
Saat ini sudah jam sembilan pagi, Zidan baru saja bangun dari tidurnya. Ia langsung menuju ke dapur mencari istrinya dan ia mendapati perempuan yang dia cari tengah duduk di meja makan sambil menikmati segelas susu di depannya. Di meja makan juga ada sekotak Pizza serta minuman dinginnya.
“Kamu beli Pizza sayang?” tanya Zidan sambil mendekat kearah Sheana yang langsung mendongak saat mendengar suara dari sang suami.
“Kamu sudah bangun, sini sarapan aku belikan kamu Pizza” pinta Sheana agar Zidan duduk di sebelahnya.”Aku minta maaf karena nggak masak apa-apa, aku tadi muntah-munta waktu nyium bau masakan. Jadi aku nggak masak” lanjut Sheana berkata jujur, dia menunduk merasa bersalah.
“Kamu muntah, kok bisa kamu sakit?” Zidan berjalan cepat kearah Sheana wajahnya terlihat cemas dan langsung memegang dahi Sheana memeriksa suhu tubuh perempuan itu.
“Aku nggak sakit, turunin” perintah Sheana smabil menyingkirkan tangan Zidan dari dahinya.
“Kalau nggak sakit kenapa muntah-muntah coba,” Zidan langsung mengambil duduk disebelah Sheana menatap khawatir perempuan itu.
“Mungkin karena aku hamil, aku dulu pernah lihat kalau orang hamil sering mual muntah” jawab Sheana, sambil mengambilkan sepotong Pizza dan menaruhnya di piring yang ada di depan Zidan.
“Buruan makan,” lirih Sheana.
“Kamu serius,? Nanti kalau kamu sakit bagaimana?”
“asli lebay kamu ah, kalau nggak percaya kamu cari aja di internet orang hamil itu bagaimana” kesal Sheana karena Zidan tak percaya kalau dia tidak sakit.
“Iya aku percaya, nggak usah cemberut begitu. Aku hanya takut saja kalau kamu sakit, kamu jga makan dong” pungkas Zidan sambil menaruh sepotong pizza juga ke piring Sheana.
“Nggak kamu aja, aku mual kalau makan. Aku minum susu aja” tolak Sheana, karena dia merasa mual kalau makan.
“Kamu dapat susu darimana? Itu susu ibu hamil kan?”
“Aku beli tadi ke supermarket sekalian beli sayuran dan bahan makanan lainnya”
“Kamu pergi sendiri?”
Sheana mengangguk, sambil meminum susunya lagi.
“Harusnya kamu bangunin aku, biar aku antar”
“Aku bisa naik mobil sendiri, dan kamu juga lelah.”
“Selelahnya aku kalau kamu yang nyuruh lelah aku juga hilang, dan walaupun kamu bisa nyetir sendiri besok-besok jangan nyetir lagi.”
“memang kenapa? Aku suka nyetir,”
“Kamu hamil sekarang beda dengan dulu,” cemas Zidan, ia takut calon anaknya kenapa-kenapa kalau Sheana menyetir sendiri. karena dia tahu, istrinya itu kalau membawa mobil cukup kencang dan dibatas ambang normal.
Sheana diam saja, ia tidak membantah tetapi nantinya juga dia tidak menuruti. Ia memilih diam karena menghormati Zidan sebagai suami,
“Kamu dengerkan yang aku bilang” tegas Zidan saat Sheana tidak menjawabnya.
“Hemm,” Sheana langsung menegak susunya hingga tandas.
.....................................
Zidan memakai celana pendenya menyilangkan kaki sambil menonton televisi dia menikmati waktu luangnya di rumah. Tiba-tiba Sheana langsung membaringkan tubuhnya menjadikan paha Zidan sebagai bantalnya dia masuk kesela-sela lengan Zidan sehingga membuatnya terapit lengan koko pria tersebut.
Zidan tentu saja langsung melnunduk kearah Sheana melihat perempuan itu yang berbaring dipahanya.
__ADS_1
“Kenapa? Kamu nggak suka aku begini?” tanya Sheana menatap Zidan yang terus melihatnya.
“Aku nggak bilang,” jawab Zidan
“Terus kenapa natap aku begitu?”
“Heran aja, perempuan yang dulu kasar ternyata bisa manja juga” ucap Zidan sambil memegang wajah Sheana mengecup singkat bibir perempuan itu.
“siapa yang manja, aku nggak manja” sangkal Sheana melihat Zidan.
“Iya nggak, jangan kesel begitu dong” kekeh Zidan sambil mengusap gemas pipi Sheana.
“Hari ini mau kemana sayang,?” tanya Zidan.
“Nggak mau kemana-mana, memang mau kemana?”
“Ya siapa tahu kamu mau kemana, aku siap anter”
“Aku lagi nggak pengen kemana-mana” jawab Sheana, dia memang sedang tidak ingin kemana-mana saat ini.
“Kerumahmu saja yok atau kerumah kakekmu” ucap Zidan.
“Ngapain kerumahku males kesana, dan buat apa kerumah kakekku dia nggak bakal nganggep kita keluarga. Dia juga marah denganku”
“Kenapa kakekmu marah denganmu?”
“Dia benci denganku, ditambah sekarang aku menipunya. Semakin banyak kebenciannya padaku”
“Kau menipunya? Kenapa kakekmu sendiri kau tipu?”
“Oke, aku tidak menceramhimu, lalu katakan apa masalahnya?” pungkas Zidan yang ingin tahu.
“Aku menipunya dengan bilang kalau aku mau menikah dengan pria pilihannya tetapi aku malah membohongi dirinya”
“kamu sempat di jodohkan,?”
“Bukan perjodohan sih, tapi aku dijual oleh kakek tua bangka itu” tukas Sheana, dia langsung duduk sambil melihat Zidan.
“Ya sudah tidak usah diceritakan, itu masalahmu dengan kakekmu.” Ucap Zidan saat melihat Sheana yang seperti tidak ingin membahas masalah perempuan itu dengan kakeknya.
“Ceritakan hal lain saja soal keluargamu, karena aku belum tahu keluargamu seperti apa dans iapa saja” lanjut Zidan yang penasaran siapa saja keluarga Sheana.
“Masa kau tidak tahu keluarga Ravero, polisi sepertimu masa tidak tahu. bukannya polisi pro dengan keluargaku” ucap Sheana seakan tak percaya kalau suaminya itu tidak tahu tentang keluarga Ravero.
“Aku benar-benar tidak tahu soal keluarga mu,”
“kakekku Hadi Ravero hanya punya anak kembar, yaitu Johan dan Jason. Papaku Johan punya anak kakakku, aku dan Selina. Sedangkan OM Jason dia punya anak kembar namanya Julian dan James. Julian ada di Jakarta sekarang sedangkan James ada di Amerika.” Jelas Sheana menceritakan soal keluarganya.
“Jadi kamu punya dua sepupu laki-laki”
“hemm,”
“aku minta maaf sayang, kalau dari pihak ibumu kau punya berapa saudara?” lirih Zidan.
__ADS_1
“Aku tidak tahu soal keluarganya, tapi kata Satria dia punya dua adik jadi tiga adik dari perempuan itu” jawab Sheana.
“Ayo sayang,” Zidan tiba-tiba saja berdiri dari duduknya, ia mengulurkan tangannya pada sang istri.
“Mau kemana?”
“Ke apartemen Satria, dia adikmu kan. aku belum banyak mengenalnya, jadi aku ingin bertemu dengannya bicara dari hati-kehati”
“Males,”
“Mau ke Satria atau kak Sean, karena sekarang aku suamimu jadi aku ingin mengenal keluargamu yang lain”
Sheana menatap diam Zidan, dia kesal karena suaminya keras kepala. Kalau suruh memilih tentu saja dia tak ingin keduanya, dua-duanya bukan urusannya meskipun kemarin Satria memberikan banyak saran padanya.
“Ayo, kalau nggak mau ya sudah. Aku pergi sendiri, nanti jangan cari-cari aku” ancam Zidan sambil melihat Sheana yang tak kunjung menerima uluran tangannya.
“menyebalkan” dengus Sheana mau tak mau dia menerima uluran tangan Zidan. Ia langsung berdiri dan pria itu menggandeng tangannya erat mengajaknya keluar dari apartemen. Satria.
.............................
“Wow, mimpi apa ini ada kakak sama kakak ipar disini” ucap Satria sambil membawakan dua minuman kaleng.
“Tolong ambilkan segelas air putih saja untuk kakakmu” ucap Zidan pada Satria.
“Oh iya aku lupa kalau kak Sheana hamil” Satria menepuk jidatnya sendiri karena lupa kalau Sheana tengah hamil. Dia malah membawakan dua minuman bersoda untuk tamunya tersebut. Satria langsung berjalan kembali ke dapurnya untuk mengambil air putih untuk Sheana.
Sheana sendiri melihat Zidan, dia tampak terharu karena Zidan begitu memperhatikan dirinya dan anaknya. Padahal dia sendiri tadi sudah ingin bilang begitu pada Satria tapi Zidan sudah bilang lebih dulu.
“kenapa sayang? Kamu marah karena aku larang minum soda?” tanya Zidan karena Sheana melihat dirinya.
“Nggak, aku terharu saja karena kamu begitu memperhatikan diriku”
“Jelas aku perhatian padamu dan anak kita. Aku suamimu, apa salahnya aku perhatian pada istri sendiri” ucap Zidan.
Mata Sheana berkaca-kaca mendengar ucapan itu, ia merasa di cintai seseorang. Ini bukan pertama kalinya Zidan begini padanya, hal manis ini sudah kesekian kalinya pria itu lakukan.
“Kalian kenapa saling tatap begitu?” tanya Satria yang duduk dambil menaruh segelas minuman didepan Sheana.
“Nggak pa-pa,” jawab Sheana dan Zidan bersamaan.
“Kompak, romantis sekali” ucap Satria.
“bang Zidan dan kakak ada perlu apa kesini?” tanay Satria yang penasaran.
“Bukan aku yang ada perlu tapi dia” ucap Sheana sambil menujuk Zidan.
“Bang Zidan? Memang bang Zidan ada perlu apa denganku?” heran Satria.
“Aku ingin tahu saja keluarga istriku seperti apa, sekaligus ingin menegaskan kalau aku tidak akan pernah menyakiti istriku. Dan kau boleh memukulku seperti yang kau tanyakan padaku waktu itu kalau aku sampai membuat kakakmu sakit hati” tukas Zidan menatap Satria.
“Kalian kapan saling mengutarakan kesepakatan itu?” tanya Sheana bingung, karena dari cara bicara Zidan. Pria itu pernah bertemu Satria sebelum dia menikah dengannya.
Ya, Zidan dan Satria pernah bertemu sebelumnya. Zidan saat itu menemui Satria di Semarang karena ia mencari Sheana yang menghilang tak ada kabar setelah kejadian waktu itu di apartemen.
__ADS_1
°°°