
Zidan dan Sean bertemu di sebuah Cafe yang tidak jauh dari rumah orang tua Zidan, Sean mengajak bertemu disitu karena dia tengah ada urusan jadi tidak bisa pergi kerumah Zidan. Ia saat ini hanya ingin bertemu dengan Zidan dan adiknya karena hatinya mengatakan bahwa ada sesuatu dengan Sheana.
“Maaf aku datang terlambat” Zidan langsung menarik kursi yang ada di depan Sean.
“Tidak apa-apa, kenapa kau datang sendiri mana Sheana?” tanya Sean karena tak melihat adiknya bersama Zidan.
Zidan diam sejenak sambil menatap Sean yang mempertanyakan keberadaan Sheana.
“Sheana menghilang” jawab Zidan singkat, dia menatap was-was melihat reaksi kakak iparnya itu.
“Apa? kau bercanda. Bagaimana bisa adikku menghilang” tukas Sean tak mempercayai itu semua.
“Aku juga tidak tahu, tadi pagi aku memang berdebat dengan dia. dan dia ijin ke apartemen Satria tapi saat aku ke apartemen Satria Sheana sudah tidak ada disana” jelas Zidan.
“Bagaimana bisa kau suaminya tidak tahu dimana istrimu, apa kau sudah mencarinya?”
“Sudah aku cari kemana-mana, tapi dia tidak ada dimanapun”
Sean langsung berdiri dan dia dengan cepat mencengkram kerah baju Zidan.
“Sebenarnya apa yang kau debatkan dengan adikku hah, kau menyakitinya begitu sampai dia menghilang sekarang” ucapan tajam serta tatapan menusuk diberikan oleh Sean pada Zidan.
“Aku tidak melakukan apa-apa padanya, ini hanya salah paham. Tapi dia tidak mau mendengarkan aku” ucap Zidan membela diri.
“Bohong mana mungkin kau tidak melakukan apa-apa pada adikku, kau pasti mmbuatnya sakit hati. Awas sampai dia kenapa-kenapa nantinya” Sean langsung mendorong Zidan dengan kuat. Sean buru-buru mengambil ponsel miliknya untuk menghubungi Sheana.
Zidan hanya bisa diam saja, dia tak masalah di kasari oleh kakak iparnya toh ini juga kesalahannya.
“Kenapa ponselnya tidak aktif” kesal Sean dan mencoba menghubungi Sheana lagi. Namun sama ponsel itu masih tak kunjung aktif juga.
__ADS_1
“Sudahlah Sean, dia tidak mengaktifkan ponselnya saat ini. aku minta maaf karena ulahku Sheana menghilang sekarang. Tapi aku janji padamu aku akan menemukannya, aku akan menemukan istriku tanpa terluka sama sekali”pungkas Zidan dengan sungguh-sungguh.
“Aku pegang janjimu, tapi lihat kalau adikku dalam bahaya kau akan habis di tanganku mengerti” marah Sean, dia langsung pergi tak sudi untuk berlama-lama dengan Zidan setelah dia mendengar itu semua.
Zidan melihat kepergian Sean yang marah padanya saat ini,
“Sheana kamu dimana sayang,” lirih Zidan sambil menatap semangat kedepan. Dia mendudukkan dirinya lemah di kursinya tadi.
.......................................
Sean mondar-mandir di dalam kamarnya, ini sudah hari kedua Sheana dinyatakan menghilang bahkan Zidan juga sudah mencari Sheana kemana-mana tetapi perempuan itu tak kunjung ditemukan.
“Dimana kau Sheana, apa yang harus aku katakan pada daddy kalau kau menghilang saat ini” bingung Sean, karena daddynya akan pulang dari Australia, bagaimana kalau daddynya menanyakan soal Sheana apa yang harus ia jawab nantinya.
Ditengah kebingungan Sean ponselnya yang berada di tempat tidur berbunyi membuat dia langsung mengangkatnya.
“Iya halo” ucap Sean saat dia sudah mengangkat panggilan tersebut.
“Kau pria waktu itu, ya kenapa?”
“Kakak ku ada dirumah sakit sekarang, dia tidak sadarkan diri karena tusukan orang. Kau yang melakukannya? Kalau sampai memang kau yang melakukannya pada kakakku habis kau di tanganku Sean ravero dan aku tidak perduli kau siapa” ancam Kevin dari seberang sana. Ia cukup marah saat ini karena kakaknya Zidan tengah tak sadarkan diri bahkan hampir kehilangan nyawanya karena kehabisan darah. Tapi untung saja itu semua tak terjadi.
“Apa maksudmu, siapa yang membuat Zidan seperti itu. jangan pernah kau mengancamku, sekarang Zidan ada dirumah sakit mana”
“MC Hospital,”
“Baik aku kesana, dan buktikan sendiri kalau bukan aku yang membuat kakakmu seperti itu” tukas Sean dan mematikan panggilannya dengan kesal. Pagi-pagi sekali dia sudah di ancam bahkan dituduh telah mencelakai iparnya sendiri.
Musibah macam apalagi ini yang terjadi diruamha tangga adiknya, belum juga Sheana ketemu malah Zidan saat ini dalam keadaan tidak sadar di rumah sakit.
__ADS_1
..............................................
“Kevin apa yang kau lakukan, tiba-tiba saja datang kerumah sakit dan mengancam kakak ipar dari kakakmu” ucap Gautam tak sengaja mendengar ucapan dari anak bungsunya tersebut.
“Aku tidak mengancamnya, aku hanya memperingatkannya. Kakak dalam kondisi seperti itu apsti keluarga Ravero yang melakukannya. Dia menyalahkan kak Zidan atas menghilangnya Sheana” tuduh Kevin pada keluarga Sheana.
“jaga ucapanmu Kevin, kalau mereka semua yang disini mendnegarnya kau bisa menyebarkan fitnah bagi keluarga Ravero” nasehat Gautam pada putranya.
“Aku tidak perduli pa, ini kenyataankan mereka ya..”
Stop Kevin, jangan sok tahu. makanya kau jangan sering pergi entah kemana sampai tidak tahu kakakmu begini kenapa. Asal kau tahu Zidan seperti ini bukan karena keluarga Ravero tapi karena keteledoran kakakmu sendiri dalam bertugas” tukas Gautam menjelaskan semuanya soal kenapa Zidan seperti ini.
“Apa..bagaimana bisa keteledoran kak Zidan saat tugas. Dia saja di non aktifkan selama dua minggu. Nggak usah membela keluarga kaya itu pa mereka memang banyak duit tapi mereka tidak bi...”
“Kevin yang papamu bilang memang benar Zidan teledor dalam tugasnya, kakakmu memang di non aktifkan selama dua minggu dia seperti ini karena menolong temannya saat melakukan penangkapan di Club”
“Kenapa penjelasan kalian semakin tak masuk akal, kenapa juga kakak pergi ke Club. Dia seorang polisi yang taat untuk apa pergi ke Club”
“Dia mencari Sheana disana, siapa tahu sang istri ada disitu. pas dia kesitu ternyata rekannya yang bagian kriminal sedang menyamar ditempat itu juga dan meminta tolong kakakmu untuk membantunya menangkap salah satu tersangka pelecehan” jelas Bunga ibu dari Zidan dan juga Kevin.
“Kau sudah dengar cerita mama, masih mau menuduh keluarga Ravero soal ini. Tuan Johan dan juga Sean meskipun dari keluarga Ravero tapi mereka berbeda dengan ayah dan kakeknya meskipun kaya mereka tidak akan melakukan hal yang tidak terpuji” ucap Gautam menasehati anaknya.
Kevin hanya diam sambil menatap Zidan melalu kaca yang ada di pintu ruang rawat kakaknya itu.
“Kau seperti ini apa karena sumpahku, aku minta maaf kak. Aku benar-benar minta maaf,” ucap Kevin dari dalam hatinya. Tatapannya berkaca-kaca menatap Zidan yang terbaring tak sadarkan diri. Entah mengapa sakit sekali melihat kakaknya tak berdaya seperti itu ditengah kondisi keluarga kecil sang kakak tak baik-baik saja.
Kevin merasa bersalah atas apa yang menimpa Zidan saat ini, dia merasa karena sumpah serapahnya pada Zidan dulu membuat Zidan menderita seperti saat ini.
“Aku,..aku memaafkanmu kak. Aku mohon, kau harus baik-baik saja sampai kakak ipar ketemu. Aku..aku akan mencari kakak ipar aku janji cepatlah sembuh. Dan aku juga akan memberi pelajaran pada Gladys cepatlah sembuh kak” air mata yang tak disadari oleh Kevin lolos dari pelupuk matanya tersebut.
__ADS_1
°°°
T.B.C