
Sheana langsung mendorong Zidan, saat dia sudah sadar akan apa yang dia lakukan. Bisa-bisanya dia membalas ciuman pria yang bilang tidak menyukai dirinya.
“Kau kurang ajar ya, berani sekali kau menciumku” maki Sheana menatap marah Zidan yang melihat kearahnya sedikit terkejut karena di dorong begitu saja oleh Sheana.
“bukannya aku sudah bilang maaf padamu sebelumnya,” balas Zidan.
“Kau memang pria hidung belang, dan munafik. Bilang tidak menyukaiku tapi nyatanya mau juga. aku benci pria munafik seperti mu” kesal Sheana, dia langsung berdiri. Ia marah karena jantungnya begitu berdebar gara-gara ciuamn Zidan barusan. Padahal dia sudah membuang rasa itu setelah pria didepannya menolak dirinya waktu itu.
Sheana langsung pergi membuat Zidan otomatis buru-buru berdiri menyusul Sheana,
“Sheana tunggu, aku minta maaf soal” Zidan menahan tangan Sheana agar tidak pergi.
Sheana menghempas cekalan Zidan di lengannya, dia menatap marah pria itu.
“Apa dengan minta maaf akan selesai begitu” sinis Sheana.
“Mari kita berusaha lebih dekat lagi, saling mengenal satu sama lain” lirih Zidan menatap manik mata Sheana.
“Apa maksudmu?”
“Mari menikah” Zidan menatap Sheana serius.
Sheana yang mendengar itu tampak terkejut, dia merasa telah salah mendengar perkataan itu.
“Kau sudah gila? Kau ingin menjadikanku istri kedua begitu. Jangan harap aku mau,”
“Siapa yang mau menjadikanmu istri kedua. Kau istri satu-satunya, ayo menikah setelah kita ke dokter kandungan” putus Zidan memegang tangan Sheana.
“Kau memang tidak waras, tunanganmu kau kemanakan hah. Jangan bilang dia jadi simpanan meskipun aku jadi istrimu begitu. Aku bukan perempuan bodoh yang terlalu tertipu daya oleh pria sepertimu” Sheana kembali akan berjalan, tapi lagi-lagi Zidan mengentikannya.
“Aku akan memutuskan Gladys, dan aku akan membatalkan pernikahanku dengannya.” Jelas Zidan sambil memegang tangan Sheana agar perempuan itu yakin padanya.
Keputusan ini ia ambil karena, hatinya sudah memastikan kalau sudah goyah oleh orang lain. Dan nama Gladys sudah tak sepenuhnya di hatinya, apalagi kedua orang tuanya tak menyetujui ia dengan Gladys jadi lebih baik ia batalkan saja semua ini.
Sheana ternganga mendengar perkataan Zidan barusan, matanya bahkan tak berkedip merasa tak percaya dengan itu.
“Aku serius dengan ucapanku, jangan kau pikir aku hanya bercanda soal ini” tegas Zidan begitu serius.
Sheana hanya diam mengamati wajah didepannya, benarkah serius tentang ucapannya itu.
__ADS_1
“Aku mau pulang” ucap Sheana kemudian, dia melepaskan tangan Zidan tak menanggapi ucapan pria itu. dia masih ragu dengan ucapan Zidan tersebut. Ia tak ingin telena dengan hal itu. karena resikonya cukup besar, yaitu membuat hatinya sakit sendiri dan kemungkinan akan membuatnya lemah.
Zidan menatap tangannya hampa setelah di lepaskan Sheana, dia melihat perempuan itu yang berjalan ke mobil. Zidan berlari kecil mengejar Sheana yang akan masuk ke mobil.
“Aku yang menyetir,” Zidan langsung merebut kunci mobil dari tangan Sheana. Sheana hanya diam saja, dia malas untuk bicara.
“Kau tidak percaya denganku saat ini tidak apa, tapi aku akan buktikan kalau ucapanku itu memang serius” ucap Zidan dengan yakin, ia langsung masuk kedalam mobil dahulu siap untuk menyetir mobil.
Sheana menelan ludahnya, mendengar perkataan Zidan. Ia menatap Zidan yang sudah berada di dalam mobilnya saat ini bahkan pria itu melempar senyum padanya. Sebuah senyuman yang tak pernah ia lihat dari pria itu selama dia mengenalnya.
Sheana hanya diam saja, wajahnya masih begitu datar. Ia berjalan masuk kedalam mobil.
..........................................
Zidan menghentikan mobilnya di sebuah warung makan pinggir jalan. Dia merasa lapar karena sedari pagi ia belum sempat untuk sarapan.
Sheana yang sedari tadi diam saja, langsung menoleh kearah Zidan saat mobil mereka berhenti didepan sebuah warung makan.
“kenapa kau berhenti disini?” tanya Sheana.
“Aku lapar, ayo turun kita makan dulu” pungkas Zidan mengajak Sheana turun, dia membuka pintu mobilnya setelah itu.
“Kau tidak masalah makan di tempat seperti ini kan?” Zidan menatap Sheana saat perempuan itu sudah berada di sebelahnya.
“Ayo masuk, bukannya kau lapar” bukannya menjawab Sheana malah melenggang masuk kedalam.
Zidan menatap tak percaya, bahwa Sheana tak mempermasalahkan tempat ini. perempuan yang terkesan elegan itu biasa saja dengan tempat seperti ini. ia pikir tadi Sheana akan marah-marah karena dia mengajaknya ketempat ini.
“Minta tuna balado, dan telur balado. Nasinya sedikit saja” ucap Sheana dan langsung duduk tanpa memeprdulikan Zidan.
Zidan semakin terperang dengan itu, Sheana bahkan tak pilih-pilih makanan. Dia langsung memesannya begitu saja.
“Kenapa kau hanya berdiri meliatku, tidak jadi makan?” ketus Sheana melihat Zidan yang hanya berdiri disebelah Sheana.
“Kau tidak masalah makanan-makan seperti ini dan di tempat ini” Zidan mencoba memsatikan keinginan perempuan itu.
“Apa aku empermasalahkannya sekarang. Buruan duduk, bukannya kau yang mengajak makan tadi”
Zidan langsung duduk disebelah Sheana,
__ADS_1
“Mbak pesan menu yang sama, sama di tambah mie goreng” ucap Zidan pada pramusaji perempuan.
Perempuan itu mengangguk dan mengiyakannya.
“Aku kira dia perempuan pemilih, ternyata dia tidak seperti itu” batin Zidan sambil melihat Sheana yang ada disebelahnya. Padahal niatnya kesini hanya ingin mengajari dan membiasakan Sheana soal hidup kalangan sederhana. Tapi ternyata perempuan itu terlihat biasa saja tak protes sama sekali.
..................................
“Aku kira tadi kau akan menolak saat aku mengajak ke warung makan tadi” ucap Zidan sambil mengemudikan mobilnya.
“apa alasan untuk menolak”
“Aku kira kau orang pemilih soal makanan, apalagi tempatnya bukan tempat mewah”
“Kau memandang rendah diriku, apa salahnya makan di tempat seperti itu” tukas Sheana.
“Bukan begitu maksudku, kau perempuan elit, elegan keluarga konglomerat. “
“Elit, elegan, konglomerat. Itu keluargaku bukan diriku, aku hanya anak haram yang tidak di ijinkan untuk makan enak” pungkas Sheana terlihat memendam dendam di matanya. Ia ingat betul masa kecilnya dulu, saat daddy keluar negeri atau tidak di rumah. Ia selalu di suruh makan di dapur bersama para asisten rumah tangga iain. Dna itupun makan khusus pegawai dan makanan sisa dari mereka.
“Didunia ini tidak anak haram, semua anak itu suci” sahut Zidan smabil melihat Sheana.
“Sudah tidak usah dibahas, aku benci masa lalu.” Kesal Sheana dan langsung membuang muka keluar.
“Besok, aku akan kerumahmu lagi. Kita pergi ke dokter kandungan”
“Kenapa kau malah bahs hal itu, kenapa kau terkesan memaksaku. Aku saja tidak merasakan kalau aku sedang hamil. Aku tidak mau,” kesal Sheana dan langsung melihat kearah Zidan.
“Kau yakin belum merasakannya? Atau memang kau bodo amat atau tidak menyadarinya. Ini sudah satu bulan sejak waktu itu, dan secara perhitungan medis kalau misalnya kau hamil berarti sudah dua bulan”
Sheana hanya diam saja, sambil berpikir apa iya dia hamil. Tapi kenapa dia belum merasakan tanda-tanda kehamilan, kalau soal dia belum datang bulan di bulan ini. itu bukan masalah karena dia sering telambat dan tak tentu datang bulannya. Wajah Sheana tampak berpikir dan dia tampak gelisah, bagaimana jika itu benar.
“kenapa kau diam?” ucap Zidan saat menatap Sheana yang menggigit jarinya.
“Nggak usah dibahas, aku mau tidur. Kalau sudah sampai bangunkan saja aku” Sheana kembali memalingkan wajahnya. Zidan hanya diam melihat Sheana yang enggan menjawab, dia lalu fokus kembali menyetir mobil.
°°°
T.B.C
__ADS_1