
Sheana menuruni tangga rumahnya sambil bersenandung mendengarkan musik melalui airpond yang ia kenakan. Dibawah sendiri tepatnya di meja makan yang tak jauh dari tangga itu. Sean, Cecil dan Selina sedang sarapan pagi tanpa Johan yang sedang ada urusan di Sydney, ya pria itu kembali ke Sydney untuk mengurus pekerjaannya yang ada di sana. Karena pusatnya ada di negara Australia.
“Sheana,.” Panggil Sean pada adiknya yang baru saja turun. Seperti biasanya Sheana tak pernah menggubris panggilan dari Sean. Dia terus berjalan tanpa memperdulikan mereka.
“Sudahlah Sean biarkan saja dia, untuk apa kau memanggilnya” Cecil langsung memegang tangan anaknya seakan melarang Sean untuk menyusul Sheana yang berjalan pergi.
“benar kak biarkan saja Sheana pergi, kalau dia sarapan sama kita malah jadinya canggung merusak suasana” timpal Selina.
“Ma, Selina. Sheana itu bagian dari keluarga kita. Seharusnya dia juga ikut sarapan bersama kita” ujar Sean melihat kearah mama dan adiknya.
“Kak, dia saja tidak menganggap kita keluarga untuk apa kita memperdulikannya” pungkas Selina pada kakaknya itu.
“benar kata adik kamu itu, sudahlah Sean dimana dirimu yang dulu yang selalu berpihak pada mama. Biarkan saja anak itu pergi” tukas Cecil yang sependapat dengan Selina.
“Kalian berdua memang sama saja, dan aku tidak ingin seperti dulu. bagaimanapun Sheana itu adikku ma” Sean langsung bangkit dari duduknya, ia akan mengejar Sheana gara perempuan itu tak pergi.
“Sean, Sean, untuk apa kau menyusulnya” murka Ceceile memanggil sang anak. Namun Sean tak memperdulikan panggilan mamanya itu, dia buru-buru pergi mengejar Sheana keburu adiknya pergi..dia harus mengikuti Sheana sesuai perintah Daddy nya, dan selama Daddy nya tak di rumah ia yang akan bertanggung jawab pada adiknya itu.
“Ma sudahlah ma, biarkan kakak mengejarnya. Ayo kita makan saja” ucap Selina.
“kakak kamu itu memang keras kepala seperti papamu,” Selina yang mendengar itu cuek saja, dia melanjutkan makannya. Ia malas mengurusi keluarganya yang tak harmonis ini.
....................................
Zidan menunggu Gladys di ruang tunggu rumah sakit, dua hari sudah Gladys mendiami dirinya. Padahal dia sudah menjelaskan semua tapi Gladys masih belum mempercayainya bahkan sekarang perempuan itu marah.
“kapan Gladys memaafkan ku,” gumamnya sambil melihat ponselnya melihat pesannya untuk Gladys yang belum di balas sama sekali oleh perempuan itu. dia melihat kearah depan banyak pasien yang berlalu lalang, apalagi saat ini pagi menjelang siang jadi banyak pasien yang berdatangan. Seperkian detik, matanya menangkap Gladys yang baru saja keluar dari ruangannya yang tak jauh dari situ perempuan itu memang sedari semalam ada di rumah sakit karena dinas malam.
__ADS_1
Segera saja Zidan berdiri dari duduknya saat ini, ia harus meluruskan masalahnya ini dengan Gladys, ia tak ingin masalah dirinya berlarut-larut.
“Dokter Gladys” panggil Zidan, dia berusaha bersikap profesional di lingkungan kerja tunangannya itu.
Gladys yang baru saja keluar dari ruangannya dengan menggendong ransel kecil langsung melihat kearah Zidan kekasihnya yang sudah ada di tempatnya bekerja.
“Ada apa pagi-pagi kesini” tanyanya terkesan acuh.
“Untuk menjemput kekasihku apalagi, mau pulang kan. ayo, aku antar” ucap Zidan sambil memberikan senyum manis.
“Bang, bukankah aku sudah bilang. Bang Zidan selesaikan dulu masalahmu. Jika memang benar itu berita palsu maka luruskan bang, abang tidak memikirkan perasaan keluargaku soal itu” tukas Gladys pada Zidan yang terlihat diam mendengar itu.
“Tapi benar, aku tidak ada hubungan dengan perempuan itu. mengenalnya saja tidak. Aku mohon percayalah padaku, hubungan kita bukan hubungan biasa lagi. Aku calon mu, tolong percaya padaku” Zidan memegang tangan Gladys berusaha membuat perempuan itu percaya.
“Aku selalu percaya padamu bang, kali ini pun aku percaya padamu bang. tapi satu yang membuatku ragu untuk percaya padamu, kamu seakan tidak memikirkan keluargaku soal masalah ini. dan selama bang Zidan tidak ada ucapan apapun di media soal masalah ini atau beritanya belum juga usai. Entah sampai kapan aku bakal menjauh dari bang Zidan, maaf bang aku permisi dulu” Gladys melepaskan tangan Zidan dari tangannya. Sebenarnya dia sedih dengan hubungannya saat ini. bukannya ia tak percaya pada tunangannya tapi dia lebih memikirkan perasaan keluarganya saat ini. keluarganya banyak di bicarakan orang gara-gara pemberitaan Zidan yang menjalin hubungan dengan anak konglomerat. Padahal status Zidan sendiri adalah tunangannya.
“Apa yang harus aku lakukan sekarang,” bingung Zidan frustasi. Bagaimana caranya agar membuat Gladys dan keluarga perempuannya itu percaya kalau dirinya tak ada hubungan dengan Sheana.
..........................................
Sheana duduk di mobilnya yang ada di pinggir sebuah jalan, atap mobil sportnya ia buka sehingga angin yang berhembus mengenai rambutnya. Dia tengah melihat ponselnya saat ini menunggu pesan dari seseorang.
“Nona Sheana, maaf telat memberi kabar. Saya mendapatkan laporan soal ibu kandung anda.” Begitulah isi pesan yang baru saja masuk. Sheana yang membaca itu langsung melepas kaca mata hitamnya.
Dengan cepat ia langsung menelpon nomor yang baru saja mengiriminya kabar itu.
“Halo, bagaimana?” tanyanya saat panggilan di seberang sana di jawab.
__ADS_1
“Seperti yang saya laporkan barusan nona”
“Ya saya tahu, seperti yang kau laporkan barusan. Maksudnya dimana dia sekarang, bodoh begitu saja tidak mengerti” tukas Sheana dan diselingi umpatan untuk orang diseberang sana.
“kabarnya dia ada di daerah jawa tengah nona,”
“Jawa tengah?” Sheana terdengar asing dengan nama daerah tersebut. Karena dia tak besar di Indonesia jadi kurang memahami daerah mana saja yang ada di negaranya ini.
“Iya nona, kabarnya ibu anda sudah menikah dengan salah satu orang terhormat di daerah itu”
“Siapa yang dia nikahi, dan dimana dia tinggal sekarang” Sheana begitu penasaran, ia ingin tahu dimana keberadaan ibu kandungnya saat ini. ia ingin bertemu dengan perempuan itu. ia ingin melihat perempuan yang meninggalkannya itu seperti apa.
“Dia meni...” belum juga orang diseberang sana menjawabnya. Ponsel Sheana sudah diambil orang terlebih dulu.
Sontak Sheana langsung melihat kearah orang tersebut.
“Pencuri sialan,” teriaknya saat melihat seorang yang baru saja mencuri ponselnya. Seorang pria yang langsung naik keats motor rekannya yang sudah menunggu.
Sheana langsung keluar dari mobilnya, mengejar pria itu.
“Ya..kau pencuri sialan kembali kan ponselku” teriaknya.
“Pencuri kembalikan, dasar bajingan jalan.” makinya tak henti-hati saat mengejar pencuri ponselnya itu. dia berlari mengejarnya tapi sayang karena high heels miliknya membuatnya terpaksa harus menyerah untuk mengejar pencuri yang sudah mengambil ponselnya itu. kakinya terasa sakit saat ini karena harus berlari,.
“Sial, kalian.” Kesalnya penuh emosi.
°°°
__ADS_1
T.B.C