang pada Sean kalau ia akan pindah ke apartemen.
“Apa? kenapa kalian tinggal di apartemen? Kau tidak bilang sebelumnya padaku? Apa Sheana setuju?”
“Maafkan aku, aku lupa untuk mengatakannya padamu. Tapi aku sudah bilang pada daddy kalau aku akan membawa Sheana kesana, dan tentu saja Sheana setuju. Kalau dia tak setuju tidak mungkin aku akan pergi kesana sendiri” jawab Zidan pada sang kakak ipar.
Sean hanya diam saja, jujur dia sedikit kecewa karena Sheana ataupun Zidan tidak memberitahunya sama sekali. Dia disini adalah seornag kakak tapi kenapa mereka tidak memberitahukan semua itu padanya.
“Baiklah, kalau kalian ingin pindah. Tapi ingat, aku ini kakak kalian, lain kali kalau apa-apa beritahu aku. aku disini seorang kakak tapi kenapa seperti tidak dianggap” pungkas Sean mengutarakan kekecewaannya.
“Aku benar-benar minta maaf kak, aku mohon jangan kecewa atau marah dengan adik-adikmu ini. lain kai aku pasti akan bilang padamu” Zidan menaruh kedua koper yangs edari tadi di pegang dan memegang pundak Sean merasa bersalah dengan itu.
“Kali ini aku maaf kan, dan kau harus tahu kenapa aku menyukaimu sebagai suami Sheana karena aku percaya kau yang akan membuat Sheana berubah menjadi lebih baik, jadi tolong jangan kecewakan aku”
“Ini terakhir kalinya aku mengecewakanmu kak, lain kalai aku tidak akan melakukannya. Aku minta maaf,” sesal Zidan.
“Aku maaf kan, ya sudah kalau kau mau ke bawah. Perlu bantuan?” tanya Sean sambil melihat Zidan yang akan mengangkat kedua kopernya.
“sepertinya perlu,” jawab Zidan sambil tersenyum.
Sean membalas senyum Zidan, dan dia langsung mengambil satu koper yang akan di angkat oleh Zidan.
“Tolong jaga adikku ya, aku berikan tugasku untuk menjaganya kepadamu. Karena dia sudah menjadi tanggung jawabmu sekarang” ucap Sean sambil mengangkat koper dan berjalan di depan Zidan.
“Siap kak, aku pasti akan menjaga Sheana seperti kau menjaganya” jawab Zidan sambil berjalan di belakang Sean. Mereka berdua berjalan beriringan menuruni anak tangga menuju kedepan.
__ADS_1
°°°