
Zidan menemui Gladys di rumah sakit, karena perempuan itu sedang berdinas saat ini. sedangkan Zidan ijin keluar di sela istirahat makan siangnya. Pria itu duduk di kursi kantin rumah sakit sambil menunggu Gladys yang belum kunjung datang.
Sesekali Zidan melihat jam di tangannya, beberapa menit sudah berselang tetapi Gladys belum muncul juga sedangkan dia habis ini akan menghubungi Sheana yang sedari kemarin nomornya tak bisa ia hubungi.
“Bang Zidan,” sebuah suara mengalihkan pandangan Zidan pada seorang wanita berhijam dengan jas dokter yang melekat padanya.
Zidan melempar senyum sekilas saat Gladys berjalan mendatangi dirinya,
“Maaf ya bang lama nunggunya?” ucap Gladys sambil menarik kursi didepan Zidan.
“Iya nggak pa-pa kok, kamu mau pesan apa? biar aku pesanku” ucap Zidan menawarkan diri untuk memesankan makanan.
“Mie bakso aja bang sama minumnya es teh” jawab Gladys.
“Ya sudah aku pesankan dulu” ucap Zidan yang langsung berdiri dari duduknya saat ini. Gladys hanya mengangguk saja, ia melihat Zidan yang sudah pergi dari hadapannya saat ini.
Sambil menunggu Zidan memesan dia melihat ponselnya, ia membuka di aplikasi pesan melihat siapa saja yang mengirimkannya pesan dan belum sempat dia balas sebelumnya.
Ada satu pesan dengan nomor yang belum disimpan, Gladys melihat lama nomor tersebut tanpa ada niat membuka pesan dari orang itu.
“Sudah aku pesankan,” ucap Zidan yang tiba-tiba saja sudah datang membuat Gladys langsung mematikan layar ponselnya dan mendongak kearah Zidan.
“i..iya bang terimakasih” jawab Gladys.
“Bang Zidan hari ini tumben nggak sibuk, biasanya aku ngajak ketemu bilangnya sibuk. Atau sekarang nemuin aku karena kangen ya bang? kita lama nggak ngobrol atau chattan” ucap Gladys terlihat tersenyum menggoda Zidan.
Zidan hanya menanggapinya dengan tersenyum canggung saja, tapi hatinya juga merasa bersalah karena niatannya datang menemui Gladys bukan karena itu.
Tak lama kemudian pesanan mereka datang, di sajikan didepan mereka saat ini. Gladys tampak terkejut karena Zidan tak memesan makanan sama sekali, pria itu hanya memesan es teh saja tanpa menu pendamping lainnya.
“Loh bang, kok bang Zidan nggak pesan makanan?” tanya Gladys heran.
__ADS_1
“Nggak, aku masih kenyang. Kamu saja yang makan”
“Nanti bang Zidan sibuk nggak, kita jalan yuk bang. aku lagi nggak sibuk soalnya” ajak Gladys pada Zidan.
“Maaf ya aku nggak bisa hari ini, hari ini aku juga pengen ngomong sesuatu sama kamu”
“Ngomong apa bang?”
“Kamu selesai makanmu saja dulu, nanti kita bicaranya”
“Aku bisa kok makan sambil ngobrol bang, nanti malah kalau nunggu aku selesai makan bang Zidan kelamaan” ucap Gladys sambil menyeruput kuah baksonya.
“Aku sebenarnya mau bilang sama kamu, dan aku mau minta maaf juga sama kamu Glady”
“Mau minta maaf soal apa bang? perasaan bang Zidan nggak ada salah sama aku”
Zidan menelan ludahnya, tatapan beruba serius menatap Gladys. Sesekali dia juga menghela nafas mencoba untuk berani berbicara.
“Gladys,.” Ucapnya menggantung.
“Soal hubungan kita, se..sebaiknya kita tidak lanjutkan saja.”
“Maksudnya bagaimana bag?” Gladys tampak tak mengerti dengan ucapan Zidan tersebut.
“Kita putus saja Glady, dna batalkan rencana pernikahan kita” tegas Zidan pada akhirnya, karena dia harus memberanikan dirinya berbicara.
“Apa? kenapa kita batalkan bang. kenapa bang Zidan bilang begitu?” Gladys menaruk sendoknya begitu saja dan menatap Zidan.
“Aku rasa hubungan kita memang harus berakhir Glady, banyak kendala dalam hubungan kita.”
“bang Zidan kenapa bilang begitu sih, apa yang salah bang. kita sudah tunangan, kita juga sudah pacaran dari lama tapi kenapa bang Zidan seakan nyerah meskipun banyak kendal. Apa karena orang tua bang Zidan yang tidak setuju dengan ini bang, tapi bukannya bang Zidan tidak memeprmasalahkan soal itu bahkan sudah menentang mereka. Lalu kenapa baru sekarang bang Zidan mau mengakhiri hubungan kita bang” Gladys memegang tangan Zidan.
__ADS_1
“Aku inta maaf soal ini Gladys, bukan masalah itu saja yang menghambat kita sekarang. Dan memang mungkin seharusnya hubungan kita tidak berlanjut sedari dulu. aku minta maaf soal itu Glady.”
“Tapi kenapa baru sekarang bang setelah kita tunangan, ayah aku bener-bener nunggu penentuan tanggal pernikahan kita sekarnag. Tapi kenapa bang Zidan malah bilang seperti ini padaku”
“Aku minta maaf Glady tapi hubungan kita memang harus berakhir. Aku, aku telah salah juga padamu. Jadi aku rasa kau berhak mendapatkan yng lebih baik dariku”
“Maksudmu apalagi sih bang, kenapa jadi muter begini. sebenarnya apa alasanmu membatalkan semuanya”
“Aku tak sengaja tidur dengan orang lain, dan dia hamil anakku sekarang. Tapi yang perlu kau ingat bukan karena itu aku ingin membatlkannya tapi aku juga mempertimbangkan kedua orang tuaku serta Kevin. Aku minta maaf Gladys” akhirnya Zidan jujur juga pada gladys soal dia yang pernah tidur dengan perempuan lain.
“Apa, nggak masuk akal. Bang Zidan bercandakan, ini nggak bener kan bang.”
“Aku tidak bercanda Gladys, aku serius. Aku memang sudah mengkhianati dirimu. Aku sudah tidur dengan perempuan itu, dan hatiku juga sedikit goyah karena hal tersebut”
Mendengar itu Gladys terlihat sok. Genggamannya pada Zidan terlepas, menatap berkaca-kaca pria didepannya tersebut.
“Kau jahat bang, kenapa kau jahat padaku bang. kau selingkuh tapi kau membawa-bawa orang tuamu dan adikmu dalam hubungan kita”
“Aku minta maaf,” lirih Zidan.
“Tapi bukan itu saja Gladys, yang mendasari ku untuk memutuskan semua ini, kau tahus endiri orang tuaku tidak menyetujui hubungan kita. Dan kau apsti juga tahu rumah tangga tanpa restu orang tua pasti tidak akan berjalan baik kedepannya. Ditambah juga kau manta kekasih Kevin yang tak lain adikku, dia masih mencintaimu kan. coba pikirkan lagi Glady misalkan kita tetap meneruskan hubungan kita berdua, bagaimana hubungan kita nanti”
Gladys menangis terisak dengan keputusan Zidan pada hubungan mereka, dia tak menyangka Zidan sudah berpaling ke lain hati bahkan meniduri perempuan itu.
“Kau jahat bang, kau memang jahat padaku bang” Gladys menangis terisak didepan Zidan.
“Gladys, aku mohon jangan menangis. Aku minta maaf, tapi coba berpikrilah lebih dewasa lagi”
“Kau gila bang bagaimana aku bisa berpikir lebih dewasa, kau mengkhianatiku bang. kau memang jahat bang Zidan” marah Gladys dan dia langsung berdiri dari duduknya meninggalkan Zidan dan juga mie baksonya yang belum habis.
“Gladys, Gladys,.” Panggil Zidan sambil berdiri memanggil Gladys yang sudah berjalan pergi. Zidan terlihat bersalah atas apa yang di perbuat saat ini, rasanya hatinya juga sakit melihat Gladys yang menangis seperti itu. tapi mau bagaimana lagi seprauh hatinya juga sudah milik Sheana apalagi kemungkinan perempuan itu mengandung anaknya jadi dia harus bertanggung jawab. Hubungannya dan Gladys memang seharusnya berakhir seperti ini, kedua orang tuanya tak menyetujui mereka berdua sedari dulu.
__ADS_1
°°°
T.B.C