
Di Semarang Laras tengah di marahi oleh suaminya, ia menunduk tak berani membantah setiap lontaran kemaran dari sang suami.
“masa kamu tidak tahu kenapa Satria pergi ke Jakarta, ini hampir tiga hari dia disana tapi belum kembali juga dan kenapa dia tampak marah denganmu akhir-akhir ini” Hendra suami dari Laras tampak marah karena anak sulungnya dan istrinya seperti menyembunyikan sesuatu.
“Aku bener-bener nggak tahu kenapa Satria marah mas, dia nggak marah. Mungkin hanya perasaan kamu saja, aku dan Satria baik-baik saja” Laras mengelak ucapan sang suami.
“Satria apa tidak bilang padamu kenapa dia pergi ke Jakarta,” tanya Laras lagi.
“Dia hanya bilang ada urusan, tapi sampai tiga hari dia belum pulang”
“Apa perlu aku suruh pengawal untuk menjemputnya,” ucap Laras menawarkan pilihan.
“Nggak usah, aku yang akan ke Jakarta menemuinya dan bertanya sebenarnya kenapa dia sering ke jakarta apa ada pacar disana atau apa” pungkas Hendra final pada keputusannya.
Medengar itu Laras tampak gelisah, ia takut kalau suaminya ke Jakarta dan bertemu Sheana bagaimana nasibnya kedepan.
“mas Hendra lebih baik di rumah saja biar aku yang ke Jakarta, kalau mas Hendra meninggalkan pekerjaan nanti malah ibu sama ayah marah mas” putus Laras, lebih baik dia yang akan menyusul anak ketimbang sang suami.
“Pekerjaanku sudah beres disini, aku yang akan ke Jakarta kamu dirumah saja urus anak-anak yang lain saja” tegas Hendra yang tetap ingin ke Jakarta melihat Satria.
“Mas tapi..”
“Nggak usah tapi-tapi, kau cukup dirumah saja.” potong Hendra dengan tegas membuat Laras kicep sendiri, perempuan itu memang tampak takut pada sang suami saat suaminya sudah menatap dia serius.
Laras dalam kebingungan sekarang, dia benar-benar takut dan gelisah apabila suaminya mengetahui soal anaknya yang ia bilang sudah tiada.
“Semoga saja kamu nggak ketemu sheana mas,” batin Laras sambil melihat sang suami yang menyeruput teh buatan Laras.
...........................................
Lalu lintas hari cukup ramai membuat Zidan dan Sheana terjebak dalam kemacetan ibu kota keduanya akan pergi menemui rekan Zidan yang mengajak pria itu untuk bertemu.
“Harusnya kita nggak usah keluar, lihat macet banget jalannya” Sheana mulai tak sabaran dalam kemacetan.
“Aku nggak tahu kalau macet, kalau tahu jelas aku nggak mau ketemu dia lah sayang” jawab Zidan sekilas melihat Sheana yang merasa kesal. “Kamu jangan kesel dong, belajar sabar, sebentar lagi jadi ibu” Zidan berusaha menasehati Sheana, itulah janjinya pada Johan ayah Sheana yang menyuruh dirinya untuk menasehati serta mengarahkan Sheana menjadi orang lebih baik lagi.
“hemm” Sheana hanya bisa berdehem saja, ia tak mungkin membantah apa yang dikatakan Zidan. Dia langsung memalingkan wajahnya keluar melihat beberapa motor yang bisa lewat disebelah mobil-mobil yang terjebak macet.
“Sayang, Sayang itu adikmu kan” ucap Sheana saat melihat keluar dimana dia melihat Kevin yang tengah naik motor.
Zidan langsung menoleh kearah Sheana karena ini kali pertama Sheana memanggilnya sayang, biasanya dia yang memanggil perempuan itu.
“Mana sayang,” Zidan langsung sedikit mendekat pada Sheana melihat kearah sang istri melihat. Benar di belakang motor yang ada disebelahnya ada Kevin yang menaiki motor.
“Terus kenapa kalau ada Kevin,” tanya Zidan ekspresinya berubah datar saat ia ingat Kevin pernah ingin menjadikan Sheana pacarnya.
“Kita pinjem motornya di suruh pakai mobilmu, aku tidak sabar disini” tukas Sheana.
“Sayang jangan gila, mana mau dia bertukar denganku. Kau tahu sendiri hubunganku dengannya tidak baik”
“Ayolah, kalau kamu tidak mau biar aku saja yang nebeng dengannya” rengek Sheana menatap Zidan. Tentu saja ucapannya tidak serius mana mungkin dia pergi sendiri tanpa sang suami.
__ADS_1
Zidan menatap dingin istrinya, bisa-bisanya Sheana bicara begitu.
“Tidak aku ijinkan, tunggu sebentar kalau gitu” tukas Zidan. Dia langsung melihat kebelakang sebelum membuka pintu memastikan tidak ada kendaraan lain yang lewat disebelah mobilnya. Setelah dirasa aman, ia langsung turun dan bergegas menghampiri Kevin yang berada di sebelah Sheana duduk.
“Kevin,” panggil Zidan saat sudah berada di sebelah sang adik.
Kevin otomatis menoleh, ia sedikit terkejut melihat kakaknya ada disitu.
“Ada apa kau disini?” tanya Kevin tak bersahabat.
“Aku pinjam motormu, kau naik mobilku” lirih Zidan.
“Kau gila, tidak lihat macet seperti ini dan kau memintaku memakai mobilmu. Ogah,.” Kevin menolak mentah-mentah untuk tukaran kendaraan.
Tin....
Tin....
Klaksok dari bebeberapa kendaraan yang ada di belakang mobil Zidan maupun dibelakang motor Kevin saling membunyikan klakson karena keduanya tak kunjung berjalan atu pergi masuk kedalam mobil.
“Minggir, kau tidak lihat yang lainnya mengamuk” Kevin akan tancap gas tetapi Zidan menahan lengannya.
“Kevin please, aku pinjam motormu.” Mohon Zidan.
“Kau seorang Zidan Gautam Aditya memohon padaku, mimpi apa kau sampai memohon pada bocah tengik sepertiku” ejek Kevin tersenyum miring menatap kakaknya. kata-kata yang ia katakan pada Zidan adalah ucapan Zidan dulu padanya, kini dia membalikkan ucapan itu. dulu Zidan sering menyebutnya bocah ingusan dan bilang padanya kalau Kevin hanya dalam mimpi memohon padanya.
“Kalian berdua kenapa lama sekali sih,” Sheana akhirnya turun dari mobil karena sedari tadi dia melihat Zidan dan Kevin yang masih berdebat sednagkan pengendara lain tampak sudah tak sabaran.
“Kau kenapa sih dengan kakakmu pelit banget, kalau kakakmu tidak boleh meminjam motormu aku pinjam” pungkas Sheana.
“Kevin, pinjamkan aku motormu. Ambil mobilku,” ucap Zidan.
“Kita pinjam,” ucap Sheana menatap Kevin.
Kevin diam saja sambil melihat kearah Sheana dan sesekali dia melihat kearah Zidan yang tampak memohon.
“Ya sudah pakai,” Kevin langsung turun dari motornya.
Zidan langsung memegang motor Kevin, dan dia melihat snag adik.
“Terimakasih Kevin, kakak minta maaf karena merepotkanmu” ucap Zidan lirih.
“Jangan salah sangka, aku meminjami motor bukan karenamu tapi karena nona Sheana” ucap Kevin, sambil emmalingkan wajahnya dari sang kakak.
Zidan hanya tersenyum kecil sambil naik keatas motor.
“Ayo sayang,” ucapnya kemudian pada sang istri.
Sheana langsung ikut naik keatas motor, memegang pinggang sang suami.
“Nih helmnya” ucap Kevin menyodorkan begitu saja helm yang ia gunakan pada sang kakak. Setelah itu dia langsung pergi begitu saja kearah mobil Zidan.
__ADS_1
Zidan melihat kearah Kevin yang sudah masuk kedalam mobilnya, ia merasa bangga dengan kevin adiknya masih menganggap dirinya sebagai kakak meskipun sikap Kevin padanya cukup cuek dan terlihat tak perduli. Tapi hatinya masih mengganggap dirinya seorang kakak.
“Pegangan sayang,” pinta Zidan pada sang istri. Sheana langsung melingkarkan tanganya di perut Zidan memeluk pria itu dari belakang.
Zidan langsung melajukan motornya, saat istrinya sudah berpegang erat padanya.
“Seru ya naik motor begini, kita mesra banget aku suka” pungkas Sheana semakin mengeratkan pelukannya pada Zidan.
“Aku juga menyukainya sayang” balas Zidan sambil fokus mengemudi kan motornya melewati kemacetan.
..........................................
“Wiih naik motor bawa istri romantis kali kamu bro” ucap dua orang rekan Zidan yang duduk didepan Sheana dan juga Zidan.
“Ini istrimu bro?’ tanya Bani salah satu rekan Zidan saat pendikan dulu.
“Iya, sayang kenalakan mereka berdua temanku waktu pendidikan kepolisian dulu” ucap Zidan pada Sheana.
“Sheana,” Sheana mengulurkan tangannya.
“Bani, Fardi,” ucap keduanya bergantian.
“Bentar deh, aku kayaknya pernah lihat istri kamu deh dan, tapi dimana ya?” ucap Fardi yang seperti pernah melihat Sheana dan wajah Sheana tidak asing baginya.
“Memang kita pernah ketemu, perasaan nggak deh” tukas Sheana menatap aneh keduanya.
“Sayang,” tegur Zidan lirih pada Sheana.
“Dia yang mulai, sok kenal banget” balas Shena lirih seperti berbisik di telingah Zidan.
“Kalian berdua ngomongin apa?” tanya Bani penasaran.
“Nggak,” elak Zidan.
“Bentar deh, muka istrimu memang nggak asing tahu dan” ucap Fardi yang masih berusaha mengingat soal Sheana.
“Sudah di, kita makan dulu. oh iya Zidan kalian mau pesan apa?” tanya Bani pada Zidan da juga Sheana.
“Kamu mau apa sayang?” tanya Zidan lebih dulu pada sang istri.
“Pasta saja” jawab Sheana.
“Fuck, aku ingat sekarang pernah lihat wajah istri kamu dimana” ucap Fardi yang akhirnya dia ingat pernah bertemu Sheana.
“Nona, kau yang memaki ku waktu itu di jalanan kan. kau Sheana Ravero kan, oh my god gara-gara dirimu aku dipindahkan ke divisi lain” geram Fardi saat mengingat amsa lalu dimana dia menilang Sheana eh malah perempuan yang ia tilang memaki dirinya dan melaporkannya ke atasan. Padahal saat itu yang salah Sheana karena melawan arus,.
Zidan langsung melihat kearah istriya dan Sheana tampak bingung dan mengingat kejadian itu. matanya langsung melebar saat mengingat hal itu.
“Mampus, kenapa dia rekan suamiku” batin Sheana sesekali memejamkan matanya merutuki dirinya yang dulu, bagaimana dia bersikap menghadapi teman dari suaminya ini, bingung Sheana.
°°°
__ADS_1
T.B.C