PEREMPUAN NAKAL MILIK POLISI TAMPAN

PEREMPUAN NAKAL MILIK POLISI TAMPAN
Ep 51


__ADS_3

“Nggak kak, aku nggak mau, aku nggak mau kak..byurrr,.” Sheana terbangun dari tidurnya dengan keringat yang bercucuran bahkan nafasnya terengah-engah. Ia barusan mimpi kejadian saat dia kecil diseret paksa Sean dan di dorong kedalam kolam renang saat tubuhnya sudah terjebur itulah ia baru tersadar kalau itu semua hanya mimpi tentang masa lalunya dulu.


“Kenapa aku malah mimpi hal itu lagi, itu masa lalu ayo lupakan Sheana,” gumam Sheana sambil meraih segelas air putih yang ada di nakas mejanya. Ia melihat jam yang ada di dinding masih jam delapan malam dan Zidan belum pulang sekarang.


Flashback On


“Kak, aku nggak mau renang kak, aku bilang nggak kak, aku nggak mau” Sheana kecil berusaha melepaskan tangan Sean yang mencengkramnya sambil menarik diirnya kuat ke kolam renang. Ia tidak bisa berenang jadi ia begitu takut saat kakaknya itu marah-marah padanya dan menyeretnya untuk masuk kedalam kolam renang.


Hal itu dipicu karena dirinya yang tak sengaja menumpahkan air dibadan Selina, sehingga Sean yang tahu langsung marah padanya seperti ini.


“Kau anak selingkuhan berani sekali membuat adikku menangis, gara-gara dirimu dan ibumu yang menggoda papaku mama jadi sering menangis. Kenapa kau harus ada di keluargaku sekarang” ucap Sean remaja sambil menyeret Sheana ke arah kolam.


Sean dulu saat ia kecil, ia begitu senang mendapatkan seorang adik yang berjarak lima tahun darinya. lima tahun lamanya dia menginginkan adik akhirnya semua itu terwujud tapi sayang saat umurnya menginjak sepuluh tahu kenyataan yang membuatnya begitu tak menyangka bahwa adik yang ia sayangi selama ini bukanlah adik yang terlahir dari rahim yang sama dengannya melainkan bayi yang ia tunggu dulu adalah anak dari selingkuhan papanya.


Suatu kenyataan yang menyakitkan untuk Sean saat itu, dan suatu hal yang menjadi jawaban baginya kenapa sang mama selalu menangis saat bertengkar dengan papanya. Dan jawaban juga kenapa dulu mamanya begitu membenci Sheana.


“Kak, aku nggak bisa berenang kak. Aku..aku minta maaf, kak Sean aku minta maaf” Sheana menangis saat diseret Sean.


“anak haram sepertimu percuma bilang maaf karena semua yang kau lakukan itu salah” sinis Sean melihat sekilas Sheana yang menangis memohon untuk dilepaskan.


“Kau beredam di kolam renang sampai aku menyuruhmu keluar, gara-gara dirimu adikku jadi demam” Sean mendorong Sheana tampa ampun masuk kedalam kolam renang.


Byurrrr,


Tubuh kecil itu langsung tenggelam, tetapi ia naik ke permukaan dengan mengangkat tangannya meminta pertolongan.


“Kak tolong, tolong kak. Aku..aku tidak bisa berenang kak” ucap Sheana yang meminta pertolongan agar Sean mau menolongnya.


Sean hanya diam melihatnya saja, tapi tatapannya seperti tidak tega. Namun bayangan dimana mamanya menangis dan bayangan dimana adiknya Selina yang tidak mendapat perhatian dari papanya membuatnya menjadi gelap mata, ia tak perduli dengan Sheana saat ini.


“Sheana,..” teriak seorang anak laki-laki seumuran Sheana dengan rambut coklat gelap berlari kecil mendekati Sean dan melihat Sheana cemas.


“Kak Sean, kenapa kau diam saja. Sheana minta tolong itu” ucap anak itu yang mulai khawtair saat tubuh Sheana yang sudah tak terlihat.

__ADS_1


“Biarkan saja, sana James masuk kerumah bukannya kau mau kembai ke Indonesia.” Jawab Sean sambil mendorong James agar masuk kembali kedalam rumah.


“Nggak, aku mau menolong Sheana. Kak Sean jahat,” James akan masuk ke kolam renang tetapi dihalangi oleh Sean.


“James masuk aku bilang,” bentak Sean pada anak laki-laki itu.


James yang meskipun lebih muda lima tahun dari Sean dan dia masih berumur du belas tahun, tapi badannya cukup kuat dan tinggi dari Sean membuat ia bisa langsung lolos dan masuk kedalam kolam renang menolong sepupunya itu.


Semenjak kejadian itu Sheana berusaha menjadi ornag yang lebih kuat dengan belajar renang, bela diri, dan segala sesuatu bahkan dia menghindari orang-orang yang membuatnya lemah dan tak berdaya. Ia menjadi seorang yang penuh kebencian dan arogan karena untuk membuat dirinya tapak kuat sehingga tak ada orang yang berani menyentuh dirinya lagi


Flashback Off


“Stop Sheana, itu masa lalu.” Pungkas Sheana menghentikan sendiri bayangan di kepalanya soal kejadia di masa lalunya itu. “Tapi apa aku bisa melupakan semua itu dan bersikap baik-baik saja pada mereka” gumam Sheana bimbang. Hal ini lah yang menjadi alasannya belum sepenuhnya memaafkan Sean, karena luka yang ditorehkan kakaknya itu begitu menyakitkan dan mengerikan dalam hidupnya.


Tapi Satria memintanya untuk melupakan masa lalu dan berusaha berdamai dengan rasa sakit yang ia alami dulu. Adiknya itu juga bilang kalau Sean sekarang tulus menyayanginya sebagai kakak. Di ingat-ingat, dan apa yang ia lihat saat mereka dewasa ini memang sean terlihat tulus padanya.


“Sudah tidak usah dipikirkan Sheana, sekarang kau lebih baik tidur. Bukannya besok kau ingin belajar menjadi istri yang baik untuk suamimu” ucap Sheana dalam hatinya. Ia langsung merebahkan dirinya lagi menaikan selimutnya dan berusaha untuk tidur kembali.


....................................


“Toni tunggu sebentar,” ucap Zidan menghentikan langkah Toni yang sudah melewatinya dan kini berbalik melihat kearahnya.


“Ada apa Bripka Zidan?” tanya Toni balik sambil memperhatikan sang senior.


“Kenapa sekarang kau menjaga jarak dari saya, apa saya ada salah?” tanya Zidan yang masih belum mengerti kenapa Toni bersikap berbeda dengannya.


“Tidak ada kok bang” jawab Toni.


“Kalau tidak ada ke... atau jangan-jangan kau masih belum menerima kalau Sheana menikah denganku?” tebak Zidan matanya langsung melebar saat mengatakan itu.


“masih berusaha untuk menerima, tapi bang Zidan tenang saja aku tidak akan merebut Sheana darimu” ucap Toni dan langsung berlalu dari hadapan Zidan.


“baguslah kalau kau tidak akan merebut milikku, semoga kau secepatnya menerima kalau sahabatmu sudah menikah denganku” Seru Zidan tak perduli dia ada dimana sekarang, kantorpun juga sepi tidak ada orang

__ADS_1


Toni yang mendengar itu hanya diam saja, ia terus berjalan meninggalkan sang senior yang makin kesini makin ke kanak-kanakan menurutnya. Dulu Seniornya itu snagat berwibawa dan terkesan dingin tapi kenapa sekarang seniornya seperti anak kecil yang baru kasmaran.


Zidan sendiri langsung berjalan keluar dari kantor polisi, saat ini sudah cukup larut untuknya pulang mau bagaimana lagi dia tugas sampai malam.


“Mari gas, nanda, khalif saya pulang dulu” sapa Zidan pada rekan-rekannya yang ada di luar.


“Iya mari let” sahut mereka bersamaan.


........................................


Sheana bangun dari tidurnya saat dirasa pagi sudah menyapa, saat ia bangun dirinya sudah mendapati Zidan yang terlelap di sebelahnya saat ini memeluk dirinya.


“Kapan dia pulang, kenapa tidak membangunkanku semalam” lirih Sheana sambil bangun dari tidurnya. Dia melepaskan perlahan tangan Zidan yang ada di pinggangnya saat ini.


Sheana langsung turun dari tempat tidur dan membenarkan selimut Zidan, sambil mengusap pelan rambut sang suami. Ia bangun lebih dulu karena ingin membuat sarapan untuk mereka, dia ingin menunjukkan rasa cintanya pada suaminya. Dan dia akan berusaha berperan sebagi seorang istri yang berbakti.


Tapi baru saja dia akan berjalan, perutnya terasa mual membuatnya langsung berlari ke kamar mandi.


Hoeekk, hoeekk


Berkali-kali Sheana memuntahkan cairan dari dalam mulutnya, perutnya benar-benar mual saat ini.


“Sialan kenapa aku ingin muntah” kesalnya membuat moodnya hilang untuk pergi kedapur.


Hoeek,


Lagi Sheana memuntukan isi perutnya ke wastafel kamar mandi, dia benar-benar mual saat ini.


“Apa ini efek hamil atau lambung ku bermasalah, perasaan kemarin-kemarin tidak mual seperti ini. stop jangan muntah lagi..” kesal Sheana dia langsung mengusap mulutnya dengan air. ia memegangi perunya sambil berdoa agar ia tidak muntah atau mual lagi.


“Please, jika ini memang karena kamu..tolong bantu mama jangan rewel di dalam perut” ucap Sheana lirih sambil mengusap perutnya memohon pada calon bayinya agar tidak rewel atau membuatnya mual.


Setelah dirasa dirinya tidak mual lagi, Sheana langsung kembali berjalan keluar dari kamar mandi sambil melihat sang suami yang masih bergelum di dalam selimut. Zidan pasti begitu lelah dan dia semalam juga pulang malam, suamnya benar-benar pria yang begitu menikmati pekerjaan, batin Sheana.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2