
Sheana masuk kedalam kamarnya sehabis dari luar melihat Zidan yang sedang membuat roti bakar untuknya. Baru saja ia masuk ponsel miliknya yang tadi ia tinggal di nakas meja sebelah tempat tidur berbunyi membuatnya segera mengambil ponsel tersebut. Bunyi ponsel itu mengundang rasa penasarannya tentang siapa yang menelpon dirinya malam-malam begini.
Sheana memegang ponselnya miliknya itu melihat siapa yang menghubungi dirinya, tertulis nama Toni disitu membuat guratan didahi Sheana. Ia heran kenapa temannya itu malam-malam begini menelpon dirinya.
“Ya, halo. Kenapa Ton?” tanya Sheana saat mengangkat panggilan tersebut.
“Kau dimana sekarang?” terdengar pertanyaan Toni soal keberadaan Sheana sekarang.
“Aku dirumahlah dimana lagi, ada apa kau jam segini menghubungiku” tukas Sheana.
“Bisa temui aku sebentar di club” ucap Toni terdengar memelas.
“Kau gila, untuk apa aku club. Aku sedang hamil sekarang, aku tidak sudi kalau harus minum alcohol”
“Sheana ayolah, kau kemari temui aku. aku ingin bicara padamu, aku ingin bertemu denganmu Sheana” ucap Toni yang sedikit terdnegar meracau.
“Kau mabuk?” tanya Sheana karena mendengar suara racauan dari Toni.
“Apa kalau aku bilang, diriku mabuk kau bakal menemuiku kesini” ucap Toni.
“Toni jangan bercanda, untuk apa kau mabuk. Kau polisi kenapa malah mabuk-mabukan di club seperti itu. pulanglah, aku tidak akan datang” tukas Sheana tak habis pikir dengan Toni yang notabennya seorang polisi tapi malah masuk ke Club malam.
“Sheana, aku merindukanu. Kemarilah temui aku, dimana sahabatku yang dulu” lagi Toni bahkan terdengar semakin memelas.
“Sayang roti bakarnya sudah jadi, ayo makan. Kau sednag bicara dengan siapa?” tiba-tiba saja Zidan membuka pintu saat Sheana tengah berbicara dengan Toni di seberang sana.
“Iya sebentar ya, ak bicara dulu dengan temanku” jawab Sheana.
“Siapa?” tanya Zidan penasaran dan langsung mendekat.
Sheana diam sejenak, ia tampak berpikir sambil was-was kalau Zidan tahu yang berbicara dengannya sekarang Toni.
“Aku tanya siapa yang bicara denganmu sayang?” lagi Zidan begitu penasaran dan ingin tahu siapa yang berbicara dengan istrinya.
“Toni” jawab Sheana akhirnya, dia tidak mau berbohong soal itu.
“Apa? kenapa kau mengobrol dengannya. Matikan,” ucap Zidan tampak terkejut dan terlihat kesal. Ia segera meraih ponsel Sheana.
“Untuk apa kau menelpon istriku malam-malam begini, kau tidak lihat jam sekarnag jam berapa. Aku peringatkan lagi..”
“Kau apa-apaan sih kenapa main ambil ponselku” Sheana kembali mengambil ponselnya dari tangan Zidan.
“Kamu yang apa-apaan, kenapa malam-malam mengangkat telpon dari pria lain. Aku tidak suka kalau kamu dekat dengan Toni”
“Dia temanku, wajar kalau aku..”
“Aku tidak perduli, itu temanmu atau bukan. Yang jelas aku tidak suka dengan pria yang menaruh perasaan pada istri orang” ucap Zidan memotong ucapan Sheana. Dia benar-benar marah saat ini, Zidan langsung keluar begitu saja setelah berdebat dengan sang istri.
Sheana melihat ponselnya sekilas yang sudah di matikan leh Zidan tadi, dia melempar begitu saja ponselnya itu ke tempat tidur dan berjalan keluar menyusul Zidan yang marah saat ini.
“menyebalkan,” ucapnya smabil menghentakan kaki pergi keluar.
“Mau kau apakan roti bakar itu?” tanya Sheana saat melihat Zidan yang memegang dua piring roti bakar di tangannya membawanya berjalan pergi.
“Aku buang” jawab Zidan sambil berjalan kearah tempat sampah.
“Kau gila, kenapa kau buang percuma kau membuatkan untukku kalau akhirnya kau buang begitu saja” tukas Sheana berjalan menghampiri suaminya.
Zidan menghentikan langkahnya sambil melihat kearah sang istri.
“Memang kau mau dengan roti bakar ini, aku pikir kau tidak mau dan lebih memilih telponan dengan temanmu itu” cibir Zidan.
Sheana hanya diam saja dan mengambil sepiring roti bakar dari tangan Zidan, membawanya ke meja makan.
“Ternyata kamu cemburuan juga jadi orang,” ucap Sheana sambil memakan roti bakar buatan Zidan.
Zidan langsung berjalan mendekat, dan menarik kursi dihadapan Sheana.
“Suami mana yang tidak cemburu istrinya mengobrol dengan pria lain” tegas Zidan menatap serius sang istri.
“Tapi dia temanku satu-satunya, masa aku tidak bolek mengobrol sama sekali dengannya” protes Sheana.
“Cari teman lain, dia orang aneh tidak usah kau jadikan teman” ucap Zidan.
“Kau tahu dari mana kalau dia orang aneh, kau tidak mengenalnya sayang”
“Aku mengenalnya sudah lama, dia orang misterius kamu juga pasti menyadarinya. Dia sudah tahu kalau kau sahabatnya saat kecil dulu tapi kenapa dia cuek denganmu sekaan tak pernah kenal. Padahal kau sering ke kantor polisi menemuiku”
“Sudahlah kepalaku pusing dengar kau marah-marah tidak jelas. Dan soal Toni itu maslaahku, dia temanku” pungkas Sheana yang mulai merasa kram perut saat mendengar Zidan terus marah.
__ADS_1
Zidan menatap dingin Sheana, dia tampak memikirkan sesuatu. Entah kenapa dia menaruh curiga pada Toni kalau pria itu tidak beres.
Sheana yang menyadari ditatap terus oleh suaminya langsung menatap balik
“Kenapa melihatku begitu?” tanyanya pada Zidan.
“Tidak apa-apa, lanjutkan saja makanmu” ucap Zidan dan dia langsung melahap roti bakarnya sambil memalingkan wajah.
Sheana cemberut mendengar jawaban itu entah mengapa tipa-tiba suasana hatinya berubah. Ia ingin dimanja oleh suaminya. Dia langsun berdiri dari duduknya saat ini
“Mau kemana sayang?” tanya Zidan melihat aneh sang istri yang tiba-tiba saja berdiri.
Sheana tidak menjawab dia malah berjalan mendekati Zidan dan langsung duduk di pangkuan pria itu.
“Suapi..” ucapnya dengan sorot mata memohon bak anak kecil.
Mendengar serta melihat hal itu membuat Zidan terperangah bingung, kenapa tiba-tiba istrinya bersikap manja begini padahal belum ada beberapa menit lalu mereka berdebat.
“Kamu mau aku suapi? Kenapa tiba-tiba begini?” heran Zidan.
“Kamu tidak mau menyuapiku?”
“Mau, jangan ngambek” jawab Zidan smabil menahan lengan Sheana, dimana perempuan itu akan berdiri dari pangkuannya.
Zidan langsung menyuapi roti bakar pada istrinya,
“enak kan buatanku?” ucap Zidan meminta pendapat.
“iya enak. Kenapa masakkanmu selalu enak bahkan lebih enak dariku”
“Ya karena aku pintar masak” jawab Zidan membanggakan diri.
“Sombong”
“Loh kok sombong, siapa yang sombong sayang. Kan kenyataan,”
“Nyebelin, aku tidak mau anakku sepertimu nantinya” ucap Sheana smabil cemberut mengusap perutnya.
“Kok gitu, itu bukan anak kamu saja sayang. Tanpa kontribusiku mereka tidak mungkin ada di dalam sini” ucap Zidan tak terima sambil memegang perut istrinya itu.
“Mereka pasti mirip sama aku dan kamu nantinya” pungkas Zidan.
“Aaaa” Sheana membuka mulutnya minta disuapi roti bakar lagi.
“Kau mulai ya, kau membangunkan hormon ibu hamil” geram Sheana dan memegang wajah suaminya meraub bibir sang suami. bahkan ia tampak mendominasi ciuman itu.
Zidan yang tadinya sudah memegang roti bakar kembali meletakkannya di piring dan membalas ciuman istrinya. Bibir mereka saling bertemu dan lidah mereka saling beradu, keduanya saling ******* satu sama lain dengan posisi yang amsih sama Sheana di pangkuan Zidan ciuman mereka semakin panas dan semakin menuntut. Zidan langsung menggendong istrinya, dia melepaskan ciuman itu saat sudah mengangkat Sheana.
“Mau dilanjut disini atau di dalam,?” ucapnya menggoda sambil mengedipkan sebelah matanya.
“terserah” jawab Sheana sambil tersenyum dan mengalungkan tangannya di leher Zidan. Zidan langsung mencim kembali Sheana sambil berjalan membawa sang istri ke kamar mereka.
.................................................
Pagi-pagi Sheana dan Zidan sudah bangun mereka sama-sama kelaur dari kamar mandi mengenakan kimono mandi berwana putih dengan rmabut mereka berdua yang sama-sama basah. Bahkan Sheana tampak cantik degan rambut sebahunya yang terurai.
“Mau berjemur?” tanya Zidan yang berdiri di belakang sang istri sambil mengeringkan rambut sang istri dengan handuk.
“Boleh, badanku juga sakit semua. Gara-gra dirimu semalam merudal diriku berkali-kali” pungkas Sheana dengan tatapan kesal.
Zidan hanya tersenyum jahil saja menanggapinya,
“Yang salah siapa coba, yang ngajak duluan juga siapa” goda Zidan menatap sang istri dengan intens.
“Nggak usah dibahas,” Sheana mendorong pelan wajah Zidan dengan telapak tangannya. Ia jadi salah tingkah karena tatapan Zidan sekaligus dnegan ingatannya semalam dimana dia yang terus manja.
“Ppi kamu kenapa merah? Demam? Gara-gara kita berendam tadi?” tanya Zidan yang langsung terlihat cemas melihat wajah Sheana yang memerah.
Reflek Sheana langsung memegang wajahnya sendiri, wajahnya terasa panas dan memerah. Dia benar-benar sudah ter zidan-zidan oleh suaminya sendiri, hatinya benar-benar sudah milik suaminya saat ini.
“ngg..nggak, a..ayo berjemur” Sheana langsung pergi begitu saja, karena dia salah tingkah dan malu.
Zidan langsung berjalan menyusul Sheana yang keluar ke balkon lebih dulu, perempun itu sudah duduk di kursi yang setengah berbaring. Tiba-tiba saja Zidan langsung sedikit menggeser istrinya kedepan dan dia langsung duduk di belakangnya.
“Kamu kenapa sih?” kesal Sheana karena Zidan tiba-tiba duduk di tempat yang sama dengannya.
“Dasar nggak peka” batin Sheana, karena Zidan tidak peka dengannya yang gugup.
Zidan malah memeluk Sheana dari belakang dan mengusap lembut perut Sheana.
__ADS_1
“Aku mau kita terus harmonis seperti ini kedepannya, kamu jangan pernah pergi tinggalin aku ataupun anak kita” ucap Zidan sedikit berbisik ditelinga sang istri.
“hemm, ngapain juga aku pergi” jawab Sheana, ya kenapa juga dia harus pergi. Ia sudah jatuh cinta sepenuhnya dengan Zidan egonya sudah hilang. Rasanya ia hanya ingin bermanja-manja dengan suaminya.
“Janji,” Zidan menaruh kepalanya di pundak Sheana sambil melihat wajah perempuan itu.
“Janji dan Sheana Ravero tidak pernah mengingkari janjinya” jawab Sheana. Zidan yang mendengar itu memegang dagu Sheana dan mengarahkan kepadanya bibir Zidan langsung mengecup bibir Sheana yan candu baginya dan terasa begitu manis.
Saat mereka tengah ciuman di bawah sinar matahari pagi bel rumah mereka berbunyi membuat ciuman itu terlepas dan mereka berdua saling lihat satu sama lain.
“Siapa yang datang?” tanya Sheana pada suaminya.
“Tidak tahu sayang” jawab Zidan.
“Apa mungkin Satria, tidak usah dibuka kan saja. ayo lanjutkan lagi, aku pengen kamu cium aku lagi” ucap Sheana yang meminta dicium lagi oleh suaminya.
“Agresif banget istriku ini,” ucap Zidan dan akan mencium Sheana lagi tapi bel pintu kembali berdering.
“Siapa sih,:” kesal Sheana dia langsung berdiri dari duduknya saat ini.
“Sabar, nggak boleh marah-marah” ucap Zidan memperingatkan. Sheana hanya diam sambil menahan kekesalannya.
“Ya sudah ayo bukain pintunya dulu, kita lihat itu Satria atau bukan” pungkas Zidan dan mengajak sang istri untuk kedepan membukakan pintu tamu mereka.
Keduanya langsung berjalan keluar kamar untuk membukakan pintu, Zidan berjalan sambil merengkuh istrinya yang ada disebelahnya saat ini.
Saat sudah sampai didepan pintu, Zidan langsung membukakannya. Betapa terkejutnya dia saat melihat kedua orang tuanya sudah berdiri didepan mereka saat pintu di buka.
“Mama, papa,” ucap Zidan dan Sheana bersamaan.
“OH pantes lama bukain pintunya pa, lihat mereka” ucap Bunga memperhatikan sambil menggoda anak dan menantunya yang sama-sama masih mengenakan kimono mandi. dia tahulah arti alasan kedua orang didepan mengenakan baju itu.
“Apa?” bingung Zidan sambil melihat dirinya dan juga sang istri. Dan dia baru sadar kalau mereka masih dengan kimono mandi.
“Mama sama papa kenapa kesini?” tanya Zidan pada kedua orang tuanya.
“Tanyakan di dalam saja, mari masuk ma pa” sahut Sheana menyuruh mertuanya untuk masuk kedalam apartemennya.
“Kamu kebangetan Zidan, bukannya papa sama mama sudah maafin kamu. tapi apa kamu sama sekali nggak pernah ngajak istri kamu kerumah kita. Hampir sebulan kalian tidak main kerumah” protes ayah Zidan pada anaknya.
“Mama kamu sampai marahi papa gara-gara ngira papa masih marah sama kamu” lanjut ayah Zidan.
“bener itu, kalian kenapa nggak pernah main kerumah sih” ucap mama Zidan dan langsung duduk di sofa.
“Kita berdua sibuk ma” jawab Zidan.
“Mama sama papa mau minum apa, aku buatkan” ucap Sheana menawri minum mertuanya.
“Apa saja Sheana, oh iya kalian sudah ke dokter kandungan. itu kandungan Sheana sudah lebih besar dari sebeluan lalu”
“Sudah ma,” jawab Zidan.
“Aku ke kamar dulu buat ganti baju ma, nanti aku buatkan minum” ucap Sheana dan akan berganti baju lebih dulu.
“Iya nak, maaf ya mama sama papa pagi-pagi sudah ganggu kalian” ucap Bunga merasa tak enak dengan menantunya.
“iya tidak apa-apa ma” jawab Sheana sambil tersenyum. Sheana langsung pergi ke kamarnya untuk berganti baju.
“Lalu gimana kata dokter soal kandungan istri kamu?” tanya bunga penasaran.
“Ibu dan anaknya sehat tidak ada masalah. Sheana hamil anak kembar” ucap Zidan.
“Wah apa iya, wiih ma kita langsung punya cucu dua” ucap ayah Zidan yang terlihat senang.
“benar pa, masyaallah. Kita bentar lagi punya cucu dua sekaligus pa” bunga tak berhentinya untuk bersyukur.
“Tapi kok bisa kembar, prasaan keluarga kita nggak ada yang kembar. Kalian program sebelumnya?” tanya Bunga.
“Nggak ma, dari keluarga Sheana ada keturunan kembar. Papa Johan kan kembar ma, masa mama tidak tahu”
“masa papa mertua kamu kembar?” keget Bunga dan juga suaminya.
“Iya, papa sama gimana sih. Nikahan aku kemarin apa nggak tahu kalau ada dua wajah yang mirip” heran Zidan geleng kepala sendiri melihat wajah orang tuanya yang tampak bingung.
“Nggak, oalah pantes ma. Waktu kita pamit pulang kita kan papasan dengan orang yang mirip besan kita. Yang kita bingung kok tiba-tiba pak Johan ada di depan sedangkan tadi ada di ruang makan dengan tamu-tamunya” ucap ayah Zidan mengingatkan sang istri pada kejadian itu.
“Oh iya pa, kok mama baru inget ya. Syukurlah kalau kita punya keturunan kembar pa. Mama suka kalau cucu kembar”” ucap mama Zidan dan diangguki oleh sang suami.
“Ya sudah, mama sama papa tunggu sini. Aku mau ganti baju juga” ucap Zidan dan permisi untuk ganti baju.
__ADS_1
°°°
T.B.C