
Zidan tengah duduk bersama dengan Toni, Ilham dan juga Juna mereka menikmati makanan yang baru saja Zidan bawakan dari luar. Tadi Zidan sempat keluar menemui komandan mereka jadi dia pulang membawa makanan untuk rekan-rekannya itu.
“Bang Zidan semalem darimana aja bang?” tanya Ilham yang seakan ingin mengorek informasi bahkan tatapannya terlihat menggoda Zidan.
“Kepo aja lu ham-ham” sahut Juna yang mewakili Zidan untuk menjawabnya.
“saya bukannya kepo bang, pengen mengklarifikasi aja dari yang saya denger dari rekan-rekan yang lain. Jalan nih bang sama perempuan gila itu” Ilham begitu penasaran dan ingin tahu soal kebenaran yang dikatakan rekan-rekannya yang lain kalau semalam Zidan sehabis rapat di sebuah restoran langsung menyusul dan mengajak pergi Sheana.
“Apa sih kamu, nggak usah bahas masalah saya” tukas Zidan yang tak menggubris rasa ingin tahu Ilham. Dia makan tempe goreng sambil melihat siaran televisi didepannya.
“Ham, Zidan nih malu-malu. Masa dia ketemuan sama pacarnya ngomong-ngomong ya jelas nggak lah. Udah kamu nggak usah kepo” pungkas Toni yang menyuruh Ilham untuk diam saja.
“Dia bukan pacar saya,” ralat Zidan,
“Serius bukan pacar, tapi kenapa ya semalem saya lihat kamu tolongin perempuan itu dan ngerebut kunci mobilnya dan ngajak dia pergi” Juna melirik Zidan menatapnya dengan tatapa tak percaya.
“ya itu, karena dia perempuan. Masa dia di ganggu orang saya diem aja, soal saya yang ngambil kunci mobilnya karena saya ..sudahlah tidak usah dibahas yang jelas dia bukan pacar saya. Pacar saya yang saya upload di sosmed, itu pacar saya” pungkas Zidan bingung untuk menjelaskannya sehingga membuatnya mengalihkan pembicaraan.
“masa sih bang, aku kurang percaya tuh. Bener nggak” ucap Ilham dan meminta persetujuan yang lain yang lain mengangguk seakan setuju dengan ucapan Ilham.
“terserah kalian kalau tidak percaya” Zidan hanya pasrah saja dengan pendapat rekan-rekannya itu.
...........................................
Sheana bangun dari tidurnya, dia perlahan mendudukkan dirinya saat ini. kepalanya terasa berat dan pusing saat dia bangun.
“Aku dimana ini, kenapa kepalaku pusing” ucapnya sambil memegangi kepalanya sendiri yang terasa berat. Dia belum sadar kalau ia berada di dalam kamarnya sendiri.
“Ini kamarku?” bingungnya saat menyadari dia berada di kamarnya sendiri.
“Kenapa aku bisa ada disini? siapa yang membawaku kesini” bingung Sheana, dan kilasan semalam sebelum dia tertidur lebih tepatnya saat dia masih ada didalam Club.
“Apa polisi sombong itu yang membawaku pulang,” gumam Sheana saat mengingat semalam Zidan menemuinya di Club.
Tok, tok
Terdengar ketukan pintu dari luar membuat Sheana langsung mengalihkan pandangannya ke pintu tersebut.
“Masuk,” ucapnya menyuruh orang diluar sana masuk.
Ternyata itu Sean, yang membawakan air putih dan juga bubur untuk adiknya itu.
__ADS_1
“kakak boleh masuk, ini sarapan buatmu” ucap Sean pada adiknya yang melihatnya malas.
“Untuk apa kau ijin biasanya mana pernah tanya lebih dulu” cibir Sheana yang tak menatap Sean.
“Semalam kenapa kau mabuk, kakak tidak suka kalau kau begitu lagi kedepannya” ucap Sean sambil berjalan kearah Sheana yang duduk di tempat tidur.
“Bukan urusan kakak, dan jangan ikut campur dengan diriku”
“Kakak ini kakak kamu, bagaimana bisa kakak tidak ikut campur” tukas Sean.
“makan ini dan turun kebawah. Daddy ingin bicara denganmu” Sean meletakkan semangkuk bubur itu di nakas sebelah tempat tidur Sheana.
Sean langsung berjalan pergi tanpa bicara lagi,
“Kakak tahu dimana ibu kandungku sekarang?” tanya Sheana yang tadinya tak menatap sang kakak kini menatap pria itu.
Sean yang tadi akan berjalan keluar langsung menghentikan langkahnya, dan berbalik melihat Sheana.
“kakak tidak tahu” jawab Sean singkat dan langsung pergi.
“Bulshit, kau asti tahu itu” Sheana jadi kesal dengan jawaban kakaknya. karena tidak mungkin Sean tidak tahu. seorang Sean Ravero yang memiliki kenalan detektif dan lain sebagainya mana mungkin tidak tahu.
Sean tidak menggubris kekesalan adiknya, dia terus berjalan keluar dari kamar Sheana. Dia sebenarnya tahu tapi, dia tak akan memberitahu Sheana soal itu.
..................................
“Daddy sudah memberikanmu tiket ke Amerika, kau ikutlah sepupu disana” ucap Johan pada anaknya.
“Daddy mengusirku dari rumah ini?”
“Daddy tidak mengusirmu dari rumah ini, Daddy ingin melihatmu liburan atau apa. daddy dengar kau bertengkar dengan Selina dan mamamu kan”
“Stop menyebut nenek lampir itu mamaku, dia saja tidak menganggapku anak” pungkas Sheana terlihat pilu.
“Sudah daddy tidak ingin membahas itu, pergilah ke Amerika ikut dengan James disana”
“Aku tidak mau, aku ingin disini. daddy hanya ingin bilang hal itu kan, kalau begitu aku pergi dulu. aku sibuk” ucap Sheana dan langsung berdiri dari duduknya saat ini.
“Kau serius tidak ingin pergi ke Amerika?”
“Ya aku serius”
__ADS_1
“Oh, iya aku tanya dimana ibu kandungku sekarang? Daddy pasti tahu kan soal ini?” tanya Sheana sebelum pergi.
“Sheana berhenti menanyakan soal ibu kandungmu, untuk apa kau mencarinya. Dia sudah meninggalkanmu begitu saja dan tak ingin menga..”
“Sudah dad, kalau kau tidak ingin memberitahuku soal itu” potong Sheana dan langsung pergi meninggalkan papanya yang diam terlihat merasa bersalah.
Johan menatap nanar punggung Sheana yang pergi dari hadapannya saat ini.
“Maafin daddy soal ini Sheana, daddy hanya tidak ingin kau terluka karena ibu kandungmu sendiri” gumam Johan.
.................................
Zidan berjalan kearah parkiran untuk mengambil motornya, ia akan pulang karena dinasnya sudah selesai hari ini tapi saat dia berjalan melewati parkiran mobil, ia melihat mobil sheana yang masih berada di tempat dimana ia semalam menaruh mobil itu.
“kenapa mobil itu masih ada disini, kenapa belum diamb...” baru juga Zidan berbicara begitu sang pemilik mobil datang berjalan didepannya saat ini.
“Kebetulan kau ada disini polisi sombong, ayo ikut aku” ucap Sheana sambil berjalan mendekati Zidan.
“Aku tidak bisa” jawab Zidan singkat.
“Ikut saja denganku, ini syarat terakhir yang kuberikan. Setelah ini aku tidak akan mengganggumu, pilih mana kau ikut denganku sekarang atau kau terus-terusan ku ganggu setiap harinya” ucap Sheana setengah mengancam.
“Sebenarnya apa yang kau inginkan da..”
“Sudahlah tidak usah lama-lama, ayo” Sheana langsung menarik tangan Zidan kearah mobilnya dan membuka pintu mobil itu mendorong pria tersebut agar masuk. Sheana terkesan memaksa Zidan untuk duduk di kursi pengemudi, bahkan dia memasangkan Seatbelt pria itu tapi saat dia akan memasangkannya untuk Zidan tangannya tergelincir sehingga membuatnya terjatuh diatas tubuh Zidan.
Deg, deg
Irama jantung Zidan berpacu saat tubuh Sheana jatuh diatasnya. Apalagi saat ini wajah dirinya dan sheana cukup dekat saat perempuan itu mulai bangkit.
Begitu juga dengan Sheana, jantungnya berdebar saat dia berada di jarak yang cukup dekat dengan pria yang menjengkelkan menurutnya itu.
“Kenapa kau melihatku begitu jatuh cinta denganku, atau kau ingin menciumku” ucap Sheana yang tersadar dan langsung berbicara seenaknya sendiri agar dia tak terpana oleh wajah tampan didepannya.
“Jangan sok kepedean nona” elak Zidan.
“Jika kau ingin menciumku, ini aku berikan gratis” pungkas Sheana yang entah mengapa dia begitu.
“Cuppp” Tanpa menunggu lama tiba-tiba saja dia mencium bibir Zidan membuat pria itu terpaku dan melebarkan matanya
°°°
__ADS_1
T.B.C