PEREMPUAN NAKAL MILIK POLISI TAMPAN

PEREMPUAN NAKAL MILIK POLISI TAMPAN
Ep 62


__ADS_3

Sheana sudah duduk di depan kakaknya dan juga Julian sedangkan Zidan masih berada di dapur membuatkan jus alpukat untuk kedua tamunnya.


“Tumben kalian berdua kesini barengan?’ tanya Sheana sambil menatap penasaran kedua orang yang duduk didepannya saat ini.


“Karena kita dari tempat yang sama makanya kesini juga bareng” jawab Julian.


“memang darimana?”


“kakek sudah di penjara sekarang” Sean langsung memberitahu adiknya soal kakek mereka.


“Apa? pria bangka itu sudah masuk penjara. Kok bisa? Siapa yang melaporkan, perasaan aku tidak melaporkan dia” heran Sheana.


“Aku yang melaporkan kakek ke polisi, dan aku yang meminta polisi untuk menangkapnya” jawab Julian.


“kenapa kau malah memasukkan kakek kesana. Dia kakekmu,”


“Bukannya kau sendiri yang bilang kalau kekek jahat pada kita. Dan kau juga tahu kesalahan kakek apa saja, bukannya kau juga ingin memasukkan dia ke jeruji besi. Atau jangan-jangan yang kau ucapkan didepan dia waktu itu hanya gertakan semata” pungkas Julian menatap sepupunya tersebut yang seperti tak rela kakek mereka masuk kedalam penjara.


“Sudahlah, yang penting sekarang kakek sudah mausk kedalam penjara. Tidak usah dibahas lagi” Sean menengahi keduanya.


“Ini minuman kalian, ada masalah apa kenapa suasana terlihat dingin seperti ini” Zidan datang membawa empat gelas jus alpukat dan dia menaruh didepan mereka satu per satu.


“Bukan masalah apa-apa” jawab Sheana.


Zidan duduk disebelah istrinya memperhatikan satu persatu orang yang berada disitu. dia sebenarnya penasaran dengan pembicaraan mereka tapi dia juga sadar diri kalau itu bukan ranahnya untuk ikut campur.


“Kau hari ini tidak berdinas Zidan?” tanya Sean pada adik iparnya itu.


“hari ini aku ijin, karena Sheana tidak enak badan, aku tidak tega meninggalkannya” jawab Zidan smabil melihat kearah Sheana yang juga melihatnya.


Sean hanya mengangguk pelan saja, sedangkan Julian hanya diam memperhatikan sepasang suami istri didepannya.


“Kapan James pulang?” tanya Sheana pada Julian.


“Tidak tahu, kenapa kau tanya kapan dia pulang. Bukannya kalian mau ke Amerika” ucap Julian.


Sheana langsung menendang kaki Julian yang ada didepannya,


“Auggh sakit” rintih Julian sambil menatap Sheana tak mengerti kenapa dia ditendang.


“Kalian kenapa?” tegur Sean.


“Siapa yang mau ke Amerika?” tanya Zidan penasaran dia memperhatikan istrinya.


“Kau dan istrimulah” jawab Julian masih memegangi kakinya yang sedikit sakit.


“Kita berdua tidak ada agenda ke Amerika” bingung Zidan karena dia dan Sheana tak merencanakan akan pergi ke Amerika.


“Sudah tidak usah di pikirkan, dia salah tanggap.” Ucap Sheana mencoba mengalihkan pembicaraan.


Meskipun Sheana berkata begitu tapi Zidan masih penasaran, apa mungkin istrinya tersebut menyiapkan kejutan untuknya jadi seakan ia tidak boleh tahu soal rencana ke Amerika itu, pikir Zidan.


.....................................


Matahari mulai meredup, waktu sore menjelang petang telah tiba. Zidan yang tadi mengajak Sheana keluar setelah kakak dan sepupu istrinya pergi saat ini mereka sedang menikmati waktu sore dengan melihat sunset pantai. Benar mereka langsung pergi ke pantai, pantai yang sepi tempat Sheana biasanya merenungkan diri. Kini perempuan itu ke pantai tersebut tak lagi sendiri melainkan dengan pasangannya.


Mereka menggelar tikar yang cukup untuk dua orang didepan mobil,


“Loh nak Sheana kemari, sama siapa ini?” tiba-tiba datang seorang ibu-ibu berpakaian sederhana dengan capil besar di kepalanya. Perempuan itu salah satu istri nelayan disitu alias warga loka yang ada di pedesaan tidak jauh dari pantai tempat Sheana dan Zidan saat ini.


Pantai yang selalu dikunjungi Sheana tersebut memanglah tidak jauh dari tempat pelelangan ikan dan dermaga para nelayan.


Sheana dan Zidan yang tadinya duduk sambil fokus melihat kedepan langsung menoleh melihat perempuan paruh baya itu.


“Oh ibu,” ucap Sheana, Zidan hanya melihat saja ketika istrinya tampak berbinar melihat orang itu. ia membantu Sheana yang akan berdiri, bau kali ini dia melihat Sheana terlihat berbinar melihat seseorang.

__ADS_1


“Gimana kabar kamu, ibu udah lama nggak ketemu sama kamu, sama siapa?”


“Suami” jawab Sheana.


“Suami? kamu sudah menikah nak. Yaampun, sudah hamil juga” ucap perempuan itu terkejut saat melihat ke perut Sheana.


‘hamil berapa bulan? Kok nggak bilang.” Ucap orang itu.


“Empat bulan” “Kenalkan ini suamiku,’ ucap Sheana lagi dan memperkenalkan Zidan pada perempuan tersebut.


‘Zidan bu,” ucap Zidan dan akan mengulurkan tangannya.


“Aduh nggak usah jabat tangan nak. Tangan ibu kotor belum cuci tangan. Tadi habis dari pelabuhan terus lewat sini eh lihat kalian” ucap perempuan tersebut.


“Nggak pa-pa kok bu” pungkas Zidan dan masih tetap ingin menjabat tangan perempuan paruh baya itu.


Akhirnya sang ibu membalas uluran tangan dari Zidan.


“Jaga nak Sheana ya nak Zidan..” ucap perempuan itu sambil mengusap tangan Zidan yang masih menjabat tangannya.


“Sheana sekarang kamu nggak sendiri lagi dong buat ke pantai ini, ibu jadi ikut senang kamu bisa sama suami kamu ke pantai ini. kalau gitu mampir yuk ke rumah ibu, Didi pasti senang lihat kamu Sheana” ucap ibu itu dan mengajak sepasang suami istri itu untuk kerumahnya.


‘Nggak usah kapan-kapan saja, lebih baik ibu pulang. Didi sama Fera nanti nyariin, pak marno juga nanti pasti nyariin ibu kalau belum pulang-pulang” jawab Sheana menolak ajakan dari perempuan itu


“Ya sudah kalau kamu tidak mau, tapi lain kali kamu main kerumah ibu loh. Apa karena rumah ibu kecil nggak layak, kamu nggak mau main”


“Nggaklah, “ jawab Sheana ketus.


“Ibu bercanda Sheana, ya sudah ibu pergi dulu ya. Nak Zidan mari, dan ingat pesan ibu ya selalu jaga Sheana. Dia memang orangnya sering ketus begitu tapi sebenarnya hati dia baik nak” ucap ibu itu sebelum pamit pergi.


“Iya bu” jawab Zidan lirih, dia sesekali melihat Sheana yang membuang muka.


Perempuan paruh baya itu langsung pergi setelah mengusap pelan bahu Sheana, dia begitu sayang pada perempuan yang tak ia kenal sebelumnya itu. karena suatu hal membuat dia menjadi sayang pada perempuan kaya tersebut. Sheana sudah sangat membantunya selama ini, bahkan berkat perempuan itu separuh hidupnya tak jadi pergi dari hidupnya.


“Dia siapa? Kamu kenal ibu itu sejak kapan sayang?” tanya Zidan kemudian.


“Oh, mau lihat sunset lagi” ucap Zidan dan langsung merengkuh Sheana kedalam pelukannya.


Sheana mengangguk, dan mereka langsung maju sedikit lebih kedepan ke garis pantai berdiri sambil mengenakan kaca mata menatap lautan luas didepan. Zidan berdiri di belakang Sheana memeluk istrinya itu erat sambil sesekali mengusap perut sang istri.


....................................


Sean dan Hendra berdiri didepan apartemen Sheana, mereka membunyikan bel pintu di apartemen tersebut. Namun sedari tadi mereka berdiri di depan pintu itu tak ada yang membukanya sama sekali.


“Kak Sheana nggak ada yah, dia kayaknya pergi sama suaminya. Lain kali aja ayah ketemu sama dia. lagian mau apa sih ketemu kak Sheana. Dia pasti nggak mau ketemu ayah, dia benci sama ibu” ucap Sean pada ayahnya itu. benar Hendra memang ingin bertemu dengan Sheana entah apa alasan dari pria itu ingin menemui anak dari istrinya sbeelum menikah dengannya dulu.


“Ayah mau bertemu dia dulu sebelum kembali ke Semarang. Kalau sekarang dia pergi nanti atau besok kita kesini lagi, ayah tidur di apartemen kamu dulu” jawab Hendra dan langsung berbalik badan masuk kedalam apartemen Satria.


“Ngapain sih, ayah pakai pengen ketemu kak Sheana. Kalau dia malah marah sama kak Sheana gimana, atau malah kak Sheana yang marah sama ayah terus ayah kesinggung karena ucapan ketus kakak. Waduh gimana ini,..” bingung Satria sambil mengacak rambutnya frustasi, ia langsung menyusul sang ayah yang masuk kedalam apartemennya.


“Ayah, ayah pulang ke Semarang aja gih.” Ucap Satria setelah masuk kedalam apartemen melihat ayahnya yang sudah duduk di sofa sambil membaca koran malam.


“Terserah ayah mau balik ke Semarang kapan” jawab Hendra tanpa melihat anaknya.


“Ayah disini sudah hampir seminggu loh, ibu sama yang lainnya apsti nanyain ayah” Satria duduk disebelah ayahnya berusaha membujuk sang ayah untuk kembali ke Semarang.


“Kau tidak dengar, apa yang ayah bilang tadi. Ayah belum mau kembali ke Semarang sebelum ayah ketemu sama kakak kamu itu”


“Yah, kak Sheana itu nggak suka sama ibu. Apalagi sama ayah yang bukan siapa-siapanya, dia saja tidak suka denganku dulu. karena nasehat kakaknya dia jadi bisa menerimaku”


“Ayah tidak perduli”


“Tidak perduli nanti kalau kena omongan kasar ngomel, bilang nggak sopa atau apa. soalnya kak Sheana itu orangnya keras yah, kalau ngomong asal ngomong nggak pandang dia muda atau tua”


“Sebegitunya ya kakakmu. Apa ayahnya tidak mendidik dia..”

__ADS_1


“Bukannya tidak mendidik yah. Tapi gimana lagi, coba ayah ada di posisi dia pasti memberontak dengan segala kerumitan dalam hidupnya”


“Kalau dia ngomong aksar sama ayah, ya dia ayah ceramahi”


“Kalau bisa ceramahi kak Sheana. Papanya sendiri saja tidak bisa menceramahi dia, apalagi orang lain”


“Ayahnya Johan Ravero kan?”


“Iya, itu ayah tahu. dia ornag kaya yah. Kalau ayah sampai buat anaknya marah ayah bisa celaka. Kita bukan tandingannya.”


“Dia kaya ayah juga, kenapa harus takut”


“Aku tahu, tapi kekayaan kita nggak sebanding sama mereka. Mereka jauh diatas kita”


“Kamu kenapa sih malah bahas kekayaan, ayah cuman tanya ayahnya johan ravero kan, gitu doang nggak perlu perincian. Johan Ravero tidak bisa menasehatinya, ayah yang akan menasehatinya”


“Tahulah terserah ayah, ayahkan orangnya baperan. Nanti misalkan ketemu sama kak Sheana jangan mencakmencak didepannya. Karena ia malah semakin keras kalau marah.” Satria berusaha mensehati ayahnya agar tidak menemui Sheana. Lagia untuk apa pula ayahnya menemui kakaknya itu, itulah yang membuatnya penasaran saat ini.


“Ayah tidak takut Satria, lebih baik sana kamu nelpon ibu kamu atau mbah-mbah kamu. mereka kangen sama kamu dan tanya ke adik-adik kamu soal sekolah mereka. Sekali-kali beri perhatian pada adik-adik kamu agar persaudaraan kalian erat” ucap Hendra pada anak sulungnya tersebut.


“hemm” Satria langsung melenggang pergi ke dapur tapi sbeelum dia berjalan jauh ayahnya sudah menghentikannya.


“Kau ada rencana untuk mempertemukan ibumu dan kakakmu?” tanya Hendra pada Satria, pria itu menoleh kearah ayahnya yang duduk di sofa.


“memangnya kenapa?”


“Nggak pa-pa, kalau kau ada niatan begitu ayah dukung” ucap hendra.


“Apa? ayah serius” Satria sekana tak percaya dengan ucapan ayahnya.


“Iya,” jawab Hendra.


“Serius,” Satria masih tak percaya dan berjalan mendekat kearah ayahnya.


“Iya Satria”


“Apa alasan ayah mendukungku?” tanya Satri penasarn dia duduk disebelah ayahnya menunggu jawaban dari ayahnya.


“Ya ayah pengen ibu kamu nggak bersikap jahat pada anaknya sendiri. lagipula Sheana tidak salah dalam hal ini kan. anak itu kalau hidupnya seperti ini apa mau terlahir dari rahim ibumu. Jelas tidak kan? dan ibumu seharusnya dia mengakui Sheana anaknya..karena yang terjadi dulu itu kesalahn darinya dan tak perlu menutupinya dari ayah, kalaupun ibumu jujur dulu ayah juga nggak akan marah sama dia. karena ayah cinta sama ibu kamu”tutur Hendra


Satria yang mendengar ucapan ayahnya merasa speechless, dia terdiam mengamati wajah ayahnya yang tampak sungguh-sungguh dengan ucapannya.


“beneran kan yah, ayah nggak mempermasalahkan hal ini sama ibu.” Satria masih belum sepenuhnya mempercayai ucapan itu.


“Iya, ayah nggak mempermasalahkan hal ini, ayah mungkin nanti kalau ketemu ibu kamu hanya pengen ngungkapin kekecewaan ayah sama dia. sudah itu aja nggaka da hal lain”


“Ayaahhh..” Satria merasa terharu dan dia langsung memeluk ayahnya yang duduk disebelahnya saat ini.


“kenapa sih sudah besar peluk-peluk ayah begini” protes Hendra.


“Pengen peluk aja, aku nggak salah selama ini ngidolain ayah.” Jawab Satria dan masih memeluk sang ayah.


“Kamu besok mau kan temuin ayah dengan kakakmu itu” ucap hendra sambil melepaskan pelukan anaknya.


“Ayah cuman pengen tahu dia anak yang seperti apa, dan ayah pengen dia dan ibu kamu seperti ibu dan anak. Karena darah itu tidak bisa putus apalagi dia anak yang terlahir dari rahim yang sama denganmu” ucap Hendra begitu bijaksananya.


“pasti aku besok bakal temuin ayah sama kak Sheana. Tapi jangan skait hati dnegan ucapannya ya yah, dia sebenarnya orang yang baik tapi luarnya saja dia begitu. Aku dnegar dari kak Sean kakaknya kak Sean. Dulu kak Sheana orang yang murah senyum sopan dan baik banget sama orang. Jadi ayah jangan tersinggung dengan ucapannya”


“Nggaklah, ayah nggak akan tersinggung. Bagaimanapun dia masih anak-anak dimata ayah, dan sikapnya begitu pasti ada hal yang melandasinya. Jadi ayah nggak akan sembarang marah” pungkas Hendra berusaha membuat Satria yakin dengan ucapannya.


“Oke, aku percaya. Besok aku bilang dengan kak Sheana kalau ayah mau ketemu. Sekarang dia sepertinya sedang pergi dengan suaminya”


“Oke, ayah tunggu besok. Kamu sana ke dapur telpon orang-orang dirumah” ucap Hendra.


“Siap bos, aku ke belakang dulu” pamit Satria dan langsung berdiri dari duduknya memberi hormat lebih dulu pada ayahnya baru ia berjalan pergi meninggalkan sang ayah yang kembali fokus membaca koran.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2