
Zidan mengajak Sheana kerumah orang tuanya, karena mamanya ingin bertemu dengan istrinya itu.
“Kenapa kau mengajakku kerumah orang tuamu sekarang?” tanya Sheana saat mobil yang dikemudikan Zidan sudah berhenti di rumah orang tua pria itu. Sheana memang tidak di beritahu kemana mereka pergi, Zidan tadi hanya mengajaknya saja mencari makan tapi malah ke rumah yang dua minggu lalu ia kunjungi sebelum ia menikah dengan Zidan.
Zidan hanya diam saja tidak menanggapi ucapan Sheana, dia malah membuka seatbelt miliknya mengabaikan Sheana begitu saja.
“Kau dengaraku bicara atau tidak?” tukas Sheana kesal sambil menahn lengan Zidan yang akan turun.
“Aku dengar, tapi aku sengaja diam saja” jawab Zidan sambil melihat Sheana yang menatap aneh suaminya yang tampak serius.
“Lalu kenapa kau tidak menjawabnya?”
“Kemarin aku sudah bilang padamu, jangan pernah bicara ketus atau kasar padaku. Kalau kau masih seperti itu dan menyebutku kau. Aku tidak akan menjawab setiap ucapan darimu sekarang sayang” tegas Zidan memperingatkan Sheana. Padahal kemarin dia sudah memberitahu Sheana kalau mereka harus saling mengenal dan berbicara lembut serta halus satu sama lain. Karena mereka sekarang bukan dua orang asing, melainkan suami istri.
Sheana menelan ludahnya mendengar hal tersebut, karena dia melihat wajah serius Zidan, pria itu tampak marah padanya.
“hemm,” lirih Sheana. Namun Zidan sama seklai tak bergeming, dia diam di tempatnya saja tak keluar dan juga tak melakukan apapun. Dia hanya menghindari tatapan Sheana yang melihatnya.
“kenapa kamu marahan sih jadi orang, apa salahanya aku bilang seperti tadi” kesal Sheana yang mulai tersulut emosi karena Zidan tampak masih marah.
“Coba kamu jadi aku, istrimu ketus dan berbicara dengan suaminya seperti berbicara dengan orang lain. Perasaanmu bagaiamana?” tanya Zidan menatap serius mata Sheana.
“Kenapa jadi ribut sih, ayo masuk. Kalau nggak ayo kita pulang saja” ucap Sheana.
“Aku nggak marah hanya mengajari kamu. kamu cinta kan sama aku, dulu sebelum kita menikah kamu bilang cinta padaku, jadi tolong bersikaplah seperti orang yang mencintai. Seperti diriu sekarang yang sudah mencintaimu, aku bersikap baik dan lembut padamu kan.”
Sheana tiba-tiba bangkit dari duduknya dan dia langsung duduk di pangkuan Zidan, duduk dengan menghadap pria itu yang melihatnya dengan mata lebar karena terkejut. Tangan Sheana berada di bahu Zidan menatap intens mata sang suami.
__ADS_1
“Aku minta maaf soal ucapan ku, aku akan mulai belajar menjadi orang lebih baik lagi. Jadi tolong beri aku waktu untuk beradaptasi dengan diriku sendiri sekarang.” Lirih Sheana.
Tangan Zidan memegang wajah saat ini,
“Aku maafkan,” ucapnya sambil mengusap wajah Sheana.
Sheana langsung memeluk Zidan,
“Terimakasih” bisik Sheana.
Setelah perbincangan mereka di dalam mobil, keduanya sudah berada di dalam rumah orang tua Zidan. Tanpa disangka Kevin ada dirumah, hampir dua minggu semenjak Zidan memutuskan akan menikah dengan Sheana Kevin tak muncul sama sekali bahkan di pernikahan Zidan dia tak datang memberikan ucapan selama pada sang kakak.
“Kakak ipar baru, yang dulu kemana? Kau buang? Kenapa kau selalu mengambil apa yang aku suka” nada sakartis keluar dari mulut Kevin saat duduk berhadapan dengan Sheana dan juga Zidan. Saat ini di ruang tamu hanya ada mereka bertiga sedangkan kedua orang tua Kevin belum pulang dari acara kondangan rekan bisnis mereka.
Sheana tampak terkejut serta bingung saat melihat pria yang beberapa kali ia temui di bar ada dirumah Zidan. Dia tak tahu kalau pria itu adik dari sang suami, karena mereka belum pernah bertemu sama sekali.
Kevin yang tadinya menatap tajam Zidan langsung beralih menatap Sheana,
“Aku adik iparmu sekarang, seharusnya kau menikah denganku saja daripa menikah dengan orang yang suka mengambil milik orang lain. Kau harus waspada dengan pria disebelahmu, kalau dia bosan pasti kau akan ditinggalkan” sinis Kevin sesekali menatap Zidan yang sedari tadi memilih diam tapi tanganya terlihat terkepal menahan marah.
“Dia adikmu?” Sheana bertanya pada Zidan soal kebenaran ucapan Kevin.
“Iya dia adikku, maaf aku tidak memberitahumu sebelumnya” jawab Zidan jujur, dia langsung memegang tangan Sheana berharap istrinya tak mempermasalahkan hal itu.
Sheana langsung diam saja, dia menatap dua kakak beradik itu bergantian. Aura keduanya tampak tak bersahabat, mungkinkah mereka tidak pernah akur selama ini-batin Sheana.
“Lihat dia tidak jujur padamu, ya seperti itulah sikapnya. Kedepannya pun dia akan seperti itu, jadi nona Sheana lebih baik kau pikirkan lagi soal pernikahanmu ini. sebelum terlambat lebih baik kau tinggalkan saja dia, dia menikahi pasti karena kau hamil saja. kalau kau tidak hamil pasti dia tidak akan menikahimu saat ini. lepaskan saja pria disebelahmu” Kevin mencoba mempropokator Sheana, dia memanasi Sheana dengan kata-kata ketidak sukaannya pada Zidan.
__ADS_1
“Kevin cukup, daripada kau berbicara omong kosong lebih baik kau pergi sana. Kenapa kau masih begitu membenciku, bukannya aku sudah minta maaf padamu kan” tegas Zidan sedikit menaikkan suaranya menatap wajah adiknya.
“Entahlah kau bicara apa? tapi aku tidak percaya dengan ucapanmu. Pria yang suka di bar sepertimu bukan pria yang bisa di percaya” timpal Sheana menatap Kevin.
Kevin malah tersenyum miring mendengar ucapan Sheana barusan,
“Sekarang kau tidak percaya padaku nona Sheana tapi lihat kedepannya, pasti kau bakal melihat hal busuk dari kakakku” pungkas Kevin dan langsung berdiri.
“Dan kau kak Zidan yang selalu mengambil milikku, kau menang lagi kali ini dan kau berhasil membuat dua orang tersakiti” lanjut Kevin sebelum pergi, setelah mengatakan hal itu dia langsung pergi masuk kedalam kamarnya yang tak jauh dari ruang tamu.
“Kamu tidak percaya dengan ucapannya kan, aku tidak aka pernah meninggalkanmu. Dan aku tidak akan pernah melepas tanganmu dari ganggamanku” Zidan begitu menggenggam erat tangan Sheana, dia takut kalau istrinya akan percaya dengan ucapan Kevin barusan.
“Aku percaya denganmu, dan dengan penglihatanku” jawab Sheana menatap Zidan seakan mencari sesuati diwajah itu. jujur harinya sedikit risau karena ucapan Kevin tadi benarkah seorang Zidan akan bersikap seperti itu.
“Maksudnya?”
“Aku akan menganggap benar apa yang aku lihat, bagiku apa yang aku lihat dengan mata kepalaku sendiri itu kebenaran”
“Tapi sayang, apa yang kita lihat belum tentu sebuah kebenaran” sanggah Zidan.
“Aku rasa kita tidak perlu membahasnya, kalau kita membahasnya malah membuat kita bertengkar nantinya.” Ucap Sheana.
Zidan langsung diam, sambil terus melihat wajah Sheana dia jadi meresa takut kehilangan perempuan itu nantinya. Semoga saja rumah tangganya kedepan tak pernah ada masalah yang serius.
°°°
T.B.C
__ADS_1