
Dua hari sudah berlalu, Zidan dan Sheana sudah kembali ke kehidupan mereka masing-masing. Zidan sibuk dengan pekerjaannya begitu juga Sheana sibuk mengurung diri di kamar, entah apa yang perempuan itu pikirkan saat ini yang jelas sedari dia pulang dari semarang tak pernah ia keluar kamar makan saja harus asisten rumah tangganya yang mengantarkan.
Sheana duduk di pinggir tempat tidur, dia melihat ponselnya saat ini dimana itu foto-foto yang dikirimkan orang suruhannya. Itu foto ibu kandungnya dan adiknya yang ada di Semarang. Mereka berdua tampak tersenyum bahagia.
“Kau tersenyum seperti itu dengan anakmu yang lain, aku juga anakmu. Ibu macam apa kau ini” gumam Sheana tersenyum miris melihat itu. Niatnya ingin menemui ibu kandungnya karena ingin mendapatkan kasih sayang dari perempuan itu tapi malah sebaliknya, ia tak dianggap sama sekali sebagai anak.
Sheana langsung mematikan ponselnya dan melemparnya ke kasur, dia langsung berdiri dari duduknya saat ini.
Saat dia berdiri tiba-tiba saja dia teringat dengan Zidan dimana pria itu saat di Semarang selalu ada untuknya bahkan ria itu yang merawatnya saat dia sakit.
“Untuk apa aku memikirkan pria itu,” ucap Sheana berusaha mengalihkan pikirannya, dia langsung berjalan keluar dari kamar setelah mengambil kunci mobil yang ada di atas meja.
“Sheana mau kemana kamu?” tanya Johan yang kebetulan akan berjalan kearah ruang tengah.
“cari hiburan” jawab Sheana singkat dan akan berjalan lagi tapi ucapan papanya menghentikan dirinya saat ini.
“Kau dua hari lalu menemui ibu kandungmu kan? lalu apa tanggapannya saat melihatmu” Johan berusaha bertanya baik-baik dia tak ingin anaknya sakit hati.
Sheana hanya diam saja di tempat, dia malas untuk menjawabnya.
“daddy tanya sama kamu? kalau di tanya jawab” tukas Johan dengan tegas.
“Seperti katamu dulu dan aku tidak perduli lagi dengannya sekarang” jawab Sheana dan akan melenggang pergi.
“Baguslah kalau kau sudah sadar, kalau ibumu tak pernah mengaggap dirimu. Untuk apa juga kau mencarinya, ada daddy dan yang lain yang menyayangimu” pungkas Johan.
“Kau mau kemana?” tanya Johan pada anaknya yang sudah menuruni tangga.
“Bertemu sesorang untuk berterimakasih” jawab Sheana dan dia langsung pergi begitu saja tanpa menoleh lagi.
...........................................
Zidan berada di ruangannya saat ini, dia sedang mengirimkan pesan pada kekasihnya Gladys hampir satu minggu sejak dia di ajak paksa ke Semarang hingga hari ini. ia sama sekali belum bertemu pujaannya itu, hanya berkirim kabar saja melalu pesan dan panggilan untuk menjaga hubungan mereka.
Setelah mengirimkan pesan untuk Gladys, Zidan menaruh kembali ponselnya dan dia tak sengaja melihat tangannya yang sedikit terluka karena bekas kuku Sheana yang menusuk kulitnya beberapa waktu lalu.
Perempuan itu tak sengaja menusuk tangannya, karena Sheana waktu itu menggenggam tangannya cukup erat sampai menusuk.
“bagaimana kondisi perempuan itu sekarang?”
__ADS_1
“Sikapnya selama ini ternyata pengaruh dari keadaan keluarganya, di luar keras tapi dalamnya penuh luka” gumam Zidan, dia teringat Sheana yang menangis dalam tidur untuk jangan di tinggalkan.
Tok,tok
Ketukan pintu membuyarkan lamunan Zidan, dan dia langsung melihat kearah pintu ruangannya saat ini.
“Ada apa ham?” tanya Zidan saat kepala Ilham menyembul di balik pintu.
“bang di luar ada nona Sheana, dia ingin bertemu denganmu” lirih Ilham sambil melihat seniornya tersebut.
“Sheana? Suruh dia masuk” ucap Zidan setelah sempat berpikir, baru saja dia mengingat kejadian di Semarang perempuan itu sudah menemuinya. Ada apa perempuan tersebut ingin menemui dirinya.
Tak lama kemudian Sheana masuk kedalam ruangan Zidan, dimana Zidan melihat kearahnya.
“Ada apa ingin bertemu denganku?” tanya Zidan saat Sheana berjalan masuk mendekati mejanya.
“Santai saja, tidak usah ngegas begitu” sungut Sheana.
Dia langsung menarik kursi didepan Zidan, dan membuka tas kecil yang ia bawa.
“Itu untukmu, ambil” ucapnya sambil menyodorkan amplop coklat didepan Zidan.
“Itu uang sebagai tanda terimakasih ku kemarin, dan sebagai uang tutup mulut” jawab Sheana.
“Ambil, aku tidak butuh uang darimu” tukas Zidan menolak pemberian Sheana.
“Jangan sok deh, tinggal ambil apa susahnya”
“Nona Sheana yang terhormat, saya tidak butuh uang darimu. Soal kemarin kau tenang saja, saya tidak akan membocorkan rahasia keluargamu itu” tegas Zidan menolak keras.
“Sok sekali, ya sudah kalau tidak mau.” Sheana mengambilnya dan memasukkan kedalam tas kembali.
“Aku kesini hanya ingin memberikanmu itu, tapi kalau tidak mau ya sudah. Aku permisi” ucap Sheana sesekali melihat kearah Zidan yang menatapnya tanpa bicara. Sheana langsung berdiri dari duduknya saat ini, tapi saat dia berdiri tba-tiba saja kakinya keseleo
“Argghh,” Sheana mengerang sakit.
Zidan yang melihat itu langsug berdiri,
“Kau kenapa?” tanya khawatir.
__ADS_1
“Kakiku sakit,” rintih Sheana dan duduk kembali sambil memegangi kakinya.
Zidan langsung berjalan menghampiri Sheana yang duduk sambil memegangi kaki dan sesekali merintih.
“Arggh, sakit. Gara-gara sepatu bodoh ini” ucapnya dan sesekali mengumpat kesal.
“Jangan selalu menyalahkan sesuatu,” ucap Zidan dan langsung berjongkok didepan Sheana.
“kakimu terluka karena ulahmu sendiri, sepatu setinggi ini kau pakai” ucap Zidan sambil melepaskan sepatu Sheana.
Sheana yang melihat sikap tiba-tiba Zidan membuatnya terpaku menatap pria itu yang melepaskan sepatu dari kakinya saat ini.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Sheana saat Zidan memegang kakinya.
“Kau diam saja kalau tidak ingin kesakitan” ucap Zidan dan langsung menarik pelan kaki Sheana dan sedikit memberi pijatan di kaki itu.
Sheana yang tadinya merintih sakit langsung terdiam, karena sikap lembut Zidan padanya.
“Sudah, coba kau berdiri” ucap Zidan dan dia langsung berdiri meminta Sheana juga berdiri dari duduknya.
“Arggh, sakit bodoh. Kau apa kan kakiku jadi semakin sakit begini,” kesal Sheana sat dia berdiri kakinya malah semakin sakit.
“Lepas sepatumu,” ucap Zidan meminta Sheana untuk melepas sepatu yang satunya.
Sheana menurutinya, dia melepaskan sepatu miliknya dan melihat Zidan saat kakinya tak terasa begitu sakit.
“bagiaman? Tidak sakitkan” ucap Zidan saat melihat Sheana hanya diam saja.
Sheana yang malu sendiri hanya diam saja dan dia langsung berjalan pergi tetapi ia kembali merintih sakit.
“Jalan jangan terburu-buru, kakimu masih sakit. Sini aku bantu” ucap Zidan dan langsung mengambil lengan Sheana memapah perempuan itu membantunya berjalan.
Mata Sheana membulat saat Zidan yang tiba-tiba mengaluhkan tangannya di bahu pria itu, mendapat perlakuan manis seperti itu membuat hati Sheana menghangat dia terus melihat kearah Zidan yang membantunya berjalan.
Zidan memapah Sheana berjalan keluar dari rangannya, semua rekan Zidan yang berada di luar melihat itu semua. Mereka saling bertanya-tanya ada hubungan apakah Zidan dan putri konglomerat itu, jelas-jelas Zidan mengelaknya selama ini tapi melihat hari ini membuat mereka semua kembali ragu soal Zidan.
°°°
T.B.C
__ADS_1