
Zidan berada di dalam kamar hotelnya saat ini, dia cemas sendiri karena Sheana sedari tadi belum keluar dari kamar dan tak terlihat sama sekali. Niat mereka kembali hari ini tak jadi karena hal yang terjadi tadi pagi.
Perempuan itu semenjak kembali ke hotel tak terdengar sama sekali keberadaannya membuat Zidan merasa cemas, dia takut hal yang tak diinginkan terjadi.
“Aku tidak bisa tinggal diam seperti ini, bagaimana kalau perempuan itu kenapa-kenapa?” gumam Zidan gelisah sendiri.
Zidan membuka pintu kamarnya melihat kamar milik Sheana yang berada didepannya saat ini.
“Dia sudah berjam-jam di dalam kamar tapi kenapa belum keluar juga?” bingung Zidan sambil terus menatap pintu kamar didepannya yang masih tertutup.
“Aku harus ke kamarnya,” putus Zidan, dia langsung melangkah keluar dari kamarnya sendiri berjalan kearah kamar Sheana yang berada didepan kamarnya saat ini.
Zidan langsung mengetuk pintu kamar Sheana, baru beberapa ketukan dia langsung menyadari kalau kamar itu tidak terkunci.
“Kamarnya tidak di kunci” gumamnya sambil memutar knop pintu tersebut. Perlahan dia melangkah masuk melihat tempat tidur yang kosong membuat Zidan bingung karena Sheana tak ada disitu.
“kemana perempuan itu?” ucapnya penuh pertanyaan.
Brukkk..
Zidan yang akan melangkah keluar di kejutkan oleh suara benda jatuh dari kamar mandi membuatnya langsung menatap kearah kamar mandi yang sedikit terbuka tersebut. Buru-buru Zidan langsung berlari kearah kamar mandi. dia langsung membuka pintu kamar mandi tersebut.
Sheana yang baru saja keluar dari bath up dengan baju yang basah kuyup tak sengaja menjatuhkan tempat sabun sehingga membuat barang-barang yang ada di dalam situ berantakan.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Zidan dan tentu membuat Sheana langsung mendongak saat melihat Zidan berjalan menghampiri dirinya.
“Kau ini kenapa? Bodoh atau apa hah berendam begitu lama” tukas Zidan lagi saat melihat baju Sheana yang basah dan dia berusaha membantu Sheana untuk berdiri tegap.
“lepas, kenapa kau ada di kamarku. Keluar sekarang” Sheana menepis tangan Zidan yang akan membantu dirinya.
“Tidak usah marah-marah tidak jelas, ayo keluar ganti bajumu. Kau sengaja begini karena ingin merepotkanku nanti kan. kau sengaja bukan begitu” tukas Zidan yang menuduh Sheana sengaja melakukannya meskipun dia berbicara begitu tapi ia membantu Sheana untuk berjalan.
__ADS_1
“Aku bisa sendiri” tolak Sheana saat Zidan akan mengalungkan tangannya ke bahu.
“Silahkan kalau bisa sendiri” Zidan langsung keluar lebih dulu, diluar kamar mandi dia merutuki kebodohannya sendiri. kenapa dia bisa khawatir dengan perempuan tak jelas itu.
“Bukannya aku sudah menyuruhmu untuk pergi kenapa kau masih ada disini, kau tidak ada ongkos atau apa hah. Bilang berapa aku akan memberimu” ucap Sheana sambil melihat Zidan yang membelakangi dirinya.
“Kau mengajak dan mengusir ornag seenaknya sendiri, apa begitu hidupmu selama ini” ketus Zidan menatap datar Sheana yang ada di depannya.
“Aku tidak butuh ceramahmu, aku butuh sendiri. keluar sekarang,” Sheana sedang tak ingin banyak bicara dia hanya butuh untuk sendirian sekarang.
“Oke jika itu maumu” Zidan yang kesal langsung pergi dari kamar Sheana meninggalkan perempuan itu yang hanya diam sambil melihat pintu kamarnya yang sudah tertutup.
........................................
Berjam-jam berlalu, saat ini hari sudah cukup larut Zidan yang sedari tadi ada di luar kini kembali ke hotel lagi, dia tak pergi meninggalkan Sheana meskipun perempuan itu menyuruhnya untuk kembali ke Jakarta. Dia bukan orang yang tega an, dia bukan pria yang tidak bertanggung jawab dengan meninggalkan perempuan yang kemungkinan hidupnya tengah down.
Zidan membawa makanan untuk diberikan kepada Sheana, dia langsung membuka pintu kamar milik Sheana dan dia melihat perempuan itu berbaring memiring membelakangi pintu.
Zidan melangkah mendekati Sheana yang masih membelakangi dirinya
“Aku bawakan makanan untuk, makanlah. Setelah ini aku akan pulang ke Jakarta” ucap Zidan beridiri melihat Sheana. Lagi tak ada jawaban dari Sheana.
Zidan langsung mendekatkan dirinya, dia akan membangunkan Sheana untuk makan apa yang dia bawakan sekaligus ia akan bilang kalau akan kembali ke Jakarta.
“hei bangun, ada maka..” ucapan Zidan terhenti saat dia memegang lengan Sheana. Badan perempuan itu tampak panas, dengan cepat Zidan mmegang dahi Sheana dan dahinya mencocokkan suhu tubuh mereka.
“Kau demam?” Zidan langsung menyamakan tingginya denga Sheana yang berbaring.
Sheana tak menjawab matanya terpejam, dengan mulut yang seperti bicara. Perempuan itu entah sedang mengigau atau bagaimana.
“Kau ternyata bisa demam juga,” gumam Zidan dan membantu Sheana agar berbaring lurus. Zidan sendiri langsung berjalan pergi ia harus mencari kain atau apa yang bisa ia gunakan untuk mengompres Sheana agar demamnya turun.
__ADS_1
....................................................
Zidan sudah selesai meminumkan obat Sheana, dia juga sudah selesai mengompres tubuh Sheana agar demamnya turun. Ia meliht Sheana sekilas yang sudah tidur sambil memegangi tangannya. Benar tangannya sedari tadi tangannya di tahan oleh Sheana perempuan itu terus mengigau agar tidak ditinggalkan.
“Aku takut kak, aku takut. Jangan tinggalkan aku, aku mohon, jangan tinggalkan aku kak, aku takut” Sheana mengigau lagi, dia menarik tangan Zidan mendekap tangan itu kuat.
Zidan hanya diam saja sambil memperhatikannya, da tak sengaja dia melihat setets air mata di mata Sheana. Perempuan itu tidur dalam keadaan menangis.
“Dia menangis?” gumam Zidan sambil perlahan mengusap sebulir air mata itu.
“Sebenarnya kehidupan macam apa yang kau jalani selama ini, kau ternyata perempuan rapuh” batin Zidan yang mendudukkan dirinya di lantai sebelah tempat tidur Sheana.
Zidan terus menatap Sheana yang tidur sambil mengigau, saat dia tengah fokus menatap Sheana tiba-tiba saja ponsel yang ada di nakas meja berbunyi membuat Zidan terkejut dan langsung mengalihkan pandangannya.
“Sean” gumamnya saat melihat nama yang tertera di ponsel milik Sheana.
“Halo,” ucapnya saat mengangkat panggilan itu.
“Kau siapa? Dimana adikku?” tanya suara di seberang sana.
“saya Zidan, adikmu sedang keluar” jawab Zidan berbohong. Tak mungkin dia bilang kalau Sheana tidur maka orang diseberang sana akan berpikiran yang tidak-tidak.
“Kau ada di mana sekarang? Biar aku ketemu dengan adikku?”
“Kita ada di Semarang,”
“APA? untuk apa kalian kesana. Jangan bilang kalau adikk..”
“Maaf aku tidak tahu, nanti saja kalau Sheana sudah kembali. Kau bicara sendiri saja, maaf aku matikan lebih dulu” pungkas Zidan dan langsung mematikan panggilannya. Dia bingung harus menjawab apa, kalau dia menjawab jujur malah nanti akan menimbulkan masalah karena dia tahu perempuan itu diam-diam dengan apa yang dia lakukan sekarang tanpa sepengetahuan keluarganya.
°°°
__ADS_1
T.B.C