PEREMPUAN NAKAL MILIK POLISI TAMPAN

PEREMPUAN NAKAL MILIK POLISI TAMPAN
Ep 69


__ADS_3

“Nggak sayang, nggak. Aku mohon jangan tinggilain aku, sayang...” teriak Zidan, ia langsung terbangun dari tidurnya dengan keringat yang bercucura. Mimpinya sungguh buruk barusan, dia langsung melihat kesebelahnya dengan gelisah namun saat melihat di sampingnya masih ada Sheana rasa gelisah itu berubah jadi lega karena masih mendapati sang istri yang tidur cukup nyenyak sambil membelakangi dirinya.


Zidan langsung berbaring kembali, kali ini dia mendekatkan dirinya pada Sheana memeluk perempuan yang sedang tidur itu dari belakang.


“Kenapa aku mimpi seperti itu, semoga saja itu hanya bunga tidur” gumamnya sambil memeluk Sheana. Ia menenggelapkan wajahnya di leher belakang istrinya mendusel disitu mengecup pelan.


“Kamu milikku sampai kapanpun milikku, dan tidak akan pernah bisa pergi dariku” ucap Zidan memeluk sambil mengusap perut Sheana dari belakang. Hal itu membuat orang yang di peluk terbangun karena sentuhan Zidan barusan.


Saat ini pun hari sudah menjelang subuh, Sheana langsung melihat sekilas kebelakang dimana Zidan memeluknya sambil berbicara sendiri.


“Kau kenapa sih ganggu aku tidur saja” kesal Sheana, amarahnya semalam masih ada dalam dirinya saat ini. dia langsung melepaskan pelukan Zidan dan bangun.


“Sayang tidur lagi, ini masih gelap” ucap Zidan meminta Sheana untuk berbaring kembali karena dia masih ingin memeluk sang istri.


“Tidur saja sendiri,” ketus Sheana dan malah beranjak turun dari tempat tidur. Ia sudah malas untuk tidur lagi.


Mendengar ucapan ketus nan dingin dari Sheana membuat Zidan sedikit terkejut. Ia mendudukkan dirinya sambil melihat pada Sheana.


“Kamu mau kemana?”


“keluar” jawab Sheana singkat.


“kenapa keluar, ini masih cukup pagi sayang. Tidur lagi saja,” ucap Zidan.


Bukannya menjawab Sheana malah terus berjalan keluar dari dalam kamar mereka, Zidan semakin di buat bingung. Ia juga ikut turun dari tempat tidur dan menyusul sang istri yang berjalan keluar dari kamar.


Sheana duduk di sofa ruang tengah, ia menyalakan televisi sambil duduk diam bahkan terkesan melamun.


“Kenapa malah duduk disini, kamu pengen nonton tv? Dikamarkan ada tv sayang”


“males ada kamu di sana” jawab Sheana.


“maksud kamu kamu males lihat aku”

__ADS_1


“Ya aku males lihat pria munafik sepertimu” mendengar itu mata Zidan melebar, ia cukup terkejut dengan perkataan Sheana.


“Kamu kenapa sih sayang, aku ada salah sama kamu. kamu bangun-bangun marah begini padaku” Zidan berjalan mendekat pada Sheana yang duduk di sofa. “Bilang, aku ada salah?” tanya Zidan saat dia sudah duduk di sebelah istrinya itu.


“Sudahlah ini masih cukup pagi untuk membahas hal itu, kau tidur saja kalau mau tidur. Aku bakal disini saja” tukas Sheana tanpa melihat Zidan.


Zidan langsung memegang bahu Sheana, ia tak akan pergi sebelum istrinya menjelaskan semua kenapa bersikap seperti ini padanya.


“Lihat aku..kenapa kau tampak marah padaku. Aku ada salah sama kamu?” tanya Zidan memegang bahu Sheana agar menatap kearahnya.


“Pikir aja sendiri, lepas” Sheana melepas paksa tangan Zidan dari bahunya.


“Sayang..” bentak Zidan yang berusaha menahan emosinya karena Sheana tidak bilang apa-apa.


“Mulai sekarang jangan pernah panggil aku sayang lagi, itu membuatku malah jijik” sinis Sheana dan memindah saluran televisinya. Ia masih belum mau menatap Zidan.


“Kalau tatap orangnya, jangan sibuk dengan televisi. Ngomong yang jelas jangan buang aku bingung seperti ini” Tegas Zidan yang sama sekali tak tahu apa salahnya sampai Sheana terlihat marah sekali pada dirinya.


Sheana tak mengindahkan ucapan Zidan, membuat Zidan mengepalkan tangannya dan menyahut remot tv begitu saja dari tangan Sheana. Dia langsung mematikan televisi dan melempar remot itu ke lantai saat Sheana berusaha mengambil darinya. remot itu pecah tak berbentuk karena bantingan Zidan yang cukup keras.


“Kamu yang apa-apaan sayang, kenapa kamu marah padaku.”


“Kamu tidak tahu aku marah padamu karena apa, kau memang munafik pria bermuka dua. Aku tanya kemarin kau kemana sampai lupa menjemputku?”


“Kan aku sudah bilang ada urusan dan ketemu komandan”


“Urusan, urusan dengan mantan tunanganmu. Kau menemani dia yang sakit begitu,..hebat sekali..” sinis Sheana menatap dingin pada Zidan.


Zidan yang mendengar itu tentu saja terkejut karena Sheana tahu kalau ia menemui Gladys kemarin.


“Sayang, darimana kau tahu kalau..”


“Ternyata benar kau menemui perempuan itu, wow..pantas aku dilupakan begitu saja” Sheana langsung berdiri menatap Zidan yang masih duduk di sofa menatap kearahnya.

__ADS_1


“Sayang aku bisa jelaskan semuanya, kamu salah paham” Zidan menahan tangan Sheana yang berdiri dari duduknya. Ia takut Sheana pergi begitu saja.


“Kau bilang salah paham, salah paham apanya sampai memeluk begitu. Kau masih cinta dengannya? Kalau masih cinta kembali saja pada perempuan itu tidak usah perdulikan aku” tukas Sheana.


“Kamu bicara apa sih, siapa yang masih mencintai perempuan itu. aku mencintaimu,” Zidan ikut berdiri dia menggenggam tangan Sheana meyakinkan perempuan tersebut kalau cintanya memanglah untuk Sheana seorang.


“Aku bicara kenyataan, apa aku salah.” Balas Sheana sambil melepaskan tangan Zidan.


“Sayang tolong percaya padaku, aku sudah tidak mencintai Gladys lagi. Cintaku hanya kamu saat ini. tolong percaya padaku” lirih Zidan.


“Lepas..aku tidak mau dipegang oleh pria munafik sepertimu. Dari caramu memeluknya saja aku bisa tahu kalau kau masih mencintainya, kau perduli padanya kan. dan hatimu ini hanya milik dia kan.” ucap Sheana smabil memegang dada Zidan.


“Kamu ngomong apa, rasakan sendiri hatiku berdebar untuk siapa” kesal Zidan dan dia mendekat tangan Sheana di dadanya meminta perempuan itu untuk merasakan sendiri bahwa hatinya untuk siapa.


Sheana diam saja, ia langsung menarik tangannya.


“Entah hatimu untuk siapa, aku rasa cukup perdebatan pagi ini. aku ma ke apartemen Satria, kau sarapan di luar saja nanti. Aku sedang malas melihat pria bermuka dua sepertimu” ucap Sheana dan akan pergi meninggalkan Zidan. Tapi Zidan menahan tangannya sebelum ia melewati pria itu.


“Aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi, kita selesaikan dulu masalah ini. aku tegaskan sekali lagi aku nggak cinta sama Gladys. Aku hanya cinta padamu Sheana...ayolah jangan begini. kasihan anak kita yang ada di dalam perutmu, dia pasti sedih merasakan orang tuanya bertengkar seperti ini.” Zidan tampak memelas sambil memegang perut Sheana. Ia menatap sendu istrinya yang menatap dingin padanya saat ini.


“Jangan pegang anak-anakku, mereka anakku bukan anakmu. Kau begini padaku hanya karena ingin bertanggung jawab kan..mulai sekarang tidak usah lagi baik padaku. Soal anak yang aku kandung ini aku bisa merawatnya sendiri. aku ke apartemen Satria dulu” ucap Sheana berusaha untuk tenang. Pertengkaran mereka tadi juga berdebat dengan tenang tanpa berteriak atau memaki seperti biasanya.


Sheana melakukan itu semua karena ia sadar kalau dia sedang hamil, misalkan kalau ia berkata buruk pasti anaknya juga mendengarnya dari dalam perut. Dia tak ingin ketika anaknya lahir nanti bersikap buruk pada orang lain.


“Dia juga anak-anakku, aku behak memegangnya. Dan omonganmu sangat salah. Kata siapa aku hanya bertanggung jawab denganmu, aku cinta padamu Sheana. Kalau aku tidak mencintaimu mana mungkin aku bertahan sampai saat ini dengan sikapmu yang keras kepala seperti ini”


“Sudahlah tidak usah membahasnya, entah kau cinta padaku atau tidak aku tidak perduli. Yang ku perdulikan hanya anak-anakku sekarang. Mulai sekarang terserah dirimu mau apa, kalau mau balikan dengan tunanganmu itu juga boleh” ucap Sheana, dia langsung berjalan pergi meninggalkan Zidan yang terdiam di tempatnya.


Wajah Zidan berubah serius saat Sheana melewati dirinya saat ini, dia langsung menyusul Sheana yang akan keluar dan menarik perempuan itu paksa.


“lepas..lepaskan aku” berontak Sheana.


Bukannya melepaskan Sheana Zidan malah menghimpit istrinya ketembok dan menciumnya cukup dalam bahkan mencium paksa bibir manis Sheana meskipun perempuan itu sudah memberontak. Sheana terus memberontak saat Zidan menciumnya paksa, baru kali ini dia tak terpancing ciuman mematikan dari Zidan biasanya saja ia menerimanya. Tapi tidak kali ini, kecewanya sudah cukup besar pada Zidan. Dia yang keras sudah menaruh kepercayaan pada pria itu bahkan sudah berani membuka hatinya tapi malah menyakiti dirinya.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2