PEREMPUAN NAKAL MILIK POLISI TAMPAN

PEREMPUAN NAKAL MILIK POLISI TAMPAN
Ep 65


__ADS_3

Sudah sehari lebih Hendra kembali ke Semarang dia sedari pulang dari Jakarta sama sekali belum bicara dengan sang istri membuat Laras merasa aneh dan heran dengan suaminya tersebut. Ia yang sedari kemari juga sibuk dengan acara yang akan di adakan oleh mertuanya terpaksa tak bertanya sama sekali pada sang suami yang terlihat beda.


Hal itu membuatnya gelisah dan menaruh curiga soal suaminya yang sudah bertemu dengan Sheana di Jakarta.


“mas..” Laras membuka pintu kamarnya dan melihat Hendra yang sedang mengambil baju tradisonal jawa serta blankon dari dalam lemari langsung menoleh kearah pintu. Tapi dia hanya melihat sekilas sang istri.


“Kamu nyiapin baju buat besok? biar aku saja. kamu diluar saja mas ngobrol sama ibu sama bapak soal acara besok” Laras berjalan medekati Hendra yang masih dengan kegiatannya tadi.


“Nggak usah aku saja,” tolak Hendra. Dia sebenarnya masih mencoba untuk memulai cara bagaimana bicara dengan istrinya.


Laras seakan tersentak baru kali ini suaminya itu menolak ia melayani keperluannya.


“Mas hendra sedang banyak pikiran? Apa perlu aku pijat kepalanya mas” ucap Laras sambil memperhatikan suaminya yang membelakangi dirinya saat ini.


“Nggak,” jawab pria paruh baya itu singkat.


Laras semakin yakin kalau ada yang tidak beres dengan suaminya saat ini. wjahnya semakin tampak gelisah karena melihat wajah Hendra yang begitu dingin bahkan tekesan mengabaikan dirinya. Pria itu terus melewati dirinya tak mengatakan apapun, selama dua puluh dua tahun mereka menikah Hendra tak pernah bersikap seperti ini selama hampir dua hari. Biasanya mereka bertengkar tapi tak smapai satu hari sudah berbaikan lagi.


“Maaf mas aku mau tanya, apa mas Hendra marah denganku sekarang?” tanya Laras pada suaminya itu.


Hendra yang tadinya akan berjalan kearah meja kerjanya, langsung meliat kearah sang istri.


“Menurutmu?” dia malah melempar pertanya tersebut.


Laras menelan ludahnya dengan berat, perasaanya sepertinya benar kalau Hendra sudah bertemu dengan Sheana.


“Sini kamu duduk,” ucap Hendra menyuruh Laras untuk duduk di kursi depannya sedangkan dia duduk di kursi kerjanya.


Laras menuruti apa kata sang suami, dia duduk sambil melihat wajah Hendra yang tampak sedang menimang-nimang perkataan yang akan di keluarkan.


“kenapa kamu bohong sama aku selama ini?” tanya Hendra langsung pada intinya. Karena dia tipe ornag yang tidak suka berbasa-basi saat sudah memendam apa yang ingin diutarakan.


“ma..maksudnya mas?”


“Nggak usah pura-pura Laras, aku sudah tahu semuanya” “Kau tidak perlu bohong denganku,” tegas Hendra menatap wajah istrinya yang semakin gelisah.


“Bohong apa mas? Aku nggak ngelakuin apa-apa?”


“Stop Laras, tinggal jujur apa susahnya.” Bentak Hendra.


“anakmu masih hidupkan, dan dia bukan anak dengan suamimu sebelumnya” pungkas Hendra.


“Mas..mas Hendra tahu so.soal itu” mata Laras mulai berkaca-kaca dia benar-benar takut akan kemarahan suaminya selanjutnya. Dia langsung berdiri dan bersimpuh didepan sang suami.


.........................................


Zidan berlari kecil mengitari mobil untuk membukakan pintu mobil istrinya, mereka saat ini baru saja sampai dirumah Johan. Johan tengah mengadakan acara makan bersama dirumah karena dia berhasil melakukan tanda tangan kontrak dengan pengusaha Brazil.


“Ayo sayang,” ucap Zidan setelah membukakan pintu untuk Sheana, dia mengulurkan tangannya didepan sang istri.


Sheana dengan senang hati menerima uluran tangan itu, ia menggenggam erat tangan suaminya smabil tersenyum.


“terimakasih” ucapnya saat sudah berdiri di sebelah Zidan dan tangannya ia lingkarkan di lengan suaminya.


“Sama-sama, ayo..papamu pasti menunggumu saat ini.” ucap Zidan dan mengajak Sheana berjalan. Baru saja mereka berjalan, Zidan tiba-tiba saja berhenti membuat Sheana otomatis juga ikut berhenti.


“kenapa?” tanya Sheana tak mengerti kenapa tiba-tiba sang suami menghentikan langkahnya.


“Nanti misalkan adikmu atau mama mu berbicara sedikit tidak enak kau dengar atau memprovokasimu. Aku mohon sayang jangan kamu bantah ataupun kamu lawan” Zidan menasehati Shean.


“kalau mereka keterlaluan masa aku diam saja, aku bu..”


“Suttttt,” Zidan meletakkan jari telunjuknya di mulut Sheana.


“Walupun mereka begitu tetap jangan di lawan, kamu harus tahan emosi pikirkan soal anak kita. Mereka pasti nggak mau mamanya marah-marah sama orang, mereka bisa merasakan nanti. Nggak baik kalau marah-marah” Zidan begitu lembut dalam menasehati istrinya, karena dia ingin membuat Sheana menjadi perempuan yang lembut. Ia sebagai suami tentu saja harus membimbing istrinya menjadi lebih baik lagi.


“Tapi aku nggak bisa kalau cuman diem aja,”


“Bisa, udah. Ingat apa yang aku katakan padamu. Kalau kamu nggak nurut sama aku, aku bakal marah sama kamu sayang” pungkas Zidan sekaligus memperingatkan istrinya itu.


“hemm, ayo” sungut Sheana, antara terima dan tidak terima. Tapi mau bagimana lagi, pria yang berstatus suaminya itu menasehati dirinya.


Di rumah Johan sendiri saat ini sudah berkumpul keluarga inti Johan saja. Ada jason, Julian dan James yang sudah lama tidak pulang ke Indonesia.


Tentu saja Sheana yang melihat ada James disitu membuatnya tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.

__ADS_1


“James..” serunya saat dia melihat sepupunya tersebut.


James yang tadinya berdiri berhadapan dengan Sean langsung menoleh. Wajahnya tampak senang melihat perempuan yang berlari kecil kearahnya.


“Sayang hati-hati,” ucap Zidan yang belari kecil dibelakang Sheana memperingatkan istrinya soal kehamilannya. Bisa-bisanya istrinya yang hamil empat bulan jalan lima bulan berlari kecil seperti itu.


Ini pertama kalinya ia melihat Sheana sebegitu gembiranya melihat pria yang hampir mirip dengan Julian. Istrinya itu tampak begitu senang dan bahagia


“Sheana,.” Seru James balik, dia berjalan cepat menghampiri seppu perempuannya itu.


“Wo..wo.. bentar-bentar”James menolak untuk di peluk oleh Sheana.


“Kenapa James, kau tidak lihat adikku senang banget kau ada disini” ucap Sean yang menghampiri Sheana dan juga James yang slaing berhadapan.


“Bentar, nggak sopan aja kalau langsung meluk istri orang tanpa ijin pria yang dibelakang. Kamu nggak berniat mau kenalin aku sama suamimu dulu” ucap james sambil melihat kearah Zidan.


Sheana baru sadar kalau dia datang dengan suaminya,


“Astaga, aku lupa. Kalau gitu kenalkan dia suamiku. Tampankan, lebih tampan darimu kan?” ucap Sheana membanggakan Zidan dan langsung menarik lengan Zidan agar berdiri disebelahnya.


“Hemm,dia memang tampan. Kau pintar juga mencari suami yang tampan. Anakmu past memukau semua orang nanti,. Sudah hamil saja kamu. aku saja belum ketemu pasangan yang tepat” ucap james.


“Oh iya, salam kenal. Aku James, sepupunya” ucap james mengulurkan tangannya pada Zidan.


“Aku Zidan, suami Sheana” balas Zidan smabil membalas uluran tangan James.


“Aku titip sepupuku yang cengeng ini padamu ya, jaga dia baik-baik oke bro” ucap james sambil menepuk bahu Zidan.


“cengeng?” heran Zidan sambil melihat kearah Sheana.


“Nggak usah didengarkan, dia memang asal ngomong. Siapa juga yang cengeng” ucap Sheana menyangkal ucapan James barusan.


James hanya tersenyum mendengar ucapan Sheana, dia sekilas melihat Zidan.


“Ayo bro kemeja makan. Yang lainnya sudah menunggu dirimu dan Sheana” james tiba-tiba saja merangkul bahu Zidan dan mengajak pria itu untuk berjalan.


“Kau mau mengajak suamiku kemana hah, dia suamiku jangan kau peluk-peluk begitu” seru Sheana saat James membawa Zidan pergi.


James langsung berhenti,


“Ayo bro jalan, biarkan istrimu dan Sean bicara. Mereka belum akur kan?” ucap James pada Zidan.


“Sepertinya mereka sudah akur, aku rasa. Kau duluan saja, aku harus bersama dengan istriku. Aku harus menjaga anak dan istriku” ucap Zidan.


“Wiih romantis banget suamimu woy, baguslah aku tenang kalau kau punay suami begini. kalau begitu ayo kak Sean kita duluan. Takut ganggu miss jutek yang sedang kasmaran” ucap James meledek Sheana dan mengajak Sean pergi dulu.


Sean hanya tertawa mendnegar ucapan James barusan, dia suka ketika Sheana bertemu dnegan James mereka selalu sepert itu.


“Ayo,” ucap Sean kemudian. Mereka berdua langsung pergi lebih dulu meninggalkan Zidan dan juga Sheana.


“Dia sepupumu, kembaran Julian kan?’ tanya Zidan setelah james dan Sean pergi.


“Iya, kenapa kau cemburu aku dekat dengan sepupuku” jawab Sheana sambil menggoda suaminya.


“nggak, dia bukan orang yang harus aku cemburui”


“Aku ingin terus melihatmu tersneyu dan bahagia seperti tadi, kamu bisa kan sayang” ucap Zidan pada istrinya.


“Oke, ayo kita kemeja makan. Aku laper,.” Ucap Sheana.


“Ayo,” Zidan langsung menggenggam tangan istrinya mengajak berjalan bersama.


“Seberapa dekatnya kamu dengan James sayang?” tanya Zidan penasaran.


“Sangat dekat, dia sohibku satu-satunya di kelaurga ini saat mereka semua jahat padaku. Dan aku dulu selalu takut saat James pulang ke Indonesia karena saat dia ke Indonesia tidak ada yang membantuku ketika mama dan kak Sean jahat terhadapku dulu” jawab Sheana dan menghentikan langkahnya. “tapi sekarang aku tidak masalah kalau dia tidak ada disisiku. Karena ada kamu yang selalu ada untukku” ucap Sheana lagi.


“Ya kamu tidak usah takut lagi, karena ada aku yang selalu menjagamu sayang” balas Zidan mengecup kening Sheana.


“Malah mesra-mesraan disini, ayo masuk. Itu sudah nunggu kalian,” tiba-tiba saja Julian kembaran James mengkagetan mereka berdua yang sedang saling mengumbar kemesraan.


“Ganggu saja,” cibir Sheana.


“Maaf ayo buruan, Om Johan nunggu kalian itu” ucap Julian.


“Maaf Julian, kita membuatmu harus repot untuk memanggil kita berdua’ ucap Zidan.

__ADS_1


“Santai saja, ayo” pungkas Julian dan berjalan lebih dulu, sedangkan Sheana dan Zidan malah saling melempar senyum. Karena tepergok sedang mesra-mesraan.


Keduanya langsung berjalan sebelum di panggil lagi oleh orang lain, pasti semuanya sudah menunggu mereka saat ini.


............................................


“Kamu yakin sayang masih mau makan lagi?” tanya Zidan setelah memberhentikan mobilnya di depan sebuah tenda makanan seefood. Mereka baru saja pulang dari rumah orang tua Sheana untuk makan bersama. Tapi baru jalan beberapa menit Sheana meminta untuk mencari tempat maka seefood.


“Iya aku serius, ayo turun. Aku laper” rengek Sheana seperti anak kecil. Ini kesekian kali Sheana merengek saat hamil ini.


“Laper? Aku nggak salah denger sayang” ucap Zidan sambil tersenyum sekaligus terperangah.


“Nggak, ayo sayang buruan. Aku laper,” ucap Sheana dan langsung keluar dari mobil lebih dulu. ia tak sabar ingin makan siput.


Zidan langsung buru-buru keluar karena istrinya begitu tak hati-hati, ia takut kalau Sheana terjatuh atau apa.


Dan benar saja, Sheana hampir limbung untung saja Zidan segera menahanya.


“hati-hati sayang, kamu jangan lincah-lincah banget” tukas Zidan sedikit meninggikan suaranya.


“Maaf,” lirih Sheana dan hanya bisa menunduk karena melihat wajah tegas Zidan.


“Ayo,” Zidan menggandeng Sheana masuk.


Baru saja dia akan masuk, eh keduanya malah berpapasan dengan ketiga rekan Zidan yang juga sedang makan di tempat itu. Disitu ada Ilham, Victor, dan Toni


“Kalian?” kaget Zidan saat melihat ketiganya yang tengah makan. Sontak ketiga orang itu yang tadinya tak melihat langsung menatap kedua orang yang baru saja datang itu.


“Sheana” ucap Toni saat melihat sahabatnya ada disitu.


Zidan memasang wajah serius, dia tak suka melihat Toni ada didepannya apalagi pandangan pria itu hanya tertuju pada istrinya saja.


“Toni, kau ada disini?” tanya Sheana saat melihat sahabatnya tersebut.


“Iya, kamu mau makan disini. duduk di sebelahku Sheana masih kosong” ucap Toni.


“Hey bro, dia istri bang Zidan ya duduknya di sebelah bang Zidan lah ngapain duduk disebelah kamu” celetuk Ilham.


“Masuk bang, jangan diem aja disitu” ucap Ilham.


“Bener dan, masuk nggak jadi makan kalian” sahut Viktor.


“Ayo masuk sayang, aku laper” ajak Sheana.


“Sayang kita cari tempat lain saja” ucap Zidan sedikit berbisik pada snag istri.


“Aku sudah laper banget, kita disini saja” tolak Sheana.


“Senior, Sheana ingin makan disini apa anda tidak dengar” pungkas Toni pada Zidan.


Zidan melihat sekilas kearah Toi yang menatapnya dingin,


“anak itu sepertinya memang ingin bersaing denganku,” batin Zidan sambil menatap Toni.


“Ya sudah kita makan disini, kita duduk di situ saja” ucap Zidan sambil mengajak Sheana ketempat duduk yang agak jauh dari mereka bertiga.


Ilham, Viktor dan juga Zidan sesekali saling tatap. Bahkan tatapan ketiganya tampak seperti saling memberi isyarat satu sama lain.


“Toni, ayo makan bukannya kau bilang ada tugas malam. Kenapa kau malah mengepalkan tangamu seperti itu, tanganmu keram” ucap Viktor pada Toni yang mengepalkan tangan sambil menatap kearah Zidan yang tengah mengusap perut Sheana. Matanya panas melihat pandangan seperti itu, dia jadi benci dnegan seniornya. Zidan senior yang dia jadikan panutan tapi semua itu sirna saat seniornya menikahi Sheana yang notabennya sahabat yang ia cintai diam-diam selama ini. ia berjuang mencari keberadaan Sheana saat bertemu perempuan itu malah menjadi milik orang lain dan mengejar-ngejar orang lain.


“Aku sudah kenyang, kalian teruskan saja” ucap Toni dan langsung berdiri. Ia tak tahan jika harus melihat dua orang yang sedang menunjukkan kasih sayang satu sama lain.


“dia kenapa pergi tiba-tiba begitu?” tanya Viktor.


“Dia pasti cemburu melihat nona Sheana dan bang Zidan” jawab Ilham.


“Apa itu yang mendasari dia untuk sengkongkol dengan mantan tunangan Zidan?” tebak Vicktor.


“Sepertinya begitu, nanti kita bicarakan lagi dengan bang Zidan soal pengamatan kita dua hari ini” pungkas Ilham.


“Oke” jawab Victor dan mereka melihat sekilas Zidan yang juga melihat kearah mereka.


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2