
Mobil Sheana sedari tadi yang mengemudikan Zidan, pria itu masuk kedalam mobil sheana setelah mengambil kunci mobil perempuan itu. Selama perjalanan tak ada pembicaraan diantara mereka dan tak ada tujuan yang disebutkan Sheana mau kemana mereka sekarang.
Zidan melihat kearah Sheana yang diam saja sambil melihat keluar,
“Kau mau kemana biar aku antar, sebagai syarat pertama yang kau katakan” tanya Zidan akhirnya karena bingung mereka mau kemana sekarang.
“Sudah terlambat, gara-gara kau kakek tua bangka itu memakiku dan menamparku” kesal Sheana sambil menatap tajam Zidan. Ya dia menyalahkan pria itu atas apa yang tejadi padanya saat ini. andai Zidan mau ikut dengannya tadi pasti rencananya akan berjalan lancar.
“Kenapa kau jadi..”
“Sudah diam, hentikan mobilnya. Keluar dari mobilku sekarang,” Sheana yang kesal dan saat ini ingin sendiri menyuruh Zidan untuk menghentikan mobilnya.
“Aku tidak mau, kau mau kemana sekarang aku antar. Aku tidak ingin mengambil risiko jika terjadi apa-apa denganmu nantinya dan pasti yang akan disalahkan diriku, karena aku yang bersamamu terakhir kali” tolak Zidan masih menjalankan mobil milik Sheana itu.
“Antar aku ke Palm kalau begitu” perintah Sheana.
“Palm,?” Zidan seakan tak asing dengan nama itu tapi dia tidak tahu itu tempat apa.
“Dimana itu?” tanyanya kemudian.
“Jalan depan belok kanan, setelah itu di lampu merah belok kiri” jawab Sheana dan langsung memalingkan wajahnya kembali.
Zidan diam melihat Sheana yang sudah memalingkan wajahnya, dia sesekali melihat pakaian perempuan itu yang cukup seksi. Dia hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat itu, dan pandangannya sesekali melihat kearah pipi Sheana, disitu masih terlihat jelas memar merah bekas tamparan dari Hadi tadi. Tapi Zidan seakan mengabaikan hal itu, ia langsung fokus kedepan.
Setelah beberapa menit akhirnya mobil yang dikemudikan Zidan tadi berhenti disebuah bangunan lantai dua yang cukup ramai di luar serta pintu masuknya di jaga oleh dua orang berbadan kekar. Tentu saja Zidan tahu tempat itu karena tulisannya terlihat dengan cukup jelas dan banyak muda-mudi terlihat keluar masuk setelah menunjukkan identitasnya.
“Kenapa diam saja, ayo keluar” ucap Sheana yang sudah bersiap untuk keluar tapi Zidan masih diam di tempat.
“Kau jangan gila, untuk apa kau kesini. Ini Club malam, dan kau wanita untuk apa kesini” pungkas Zidan pada Sheana.
“Kau tidak mau, ya sudah silahkan pergi. Mana kunci mobilku” Sheana langsung menarik kunci mobilnya dan dia langsung berjalan keluar meninggalkan Zidan yang terdiam.
Sheana merapikan bajunya, dan langsung menyampirkan tas miliknya di bahu baru berjalan kearah Club Zidan yang sudah keluar dari mobil segera menarik tangan Sheana agar tak masuk kedalam.
“Nona Sheana, sebaiknya kita pulang. Untuk apa kau kesini” ucap Zidan sambil menahan lengan Sheana.
“Untuk apa lagi kalau bukan untuk senang-senang, lepas dan pergi dari sini kau tidak ingin masuk” Sheana melepas paksa tangannya dari Zidan dan dia langsung melenggang masuk meninggalkan Zidan yang diam terpaku.
__ADS_1
“Apa yang harus aku lakukan, dia malah masuk kedalam” gumam Zidan bingung.
“Sudahlah, itu bukan urusanku. Lebih baik aku pulang” putusnya kemudian, Zidan langsung berjalan pergi dari Club itu membiarkan Sheana yang masuk kedalam. Perempuan itu bukan urusannya, dan bukan siapa-siapanya jadi untuk apa ia perduli.
...........................................
Setengah jam sudah Sheana berada di dalam Club malam tersebut, dia sudah habis dua gelas Whisky yang dia pesan. Sambil minum, ia juga membayangkan masa kecilnya.
“kenapa aku terlahir seperti ini, kenapa perempuan keji itu tak membunuhku sekalian. Kenapa...” erang Sheana kesal, ia meneguk lagi segelas Whisky hingga tandas. Total sudah tiga gelas dia menghabiskan minuman beralkohol tersebut.
“Apa salahku, apa salahku hah..orang itu kenapa membenciku, apa salahku.kalau aku bisa meminta tak mungkin aku mau terlahir sebagai anak haram” Sheana menangis dalam pengaruh alkohol itu. dia akan meneguk lagi Whisky dari botolnya langsung tetapi sebuah tangan menghalanginya membuat Sheana langsung melihat siapa yang berani menahan tangannya saat ini.
“Lepaskan,” brontaknya sebelum melihat orang tersebut. Sheana sudah cukup mabuk saat ini, hingga emosinya semakin tak terkendali.
“Stop meminumnya, ayo pulang” ternyata pria itu Zidan. Zidan yang tadinya sudah berjalan pergi bahkan sudah setengah jam berlalu pria itu memutuskan untuk kembali. Dia yang masih menunggu mobil di halte terus terpikir Sheana meskipun Sheana bukan siapa-siapanya tapi dia tetap perempuan membuatnya cemas memikirkan kalau perempuan itu akan aneh-aneh di Club mengingat kejadian yang menimpa perempuan itu tadi.
“Polisi sombong, kenapa kau disini..lepaskan tanganku” ucap Sheana melepaskan tangannya dari Zidan dan akan mengambil sebotol Whisky dimeja saat Zidan menaruhnya kembali. Lagi-lagi Zidan menghalanginya.
“Kau apa-apaan berikan padaku..kau pergi dari sini” usir Sheana dengan tubuh sempoyongan.
“Mas tolong pegang ini” Zidan memberikan sebotol Whisky tersebut pada sang bartender dan dia segera memegang tangan Sheana yang berdiri sempoyongan disebelahnya.
“Nona Sheana ayo pulang” paksa Zidan dan menarik tangan Sheana dan mengalungkan kelehernya. Ia membantu perempuan itu berjalan meskipun sheana sesekali memberontak membuat tangan Zidan yang satunya melingkar di pinggang Sheana agar perempuan itu tak banyak bergerak. Dia langsung membawa Sheana pergi dari tempat tersebut, Sheana berjalan dan terus meracau tak jelas.
Tak butuh waktu lama, Zidan sudah membawa Sheana kedalam mobil, dia mendudukkan perempuan itu di kursi penumpang yang berada disebelah kemudi. Dan Zidan langsung masuk kedalam mobil setelah memasukkan Sheana.
“Kakek, Nenek..aku..aku kalau bisa memilih aku tidak ingin dilahirkan sebagai anak haram. Kenapa kalian munafik selama ini, kalian pembohong, aku benci kalian.aku benci kalian semua” Sheana meracau pilu didalam mobil, sesekali matanya terpejam setelah meracau seperti itu.
Zidan yang sudah duduk disampingnya menatap iba perempuan tersebut, Zidan terus menatap Sheana terutama penampilan perempuan itu saat ini membuat Zidan langsung membuka jaket dan menyisahkan kaos polos lengan pendek yang melekat ditubuhnya itu. dia menutupkan jaket miliknya ke tubuh Sheana agar tubuh perempuan itu tak begitu terekspos terutama bagian dada yang sedikit menyembul.
Sheana sendiri saat ini tertidur didalam mobil setelah beberapa menit ia meracau sambil menangis.
“ternyata dia tak sekuat yang terlihat” gumam Zidan sambil melihat kearah Sheana yang sudah tidur.
.........................................
Sean berlari dari mobilnya menghampiri mobil merah milik adiknya yang terparkir di parkiran sebuah Club malam. Dia tadi menelpon Sheana dan ada seorang pria yang mengangkat panggilan itu dan bilang kalau adiknya itu sedang mabuk dan saat ini berada di dalam mobil.
__ADS_1
Zidan keluar dari mobil Sheana setelah seorang pria yang tak lain kakak perempuan itu datang.
Sean sedikit terkejut saat melihat seorang pria baru saja keluar dari dalam mobil adiknya,
“Kau yang mengangkat teleponku tadi?” tanya Sean.
“Tunggu bukannya kau ajudan OM Hanif” ucap Sean lagi saat mengingat siapa pria yang berdiri didepannya saat ini.
“Iya, aku Zidan mantan ajudan komandan Hanif” Zidan memperkenalkan dirinya kembali pada Sean.
“Adikku dimana? Kenapa bisa dia ada disini? dan kenapa bisa dia bersamamu” tanya Sean penasaran.
“Dia ada didalam, dan ceritanya panjang kenapa aku ada disini. karena kau sudah datang kalau begitu aku pergi dulu”
“Tunggu, kau tidak macam-macam dengan adikku kan. dia sat ini sedang mabukkan?” curiga Sean.
“Aku tidak melakukan apapun pada adikmu, aku permisi” ucap Zidan dan langsung pamit. Tapi lagi-lagi Sean menghentikan Zidan yang akan berjalan pergi.
“Tolong bantu aku membawa adikku ke mobilku” pinta Sean sehingga menghentikan langkah Zidan.
“Ya aku bantu” jawab Zidan setelah menimang kembali permintaan Sean barusan.
Sean langsung berjalan kearah Sheana duduk, dia membuka pintu mobil adiknya itu untuk membawa Sheana kelaur dari mobil sedangkan Zidan berjalan kearah mobil Sean untuk membukakan pintu mobil.
“Bawalah mobil Sheana, daripada kau harus menunggu taksi.” Ucap Sean pada Zidan.
“tidak perlu, aku per..”
“Tidak usah menolak, bawa saja dan terserah kau mau kau taruh dimana mobil itu. besok biar aku dan Sheana yang mengambilnya” ucap Sean setelah memasukkan Sheana ke dalam mobil.
“Pakailah, dan taruh saja di kantor polisi” pungkas Sean sebelum masuk kedalam mobilnya.
“Tapi, aku tidak ma..” belum sempat Zidan bicara Sean sudah menutup pintu mobil dan menyalakan mesin mobilnya meninggalkan Zidan bersama mobil milik Sheana.
“Mereka sama-sama keras kepala” gerutu Zidan sambil melihat mobil milik Sean yang sudah berjalan pergi meninggalkan dirinya.
°°°
__ADS_1
T.B.C